Jihan Aisha Ramadhani yang dijodohkan oleh ayahnya dengan Dokter muda tampan. awal mereka menikah saling bermusuhan, tetapi seiring berjalannya waktu cinta mulai bersemi diantara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaynaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 | Pesan Bunda
"Iya ayah." Jawab Jihan.
Eric yang melihat itu langsung tersenyum. Ternyata seburuk-buruknya Jihan, ia tetap menghormati orangtuanya.
"Yaudah ayo Han, bunda bantu kamu beres-beres!" Ujar Jena.
"Iya Bun." Jawab Jihan.
Jihan dan Jena sedang membereskan barang-barang Jihan dan Eric. Sedangkan Eric dan Feri sedang berbincang.
"Nanti Jihan pas lagi bulan madu baik-baik ya?" Ujar Jena.
"Bunda, Jihan pasti baik-baik aja kok! Bunda ngga usah khawatir ya!" Ucap Jihan sembari memegang tangan Jena.
"Bunda, Jihan mau nanya. Dulu pas bunda sama ayah baru nikah, bunda sama ayah bulan madu juga ngga?" Tanya Jihan sembari memasukkan baju-baju Eric.
"Hmm, sempet sih bulan madu ke bandung. Tapi cuman sebentar doang, soalnya almarhum kakek kamu langsung sakit waktu itu. Jadinya ayah sama bunda langsung buru-buru pulang." Jelasnya.
"Ya ampun kasian banget! Terus keadaan kakek gimana waktu itu bunda?" Tanya Jihan.
"Setelah kita berdua datang, kakek kamu berpesan sama bunda dan ayah buat selalu bersama-sama sampai akhir hayat. Dan kalau sudah punya anak, jaga anak kamu baik-baik. Urus anak kamu seperti papa urus kamu waktu kecil. Gitu kata-kata terakhir kakek ke bunda. Abis itu, kakek langsung menghembuskan napas terakhirnya." Ujar Jena langsung menunduk.
"Bunda maaf! gara-gara jihan, bunda jadi keinget kejadian itu lagi." Ujar Jihan, ia merasa tidak enak karena membuat bundanya sedih.
"Gapapa Han. Kamu juga berhak tau!" Ujar Jena.
"Pesan bunda sama kayak kakek ke kalian berdua. Selalu bersama hingga akhir hayat. Kalau kalian sudah punya anak, jaga anak kalian baik-baik seperti bunda dan ayah rawat kamu waktu kecil." lanjutnya.
"Iya bunda. Jihan sayang banget sama bunda! Makasih bunda udah rawat Jihan dengan kasih sayang. Jihan merasa, bunda dan ayah udah banyak berkorban buat Jihan. Thank you so much for everything! I love you so much bunda!" Ucap Jihan sembari memeluk erat bundanya.
"Sama-sama sayang, sudah kewajiban ayah dan bunda untuk merawat Jihan. Dan bunda merasa, Jihan juga udah jadi anak yang baik. Sekarang tugas bunda dan ayah sudah selesai. Bunda sudah serahkan semuanya sama Eric." Jawab Jena sembari mencium kening putrinya.
Mereka melepas pelukannya dan kembali membereskan barang-barang Jihan dan Eric. Entah mengapa saat ini perasaan Jihan ada yang mengganjal. Seperti akan terjadi sesuatu saat Jihan pergi nanti.
Setelah semua barang yang disiapkan sudah beres. Mereka segera menuju ke bandara. Jihan dan Eric ke bandara menggunakan taksi online, mobil Eric yang ada di hotel diambil oleh anak buah papanya.
Selama di pesawat Jihan terlihat sedang melamun. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu yang berat sekali. Eric yang melihat istrinya melamun langsung menyenggolnya.
"Heh, Lo kenapa ngelamun kayak gitu? Kesambet baru tau lo!" Tanya Eric melihat ke arah Jihan yang sedang menyenderkan kepalanya di kaca pesawat.
"Ngga tau, perasaan gue ngga enak dari tadi. Kayak bakal ada sesuatu gitu? Kenapa ya?" Jawab Jihan sembari melihat ke arah Eric.
"Itu cuman pikiran lo aja kali. Semuanya bakal baik-baik aja kok! Selama ada gue, Lo bakal aman!" Ucap Eric membuat hati Jihan terasa lebih tenang.
Jihan mulai memejamkan matanya, mungkin itu salah satu cara agar pikirannya tidak larut memikirkan hal yang tidak-tidak.
Saat sudah sampai di Bali, Eric segera memesan taksi online untuk menuju ke hotel. Terlihat Jihan tengah sibuk dengan ponselnya. Ia terlihat sedang mencari-cari sesuatu.
"Lagi ngapain lo? Sibuk amat?" Tanya Eric.
"Gue lagi nyari tempat makan yang enak di Bali! Soalnya gue mau kulineran, kan jarang-jarang gue kesini." Ucapnya.
"Oh."
Saat mereka sudah berada di hotel, Jihan langsung merebahkan dirinya di kasur.
"Akhirnya sampe juga!" Celoteh Jihan.
"Yaelah, baru perjalanan dua jam aja sampe gitu. Gimana kalo gue ajak lo ke Eropa coba?" Ucap Eric yang ikut merebahkan diri di samping Jihan.
"Hah, emangnya lo mau ngajak gue Eropa?" Mata Jihan langsung berbinar dan memiringkan badannya ke arah Eric.
"Iya sayang!" Jawab Eric sembari melihat ke arah bibir pink Jihan.
Melihat hal itu, Jihan langsung kembali menghadapkan badannya ke arah atap. Perasaan Jihan muncul lagi seperti semalam. Ia mulai deg-degan saat Eric menatapnya seperti itu.
"Ngga usah takut gitu atuh! Emangnya gue mau ngapain lo?" Uacp Eric sembari memeluk Jihan.
"Lepasin, gue ngga nyaman!" Ucap Jihan sembari melepas tangan Eric dari perutnya.
"Lo masih aja ngga nyaman sama gue Han! Gue ini suami lo! Mau sampe kapan lo kayak gini terus Jihan!" Eric merajuk, ia langsung keluar dari kamar.
Jihan yang melihat itu langsung bangun dari tidurnya. Ia merasa tidak enak karena secara tidak langsung ia sudah menolak Eric.
Jihan memberanikan diri untuk berbicara dengan Eric. Ia menghampiri Eric yang sedang duduk di sofa sembari melihat ke arah luar.
"Eric! Gue minta maaf, gue ngga bermaksud buat nolak lo tadi. Maafin gue ya?" Ucap Jihan sembari duduk di sebelah Eric.
"Iya gue maafin, tapi ada syaratnya!" Jawab Eric.
Perasaan Jihan mulai tidak enak.
"A...apa syaratnya?" Tanya Jihan.
"Gue mau semuanya sekarang!" Jawab Eric dengan cepat.
"Se...sekarang?"
Tanpa basa-basi Eric langsung menc\*um bibir pink Jihan dengan sedikit brutal. Ia mulai membawa Jihan ke kamar dan mengunci pintu. Ia langsung membuka satu-persatu kemeja Jihan dan tampak melepaskan ci\*mannya. Saat sudah terbuka semua, ia juga mulai membuka bra milik Jihan. Saat sudah nampak, ia langsung beralih kearah benda ke\*yal tersebut. Sembari melakukan hal itu, ia juga mulai membuka pakaiannya satu persatu. Saat semuanya sudah lepas, mereka langsung melakukannya saat itu juga.
"Gue takut!" Ujar Jihan.
"Tenang aja, gue bakal pelan-pelan kok!" Ucap Eric dan segera melakukannya.
\*\*\*
Saat hari sudah mulai malam, mereka berdua baru saja selesai mandi. Saat ini Jihan sudah siap untuk pergi makan diluar bersama Eric. Ia berdandan cantik sekali, karena ini adalah kencan pertama mereka setelah menikah.
"Udah siap?" Tanya Eric.
"Udah!" Jawab Jihan.
Eric langsung menggandeng lengan Jihan menuju ke taksi online yang sudah ia pesan. Saat sudah sampai di restoran, mereka langsung disambut oleh pelayan disana. Restoran itu tampak mewah, tapi anehnya restoran itu tampak kosong. Seperti tidak ada pengunjung pada malam itu.
"Kok kayak kosong gitu ya?" Jihan melihat ke arah sekitar dan memang benar tidak da satupun pengunjung disana.
"Emang kosong, kan udah gue booking." Ujar Eric dengan santai.
"Hah lo booking? Gila, sultan banget lo bisa booking restoran semewah ini!" Ucap Jihan.
"Kan sekarang lo juga istrinya sultan!" Eric menoel hidung mancung milik Jihan.
Tanpa disadari, muka Jihan mulai memerah seperti biasanya.
"Jihan, gue bahagia banget bisa menikah sama lo! Gue kira gue bakal tersiksa karena nikah sama lo, tapi ternyata dugaan gue salah! Gue beribu-ribu lebih bahagia saat gue bersama lo!" Ujar Eric sembari menggenggam lengan Jihan.
"Jujur, gue juga bahagia kalau sama lo. Awalnya gue ngerasa perjodohan ini tuh petaka buat gue! Tapi, lama-kelamaan gue jadi semakin nyaman deket sama lo!" Ujar Jihan tulus dari hatinya yang paling dalam.
"Gue janji, gue bakal jagain lo seumur hidup dan gue janji, gue bakal bahagiain lo setiap saat." Eric mencium punggung tangan Jihan dengan kecupan manis.