perpisahan kedua orang tuanya itu,membuat seorang gadis bernama Adira Amna (21) sulit untuk menjalin sebuah hubungan serius dengan laki-laki.
hingga dengan tiba-tiba, Amna dilamar oleh seorang pria yang baru dikenal nya selama beberapa minggu! lalu,apakah Amna akan menerima lamaran dari pria tersebut?
penasaran sama kelanjutan ceritanya? yuk baca👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira amna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Setelah mengantar Radit tadi, Amna pun bergegas masuk kembali. Mematikan seluruh lampu dan menaiki tangga untuk menuju ke kamar nya. Saat pintu kamarnya terbuka, Amna menaikkan sebelah alisnya karna melihat Yaya berada di dalam kamarnya. Duduk dipinggiran kasur sambil melipat kedua tangan nya di dada.
"ngapain disini!?" ketus Amna
"lu beneran udah dilamar na!?" tanya Yaya tanpa basa basi lagi.
"udah." jawab Amna sambil membuka pintu lemari, dan menarik satu kaos dan celana training untuk ia kenakan.
Yaya menarik napas panjang. "lu udah yakin sama keputusan lu itu?"
Amna tak menjawab pertanyaan adiknya itu. ia melangkah kan kakinya keluar pintu untuk menuju ke kamar mandi. Bukan Amna tak ingin menjawab pertanyaan yaya, tetapi ia sendiri pun bingung buat ngejelasin nya.
Semua terasa seperti mimpi. Dia dilamar oleh laki-laki yang baru dikenal nya belum lama ini. Dan Amna hanya mengikuti kata hatinya saja saat ini! meskipun Amna tak tau apa yang akan terjadi kedepan nya.
Niat hati hanya ingin berganti pakaian!.. namun Amna merasa tubuh dan pikiran nya butuh kesegaran, jadi ia memutuskan untuk mandi.
Setelah menyelesaikan mandi nya dan berpakaian, Amna pun segera keluar dari kamar mandi. ia melihat kedua adiknya sedang berada diruang tv, namun Amna lebih memilih masuk ke kamar nya dan segera merebah kan tubuh nya di atas kasur.
Amna memejamkan matanya, berharap bisa langsung tertidur. Tetapi matanya itu tidak bisa diajak kompromi. Amna menduduki tubuh nya bersandar dikepala ranjang, dan menghembus kan napas dengan kasar. Amna pun mencoba memejamkan matanya lagi.
Hingga jam di dinding menunjukan pukul 23.30... Amna tetap tak bisa memejam kan matanya. Akhirnya Amna pun memutuskan untuk keluar dari kamar, dan mengetuk pintu kamar Yaya.
"Yaya udah tidur belum!?" teriak Amna dibalik pintu kamar Yaya.
"ganggu orang lagi nonton Drakor aja lu na! Ada apaan sih!?" ujar Yaya dengan ketus.
"ga bisa tidur gue ya!" Yaya mendengus, saat Amna nyelonong masuk ke kamarnya.
Dan mereka berdua pun merebah kan diri di atas kasur Yaya, "kenapa? Kepikiran sama calon suami!?".
Amna memajukan bibir nya,mendengar sindiran Yaya. "mas Radit tuh baik tau ya orang nya,lu harus kenal sama dia!!"
"lu ngomong kaya gitu, seakan akan tuh lu udah kenal lama banget sama dia na !" ujar Yaya mencibir.
Amna pun hanya terkekeh sumbang mendengar cibiran adiknya itu. Dia memang belum lama mengenal Radit, tapi dari yang Amna lihat Radit itu adalah sosok pria yang bertanggung jawab.
Yaya melihat kearah langit-langit kamarnya.. "gue seneng na, lu udah dilamar sama bang Radit!" Yaya menghela napas.. "gue tau na, kalau selama ini lu tuh punya trauma karna perceraian orangtua kita!"
sontak saja Amna langsung melihat ke arah Yaya, Amna kira selama ini tak ada yang tau tentang rasa trauma nya itu.
"lu udah jatuh cinta na, sama bang Radit!?" tanya Yaya tiba-tiba.
"Sekarang belum, ga tau kalau besok!" Dan Yaya pun langsung menjitak kepala Amna, mendengar jawaban yang tak asing ditelinga nya.
Amna terkekeh sambil mengusap dahi nya.. "besok, kita kerumah mommy nya dianter sama mas Radit!" dan langsung di iyakan oleh adiknya itu.
***
Hari sudah beranjak pagi. Setelah mengobrol ngalor ngidul dengan yaya semalam, akhirnya Amna pun tertidur dikamar adiknya itu. Amna Melihat ke arah jam dinding, Dan ternyata waktu sudah menunjukan pukul lima subuh..! Amna segera beranjak turun dari kasur, tak lupa juga ia membangunkan Yaya untuk solat subuh.
Amna memasuki kamar nya, untuk mengambil handuk dan pakaian ganti. Sebelum beranjak ke kamar mandi Amna lebih dulu memeriksa ponsel nya, Dan ternyata ada banyak notifikasi dan panggilan tak terjawab dari radit. Amna membalas pesan tersebut, dan mengatakan kalau semalem ia ketiduran di kamar Yaya.
Meletakan ponsel nya kembali ke atas meja. Amna pun segera berjalan menuju ke kamar mandi, karna dia harus segera solat subuh. Pagi itu Amna mandi dengan cepat, tidak keramas hanya menyabuni badan dan menyikat giginya saja. Mengambil wudhu dan memasuki kamar, Amna bersiap melaksanakan kewajiban nya sebagai umat muslim.
Setelah selesai solat. Amna pun membereskan kamar nya, dan ia juga mencuci bajunya menggunakan mesin cuci.
Setelah menggiling pakaian nya itu. Amna turun ke lantai bawah, Ternyata dimeja makan sudah ada ayah dan Yaya yang sedang menyantap nasi uduk. Melihat anak gadis yang satunya lagi ikut bergabung itu, ayah pun segera menyodorkan nasi uduk beserta piring dan sendok nya.. Nikmat mana lagi yang kau dusta kan Amna.
"mau jam berapa ke rumah mommy nya!?" tanya ayah, pada kedua anak gadis nya itu.
Amna menoleh ke arah sang ayah! "nunggu mas Radit jemput yah!"
"baru ayah mau bilang, buat ajak Radit kesana biar kenalan sama ibu kalian" ujar ayah terkekeh pelan.
"sarapan ga ngajak-ngajak!" celetuk altaf, yang sedang menuruni tangga sambil menggosok rambut nya yang basah, menggunakan handuk kecil.
"Makanya, kalau bangun jangan siang trus!" dan Altaf pun hanya mengangkat bahunya, tak peduli.
"Sarapan dulu, berantem nya nanti lagi." ujar ayah yang membuat Altaf memajukan bibir nya, dan Amna pun tertawa melihatnya.
Saat Amna sudah menyelesaikan makan nya, Altaf pun nyeletuk "kata kak Yaya, nanti kerumah mommy nya dianter sama bang Radit kak!?"
"iya" Amna hanya menjawab dengan singkat.
Amna memasuki kamar nya, dan mendengar ponsel nya berbunyi. Amna pun tersenyum setelah melihat nama yang tertera di ponselnya.
📞 assalamualaikum sayang
📞 waalaikumsalam mas
Radit mengatakan kalau dia sudah otw ke sini. Dan Amna pun langsung dibuat terburu-buru karna ingat belum menyelesaikan pekerjaan rumah nya. Amna pun segera membilas cucian nya dengan cepat, lalu menjemur nya di balkon. Setelah semua nya beres Amna segera berganti pakaian, tidak lupa juga mengingatkan Yaya dan Altaf untuk segera bersiap.
Hari ini Amna menggunakan outfit kasual. ia memang lebih nyaman, memakai celana dan kaos ketimbang menggunakan gamis atau pun tunik.
"Na, Radit udah nunggu dibawah tuh." Yaya membuka pintu kamar Amna tiba-tiba.
"cepet banget nyampe nya." sahut Amna lirih.
Amna pun segera menyusul Yaya yang sudah turun terlebih dulu. Saat sudah sampe di ruang tamu, Amna melihat Radit sedang berbincang dengan bude Salma dan pakde Ibra serta ayah juga Altaf.
Amna tersenyum ketika tatapan nya bertemu dengan Radit. Lantas mereka berempat pun segera berpamitan karna jam sudah menunjukan pukul 08.00.
"Kita mampir ke toko kue dulu ya mas!?" ujar Amna saat sudah berada di dalam mobil.
"Iya sayang!" jawab Radit dengan tersenyum lembut.
Setelah 15 menit melajukan kendaraan nya. Radit pun menghentikan mobil nya, di toko cake & bakery yang nama nya sudah terkenal di pasaran.
"Gue sama atap nunggu di mobil aja na!" tutur Yaya, saat Amna hendak membuka pintu mobil.
Amna menoleh ke jok belakang, dan menganggukkan kepala nya "iya"
Radit membuka kan pintu masuk toko, dan mempersilakan Amna masuk terlebih dulu "Mau beli kue apa sayang?"
"Beli cheesecake sama Bika Ambon aja mas!" jawab Amna.
Amna pun mengambil kue yang diinginkan nya itu, lalu membawa nya ke kasir. Saat hendak mengeluarkan dompet nya Radit sudah lebih dulu memberikan kartu debit nya ke penjaga kasir. "pake ini aja mba!"
"loh mas, biar Amna aja yang bayar" Amna berseru tak enak pada Radit.
Radit mengusap pelan lengan kiri Amna dan tersenyum lembut "gapapa, biar mas aja".
setelah membayar pesanan nya, mereka pun kembali memasuki mobil. Tapi saat itu Amna tak melihat kedua adiknya itu di dalam mobil.
" loh, ko pada ga ada sih" sontak saja Radit pun ikut melihat ke arah jok belakang.
Dan Saat pandangan mata nya mengarah ke seberang jalan, ia melihat kedua adiknya itu sedang berdiri di kedai tukang cilok. 'dasar bocah semprul'.
"Mas senang, bisa ngerasain punya keluarga lagi!" Radit bicara sambil melihat ke arah Yaya dan Altaf berada.
"semenjak ayah dan bunda ga ada, mas cuma punya Tante Erna doang de. tapi 3 tahun yang lalu Tante Erna mutusin buat pindah sama suami nya ke Surabaya" lanjut Radit dengan suara sendu.
Amna yang mendengar cerita Radit pun, hanya bisa mengusap bahu lelaki itu. "Makasih de, karna udah mau terima lamaran mas yang terkesan terburu buru itu!" Amna pun hanya menanggapi nya dengan tersenyum.
Amna menoleh ke arah belakang, saat mendengar pintu yang dibuka. Ternyata, kedua adiknya itu sudah kembali dengan membawa kresek berisi beberapa bungkus cilok.
"bagus!! pergi ga bilang-bilang, untung ga gue tinggal kalian" semprot Amna pada kedua adiknya itu.
"ini kita lewat tol aja ya sayang, biar ga kena macet?" Radit mengalihkan obrolan, agar kedua calon adik ipar nya itu, tidak terkena Omelan yang lebih panjang lagi dari wanita tersayang nya.
Dan benar, Amna pun langsung berhenti mengomeli kedua adiknya "iya mas, lewat tol aja".
Amna biasa menggunakan sepeda motor ketika berkunjung ke rumah mommy, karna hanya menempuh perjalanan 1 jam bila tidak macet.
Mereka menikmati perjalanan dengan memakan cilok, dan mau tak mau Amna pun menyuapi Radit karna laki-laki itu sedang mengemudi.
Senyum Radit mengembang sempurna saat menatap wajah Amna,! entah mengapa Radit selalu merasa nyaman ketika bersama dengan calon istrinya itu. bukan ingin membandingkan, tapi Radit tak pernah merasa senyaman ini saat menjalin hubungan dengan Nadia dulu. 'dengan Amna Radit merasa menjadi dirinya sendiri'
Setelah melakukan perjalanan selama kurang dari 1 jam, pun akhirnya mereka sampai di komplek rumah mommy.
"rumah nya yang mana sayang?" tanya Radit setelah melewati pos satpam.
"lurus dulu mas! nanti gang kedua rumah warna biru!" tunjuk Amna pada gang yang dia maksud.
Setelah menemukan rumah yang Amna maksud, Radit pun segera menghentikan mobil nya. Namun sebelum mereka turun dari mobil, gerbang rumah itu sudah lebih dulu dibuka oleh seorang wanita paruh baya. Amna mengenal wanita itu sebagai art dirumah mommy, nama nya bi Mirna.
Lalu, Amna dan kedua adiknya pun turun dari mobil "assalamualaikum bi Mirna!" sapa ketiga nya sopan.
"Waalaikumsalam! ayo neng langsung masuk aja, udah ditunggu sama mommy di dalem" ramah bi Mirna kepada mereka "mobil nya, langsung dimasukin aja ke dalem ya neng" lanjutnya.
"iya bi" jawab Amna singkat. Lalu Amna pun meminta Radit untuk memasukan mobil nya ke dalam carport.
Rumah mommy sama suami nya itu ada 2 lantai, ada 4 kamar tidur dan ada kolam renang nya juga. Pernah juga beberapa kali Amna dan kedua adiknya itu menginap disana.
Saat sudah memasuki rumah, mereka disambut dengan pelukan hangat mommy dan papah sambung nya.
"gimana kabar kalian?" tanya papah setelah memeluk altaf.
"Alhamdulillah, kita bertiga baik pah!" jawab Amna mewakili kedua adiknya.
"jadi, ini yang kemarin kakak bilang sama mommy di telpon?" kemarin Amna memang sempat menelpon sang mommy, mengatakan kalau dia akan mengenalkan seseorang kepada ibunya itu.
"nanti kita obrolin ya kak, gimana baik nya!" lanjut mommy sambil mengusap pelan pipi Amna.
Mereka pun segera menuju ke ruang keluarga, dan Amna sempat menanyakan keberadaan kedua saudara sambung nya itu. Dan mommy bilang kalau mereka sudah 3 hari ada urusan pekerjaan di luar kota. mommy juga mengatakan kalau kedua anak sambung nya itu menitipkan hadiah buat ketiga adiknya.
"jadi gimana! Kapan mau di adain acara pernikahan nya Dit?" celetuk mommy saat mereka sedang makan siang.
"apa kamu sudah yakin mau nikah sama Amna? anak mommy yang satu ini tuh paling keras kepala loh Dit!" lanjut mommy meledek amna.
Dan mereka yang ada di meja makan, pun tertawa karna melihat wajah cemberut Amna. "Radit yakin mom! Dan Radit mohon doa dan restu nya dari mommy dan papah!" ujar Radit dengan tegas.
"mommy Restui niat baik kalian!, tapi satu yang mommy minta dari kamu Dit. tolong jangan pernah sakiti anak mommy ya, cukup satu kali dia merasakan patah hati karna perpisahan kedua orang tuanya" ujar mommy dengan suara lirih. Dan Radit pun berjanji untuk selalu menjaga dan menyayangi Amna.
*
*
*
*
*
paket lengkap banget si Radit Radit itu Tuhan