NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: tamat
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:264.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benalu dibalik Cinta

"Jadi suami saya selingkuh dengan sahabat saya sendiri?" ucap Elina sambil tersenyum miris.

"Iya, Non. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Den Ares sering bermesraan dengan Maya saat Non Elina tidak ada di rumah," jawab Bi Wati lirih. Pelayan yang telah mengabdi sejak Elina masih kecil itu akhirnya memberanikan diri mengungkapkan kebusukan suami majikannya.

Senyum miris di wajah Elina tak juga pudar. Tangannya mengepal perlahan sebelum ia melangkah mendekati jendela besar di sudut ruangan. Di balik kaca bening itu, kota tampak sibuk seperti biasa, seolah tak peduli bahwa dunianya baru saja runtuh. Ares, suaminya, telah mengkhianatinya dengan sahabatnya sendiri. Pantas saja pria itu berubah akhir-akhir ini.

"Dasar brengsek! Apa dia tahu, Bi, dia bisa berada di sini karena aku! Dia mendepat posisi penting di perusahaan, hidup mewah itu semua dari aku. Dan bisa-bisanya bajingan itu mengkhianatiku dengan sahabatku sendiri?" ucap Elina dengan suara dingin yang bergetar menahan amarah.

Bi Wati terdiam sejenak, menatap punggung majikannya yang kini membeku di depan jendela.

"Non..." suaranya bergetar. "Bibi sebenarnya sudah lama mau bicara. Tapi Bibi takut Non makin sakit hati."

Elina menoleh perlahan. Senyum miris itu masih bertahan di bibirnya, namun matanya kosong, seperti laut sebelum badai.

"Sejak kapan?" tanyanya pelan.

"Hampir setahun ini, Non. Bibi diancam Den Ares. Kalau bibi bicara ke Non, anak Bibi akan disakiti di kampung," jawab Bi Wati, bahunya bergetar.

"Apa Bibi pikir saya tidak bisa melindungi keluarga Bibi sampai diam setahun ini?" tanya Elina dengan tatapan dingin yang menusuk.

"Maafkan saya, Non. Saya gak bermaksud seperti itu...hiks, hiks... maafkan saya, Non, baru sekarang Bibi berani bicara," ucap Bi Wati penuh penyesalan.

Elina kembali terdiam. Tangannya masih terkepal erat, kukunya nyaris menancap ke telapak.

"Ares lupa satu hal," ucapnya akhirnya dengan tenang, terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru dikhianati. "Dia bukan naik karena pintar. Dia naik karena aku. Dan apa pun yang kuberi... bisa juga aku ambil kembali."

Elina menatap Bi Wati tajam. "Bibi jalankan peran bibi kembali, seolah saya belum mengetahuinya."

"Baik, Non."

••••

"Ares, kapan kamu memindahkan semua aset milik Elina menjadi milik kamu, hah? Ibu gak mau lagi tinggal sama Elina, Ares," ucap Amelia dengan nada tinggi dan penuh tuntutan.

"Mama tenang saja. Ares akan memindahkannya, tapi belum saatnya, Mah," jawab Ares sambil menyandarkan tubuhnya santai di sofa.

"Mama mau secepatnya, Res. Mama ingin cepat-cepat Elina pergi dari kehidupan kita. Mama capek berpura-pura pada wanita mandul itu," ucap Amelia dengan wajah masam.

"Sabar, Mah. Ares juga capek sama dia. Sudah dua tahun pernikahanku dengan Elina, tapi sampai sekarang dia belum kasih aku keturunan, sedangkan dengan Maya langsung jadi," jelas Ares tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Arman, ayah Ares, menghela napas gelisah. Tatapannya sesaat menyapu arah lorong. "Pelankan suara kalian. Bagaimana kalau Elina mendengar semua yang kalian katakan? Bukannya kita yang nendang dia, malah dia yang nendang kita," sahut Arman pelan.

"Santai saja, Pak. Elina tidak akan dengar ucapan kita. Dia lagi sibuk di kamarnya," ucap Ares dengan senyum meremehkan.

"Kamu bujuk gih cepat-cepat istri kamu, agar dia memberikan asetnya pada kamu. Dia sangat sayang sama kamu, Res. Tinggal gombalin apa lah, pasti dia sudah luluh," ucap Amelia, nadanya penuh perhitungan.

"Elina itu perempuan bodoh. Sekali aku rayu, dia pasti nurut. Dia sangat takut kehilangan aku, jadi tidak sulit untuk membujuknya," ucap Ares tertawa kecil.

Tanpa sepengetahuan mereka bertiga, di balik pintu yang sedikit terbuka, Elina dan Bi Wati berdiri mematung, mendengar semua percakapan keji itu.

Tangan Elina yang sejak tadi menggenggam ujung gaunnya perlahan mengendur. Bukan karena ia sudah tenang... tapi karena hatinya terlanjur mati rasa.

Di dalam ruangan, suara tawa kecil Amelia kembali terdengar.

"Kalau sudah dapat asetnya buang saja dia pelan-pelan. Biar Maya yang resmi jadi istri Ares."

Elina memejamkan mata. Dada kirinya seperti diremas kuat, namun bibirnya justru melengkung tipis—senyum orang yang akhirnya mengerti bahwa selama ini ia hidup di antara ular berbisa.

Bi Wati menutup mulutnya, air mata jatuh tanpa suara.

"Non…"

"Tidak apa-apa, Bi. Aku gak apa-apa. Aku justru lega tahu kebusukan para benalu itu," ucap Elina dengan suara yang terdengar terlalu tenang untuk luka sedalam itu.

"Bagaimana keputusan Non? Non Elina masih mau melanjutkan pernikahan Non?" tanya Bi Wati ragu.

"Tentu saja tidak, Bi. Aku tidak akan tinggal dengan para benalu itu," jawab Elina sambil tersenyum miring.

••

Elina berdiri di dalam ruangan rahasia miliknya—sebuah ruang tersembunyi yang tak pernah diketahui siapa pun. Lampu temaram memantulkan bayangannya di dinding, menciptakan kesan dingin yang menyesakkan.

"Jadi selama ini aku ditipu oleh cinta sialan?" ucap Elina dengan nada datar. Di tangannya, sebuah pisau tajam berkilat, diputar-putarnya perlahan seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar besi.

"Dan lebih sial lagi, mertuaku tahu kelakuan anaknya. Sungguh miris aku."

Sret!

Pisau di tangan Elina melesat ke dinding, menghantam keras foto Ares dan keluarganya yang terpasang rapi di sana. Ujungnya tertancap tepat di tengah foto Ares, menembus wajah pria yang pernah ia cintai sepenuh hati.

Elina menatapnya tanpa emosi. Tak ada air mata, tak ada jeritan. Yang tersisa hanya keheningan yang menekan dada, seolah seluruh ruangan ikut membeku bersama hatinya.

"Satu tahun…" gumamnya lirih. "Selama satu tahun kalian menertawakanku di belakang."

Perlahan Elina kembali melangkah, kini mendekati deretan foto keluarga Ares yang menempel di dinding lainnya. Tatapannya mengeras, penuh tekad yang tak lagi bisa ditarik kembali.

"Bersiaplah, akan kukembalikan kalian ke tempat asal kalian."

••••

Pov Elina Aurelia Anderson

1
Gintania nia
cukup bagus
THAILAND GAERI
kok tokoh perempuannya kek lucinta luna 🤣🤣🤣🤣
Sarminem Mimi
gitu Thor aga gambar nya 👍. biar bisa ngebayangin cantik nya Elina☺️☺️😍
Nona Jmn: Terima kasih🤭
total 1 replies
Sarminem Mimi
gitu Thor ada gambar nya👍
Ophelia Roosevelt
ga punya kaca apa gimana neng..
Raisha Mieyka
𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬𝘬𝘬𝘬𝘬
Lies Atikah
mang enak ternyata bukan anak loh
Lies Atikah
si jala nk maya aman 2 saja masih tetatp bahagia ada yang ngelindungi lagi kebohongan mu hamil anak si ares aman menang banyak kamu maya
Lies Atikah
kebayang perasaan si Ares pastahu kalau anak yang di kandung si jala nk Maya adalah anak dari lelaki lain cian deh loh
Lies Atikah
semoga berjodoh yah oma
Lies Atikah
kayanya yang mandul teriak mandul 😄😄😄😄 semoga begitu
Lies Atikah
semoga yang di kandung bukan anak s Ares biar si ares jatuh dlm penyesalan yang patal
Lies Atikah
kirain lengah suka thor yang satset ginni sedikit lebih kejam bolehlah biarkan hancur merangkak dan punah.. puas👍
Lies Atikah
skalian putarkan juga perselingkuhan dan kebusukan si Arres dan si maya biar orang2 tahu
Lies Atikah
kelamaan makin lengket dan bahagia aja Si ares sama si amel bebas melakukan niu niu nya di man saja termasuk di kamar pribadi menang banyak Amel😄
Lies Atikah
nah gitu donk thor adakan saingan cowok janga menyedih kan kesan jadi lebih cantik si maya laku sampai si Ares kelepek2 jadi kasihan lina gakada pengagum yang bikin si ares cemburu
Lies Atikah
jangan lemah Lin jangan karna bucin sama si Ares berengsek kamu jadi bodoh sadar diri kamu sudah di campakan gitu harga dirimu mana ngenes banget
Lies Atikah
jangan ragu 2 untuk bertindak bener2 harus di hancur kan
Hasanah
🤣🤣 keluarga gila iri kok sama harta dan hidup orang lain mereka berada di titik itu kan Krena kerja keras lah Klian klau mau Kya gitu ya kerja jngan jdi benalu aj krjax
Hasanah
Klian ngak bersyukur udah di ksih berlian ee milih batu got 🤣🤣 ya udah nikmati aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!