NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benalu dibalik Cinta

"Jadi suami saya selingkuh dengan sahabat saya sendiri?" ucap Elina sambil tersenyum miris.

"Iya, Non. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Den Ares sering bermesraan dengan Maya saat Non Elina tidak ada di rumah," jawab Bi Wati lirih. Pelayan yang telah mengabdi sejak Elina masih kecil itu akhirnya memberanikan diri mengungkapkan kebusukan suami majikannya.

Senyum miris di wajah Elina tak juga pudar. Tangannya mengepal perlahan sebelum ia melangkah mendekati jendela besar di sudut ruangan. Di balik kaca bening itu, kota tampak sibuk seperti biasa, seolah tak peduli bahwa dunianya baru saja runtuh. Ares, suaminya, telah mengkhianatinya dengan sahabatnya sendiri. Pantas saja pria itu berubah akhir-akhir ini.

"Dasar brengsek! Apa dia tahu, Bi, dia bisa berada di sini karena aku! Dia mendepat posisi penting di perusahaan, hidup mewah itu semua dari aku. Dan bisa-bisanya bajingan itu mengkhianatiku dengan sahabatku sendiri?" ucap Elina dengan suara dingin yang bergetar menahan amarah.

Bi Wati terdiam sejenak, menatap punggung majikannya yang kini membeku di depan jendela.

"Non..." suaranya bergetar. "Bibi sebenarnya sudah lama mau bicara. Tapi Bibi takut Non makin sakit hati."

Elina menoleh perlahan. Senyum miris itu masih bertahan di bibirnya, namun matanya kosong, seperti laut sebelum badai.

"Sejak kapan?" tanyanya pelan.

"Hampir setahun ini, Non. Bibi diancam Den Ares. Kalau bibi bicara ke Non, anak Bibi akan disakiti di kampung," jawab Bi Wati, bahunya bergetar.

"Apa Bibi pikir saya tidak bisa melindungi keluarga Bibi sampai diam setahun ini?" tanya Elina dengan tatapan dingin yang menusuk.

"Maafkan saya, Non. Saya gak bermaksud seperti itu...hiks, hiks... maafkan saya, Non, baru sekarang Bibi berani bicara," ucap Bi Wati penuh penyesalan.

Elina kembali terdiam. Tangannya masih terkepal erat, kukunya nyaris menancap ke telapak.

"Ares lupa satu hal," ucapnya akhirnya dengan tenang, terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru dikhianati. "Dia bukan naik karena pintar. Dia naik karena aku. Dan apa pun yang kuberi... bisa juga aku ambil kembali."

Elina menatap Bi Wati tajam. "Bibi jalankan peran bibi kembali, seolah saya belum mengetahuinya."

"Baik, Non."

••••

"Ares, kapan kamu memindahkan semua aset milik Elina menjadi milik kamu, hah? Ibu gak mau lagi tinggal sama Elina, Ares," ucap Amelia dengan nada tinggi dan penuh tuntutan.

"Mama tenang saja. Ares akan memindahkannya, tapi belum saatnya, Mah," jawab Ares sambil menyandarkan tubuhnya santai di sofa.

"Mama mau secepatnya, Res. Mama ingin cepat-cepat Elina pergi dari kehidupan kita. Mama capek berpura-pura pada wanita mandul itu," ucap Amelia dengan wajah masam.

"Sabar, Mah. Ares juga capek sama dia. Sudah dua tahun pernikahanku dengan Elina, tapi sampai sekarang dia belum kasih aku keturunan, sedangkan dengan Maya langsung jadi," jelas Ares tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Arman, ayah Ares, menghela napas gelisah. Tatapannya sesaat menyapu arah lorong. "Pelankan suara kalian. Bagaimana kalau Elina mendengar semua yang kalian katakan? Bukannya kita yang nendang dia, malah dia yang nendang kita," sahut Arman pelan.

"Santai saja, Pak. Elina tidak akan dengar ucapan kita. Dia lagi sibuk di kamarnya," ucap Ares dengan senyum meremehkan.

"Kamu bujuk gih cepat-cepat istri kamu, agar dia memberikan asetnya pada kamu. Dia sangat sayang sama kamu, Res. Tinggal gombalin apa lah, pasti dia sudah luluh," ucap Amelia, nadanya penuh perhitungan.

"Elina itu perempuan bodoh. Sekali aku rayu, dia pasti nurut. Dia sangat takut kehilangan aku, jadi tidak sulit untuk membujuknya," ucap Ares tertawa kecil.

Tanpa sepengetahuan mereka bertiga, di balik pintu yang sedikit terbuka, Elina dan Bi Wati berdiri mematung, mendengar semua percakapan keji itu.

Tangan Elina yang sejak tadi menggenggam ujung gaunnya perlahan mengendur. Bukan karena ia sudah tenang... tapi karena hatinya terlanjur mati rasa.

Di dalam ruangan, suara tawa kecil Amelia kembali terdengar.

"Kalau sudah dapat asetnya buang saja dia pelan-pelan. Biar Maya yang resmi jadi istri Ares."

Elina memejamkan mata. Dada kirinya seperti diremas kuat, namun bibirnya justru melengkung tipis—senyum orang yang akhirnya mengerti bahwa selama ini ia hidup di antara ular berbisa.

Bi Wati menutup mulutnya, air mata jatuh tanpa suara.

"Non…"

"Tidak apa-apa, Bi. Aku gak apa-apa. Aku justru lega tahu kebusukan para benalu itu," ucap Elina dengan suara yang terdengar terlalu tenang untuk luka sedalam itu.

"Bagaimana keputusan Non? Non Elina masih mau melanjutkan pernikahan Non?" tanya Bi Wati ragu.

"Tentu saja tidak, Bi. Aku tidak akan tinggal dengan para benalu itu," jawab Elina sambil tersenyum miring.

••

Elina berdiri di dalam ruangan rahasia miliknya—sebuah ruang tersembunyi yang tak pernah diketahui siapa pun. Lampu temaram memantulkan bayangannya di dinding, menciptakan kesan dingin yang menyesakkan.

"Jadi selama ini aku ditipu oleh cinta sialan?" ucap Elina dengan nada datar. Di tangannya, sebuah pisau tajam berkilat, diputar-putarnya perlahan seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar besi.

"Dan lebih sial lagi, mertuaku tahu kelakuan anaknya. Sungguh miris aku."

Sret!

Pisau di tangan Elina melesat ke dinding, menghantam keras foto Ares dan keluarganya yang terpasang rapi di sana. Ujungnya tertancap tepat di tengah foto Ares, menembus wajah pria yang pernah ia cintai sepenuh hati.

Elina menatapnya tanpa emosi. Tak ada air mata, tak ada jeritan. Yang tersisa hanya keheningan yang menekan dada, seolah seluruh ruangan ikut membeku bersama hatinya.

"Satu tahun…" gumamnya lirih. "Selama satu tahun kalian menertawakanku di belakang."

Perlahan Elina kembali melangkah, kini mendekati deretan foto keluarga Ares yang menempel di dinding lainnya. Tatapannya mengeras, penuh tekad yang tak lagi bisa ditarik kembali.

"Bersiaplah, akan kukembalikan kalian ke tempat asal kalian."

••••

Pov Elina Aurelia Anderson

1
tia
lanjut Thor
Nona Jmn: Sabar yah🫶🥰
total 1 replies
Ma Em
Sudah ga sabar nunggu kehancuran Ares dan keluarganya , Elina cepat tendang para benalu yg nempel dirumah mu .
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Ma Em
Duh sdh ga sabar Ares dan keluarganya diusir dari perusahaan juga rumah Elina
tia
cepat singkirkan benalu
Nona Jmn: Sabar😭😁
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
keterlaluan area
Nona Jmn: Sabar😁
total 1 replies
kaylla salsabella
pasti si maya
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
anak buah dewa
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣 res Ares
kaylla salsabella
ayah belum tahu klu Ares selingkuh
kaylla salsabella
nah khawatir kan kamu res 🤣🤣
kaylla salsabella
lanjut thor
Nona Jmn: Besok ya kakak🥰 jangan lupa vote🙏😭🫶🫡
total 1 replies
@Mita🥰
😍😍😍
Nona Jmn
Besok ya kakak🥰
tia
lanjut Thor
kaylla salsabella
ooo ku kira Elina udah yatim piatu 🤭🤭
Ma Em
Semoga Elina selamat dari para benalu yg mau menguasai semua harta kekayaan nya , jgn sampai si mokondo Ares juga keluarganya yg benalu berhasil menguasai semua harta Elina .
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
yes ada yang baru
Nona Jmn: Jangan lupa mampir dan vote ya🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!