Shanaya berdiri di tepi taman halaman rumahnya, angin malam membelai sayap-sayap keabadiannya yang tersembunyi. Bintang mendekatinya, matanya memancarkan cinta yang tak terbantahkan. "Shanaya, aku tahu kita berbeda, tapi aku tidak peduli. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu," katanya dengan suara lembut.
Shanaya menoleh, mencoba menyembunyikan air matanya "Bintang, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Aku...aku bukan seperti kamu. Aku memiliki rahasia yang tidak bisa kamu terima..." Shanaya mengangkat tangan, menghentikan Bintang yang ingin mendekat. "Tolong, jangan membuat ini lebih sulit daripada yang seharusnya. Aku tidak bisa menjadi yang kamu inginkan..."
Bintang terlihat hancur, tapi dia tidak menyerah. "Aku tidak peduli dengan apa yang kamu sembunyikan, Shanaya. Aku hanya ingin kamu..."
Apakah Shanaya akan membuka hatinya untuk Bintang atau justru pergi ke langit ketujuh dan meninggalkan Bintang seorang diri di malam yang sunyi ini? Ikuti terus kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3. "Teman Baru"
Hari ini, Shanaya masuk ke kelas dengan senyum yang cerah. Dia masih memikirkan tentang permainan basket kemarin dan rencana untuk bergabung dengan tim ekstrakurikuler basket.
Saat dia duduk di tempat duduknya, ada seorang gadis yang duduk di sebelahnya.
"Hai, gue Thalia. Loe Shanaya, kan?" ucapnya dengan senyum yang ramah sembari mengulurkan tangan pada Shanaya
Shanaya tersenyum membalas jabatan tangan gadis itu, "I...iya, gue Shanaya. Salam kenal..."
Thalia tersenyum, "Gue juga salam kenal yah. Gak usah canggung, gue memang baru masuk hari ini dari liburan selama 2 minggu lalu ke Bandung ada kerabat yang meninggal disana. Oh ya gue tahu nama loe dari Joe dia banyak cerita tentang loe..." jelasnya berusaha mencairkan suasana
Shanaya yang tadinya agak ragu, langsung merasa nyaman dengan Thalia. Mereka berdua langsung mengobrol dan bercanda bersama dan saling menemukan kecocokan satu sama lain.
Bintang yang duduk di belakang, melihat Shanaya dan Thalia yang tengah asyik mengobrol, tersenyum.
"Wah, Shanaya udah dapet temen baru nih kayaknya..." ucapnya saat menghampiri kedua gadis itu
Zaneta yang duduk di bangku sebelah kanan Bintang, menggerutu.
"Cihhh...Shanaya cepet banget dapet temen baru dari kemaren ngeselin banget sih kenapa semua orang suka ke dia padahal dia kamseupay banget..." gumamnya kesal
Mereka berdua akhirnya bersahabat, dan Shanaya merasa sangat senang. "Thalia, kita makan siang bareng yuk..." ajaknya
Thalia tersenyum, "Oke, Shanaya...ayuk..."
Mereka pun berjalan sembari bergandengan tangan menuju kantin yang berada di Universitas Trisakti tempat mereka menempuh pendidikan perguruan tinggi saat ini.
Shanaya dan Thalia duduk di kantin, sambil menikmati makan siang mereka. Shanaya tiba-tiba menggrimasi, kedua bahunya yang terasa nyeri seperti ada yang menusuk-nusuk pada kedua bahunya saat ini.
"Thalia, gue kayaknya gak enak badan..." ucapnya, sambil menggapai kedua bahunya.
Thalia yang tadinya tengah asik mengobrol, langsung khawatir. "Shanaya, apa yang terjadi? Loe gak enak badan? Apa loe mau ke UKS atau gue antar loe pulang?"
Shanaya menggapai bahunya lagi, "Gue gak tau, Thalia. Rasanya kayak ada yang menusuk-nusuk di bahu gue..."
Thalia langsung berdiri, "Gue antar loe ke UKS, Shanaya. Loe harus periksa..."
Shanaya menggandeng Thalia, sambil mencoba untuk tidak terlalu khawatir. "Gue gak apa-apa, Thalia. Cuma gak enak badan aja lagian kita masih ada jam kuliah satu lagi..."
Tapi, Shanaya tidak tahu bahwa nyeri di bahunya itu adalah tanda-tanda sayap jathayunya yang mulai tumbuh. Dia tidak tahu bahwa dia adalah keturunan jathayu, sebuah rahasia yang belum terungkap.
Thalia membantu Shanaya berjalan ke UKS, sambil terus bertanya apa yang terjadi. Shanaya hanya bisa menggandengnya lemah, sambil mencoba untuk memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Shanaya dan Thalia akhirnya sampai di UKS, dan perawat meminta Shanaya untuk berbaring. Thalia duduk di sebelahnya, sambil terus memegang tangan Shanaya.
"Gue gak apa-apa, Thalia," ucap Shanaya, mencoba untuk tersenyum agar tak membuat khawatir Thalia
Tapi, perawat yang memeriksa Shanaya, terlihat agak aneh. "Shanaya, apa kamu pernah merasa ada yang aneh di bahu kamu?" tanya perawat itu
Shanaya menggelengkan kepala, "Gak, kenapa mbak?"
Perawat itu ragu-ragu, "Saya ingin kamu periksa ke dokter, Shanaya. Ada sesuatu yang saya ingin pastikan..."
Thalia yang mendengar itu, langsung khawatir. "Apa yang terjadi, mbak perawat?"
Perawat itu tersenyum, "Saya gak bisa mengatakan apa-apa dulu, Thalia. Tapi, kamu harus periksa ke dokter agar lebih jelasnya..."
Shanaya merasa ada yang tidak beres, tapi dia mencoba untuk tidak terlalu khawatir.
Shanaya dan Thalia akhirnya pergi ke dokter yang direkomendasikan oleh perawat. Saat mereka menunggu di ruang tunggu, Shanaya tidak bisa tidak merasa khawatir.
"Thalia, apa yang terjadi?" tanya Shanaya, suaranya sedikit bergetar
Thalia memegang tangan Shanaya, "Gue gak tahu, Shanaya. Tapi, pasti gak apa-apa. Dokter akan menjelaskan semuanya..."
Shanaya mengangguk, mencoba untuk menenangkan diri.
Saat nama Shanaya dipanggil, dokter memanggilnya masuk ke ruang pemeriksaan. Thalia ingin ikut, tapi dokter meminta Shanaya untuk masuk sendiri.
Shanaya masuk ke ruang pemeriksaan, dan dokter meminta dia untuk duduk.
"Shanaya, saya ingin memberitahu kamu sesuatu yang mungkin akan membuat kamu shock," ucap dokter itu, suaranya tampak serius
Shanaya merasa jantungnya berdetak kencang, "Apa itu, dokter?"
Dokter itu mengambil napas dalam-dalam, "Shanaya, kamu adalah keturunan Jathayu. Kamu memiliki DNA darah jathayu di dalam tubuhmu..."
Shanaya merasa seperti terpukul begitu saja saat ini, "Apa? Gak mungkin, dok jangan bercanda deh ya dok, mana ada kayak gitu di dunia nyata hahaha..." ucapnya terkekeh
Dokter itu tersenyum, "Saya tahu ini kurang masuk akal bagi kamu, tapi itu benar. Dan ada sesuatu yang lain... Kamu memiliki sayap Jathayu yang mulai tumbuh, untuk itu kamu harus lebih berhati-hati dalam membawa diri disaat kamu merasa tertekan dan terancam sayap itu akan mengepak dengan sempurna untuk melindungi dirimu sendiri..."
Shanaya merasa seperti dunia berputar, apa yang dokter katakan itu tidak mungkin atau mungkin itu penjelasan untuk nyeri di bahunya?
Shanaya masih mencoba untuk memahami apa yang dokter katakan.
"Sayap Jathayu? Apa itu artinya dok?"
Dokter itu tersenyum, "Itu artinya kamu memiliki kemampuan untuk berubah menjadi makhluk yang memiliki sayap, seperti malaikat. Tapi, itu juga berarti kamu memiliki tanggung jawab untuk melindungi dunia dari kejahatan..."
Shanaya merasa seperti dalam mimpi, "Tapi... saya gak tahu apa-apa tentang itu. Saya gak tahu bagaimana cara mengontrolnya nanti dok..."
Dokter itu memberikan Shanaya sebuah buku tua, "Ini adalah buku panduan untuk Jathayu. Di dalamnya ada semua informasi yang kamu butuhkan untuk memahami kemampuanmu dan bagaimana cara mengontrolnya..."
Shanaya mengambil buku itu, dan merasa ada energi aneh yang mengalir di dalam tubuhnya. "Apa yang harus saya lakukan sekarang dok?" tanya Shanaya panik
Dokter itu tersenyum, "Saya akan memberikan kamu waktu untuk membaca buku itu. Tapi, Shanaya, kamu harus siap. Dunia kamu akan berubah selama-lamanya tidak seperti Shanaya yang dulu atau yang saat ini..."
Shanaya mengangguk, dan dokter itu membiarkan dia pergi. Saat Shanaya keluar dari ruang pemeriksaan, Thalia langsung bertanya, "Apa yang terjadi, Shanaya? Apa yang dokter katakan?"
Shanaya tersenyum, "Gue... gue gak tahu, Thalia. Tapi, gue harus memberitahu Bintang..."
Shanaya berdiri di depan Bintang, tapi tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Dia masih mencoba untuk memahami apa yang terjadi pada dirinya, dan takut kalau Bintang akan menjauhinya jika tahu rahasia besarnya.
"Shanaya, apa yang terjadi?" tanya Bintang, melihat ekspresi Shanaya yang aneh
Shanaya menggandeng Bintang, "Gue... gue gak apa-apa, Bintang. Cuma gak enak badan aja..."
Bintang memelaskan dahinya, "Kamu pasti capek. Aku antar kamu pulang, yuk..."
Shanaya mengangguk, dan mereka berjalan bersama menuju parkiran. Tapi, Shanaya tidak bisa tidak merasa ada jarak antara mereka. Dia tidak tahu bagaimana cara memberitahu Bintang tentang rahasia Jathayunya.
Saat mereka sampai di depan kosan Shanaya, Bintang bertanya, "Shanaya, kamu pasti baik-baik aja, kan?"
Shanaya tersenyum, "Gue baik-baik aja, Bintang. Makasih ya..."
Bintang tersenyum, dan Shanaya merasa ada yang menyakitkan di dalam hatinya. Dia tidak tahu bagaimana cara menjaga rahasia ini, dan takut kalau Bintang akan menjauhinya jika mengetahui rahasia yang ia sembunyikan.
Shanaya masuk ke kamar kosnya, dan langsung menuju kamar. Dia mencoba membuka buku panduan Jathayu, dan mulai membaca. Tapi, pikirannya terus kembali ke Bintang, dan takut kalau dia akan kehilangan orang yang paling dia cintai.
Saat membaca, Shanaya menemukan sebuah halaman yang menarik. "Kemampuan Jathayu dapat diaktifkan dengan emosi yang kuat,"
Shanaya berpikir tentang Bintang, dan tiba-tiba dia merasa ada energi aneh yang mengalir di dalam tubuhnya. Bahunya mulai terasa nyeri, dan dia bisa merasakan sayapnya mulai tumbuh.
Shanaya panik, dan tidak tahu bagaimana cara mengontrolnya. Dia berlari ke cermin, dan melihat bayangannya. Sayap putih yang indah mulai tumbuh dari bahunya, dan Shanaya tidak bisa tidak merasa kagum dirinya justru merasa ngeri dengan perubahan dirinya saat ini.
Tapi, saat dia melihat ke jendela, dia melihat Bintang yang berdiri di luar, menatapnya dengan mata yang lebar. "Shanaya... apa itu?" tanya Bintang, suaranya bergetar
Shanaya merasa jantungnya berhenti, dan tidak tahu bagaimana cara menjelaskan.
Shanaya berdiri membeku, sayapnya masih terentang di belakangnya. Bintang masih menatapnya dengan mata yang lebar, dan Shanaya bisa melihat campuran emosi di wajahnya, kejutan, kekaguman, dan sedikit ketakutan.
"Bintang..." Shanaya mencoba untuk berbicara, tapi suaranya tertahan di tenggorokan
Bintang mengambil beberapa langkah ke depan, matanya tidak pernah meninggalkan sayap Shanaya. "Shanaya, loe...loe seorang Jathayu?" tanya Bintang, suaranya masih bergetar
Shanaya mengangguk, masih merasa tidak percaya bahwa Bintang ada di sana. "Gue... gue gak tahu bagaimana cara menjelaskannya, Bintang..." ucapnya, dengan suara lembut
Bintang tersenyum, dan Shanaya merasa ada sesuatu yang hangat di hatinya. "Gue gak peduli apa kamu Jathayu atau bukan, Shanaya. Gue hanya peduli tentang kamu," ucap Bintang, suaranya penuh emosi
Shanaya merasa ada yang meledak di dalam hatinya, dan dia berlari ke arah jendela menghampiri Bintang, sayapnya terentang di belakangnya. Bintang membuka lengan, dan Shanaya masuk dalam pelukannya yang hanya melalui jendela kosan saat ini.
Shanaya dan Bintang berdiri di sana, saling berpelukan, sayap Shanaya masih terentang di belakangnya. Bintang memelaskan rambut Shanaya, dan berkata, "Gue gak pernah merasa seperti ini sebelumnya, Shanaya. Gue merasa gue bisa melakukan apa saja asalkan kamu ada di samping gue..."
Shanaya tersenyum, dan merasa ada yang hangat di hatinya.
"Gue juga, Bintang. Gue gak tahu apa yang akan terjadi, tapi gue tahu gue gak sendirian ada loe, Thalia, Joe, Nathaniel, juga Felix yah...gue punya kalian semua..."
Bintang tersenyum, dan mereka berdua berdiri di sana, menikmati momen itu. Sayap Shanaya mulai menghilang, dan dia merasa kembali menjadi dirinya sendiri.
"Gue harus memberitahu Thalia, takutnya nanti dia shock kalau gue gak pernah kasih tahu dia..." ucap Shanaya, tiba-tiba
Bintang mengangguk, "Gue ikut, yuk biar gue anter kalo loe mau ketemuan sama dia..."
Shanaya tersenyum, dan mereka berdua pergi untuk memberitahu Thalia tentang rahasia Jathayunya.
Mereka berdua akhirnya sampai di kos Thalia, dan Shanaya mengambil napas dalam-dalam sebelum memberitahu Thalia tentang rahasia mengenai DNA Jathayunya. Thalia memang kaget pada awalnya, tapi setelah Shanaya menjelaskan semuanya, Thalia langsung memahami Shanaya dan berjanji untuk menjaga rahasia dan melindunginya.
"Gue gak akan biarkan apa pun terjadi pada loe, Shanaya, gue janji..." ucap Thalia, suaranya tegas
Shanaya tersenyum, merasa lega bahwa dia memiliki teman-teman yang bisa dia percaya.
Sorenya, mereka berenam memutuskan untuk latihan main basket di lapangan kampus. Shanaya masih belum terbiasa dengan pertumbuhan sayapnya, tapi dia berusaha untuk fokus pada permainan.
Bintang yang menjadi lawan tim Shanaya, tersenyum nakal. "Loe bisa kalahin gue, Shanaya?"
Shanaya tersenyum, dan mereka mulai bermain. Thalia yang menjadi wasit, berteriak, "Mulai!"
Mereka bermain dengan intens, dan Shanaya merasa seperti dia bisa terbang tanpa sayap.
Mereka bermain dengan sangat intens, bola basket dipantulkan ke lantai, dan suara dribble bergantian antara Shanaya dan Bintang. Joe dan Nathaniel berada dalam satu tim dengan Shanaya, sementara Felix dan Varel dalam satu tim dengan Bintang.
"Serang, Shanaya!" teriak Joe, saat Shanaya mendapatkan bola
Shanaya berlari ke arah ring, menghindari Felix yang mencoba merebut bola. Dia melompat, dan bola basket melayang ke dalam ring.
"3 poin!" teriak Thalia, sambil melompat
Bintang menggantikan bola, dan timnya mulai menyerang. Felix dan Varel bekerja sama, membuat Shanaya dan Joe kesulitan merebut bola.
Tapi, Shanaya tidak menyerah. Dia menggunakan kemampuan Jathayunya, melompat lebih tinggi dan merebut bola dari Felix.
"Wow!" teriak Nathaniel, saat Shanaya mendarat dengan bola di tangannya
Mereka bermain dengan sangat sengit, dan skor semakin dekat. Siapa yang akan menang?