"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis cerewet!
"Aku tidak peduli!" jawab Nero dengan nada datar, lalu melangkah ke dalam rumah, menapaki anak tangga menuju kamarnya.
Botak menghela nafas berat, seraya menggaruk kepalanya yang licin saat melihat betapa cuek dan dinginnya sikap boss-nya itu.
"Dia tidak pernah berubah, masih sama seperti dulu, begitu pula dengan isi hatinya yang dipenuhi rasa gengsi setinggi gunung everest," gumamnya sambil menutup pintu rumah tersebut.
*
Jam 7 pagi waktu setempat. Ele menjalani rutinitasnya seperti biasa,salah satunya adalah olah raga pagi. Ia hanya mengenakan celana legging dan bra sport warna hitam—memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat seksi. Leher jenjangnya yang dipenuhi keringat terpampang indah karena rambutnya di cepol ke atas.
"Selamat pagi, Nona Ele." Ava menyapa dengan ramah sembari menghampiri gadis itu yang tengah melakukan skipping di halaman rumah.
Ele mengernyit saat melihat kehadiran gadis itu. "Untuk apa kau pagi-pagi ke sini?" Ele menyahut ketus seraya menatap wanita dewasa dengan pandangan menilai. Entah kenapa dia selalu kesal saat melihat wanita itu.
Ava menatap penampilannya sendiri saat gadis itu menatapnya lekat. Tidak ada yang salah, ia mengenakan pakaian formal dan rapi, layaknya karyawati pada umumnya.
"Nona, aku ke sini untuk membantu Tuan Nero bersiap." Ava menunduk hormat lalu beranjak dari sana.
"Cih!" Ele berdecih kesal, menatap punggung wanita itu yang semakin jauh dari pandangan. "Membantu Tuan Nero bersiap." Ele meniru gaya bicara Ava dengan perasaan jengkel luar biasa. "Dan sejak kapan pria tua itu jadi manja seperti itu?!" Ia mendadak tidak mood olah raga, dilemparnya tali skipping itu dengan asal, lalu masuk rumah melalui pintu belakang, tentu saja untuk menghindari pasangan itu. Eh, lebih tepatnya malas bertemu dengan mereka.
"Ava, kau sudah datang rupanya," sapa Botak pada wanita cantik berusia 28 tahun tersebut.
"Iya, seperti biasa, aku ke sini untuk menyiapkan sarapan Tuan Nero," jawab Ava tersenyum lebar.
"Hari-harimu pasti melelahkan karena harus menuruti semua perintah singa itu." Botak berbisik saat mengatakannya.
"Ha ha. Paman bisa saja memberikan julukan itu padanya." Ava tertawa pelan sembari berjalan menuju dapur, membuat sarapan untuk boss-nya.
Botak menatap gadis itu sembari menghela nafas. "Dia gadis baik padahal, tapi sayang sekali nasibnya harus sial karena menjadi sekretaris Tuan Nero," gumamnya, dengan raut dibuat-buat sok sedih.
Tak berselang lama Nero turun ke ruang makan. Seperti biasa pria itu selalu terlihat tampan, gagah dan berkarismatik tinggi di setiap waktu. Wanita manapun yang melihatnya akan terpesona.
"Tuan, Anda sudah di sini rupanya," ucap Ava, terkejut melihat Nero sudah duduk di kursi ruang makan. "Sebentar lagi sarapan akan siap," ucapnya gugup karena takut atasannya itu akan marah karena dia agak telat pagi ini. Ia bergegas menghidangkan sarapan dihadapan pria tersebut.
"Kau hanya membuat satu porsi?" Nero menatap menu sarapan yang sudah tersaji itu lalu beralih menatap tajam Ava.
"Ya, hanya satu porsi," jawab Ava, cepat, karena dia yang di maksud pria tersebut. "Biasanya setiap gadis se-usia Nona Ele sangat menghindari karbohidrat dan protein di pagi hari karena untuk menjaga berat badannya. Anda pasti sudah bertemu dengan Nona Ele 'kan? Dia sangat cantik, dan seksi," ucap Ava sambil mengambilkan garpu untuk atasannya.
"Benarkah?"
"Hah? Jadi Anda belum bertemu dengan Nona Ele?" Ava sangat terkejut melihat reaksi pria itu.
"Belum. Tidak terlalu penting juga. Dia gadis cerewet dan menyebalkan!" jawab Nero, seraya menyantap sarapannya, tapi tiba-tiba dia mengumpat pelan saat teringat kejadian beberapa tahun yang lalu saat gadis itu menciumnya.
*
Like dan komentarnya!
Coba nanti muntah lagi tidak si Nero ini.
Salahnya Elle, Nero untuk sementara tidak boleh ngopi atau ngeteh. Nero pinter - minum susu cap nyonya boleh.
heeeemmm pas banget kebetulan d larang ngopi dan ngeteh jd nya ya nyusu aj.. 😜