NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Sambung Sahabatku

Menjadi Ibu Sambung Sahabatku

Status: tamat
Genre:Tamat / Nikahmuda / Duda / Ibu Pengganti / Pernikahan Kilat / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:36k
Nilai: 5
Nama Author: AgviRa

Seorang gadis yang terpaksa menikah dengan ayah dari sahabatnya sendiri karena sebuah kesalahpahaman. Apakah dirinya dapat menjalani kehidupannya seperti biasanya atau malah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AgviRa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belajar menerima

Hari telah berganti. Waktu liburan tinggal sehari dan besok mereka sudah harus balik ke Kota. Karena Damian tak bisa lama-lama meninggalkan pekerjaannya. Namun, Azalea dan Dina belum juga pergi berlibur ke tempat wisata. Karena kejadian beberapa hari kemarin, semua rencana menjadi tertunda. Damian yang paham akan kebosanan mereka. Hari ini juga dia mengajak istri dan anaknya untuk pergi keliling tempat wisata yang ada di Bantul. Meski hubungan mereka masih terasa sedikit canggung, kini keduanya mencoba menerima dan sepakat untuk membuka lembaran baru. Kakek nenek Dina pun hanya bisa mendoakan semoga hubungan mereka awet sampai maut memisahkan.

Kini mereka bertiga berada dalam perjalanan menuju Pantai Duo Parang. Kalau biasanya Azalea dan Dina duduk dibelakang, kini berbeda. Azalea duduk di depan disamping suaminya. Dina tak mempermasalahkan hal itu dan dia pun perlahan mulai memposisikan dirinya. Meskipun begitu mereka berdua tetap seperti biasanya.

" Jadi, kemana tempat tujuan pertama kita?" Tanya Damian pada kedua gadis tersebut.

"Bagaimana kalau kita ke Pantai Parangtritis dulu Pa? Terus lanjut ke Pantai Parangkusumo. Gimana Zaa?" Ucap Dina.

"Aku ngikut aja Din, lagian sama-sama ke Pantai" Sahut Azalea.

"Sendiko dawuh tuan putri." Sambung Damian.

Sampainya di Pantai, kedua gadis itu langsung berlari menuju tepian pantai, hal pertama yang mereka lakukan adalah berfoto-foto. Berbagai macam pose mereka lakukan. Damian yang melihat kelakuan kedua gadis itu tersenyum. "Dasar anak muda." Batin Damian.

"Papa, ayok ikutan foto, kita foto bertiga. Masak udah sampai sini kita gak foto bareng!!" Ajak Dina pada papanya.

"E,, ehh,,, begitu ya, iya ayok." Jawab Damian yang menyetujui ajakan anaknya.

Akhirnya mereka berfoto bertiga, walau Azalea sedikit canggung tapi, dia tak mau memperlihatkannya.

Setelah selesai berfoto-foto Azalea dan Dina bermain pasir pantai layaknya anak kecil. Damian hanya mengawasi mereka. Di tempat tujuan selanjutnya hal yang mereka lakukan tidak jauh berbeda dengan hal sebelumnya. Dimana mereka singgah disitu mereka mengambil gambar untuk kenang-kenangan.

"Aturan kesini sore ya Din, bisa sekalian menikmati senja, plus pasti kita bisa dapet latar bagus." Ucap Azalea.

"Tapi kalau sore kesini malamnya kita kecapean dong Zaa, kan besok kita sudah balik ke Kota." Sambung Dina yang dibalas anggukan oleh Azalea.

Mereka memanfaatkan kesempatan yang singkat ini. Di sini baik Azalea maupun Dina melepaskan segala beban pikiran yang sedari kemarin mengendap dalam isi kepala. Azalea melupakan masalahnya sejenak. Mereka benar-benar menikmati liburan ini. Yah kapan lagi ya kan? Apalagi kini status sudah berubah.

Damian yang merasa cuaca semakin panas pun melihat jam tangannya. Ternyata sebentar lagi jam makan siang. Damian pun melihat kedua gadis yang sedang asik bermain pasir pantai "Apa mereka ini gak lapar ya? sepertinya asik sekali!!" Batinnya.

"Apa kalian gak merasa kepanasan? Ini sudah hampir siang." Ucap Damian pada kedua gadis tersebut, heran saja dengan mereka berdua.

"Hah?? iyakah pa? Maaf pa, kita terlalu asik sampai lupa waktu." Jawab Dina.

Azalea hanya diam saja. Dia benar-benar masih terlihat canggung.

Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke restoran dekat Pantai.

Pelayan restoran pun datang menghampiri mereka.

"Silahkan mau pesan apa?"

"Sebentar mbak, saya tanyakan dulu pada mereka." sahut Damian.

"Dina, kamu mau pesan makan apa?"

"Aku samain aja, Pa."

"Kalau Zaazaa mau pesan apa?"

Krik Krik Krik

Dina melirik sahabatnya yang terlihat sedang melamun. Pantas saja tak ada jawaban. Dina langsung menyenggol lengan Azalea.

"Aduh, kenapa Din?" Kaget Azalea.

"Kamu ini, Papa tanya tuh, kamu malah diem aja, mikirin apa sih?" Selidik Dina.

"Ah iya, ma-maaf Om,, Zaazaa ikut aja mau pesan apa aja pasti dimakan kok. hee. " Jawabnya sambil nyengir malu. "Bodoh bodoh bodoh, bikin malu aja." Batin Azalea.

"Saya pesan makanan terfavorit disini aja mbak, minumnya jus jeruk aja." Ucap Damian yang sudah memutuskan pesanan apa yang akan mereka pesan.

Pelayan pun mengangguk "Baik, silahkan ditunggu!!" Lalu melenggang pergi.

"Zaa, kamu kenapa? Ada masalah?" Tanya Damian, sedari tadi dia memperhatikan gadis yang sudah berstatus istrinya itu.

"Hah?? ehh,, eng-enggak papa Om, Zaazaa gak kenapa-kenapa kok. Mungkin hanya merasa lelah jadi kurang fokus." Gugup Azalea karena merasa diperhatikan suaminya.

"Kalau ada apa-apa cerita saja, Om sama Dina kan sudah bukan siapa-siapa lagi. Saling terbuka saja, biar beban gak terlalu berat dan mengendap didalam kepala." Ucap Damian.

"I-iya Om."

"Ciaellah, grogi ya Zaa, kok kamu sekarang jadi punya penyakit gagap. haha" Ledek Dina, wajah Azalea kini menjadi merah karena malu.

"Dina, jangan meledek Zaazaa, meskipun begitu Zaazaa sekarang adalah mamamu." Ucap Damian menasehati putrinya.

"Humm,, iya iya pa, maaf ya mama Zaazaa." Ledek Dina.

Azalea langsung mencubit perut Dina karena dari tadi sudah meledeknya. Damian memakluminya, mungkin suatu saat Dina akan benar-benar bisa memposisikan dirinya.

Tak lama pesanan mereka datang. Azalea yang mencoba memerankan statusnya kini melayani suaminya. Dan, mereka makan dengan tenang, tak ada obrolan apapun lagi disana.

Selesainya makan mereka memutuskan untuk pulang.

Malam hari setelah makan malam mereka berkumpul di ruang tengah. Karena seharian tadi kakek nenek Dina berada di sawah jadi tak sempat mengobrol dengan anak, menantu, dan cucunya.

"Gimana liburane cah ayu?"

"Alhamdulillah seneng nek, lelah juga, lihat nih nek kulitku jadi item. haha" Jawab Azalea.

"Helleh, lebaynya kumat nih anak. Awas nek, jangan terlalu dekat sama Zaazaa, nanti nenek ketularan lebay." Seru Dina, nek Arum pun geleng-geleng kepala sambil tersenyum.

"Berarti kamu juga dong, kan kita dari SMP deket terus." Ucap Azalea membuat Dina mati kutu. Skakmat deh.

Mereka ngobrol bercanda ngalor ngidul.

"Kalian jadi balik besok pagi?" Tanya kung Darman.

"Iya Pak, pekerjaan gak bisa lama-lama aku tinggal." Sahut Damian

"Baiklah kalau begitu. Lebih baik sekarang kalian lekas istirahat agar besok pagi badan kembali fresh." perintah Kek Darman.

"Iya lagian ini juga sudah malam, sekarang kalian istirahatlah." sambung nek Arum. Akhirnya mereka memutuskan beristirahat.

Di kamar pengantin baru. Ada suatu hal yang sedari kemarin membuat Damian merasa penasaran. Mungkin bagi dirinya pernikahan mendadak ini adalah sebuah takdir Tuhan, namun dalam pikirannya, apakah Azalea juga menerima takdir ini? Damian tahu kalau istrinya ini pasti belum tidur meskipun posisinya membelakanginya. Dan Damian yang gak bisa tidur pun akhirnya membuka suara.

"Zaa, Om boleh bertanya?"

Azalea yang memang belum benar-benar tertidur pun membuka matanya, lalu dia menoleh kearah samping dimana letak suara itu berasal.

"Emm, ke-ke-kenapa Om? A-apa yang ingin Om tanyakan? " gugup Azalea.

"Apakah Om boleh tau, apa kamu sudah menerima pernikahan ini?"

"Ma-maksudnya apa Om? maaf Om, Zaazaa gugup."

Papa Damian yang mengerti hal itu pun kini memberanikan menggenggam tangan Azalea. Sontak Azalea kaget. Badannya panas dingin.

"A-apa yang Om lakukan?" Ucap Azalea semakin gugup.

"Tenanglah, Om hanya ingin membuatmu nyaman, tak perlu gugup, kalau kamu belum bisa memposisikan peranmu, Om tidak mempermasalahkannya, hanya Om ingin tau, apa kamu sudah mulai menerima pernikahan ini?" menenangkan Azalea.

"Zaazaa akan belajar menerimanya Om, tapi Zaazaa,,emb,,Zaazaa belum bisa memberikan itu Om." Azalea rasanya ingin kabur dari situ karena malu setelah mengucapkan kalimat itu. Damian pun paham dan mengerti. Maklum saja.

"Om tidak mempermasalahkan itu Zaa, Om mengerti. Kita jalani saja dulu, seperti air mengalir. Sekarang Om lega karena sudah mendengar jawabanmu. Sekarang ayo kita istirahat agar besok kita tidak bangun kesiangan dan badan kembali fit."

Azalea pun mengangguk lalu mereka pun tidur.

Damian memang tak akan meminta haknya sebelum Azalea memberikannya dengan kemauan hatinya sendiri. Tapi, dalam pikiran Damian *Mungkin kalau hanya sebatas pegang tangan tak masalah, kalau ku peluk apa dia akan menolak ya? Coba saja dulu.*

Damian pun mendekati istrinya dan melingkarkan tangannya diperut istrinya. Damian merasakan Azalea sedikit terkejut dan tegang namun, tak ada penolakan dari istrinya. Karena memang tak ada gerakan dari istrinya, Damian menyamankan posisinya dengan memeluk istrinya. Dan, terlelap.

1
nana supriyatna
Luar biasa
Ani
tidak Zahra.. karena Itu adalah sudah bagian mu..

kecuali kamu meminta yang bukan menjadi hak mu
Ani: bener itu kak

karena saudara saudaranya yang lain juga udah ada bagiannya masing masing
AgviRa: Jadi, bener ya, Kak.
total 2 replies
Ani
tunggu kehancuranmu Dewi dan Arkan 😠😠😠😠
AgviRa: Iya, ditunggu ya, Kak.
total 1 replies
Ani
aku baru ngeh ternyata Riko ini adiknya Azalea 😣😣😣😣.. bener bener faktor U ini
Ani: heemmm
AgviRa: sebentar lagi tamat, Kak.😅
total 4 replies
Ani
cih sombong amat kita lihat dan saksikan siapa yang bakal ngemis ngemis nantinya...
Ani: harus itu udah geregetan pengen nimpuk kepala mereka berdua
AgviRa: Iya, kita lihat nanti ya, Kak.😅🙏
total 2 replies
Ani
loh babnya kok diulang kak??
Ani: pantesan
AgviRa: kemarin gagal, ternyata dobel..🙏
total 4 replies
Ani
ceritanya menarik
peran pria dan wanitanya juga tegas
AgviRa: Terima kasih, Kak.😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!