Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyonya Baru dan Jejak Yang Tertinggal
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di kamar utama rumah Adiwangsa. Katya terbangun dengan rasa yang aneh di dadanya—campuran antara kebahagiaan karena status barunya dan kecemasan akibat percakapan telepon Donny yang ia dengar semalam. Di sampingnya, sisi tempat tidur sudah kosong, namun masih menyisakan kehangatan dan aroma maskulin khas suaminya.
Katya turun dari ranjang, mengenakan silk robe panjang berwarna merah marun. Saat ia bercermin, ia melihat tanda kecupan di keningnya yang mulai memudar, mengingatkannya bahwa ia benar-benar telah menjadi istri Donny. Namun, saat matanya beralih ke meja rias yang masih berisi beberapa kosmetik milik mendiang Marina, rasa asing itu kembali muncul.
Ia melangkah keluar kamar dan menuruni tangga marmer yang megah. Di ruang makan, tiga orang pelayan berseragam rapi langsung membungkuk hormat.
"Selamat pagi, Nyonya Donny," sapa mereka serempak.
Katya tersenyum kaku. "Pagi. Pak Donny di mana?"
"Bapak sudah di ruang olahraga sejak subuh, Nyonya. Beliau berpesan agar Nyonya sarapan terlebih dahulu. Ingin sarapan apa pagi ini? Kami biasanya menyiapkan omelet dan salad untuk Nyonya Marina," ujar Bi Sumi, kepala pelayan yang sudah bekerja belasan tahun di sana.
Mendengar nama Marina disebut secara alami seolah-olah wanita itu masih ada di sana, membuat tenggorokan Katya tercekat. "Saya... saya lebih suka nasi goreng kampung dengan telur mata sapi. Dan tolong, panggil Katya saja, Bi."
Bi Sumi tampak terkejut, saling lirik dengan pelayan lain. "Maaf, Nyonya. Di rumah ini, aturan protokol sangat ketat. Bapak tidak suka jika kami tidak sopan."
Katya menghela napas. Ia baru sadar bahwa rumah ini bukan hanya bangunan megah, tapi sebuah institusi yang memiliki ritmenya sendiri. Sebuah ritme yang dibentuk selama bertahun-tahun oleh Donny dan istrinya terdahulu.
Tak lama kemudian, Donny muncul dengan kaos atletik yang basah oleh keringat, handuk melingkar di lehernya. Wajahnya yang segar seketika cerah saat melihat Katya. Ia menghampiri istrinya dan mengecup puncak kepalanya tanpa peduli ada pelayan di sekitar mereka.
"Sudah bangun, Sayang? Maaf, saya harus berolahraga untuk membuang ketegangan semalam," bisik Donny.
"Mas... Bi Sumi bilang biasanya mereka masak buat Marina. Mas nggak apa-apa kalau aku minta menu beda?" tanya Katya hati-hati saat mereka duduk di meja makan.
Donny terdiam sejenak, lalu menatap Bi Sumi dengan tegas. "Mulai hari ini, selera Nyonya Katya adalah prioritas di rumah ini. Semua barang milik Marina yang masih ada di area publik dan kamar utama, tolong segera kemas dan pindahkan ke ruang penyimpanan di paviliun belakang. Saya ingin Katya merasa ini adalah rumahnya, bukan museum."
"Baik, Pak," jawab Bi Sumi dengan kepala tertunduk.
Setelah sarapan, Donny harus berangkat ke kantor untuk pertemuan darurat. "Zaky akan menjagamu hari ini. Kalau kamu bosan, mintalah dia mengantarmu ke butik atau ke rumah Ayah."
"Aku mau di rumah saja, Mas. Mau coba merapikan beberapa hal," jawab Katya.
Setelah mobil Donny menghilang di balik gerbang, Katya mulai melakukan pengamatan. Ia berjalan menuju paviliun belakang, tempat Bi Sumi dan pelayan lainnya sedang memindahkan kotak-kotak berisi barang Marina. Katya melihat Bi Sumi menangis sambil memegang sebuah bingkai foto.
"Bi?" panggil Katya lembut.
Bi Sumi terburu-buru menghapus air matanya. "Maaf, Nyonya. Saya hanya... saya sudah merawat Nyonya Marina sejak beliau menikah dengan Bapak. Beliau orang yang sangat rapuh."
"Bi, aku nggak bermaksud menghapus kenangan beliau. Mas Donny hanya ingin aku merasa nyaman," Katya mencoba memberikan pengertian. "Boleh aku lihat-lihat?"
Katya mendekati salah satu kotak yang terbuka. Isinya adalah buku-buku catatan harian dan beberapa dokumen lama. Di antara tumpukan surat, Katya melihat sebuah amplop biru yang tampak berbeda. Di sudutnya tertulis nama "Sandra".
Katya teringat ancaman Sandra semalam tentang surat wasiat. Dengan tangan bergetar, ia mengambil amplop itu. Saat ia hendak membukanya, suara deheman dari pintu gudang mengejutkannya.
"Nyonya sedang mencari sesuatu?" Itu Zaky, asisten kepercayaan Donny.
Katya segera menyembunyikan amplop itu di balik jubah tidurnya. "Oh, enggak, Zak. Cuma mau lihat-lihat barang lama saja."
Zaky menatap Katya dengan pandangan menyelidik, namun ia tetap bersikap sopan. "Pak Donny berpesan agar Nyonya tidak terlalu lelah. Dan... beliau minta saya memastikan Nyonya tidak terganggu oleh dokumen-dokumen lama yang mungkin membingungkan."
Katya tersenyum tipis. "Terima kasih, Zak. Aku mengerti."
Katya segera kembali ke kamar utama dan mengunci pintu. Ia duduk di lantai, membuka amplop biru itu dengan jantung berdebar. Di dalamnya bukan surat wasiat, melainkan surat pribadi dari Marina untuk Sandra, tertanggal seminggu sebelum kematiannya.
“Sandra, aku tidak tahan lagi. Donny pria yang terlalu baik, tapi keluargamu terus memerasnya melalui aku. Jika sesuatu terjadi padaku, pastikan Donny bebas dari tuntutan keluargamu. Aku sudah menulis wasiat baru yang menyatakan bahwa seluruh aset pribadiku diserahkan kembali pada perusahaan Adiwangsa, bukan untuk dibagi-bagi kepada kalian. Jangan cari aku lagi.”
Katya menutup mulutnya. Jadi ini alasan Sandra sangat membencinya dan Donny. Ada wasiat yang bisa memiskinkan keluarga Sandra jika ditemukan. Dan Sandra mungkin menyangka Donny menyembunyikan wasiat itu untuk menguasai harta Marina, padahal Marina melakukannya untuk melindungi Donny.
Tiba-tiba, ponsel Katya berbunyi. Nomor tidak dikenal.
"Halo?"
"Sudah menemukan surat birunya, Katyamarsha?" Suara Sandra terdengar sinis di seberang sana. "Donny tidak sehebat yang kamu kira. Dia tahu tentang wasiat itu, dan dia membiarkan kakakku meninggal agar dia bisa memiliki segalanya. Sekarang, kamu adalah alat barunya untuk menutupi jejak itu di depan ayahmu."
"Anda bohong!" teriak Katya.
"Tanyakan padanya, kenapa rem mobil Marina tidak berfungsi malam itu. Tanyakan padanya, siapa orang terakhir yang memeriksa kendaraan itu di garasi rumah. Jika kamu ingin menyelamatkan ayahmu dari rasa malu memiliki menantu pembunuh, temui aku sore ini."
Telepon diputus. Katya luruh ke lantai. Dunianya yang baru saja terasa indah kini dipenuhi kabut hitam. Ia melihat foto pernikahan mereka yang baru saja diletakkan di nakas. Pria yang memberikan nama padanya, pria yang menciumnya dengan begitu lembut, mungkinkah menyimpan sisi gelap semengerikan itu?
Ataukah ini hanya cara Sandra untuk menghancurkan kebahagiaan mereka?
Katya berdiri, ia menghapus air matanya. Ia tidak akan menjadi wanita lemah yang hanya bisa menangis. Ia akan mencari tahu kebenarannya. Ia mengenakan pakaian rapi, mengambil kunci mobil cadangan yang ia temukan di laci meja kerja Donny, dan keluar melalui pintu belakang tanpa sepengetahuan Zaky.
Ia harus tahu, apakah pria yang ia nikahi adalah pelindungnya, ataukah justru orang yang paling berbahaya di hidupnya.
Sementara itu, di kantor pusat, Donny sedang menatap layar monitor CCTV rumahnya melalui ponsel. Ia melihat mobil Katya keluar dari gerbang belakang. Wajahnya menegang.
"Zaky! Kenapa Katya bisa keluar sendiri?" teriak Donny melalui interkom.
"Maaf Pak, Nyonya bilang ingin tidur siang dan meminta tidak diganggu."
Donny mengepalkan tangannya. "Ikuti dia! Cepat! Jangan sampai dia bertemu Sandra!"
Donny menyadari, rahasia yang ia kubur dalam-dalam demi menjaga perasaan Katya dan kehormatan mendiang istrinya, kini mulai membongkar dirinya sendiri. Dan ia takut, kejujuran itu akan membuat Katya pergi selamanya, tepat saat ia baru saja memilikinya.