NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:890.3k
Nilai: 5
Nama Author: Im Human

Aku dinikahi orang yang baru kukenal, dan jarak usia kami 14 Tahun!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Human, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelajaran dari Kereta

"Duhh bau banget sih! Nggak tahan."

Hanna memalingkan pandangannya ke luar jendela, menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan kembali menikmati perjalanan yang berubah menjadi agak kurang menyenangkan itu. Selama kereta berjalan, selama itu pula Ibu-Ibu muda yang duduk di sebelahnya mengomel.

Baru ketika kereta berhenti di stasiun pertama, wanita itu tiba-tiba terdiam. Suara gerutuan dan segala omelannya hilang entah ke mana. Ketika Hanna menoleh sedikit, Ibu muda itu sudah meletakkan kepalanya pada sandran kursi dengan mata terpejam. Sementara di sebelah kursinya berdiri wanita enam puluh tahun yang sempat diusir tadi.

Hanna melihat dengan jelas tangan Ibu muda itu masih menggenggam erat ponselnya, yang artinya ia tidak sedang tidur. Ya, wanita itu hanya pura-pura tidur agar kursinya tidak direbut oleh Ibu yang berdiri di sebelahnya. Meski sudah beberapa kali berdebat dengan pikirannya sendiri untuk mengabaikan kejadian itu, akhirnya Hanna berdiri menyilakan wanita berusia lima puluh tahunan itu untuk menempati kursinya.

"Bu, anda bisa duduk di kursi saya," tawar Hanna pada akhirnya. Tapi wanita itu mengisyaratkan Hanna untuk tetap duduk di kursi dengan kedua tangannya.

"Biar saya di sini saja, menunggu Nyonya ini bangun." Ucap wanita itu yang langsung membuat si ibu muda bereaksi.

"Nggak apa-apa, Bu, anda bisa ambil tempat saya. Saya bisa berdiri sambil menunggu Nyonya ini bangun." Hanna berdiri tanpa meminta persetujuan wanita setengah abad itu lagi.

Ketika Hanna hendak melangkah melewati Ibu muda itu, pria empat puluh tahun di depannya ikut berdiri. "Nggak usah Mbak, biar saya aja yang berdiri, saya turun satu stasiun lagi kok. Ibu, silakan pakai tempat duduk saya."

"Nggak usah Pak, Adik, silakan duduk lagi. Saya tidak apa-apa." Tolak wanita itu sekali lagi. Kejadian itu cukup menarik perhatian penumpang lain sampai beberapa penumpang mulai menerka-nerka kejadian sebenarnya.

Kejadian itu rupanya berefek pada si Ibu muda. Ia membuka mata dan segera mengambil tasnya. "Berisik banget sih! Mau istirahat aja nggak tenang. Udah beli tiket mahal-mahal, masih juga diganggu." Gerutunya kemudian pergi meninggalkan tempat duduknya.

Wanita setengah abad itu meminta Hanna dan laki-laki di depan Hanna untuk kembali duduk dengan senyumnya. Ia pun akhirnya mengambil tempat duduknya kembali. Sepertinya memang Ibu muda tadi memakai tiket palsu untuk masuk ke gerbong eksekutif. Ia langsung pergi setelah petugas kereta hendak menghampirinya.

Sementara iti, melihat Hanna yang masih bingung dan belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, wanita itu mulai bercerita.

"Baju saya tadi robek sewaktu menolong anak gadis yang mau bunuh diri di rel kereta ini sebelum saya masuk. Setelah gadis itu tenang, saya baru bisa meninggalkannya dan masuk ke gerbong. Mungkin petugas tadi mengusir saya karena tidak percaya Nenek tua masuk gerbong eksekutif sendirian. Bagaimana pun, orang-orang pasti lebih mempercayai ucapan Ibu muda tadi." Ceritanya.

"Ehmm, memangnya Ibu mau ke mana?"

"Sebenarnya saya hendak mengunjungi anak bungsu saya. Karena dia terlalu sibuk akhir-akhir ini, jadi saya memesankan tiket kereta untuk menemuinya. Tapi dasar orang tua, tadi saya lupa meletakkan tiketnya di mana. Karena itu saya juga tidak bisa melawan ketika diusir dan dipindahkan ke gerbong ekonomi." Lanjutnya.

"Tapi anda tidak apa-apa, kan? Ah, saya ada air mineral kalau Ibu mau." Tawar Hanna menyerahkan botol air mineral itu pada wanita di sebelahnya. Wanita itu lantas menerimanya dengan senyuman seraya berterima kasih.

"Nenek tua ini baru saja mendapat pelajaran di gerbong ekonomi tadi." Lanjut wanita itu bercerita. "Sewaktu saya berdiri berdesakan karena masih berdebat dengan petugas, seseorang menawarkan tempat duduknya untuk saya. Setelah menerima tawaran itu, saya mencari tiket kereta di dalam tas. Saya ingin tetap pindah ke gerbong eksekutif karena wanita tua seperti saya ini tidak bisa berada di tengah keramaian untuk waktu yang lama."

"Setelah ketemu tiketnya, saya melapor ke petugas, sampai akhirnya saya bisa dipindahkan lagi ke gerbong ini. Tapi ternyata ponsel saya hilang setelah keluar dari gerbong ekonomi." Jelasnya diakhiri dengan tawa.

"Astaghfirullah, terus gimana menghubungi anak anda nanti?"

"Tidak apa-apa, Nak, nanti juga pasti ada jalan." Wanita itu lagi-lagi menunjukkan senyumnya yang menenangkan. Sikap lembut dan tenangnya mengingatkan Hanna pada Kak Zahra dan Bunda. Sosok wanita yang selalu tenang dan ramah dalam menghadapi kondisi sulit sekalipun.

Hanna yang merasa tak enak akhirnya mengutarakan si pikirannya. "Maaf, kalau boleh tahu, anda turun di stasiun mana, ya, Bu?" Tanyanya.

"Stasiun ketiga. Rencananya anak saya akan menjemput di sana." Jawabnya.

"Ah, saya juga turun di stasiun ketiga, kalau begitu saya bisa menemani anda sampai anak anda menjemput." tawar Hanna tulus.

"Kalau memang tidak merepotkan, saya akan sangat senang menerima bantuan Adik." Balasnya membuat Hanna senang sekaligus lega.

Seorang wanita berusia 50 tahunan yang terjebak dalam keramaian kereta, terlibat kesalah pahaman, dan malangnya sampai kecopetan. Mana mungkin Hanna tega membiarkannya kebingungan seperti itu, apalagi barang bawaannya yang banyak. Dengan tekadnya, Hanna pun bersedia menemani wanita itu sampai jemputannya datang.

Ketika kereta berhenti di stasiun ketiga, Hanna yang hanya membawa ransel di punggungnya turut membantu nyonya itu membawakan tas-tas besarnya. Sesuai janji Hanna menemani wanita itu menanti jemputannya. Setelah menunggu kira-kira sepuluh menit, tidak ada tanda-tanda akan ada seseorang yang menjemput, wanita itu pun menyodorkan secarik kertas kecil bertuliskan nomor seseorang.

Hanna Aleesa POV ….

"Tolong kamu hubungi nomor ini ya." Pintanya padaku.

"Iya Bu." Aku mengambil kertas itu dan menghubungi nomor yang ada di sana.

Setelah tiga kali berusaha menghubungi nomor itu, sama sekali tak ada jawaban dari sang pemilik ponsel. Mungkin karena tidak mengenali nomor yang menghubunginya, pemilik nomor itu sengaja tidak mau mengangkat panggilan.

"Coba kamu kirim pesan saja. Bilang kalau Ummi sudah menunggu di stasiun lima belas menit yang lalu." Ucap Ibu itu lagi.

Aku pun mengirimkan pesan meski sempat berpikir ragu. Jika telepon saja tidak diangkat, mana mungkin dengan mengirim pesan akan terbaca? Tapi aku tetap menuruti permintaan Nyonya ini. Dan beberapa saat setelah mengirim pesan itu, nomor yang sejak tadi menolak panggilanku itu segera menelepon balik. Aku pun menyerahkan ponselnya pada wanita setengah abad itu.

"Halo, assalamualaikum. Iya ini Ummi baru turun dari kereta. Kamu bisa jemput Ummi, kan?"

"Iya Ummi, ini baru keluar kantor. Maaf ya Ummi, tolong tunggu sebentar lagi." Suara laki-laki terdengar begitu bersalah.

"Iya, nggak apa-apa. Hati-hati di jalan, kamu nggak perlu buru-buru, Ummi nggak sendirian di sini." Ucapnya seraya menatapku.

"Iya. Hati-hati.., Assalamualaikum."

Setelah menutup panggilan itu, Ibu ini memintaku untuk tetap menunggu sampai anaknya menjemput. Aku pun tak keberatan menemaninya selagi aku juga menunggu taksi pesananku di luar stasiun.

"Menurut kamu, berapa umur saya sekarang?" Tanya Wanita itu tiba-tiba.

"Awal lima puluh tahun?" Jawabku ragu.

"Hahhaa, Saya ini sudah 60 tahun lebih sebenarnya." Ucapnya lagi-lagi diselingi tawa kecil.

"Tapi anda terlihat lebih muda dari usia anda."

“Kamu bisa aja. Terima kasih, loh.”

“Oh, ya. Sampai lupa nanya, kamu dari mana tadi? Kamu … tinggal di dekat sini?”

“Iya, Bu, saya Mahasiswi di Kota B, rencananya hari ini saya mau pulang ke rumah orangtua saya. Tapi sebelum itu saya mau mampir ke rumah Nenek dulu, nggak begitu jauh dari sini,” terangku.

"Oh, mahasiswa. Sudah semester berapa?"

"Semester akhir, Bu. Ini sedang menyelesaikan tugas akhir dan berkas-berkas kelulusan."

Lima menit menemani Nyonya itu menunggu anak bungsunya, tiba-tiba seorang pria berlari menuju ke arah kami berangsur memeluk wanita itu.

"Ummi, maaf ya Adrian lama, tadi sebenarnya Adrian masih sama klien." Ucap pria itu berlutut memeluk ibunya.

"Nggak apa-apa … tadi ponsel Ummi hilang, jadi Ummi dibantu sama gadis ini, bahkan dia yang nemenin Ummi daritadi." Ucap Wanita itu menunjukku yang berdiri tak jauh dari sana seraya mengangguk mengiyakan perkataan wanita itu.

"Terima kasih ya, sudah menjaga Ibu saya. Ini, ada sedikit imbalan dari saya sebagai rasa terima kasih." Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.

"Tidak usah Pak, saya yang tadi menawari bantuan untuk Ibu anda. Anda simpan lagi saja uangnya." Aku menolak secara halus.

“Tidak apa-apa, terima saja,” ucapnya memaksa.

“Maaf, Pak … tapi, menurut saya ini terlalu berlebihan, saya benar-benar tidak perlu imbalan,” tolakku sekali lagi

Sebenarnya dalam hati ini aku begitu kesal. Aku sangat kesal dengan orang-orang yang selalu memberikan uang sebagai ucapan terima kasih. Di dunia ini mugkin banyak yang menolong dengan pamrih. Tapi aku bukan manusia seperti itu. Karena itu sejujurnya aku tak suka disamakan dengan orang-orang yang menjadi penolong dengan mengharapkan imbalan materi.

"Kamu itu gimana sih! Dia menolong Ummi dengan ikhlas, kenapa harus diganti dengan uang segala!" Wanita itu membentak seraya memukul bahu anaknya.

1
Atik Dm
Lumayan
Mis Miftahul huda1976
o ,
v
Heri Sutiawan
kirain aku aja yg gak ngerti bahasa itu
Nurmalina Gn
auto kaget
Buk as Ninon
_ /

/_
Imas Sarifah
duh jngn sampai poligami atuh thor
Imas Sarifah
duh hati ku tercubit😔
claa
tolong lanjutin ato bikin novel sekuelnya dong thorrr
masih kurang puas nih
Puja Erza
thor ish kok cerita nya kemana2 ini hahahahhahahaha
Gusti Ngurah
Garrin gmn? Wkwkwkkkw yahhh hampir sama dengan nasib saya, siapa cepat dia dapat
Elena A W
agak sedih sih ternyata endingnya Adrian meninggal. ngga ada kisah romansa lagi. tapi semoga authornya bikin cerita baru tentang ketiga anaknya. atau at least kisah cintanya si asyqar ajaa
shofiarouf
brrti bukan aq aja ya yg agak bingung sama flashback nya 😅
Norintan Nazmie Tim's Sha
Syukurlah alhamdulillah hanna dah hamil
Norintan Nazmie Tim's Sha
astagfirullahadzim menyesalnya aku membaca nya, poligami, sesak nya Dada ku
Norintan Nazmie Tim's Sha
masih hot bah usia jarak jauh, so sweet 😍😍😍
ae🥳
kpn senenge jd hanna🤧🤧
sedih mulu
Rini Haryati
keren
Kak Riya
kyak khadijah suka deh sama gariiin
Svwalad Amanah
ceritanya bgs bgt thor,byk pelajaran fositifnya,terutama tentang agama,mksh thor,dan semangat trs untk karya yg lainya
Ida Mom's Deden
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!