Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Ruang perawatan itu telah disulap paksa menjadi tempat yang paling menyedihkan untuk sebuah prosesi sakral.
Harum bunga melati yang dibawa asisten Papa Hermawan beradu dengan aroma obat-obatan yang tajam, menciptakan suasana yang membuat siapa pun merasa mual.
Zahra berdiri dengan gaun putih milik Gea yang tampak sedikit longgar di tubuhnya yang kuyu.
Cadar tipis sengaja dipasangkan untuk menutupi wajahnya agar para tamu mengira kalau Zahra adalah Gea.
Di depannya, Akhsan duduk di kursi roda dengan kemeja putih dan jas yang tersampir di bahu untuk menutupi perban yang melilit dada dan lengannya.
Sebelum penghulu memulai tugasnya, Papa Hermawan mengeluarkan sebuah map cokelat tua.
Di dalamnya terdapat lembaran akta kelahiran asli dan sepucuk surat wasiat kusam.
"Ini adalah kebenarannya, Akhsan," ucap Papa yang baru saja menerima informasi dari anak buahnya.
"Ayah kandungmu adalah Burhan, sopir setia keluarga ini yang gugur saat menyelamatkan nyawa Papa dalam kecelakaan dua puluh delapan tahun lalu. Saat itu, istrinya melahirkan di waktu yang hampir bersamaan dengan Mamamu."
Papa melirik Mama yang masih terisak pelan di sudut ruangan.
"Anak kandung kami meninggal dalam kandungan saat persalinan. Karena rasa hutang budi yang teramat besar, akhirnya istri Burhan menukar nya dengan Akhsan,"
Akhsan mengepalkan tangannya. Fakta bahwa ia adalah anak seorang sopir bukanlah hal yang menyakitkan baginya, namun kenyataan bahwa seluruh hidupnya dibangun di atas kebohongan dan kini dihancurkan oleh ambisi "nama baik"
Papa Hermawan membuatnya merasa seperti bidak catur yang tak berharga.
Suasana di dalam ruangan itu mendadak senyap, seolah oksigen tersedot habis oleh pengakuan Papa Hermawan.
Zahra menatap nanar ke arah Akhsan. Pria itu tidak menangis.
Akhsan justru tertawa, sebuah tawa kering yang lebih mengerikan daripada kutukan.
"Jadi, aku hanya seorang pengganti yang kini harus membayar hutang budi dengan menjadi boneka pernikahanmu, Pa?" desis Akhsan.
Papa Hermawan tidak menjawab. Ia hanya memberi kode kepada penghulu yang sedari tadi menunduk kaku, tidak berani mencampuri drama keluarga konglomerat tersebut.
Kemudian Papa Hermawan memanggil penghulu untuk memulai acaranya.
Di aula rumah sakit dimana acara akad nikah akan dilakukan.
Aula rumah sakit yang biasanya hening itu telah berubah menjadi panggung sandiwara yang mewah namun dingin.
Beberapa deret kursi diisi oleh tamu-tamu penting, rekan bisnis Papa Hermawan yang datang dengan senyum formal, tanpa tahu bahwa di balik cadar putih itu, bukan Gea yang sedang duduk menahan napas.
Zahra melangkah dengan tungkai yang terasa seberat timah.
Setiap langkahnya menuju meja akad terasa seperti langkah menuju tiang gantungan.
Di sana, Akhsan sudah menunggu di kursi roda, didampingi oleh seorang perawat yang berjaga di belakangnya.
Wajah Akhsan pucat pasi, namun matanya yang tajam menatap lurus ke depan, menghindari kontak mata dengan Zahra seolah-olah gadis itu adalah wabah yang mematikan.
"Saudara Akhsan bin Burhan..." ucap penghulu.
Penyebutan nama "Bin Burhan" membuat para tamu berbisik heran.
Mereka mengenal Akhsan sebagai putra mahkota Hermawan. Namun, tatapan tajam Papa Hermawan yang berdiri di barisan depan seketika membungkam desas-desus tersebut.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Zahra Adistia binti Hermawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Akhsan dengan satu tarikan napas.
"Sah?"
"Sah."
Detik itu juga, status mereka berubah. Kakak yang ia puja, kini menjadi suami yang membencinya.
Zahra mengulurkan tangannya yang gemetar untuk menyalami tangan Akhsan.
Saat bibirnya menyentuh punggung tangan pria itu, Akhsan membungkuk sedikit dan berbisik tepat di telinga Zahra, cukup rendah hingga hanya Zahra yang bisa mendengarnya.
"Selamat, Pembunuh. Kamu baru saja memenangkan piala dari kematian Gea."
Zahra tersentak. Air matanya jatuh membasahi sarung tangan putihnya.
Ia ingin membalas, ingin meneriakkan bahwa ia juga korban, namun suaranya seolah terkunci di tenggorokan.
Setelah prosesi yang singkat dan menyiksa itu, Akhsan dipindahkan kembali ke ruang VIP untuk pemulihan, sementara Zahra dipaksa untuk tetap berada di sana, menjalankan perannya sebagai istri.
Papa Hermawan dan Mama sudah pulang untuk mengurus tamu di rumah, meninggalkan pasangan baru itu dalam keheningan yang menyesakkan.
Akhsan terbaring di ranjang, menatap langit-langit dengan pandangan kosong.
"Mas, apakah ada yang sakit? Perlu aku panggilkan suster?" tanya Zahra ragu-ragu sembari mendekat.
Ia masih mengenakan kebaya putihnya, belum sempat berganti pakaian.
Akhsan menoleh perlahan. Sorot matanya dipenuhi kebencian yang murni.
"Jangan mendekat. Bau melati di tubuhmu membuatku mual. Bau itu mengingatkanku pada bunga di atas peti mati Gea."
Zahra mundur selangkah, hatinya terasa seperti diremas.
"Aku tidak pernah menginginkan kecelakaan itu terjadi, Mas Akhsan. Aku mencintaimu, tapi aku tidak sejahat itu."
"Cinta?" Akhsan tertawa getir, tawa yang berakhir dengan rintihan kesakitan di dadanya yang masih dibalut perban.
"Cintamu itu penyakit, Zahra. Karena obsesimu, Tuhan menghukumku dengan mengambil wanita yang benar-benar aku cintai, dan menggantinya dengan kamu."
Akhsan menunjuk pintu dengan tangan yang masih terpasang infus.
"Keluar! Tidurlah di sofa atau di lantai. Aku tidak ingin melihat wajahmu di ruangan ini."
Zahra menghela nafas panjang dan masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Di dalam kamar mandi, Zahra menatap wajahnya yang masih memakai make-up.
Zahra menghapus riasan di wajahnya dengan kasar menggunakan tisu pembersih.
Air mata yang bercampur dengan sisa foundation dan maskara hitam mengalir di pipinya, menciptakan pemandangan yang menyedihkan di depan cermin kamar mandi.
Ia menatap pantulan dirinya sendiri dengan tatapan yang hancur.
"Bagaimana bisa kamu menuduhku sekejam itu, Mas?" gumam Zahra dengan suara serak.
"Aku memang mencintaimu, tapi aku tidak pernah mengharapkan kematian Kak Gea agar bisa memilikimu. Aku tidak sepicik itu..."
Zahra mengganti kebaya pengantinnya dengan pakaian santai yang ia bawa dari rumah.
Ia sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi, mengulur waktu karena ia tahu di balik pintu itu, hanya ada kebencian yang menunggunya.
Saat ia akhirnya keluar, ruangan VIP itu remang-remang.
Hanya lampu tidur di samping ranjang Akhsan yang menyala.
Zahra melihat suaminya yang secara sah telah membelenggu hidupnya sedang memejamkan mata. Namun, dari tarikan napasnya yang tidak teratur dan rahangnya yang mengeras, Zahra tahu Akhsan belum tidur.
Zahra berjalan pelan menuju sofa panjang di sudut ruangan.
Ia mengambil selimut tipis dan mencoba mencari posisi yang nyaman. Namun, keheningan malam itu justru membuat suara hatinya terdengar lebih keras.
Malam yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan itu kini menjelma menjadi simfoni duka di balik dinding ruang VIP yang dingin.
Hanya ada suara mesin monitor jantung yang berbunyi monoton, seolah menghitung detik-detik kehancuran dua jiwa yang baru saja dipersatukan oleh paksa.
Di atas ranjang, Akhsan menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal.
Ia menekan bantal itu kuat-kuat ke wajahnya, mencoba meredam suara yang ingin meledak dari dadanya. Namun, pertahanannya runtuh.
Pundaknya berguncang hebat. Di balik kegelapan bantal itu, Akhsan berteriak tanpa suara, sebuah teriakan yang penuh dengan rasa frustrasi, kehilangan, dan kemarahan yang membakar.
"Kenapa, Gea? Kenapa bukan aku saja yang pergi?" raungnya dalam hati.
Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Gea yang bersimbah darah namun masih tersenyum manis terus menghantuinya.
Rasa bersalah karena ia masih bernapas sementara wanita yang dicintainya telah terkubur, terasa lebih menyakitkan daripada luka operasi di perutnya. Dan kenyataan bahwa sekarang ada Zahra di ruangan yang sama dimana gadis yang ia anggap sebagai penyebab dari segala kutukan membuat darahnya mendidih sekaligus mendingin.
Beberapa meter darinya, di atas sofa yang keras, Zahra meringkuk di balik selimut.
Ia menutupi seluruh tubuhnya hingga ke kepala, berusaha mengisolasi diri dari dunia luar.
Isak tangisnya pecah, tertahan oleh kain selimut yang ia gigit agar suaranya tidak keluar.
Zahra bisa mendengar samar-samar suara ranjang yang berderit akibat guncangan tubuh Akhsan yang menangis.
Setiap isakan Akhsan terasa seperti sembilu yang menyayat kulitnya.
Ia ingin sekali bangun, berlari ke arah ranjang itu, dan memeluk pria itu untuk membagi beban dukanya. Namun, ia tahu, kehadirannya saat ini hanyalah racun bagi Akhsan.
"Aku istrimu, Mas. Tapi kenapa rasanya aku seperti musuh terbesarmu?" batin Zahra pilu.
Air matanya terus mengalir, membasahi bantal sofa yang apek.
Zahra merasa dirinya seperti burung dalam sangkar emas yang dibangun di atas pemakaman.
Ia memiliki raga Akhsan, ia memiliki status sebagai istrinya, namun ia kehilangan "Mas Akhsan"-nya yang dulu.
Kakak yang meski dingin, tetap melindunginya. Sekarang, yang tersisa hanyalah seorang pria asing yang menatapnya dengan nafsu untuk menghancurkan.
Malam itu, di bawah remang lampu rumah sakit, dua orang yang baru saja mengikat janji suci itu menangis di sudut masing-masing.
Mereka terikat dalam satu ikatan yang sah, namun dipisahkan oleh jurang kebencian dan duka yang tak berdasar.
Pernikahan itu bukan dimulai dengan ciuman mesra, melainkan dengan air mata yang membasahi kain bantal, meratapi nasib yang telah berubah menjadi tragedi berdarah.