Pernikahan seharusnya menjadi momen yang paling membahagiakan dan ditunggu oleh pasangan yang saling mencintai. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Noami dan Gilang.
Pasalnya, pernikahan mereka terjadi secara mendadak dan tak mengenakkan akibat kesalahpahaman warga yang mendapati mereka berada di dalam rumah kontrakan Naomi dalam kondisi yang cukup intim.
Warga yang mengira kalau Naomi dan Gilang sudah melakukan tindakan tercela yang mencoreng nama baik desa mereka, memaksa mereka menikah saat itu juga. Tidak punya pilihan, Gilang dan Naomi terpaksa menuruti keinginan warga demi menyelamatkan naman baik mereka sebagai pendatang di sana.
“Meski kita sudah menikah, tapi kamu tidak boleh menuntut hak apapun kepadaku!” Kata Gilang setelah tak lama mereka menjadi pasangan suami istri.
Begitu banyak kesepakatan menyakitkan yang dibuat oleh Gilang ditambah sikap Gilang yang sering mengacuhkannya setelah mereka menikah, membuat Naomi merasa pernikahan yang dijalaninya hanya membuatnya terluka.
Apakah Naomi mampu bertahan dengan pernikahan yang hanya membuat luka untuk dirinya meski sebenarnya tanpa diketahui oleh Gilang jika Naomi sudah mencintai Gilang sejak lama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PML 10 - Aku Tidak Pulang
Satu minggu kemudian. Naomi dan Gilang sudah kembali ke Jakarta. Mereka kembali dalam waktu yang lebih lama dari waktu yang sudah disepakati Naomi dengan Papa Niko saat itu. Bukan tanpa alasan, Naomi dan Gilang memilih mengudur waktu kepulangan mereka demi membersihkan nama baik mereka di desa lebih dulu. Apa lagi setelah mengetahui informasi dari Pak Ramzi jika Sindy yang sudah memprovokasi warga untuk menggrebek mereka saat itu, membuat Naomi dan Gilang semakin yakin untuk membuktikan pada warga jika mereka memang tidak bersalah.
Sehari setelah informasi dari Pak Ramzi mereka dapatkan, Naomi pergi rumah sakit yang berada di kota dan melakukan visum di sana. Hasil visum yang ia dapatkan dibawa kembali ke desa untuk memberikan pembuktian pada warga jika Naomi dan Gilang benar tidak bersalah.
Sindy yang kala itu dipaksa untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada Naomi dibuat malu bukan main. Bukan hanya itu saja, Raka yang menjadi pria incarannya pun nampak menatap sinis pada Sindy.
Bukan hanya Naomi, beberapa warga yang ikut dalam penggrebekan ikut meminta maaf. Dan akhirnya, Naomi bisa melepas masa tugasnya di sana dan meninggalkan desa dengan perasaan tenang. Naomi dan Gilang pun berhasil mengembalikan nama baik mereka di sana.
“Jika tidak mengingat kalau dia adalah anak dari Pak Ramzi, aku tidak akan segan mengikatnya dan melempar tubuhnya ke laut!” Gumam Naomi kala itu yang merasa sangat marah pada Sindy.
**
Setelah kembali ke Jakarta, Gilang dan Naomi tidak tinggal terpisah seperti yang Naomi harapkan. Mereka tinggal bersama di sebuah rumah baru yang Gilang beli untuk tempat tinggal mereka berdua. Meski keduanya tinggal di rumah yang sama bahkan tidur di ranjang yang sama, tak membuat hubungan keduanya dekat dan harmonis. Naomi dan Gilang menjalani hidup masing-masing bukan seperti suami istri pada umumnya. Meski begitu, Naomi tetap melakukan kewajibannya dengan baik dalam mengurus Gilang meski pria itu tidak memintanya.
Ceklek
Suara pintu kamar yang terdengar terbuka mengalihkan pandangan Naomi yang sedang beristirahat di atas ranjang setelah pulang bekerja ke arah sumber suara.
Gilang terlihat masuk ke dalam kamar dengan kondisi rambut yang sedikit berantakan. Meski penasaran hal apakah yang membuat penampilan Gilang berantakan seperti itu, Naomi memilih untuk tidak mempertanyakannya.
“Apa kamu makan malam di rumah malam ini?” Sebuah pertanyaan yang keluar dari dalam mulut Naomi mengalihkan perhatian Gilang padanya.
“Tidak. Aku ada janji bertemu dengan teman-temanku sekaligus makan bersama mereka!” Balas Gilang.
Naomi mengangguk. Sudah menjadi hal yang biasa bagi dirinya hanya makan sendirian di rumah tersebut karena Gilang lebih sering menghabiskan waktunya di luar rumah.
“Tidak perlu menyiapkan pakaianku. Aku bisa menyiapkannya sendiri!” Seru Gilang saat hendak masuk ke dalam kamar mandi dan melihat Naomi hendak menyiapkan pakaiannya seperti biasanya.
“Baiklah.” Balas Naomi. Dia kembali ke arah ranjang dan menjatuhkan bokongnya di sana.
“Mau sampai kapan aku menjalani pernikahan yang tidak normal seperti ini?” Lirih Naomi. Rasanya hatinya sakit sekali menjalani pernikahan dengan pria yang sama sekali tidak menginginkannya bahkan tak menganggap kehadirannya.
Tak lama berselang setelah Gilang masuk ke dalam kamar mandi, pria itu keluar dengan rambut yang masih basah. Setelah mengambil pakaian dari dalam lemari dan memasang baju ke tubuhnya, Gilang berkata pada Naomi.
“Malam ini aku mungkin tidak pulang.” Kata Gilang kemudian keluar dari dalam kamar tanpa menunggu respon dari Naomi.
Naomi bergeming dengan kedua bola mata yang mulai berkilat bening. “Apa seterusnya pernikahanku dan Gilang akan berjalan seperti ini?” Lirih Naomi diiringi hembusan napas yang terasa semakin memberat.
***
Jika teman-teman suka dengan cerita Naomi dan Gilang, tinggalkan komentar dan klik tombol suka sebelum meninggalkan halaman ini. Satu lagi, jangan lupa kasih rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ seperti biasanya. Terima kasih🌺
Gilang marah tidak ya Naomi pulang ke rumah mamanya untuk menemui kak Nadira tidak mengajaknya