"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford
Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.
Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reaksi
Salena terdiam sejenak, jemarinya memainkan pinggiran apron putih yang dipinjamkan Zane. Aroma manis sirup maple yang tadi terasa menggugah selera kini mendadak terasa menyesakkan. Ia menatap Zane yang duduk di depannya dengan dada bidang yang masih terbuka, tampak begitu santai dan tenang pemandangan yang kontras dengan badai yang mungkin akan meledak sebentar lagi.
"Semalam, saat kau tertidur... ponselmu bergetar terus-menerus," Salena memulai dengan suara yang diusahakan tetap tenang. "Jam tiga pagi. Panggilan dari nomor internasional."
Zane tidak memotong. Ia hanya menatap Salena, namun sorot matanya yang tadi jenaka perlahan berubah menjadi sedingin es. Ia tahu persis siapa yang akan meneleponnya di jam segitu.
"Itu Phoenix," lanjut Salena. "Dia menanyakan apakah kau puas sekarang. Dia terdengar... sangat marah."
Rahang Zane mengeras. Guratan tato di lengannya seolah menegang saat ia mengepalkan tangan di atas meja marmer. "Lalu? Kau mengabaikannya?"
"Tidak. Aku mengangkatnya," jawab Salena jujur. "Dan aku mengatakan padanya bahwa kau sangat puas karena aku memuaskan mu semalaman. Aku mengatakan padanya bahwa aku adalah kekasihmu."
Zane tertegun. Ia meletakkan gelas kopinya dengan denting yang cukup keras. Matanya melebar, menatap Salena seolah gadis di depannya ini baru saja menumbuhkan sayap. "Kau... kau mengatakan apa?"
"Aku melakukannya untuk melindungi mu, Zane! Dia tidak berhak menghakimi mu di saat kau sedang hancur," bela Salena, suaranya naik satu oktav. "Dan bukan hanya Phoenix. Setelah itu, seorang wanita menelepon. Dia berteriak, memaki, dan menyebutmu miliknya. Kharel. Aku menebak itu dia."
Mendengar nama Kharel, Zane memejamkan matanya rapat-rapat. Napasnya menjadi berat, seolah oksigen di dapur mewah itu mendadak hilang.
"Apa yang kau katakan pada Kharel?" tanya Zane dengan suara rendah yang bergetar.
"Aku memanggilnya gadis gila. Aku bilang kau membencinya. Aku bilang kau sedang tidur nyenyak di sampingku karena kau tidak ingin sendirian," Salena menatap Zane tanpa rasa takut. "Aku memberitahunya agar jangan pernah menghubungimu lagi jika dia masih punya harga diri."
Hening mencekam menyelimuti dapur itu. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Salena menunggu ledakan amarah dari Zane. Ia berpikir mungkin Zane akan marah karena ia terlalu jauh mencampuri urusan pribadinya, atau mungkin Zane merasa imejnya rusak.
Namun, yang terjadi justru di luar dugaan.
Zane tiba-tiba berdiri, membuat kursi bar-nya berderit keras. Ia melangkah mendekati Salena. Salena menahan napas, namun alih-alih kemarahan, Zane justru meraih tengkuk Salena dan menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat.
Aroma tubuh Zane yang hangat dan lembap setelah mandi merasuk ke indra penciuman Salena.
"Kau benar-benar nekat, Salena Blair Ashford," gumam Zane di rambutnya. "Kau baru saja memasukkan dirimu ke dalam neraka yang selama ini kucoba hindari."
"Aku tidak takut pada nerakamu, Zane. Aku lebih takut melihatmu hancur seperti semalam," balas Salena sambil membalas pelukan itu, membiarkan tangannya menyentuh kulit punggung Zane yang penuh tato.
Zane melepaskan pelukannya sedikit, menangkup wajah Salena dengan kedua tangannya yang besar. "Kau tahu apa konsekuensinya, kan? Mereka tidak akan tinggal diam. Phoenix punya pengaruh, dan Kharel... dia adalah obsesi yang berjalan. Mereka akan mencarimu. Mereka akan mencoba menghancurkan reputasi Ratu Es-mu di kampus ini."
Salena tersenyum tipis, sebuah senyum penuh tantangan yang biasanya hanya dimiliki oleh Zane. "Biarkan saja. Aku sudah bosan jadi Ratu Es yang membosankan. Lagipula, aku punya Dewa New York yang akan menjagaku, bukan?"
Zane menatap Salena cukup lama, mencari keraguan di mata gadis itu, namun ia tidak menemukannya. Sebuah seringai perlahan muncul di wajah Zane, seringai predator yang kini terlihat jauh lebih hidup.
"Baiklah kalau itu maumu," bisik Zane. "Mulai hari ini, dunia akan tahu bahwa kau milikku. Bukan karena sandiwara telepon itu, tapi karena aku memang tidak berniat membiarkanmu pergi setelah kau melihatku menangis."
Zane menunduk, mencium kening Salena dengan lembut namun posesif. Di luar, langit Islandia yang abu-abu mulai menurunkan salju tipis, namun di dalam dapur itu, api baru saja tersulut. Perang dengan Manhattan telah dimulai, tapi untuk pertama kalinya, Zane tidak merasa harus bertarung sendirian.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰😍