NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam di Kereta

Kereta ekspres meluncur mulus di rel malam, suara roda besi bergesekan dengan rel terdengar seperti irama lambat yang monoton. Di dalam gerbong kelas ekonomi, lampu kuning redup menyinari wajah-wajah penumpang yang sebagian besar sudah tertidur. Raito duduk di kursi dekat jendela, punggung bersandar ke dinding dingin, mata terbuka lebar meski tubuhnya lelah sekali.

Mira tidur di seberangnya, kepala miring ke bahu, napasnya teratur. Jaket kulitnya masih dipakai, pisau besar di pinggang tetap terikat rapi—bahkan dalam tidur, dia tampak siap bertarung.

Raito memandang keluar jendela. Kegelapan di luar hampir pekat, hanya sesekali terlihat lampu-lampu kecil dari desa-desa terpencil atau kilau mata bintang yang samar. Dia mencoba menutup mata, tapi pikiran tidak mau diam.

Flashback tadi masih terngiang. Sungai kecil itu, senyum Gon, rintihan pria yang ditinggalkan. Setiap kali dia ingat, dadanya terasa sesak. Bukan karena penyesalan—dia tahu Mira benar, kalau berhenti berarti gagal total—tapi karena dunia ini memaksa pilihan yang di dunia lamanya tidak pernah dia hadapi.

Di Jakarta dulu, kalau ada orang jatuh di jalan, dia pasti bantu. Kalau teman butuh pinjam uang, dia kasih meski dompetnya tipis. Tapi di sini, bertahan hidup berarti belajar egois. Belajar meninggalkan orang lain di belakang.

Dia mengepal tangan kanan. Aliran hangat itu muncul lagi—pelan, seperti hembusan angin hangat di dalam tulang. Raito mencoba fokus padanya. Dia bayangkan cahaya itu mengalir dari dada ke lengan, lalu ke telapak tangan.

Sesaat, ada kilau samar di kulitnya—putih keemasan, kecil sekali, seperti nyala lilin yang hampir padam. Raito terkejut, hampir menjatuhkan tangan itu. Kilau hilang seketika.

“Apa ini…?” gumamnya pelan.

Dia mencoba lagi. Kali ini lebih lambat. Dia tarik napas dalam, bayangkan cahaya itu seperti air yang mengalir dari sumur di dadanya. Hangatnya menyebar ke bahu, lengan, jari. Kali ini kilau muncul lebih jelas—tidak terang, tapi cukup untuk menerangi wajahnya sendiri di pantulan jendela gelap.

Raito tersenyum kecil. “Jadi… aku bisa kendalikan sedikit.”

Tapi senyum itu cepat hilang. Dia ingat perampokan kemarin malam. Cahaya itu muncul tanpa sengaja, menyilaukan musuh. Kalau dia bisa kendalikan lebih baik, mungkin dia bisa lindungi Mira, atau orang lain. Tapi kalau tidak… cahaya itu bisa jadi senjata yang salah arah.

Pikiran itu membuatnya gelisah. Dia bangun pelan, berusaha tidak membangunkan Mira, lalu berjalan ke koridor gerbong. Udara di koridor lebih dingin, angin malam menyusup lewat celah pintu. Raito bersandar di dinding, memandang ke gerbong sebelah.

Di sana, seorang pemuda berambut hitam panjang duduk sendirian di kursi pojok. Wajahnya tampan tapi dingin, mata tertutup, tapi Raito yakin dia tidak tidur. Ada aura aneh—seperti orang yang terbiasa mengawasi sekitar meski mata tertutup.

Pemuda itu tiba-tiba membuka mata. Tatapannya langsung bertemu dengan Raito.

Raito merinding. Tatapan itu tajam, seperti pisau yang baru diasah.

Pemuda itu tersenyum tipis—senyum yang tidak ramah. “Kamu yang bikin keributan kemarin malam ya? Cahaya kecil di tangan.”

Raito tegang. “Kamu… lihat?”

“Aku lihat semuanya.” Pemuda itu berdiri pelan, mendekat. Tingginya hampir sama dengan Raito, tapi auranya lebih berat. “Nama aku Kael. Kamu?”

“Raito.”

Kael mengangguk pelan. “Aku juga lolos Hunter Exam. Tapi gagal di fase akhir. Kamu juga, kan?”

Raito mengangguk. “Iya. Gagal karena nggak mau bunuh.”

Kael tertawa kecil—suara yang kering. “Lucu. Kebanyakan orang gagal karena terlalu lemah. Kamu gagal karena terlalu baik. Tapi cahaya tadi… itu bukan Nen biasa. Kamu baru bangun, tapi sudah bisa transmutasi aura jadi cahaya. Langka.”

Raito mundur setengah langkah. “Kamu tahu banyak ya.”

“Aku dari Meteor City. Di sana, Nen bukan rahasia. Kami belajar sendiri atau mati.” Kael memandang Raito dari atas ke bawah. “Kamu nggak dari sini. Auramu… asing. Seperti orang yang baru lahir di dunia ini.”

Raito terkejut. “Kamu bisa rasain itu?”

“Insting.” Kael mengangkat bahu. “Aku nggak peduli asal-usulmu. Tapi kalau kamu ke Yorknew, hati-hati. Heavens Arena penuh monster. Dan kalau kamu punya Nen mentah kayak gitu, banyak yang mau manfaatin—orang yang mau bunuh.”

Raito mengangguk pelan. “Terima kasih peringatannya.”

Kael tersenyum lagi—kali ini lebih dingin. “Jangan terima kasih dulu. Mungkin suatu hari aku yang jadi musuhmu di arena.”

Dia berbalik, kembali ke kursinya, dan menutup mata lagi seolah tidak ada yang terjadi.

Raito berdiri diam di koridor beberapa saat. Jantungnya berdegup kencang. Pertemuan itu singkat, tapi terasa berat. Kael bukan teman, bukan musuh—setidaknya belum. Tapi kata-katanya benar: dunia ini tidak memberi ruang untuk orang lemah atau terlalu baik.

Dia kembali ke tempat duduk. Mira masih tidur, tapi matanya setengah terbuka sekarang.

“Kamu ngobrol sama siapa?” tanyanya pelan.

“Pemuda bernama Kael. Dia bilang dia dari Meteor City.”

Mira langsung duduk tegak. Matanya menyipit. “Meteor City? Hati-hati sama orang dari sana. Mereka keras, dan banyak yang punya dendam pada dunia luar. Kalau dia ke Yorknew juga, kemungkinan besar dia mau ke Heavens Arena atau pasar gelap.”

Raito mengangguk. “Dia tahu tentang Nen-ku.”

Mira diam sejenak. “Kalau gitu, mulai sekarang kita latihan lebih serius. Di Yorknew, kamu nggak bisa sembunyi lagi. Cahaya itu bakal jadi magnet—buat teman, atau buat musuh.”

Raito memandang tangannya lagi. Dia coba fokus sekali lagi. Kali ini cahaya muncul lebih stabil—seperti bola kecil cahaya di telapak tangan, tidak menyilaukan, tapi hangat dan terang.

Mira memandangnya dengan mata terbelalak. “Itu… Hatsu dasar. Namain aja dulu ‘Inner Light’. Nanti kita kembangkan.”

Raito mengangguk. Cahaya itu padam pelan saat dia rileks.

Kereta terus melaju. Pagi mulai menyingsing, langit di luar berubah dari hitam pekat menjadi biru kelam.

Raito bersandar lagi ke kursi. Dia tidak tidur, tapi dia tidak lagi gelisah.

Dia punya tujuan sekarang: Yorknew, Heavens Arena, dan mengendalikan cahaya ini.

Dan meski dunia ini kejam, dia mulai belajar bahwa kebaikan—meski terlihat lemah—bisa jadi kekuatan tersendiri.

Di kejauhan, kereta mulai melambat mendekati stasiun besar. Yorknew City sudah dekat.

Dan bersama itu, petualangan baru yang lebih berbahaya.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!