NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Kamera kembali berputar untuk pengambilan gambar kedua dari sudut yang lebih dekat (close-up).

Kabut di hutan Puncak semakin tebal, memberikan nuansa mistis yang menyelimuti sosok Liana yang masih berbalut gaun putih tipisnya.

"Kamera siap. Action!"

Adrian melangkah mendekat, namun kali ini ada yang berbeda. Sorot matanya tidak lagi mengikuti arahan naskah yang seharusnya penuh keraguan.

Ia menatap Liana dengan intensitas yang sanggup melelehkan gunung es.

Sesuai naskah, Adrian seharusnya bertanya, "Mengapa kamu lari dariku?"

Namun, Adrian justru membisikkan kalimat yang membuat sutradara di balik monitor menahan napas karena tidak ada di skenario.

"Liana, jika sandiwara ini selesai, apakah kau akan tetap menari di sampingku? Atau kau akan menghilang seperti kabut ini?" tanya Adrian, suaranya rendah dan serak, terdengar sangat personal.

Rina yang berdiri di pinggir set tersentak. Ia tahu itu bukan dialog film. Itu adalah pertanyaan jujur dari hati bosnya yang sedang kalut.

Liana sempat tertegun sejenak. Ia menyadari Adrian sedang keluar dari jalur naskah, namun alih-alih panik atau merusak adegan, Liana justru tersenyum tipis.

Ia membalas tatapan Adrian dengan keberanian yang tumbuh dari rasa nyaman yang ia rasakan sejak subuh tadi.

Liana menggerakkan jemarinya menyentuh dada Adrian, lalu menjawab dengan tenang, mengalir mengikuti emosi pria di depannya.

"Adrian, seorang penari hanya akan tinggal jika musiknya tidak berhenti. Dan saat ini, detak jantungmu adalah musik yang membuatku ingin tetap di sini," jawab Liana lembut, improvisasinya begitu sempurna hingga terdengar seperti puisi.

Adrian terpaku. Ia tidak menyangka Liana akan menyambut "permainan api"-nya dengan begitu indah.

Ia menarik pinggang Liana lebih dekat, mengabaikan instruksi sutradara untuk adegan berikutnya.

Di bawah rindangnya pinus, ia seolah lupa bahwa ada ribuan pasang mata kru, asisten yang cemas, dan seorang tunangan di Paris.

"Adrian..." panggil Liana lagi, kali ini hampir berupa bisikan di depan bibir pria itu.

"Jangan biarkan musik ini berhenti sebelum waktunya."

"Tidak akan," janji Adrian pelan.

"Cut! Sempurna! " teriak sutradara dengan suara serak karena emosi. "Improvisasi yang gila! Ini akan jadi adegan terbaik di film ini!"

Para kru kembali bersorak, namun Adrian dan Liana masih terpaku dalam posisi yang sama selama beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

Mereka berdua tahu, batasan antara naskah dan kenyataan baru saja runtuh di hutan Puncak ini.

Malam jatuh dengan cepat di ketinggian Puncak. Kabut yang tadinya tipis kini menebal, menyelimuti deretan pohon pinus dalam kegelapan yang pekat.

Satu per satu lampu sorot dipadamkan, dan suara mesin truk yang membawa peralatan mulai menjauh, meninggalkan keheningan yang dingin.

"Kerja bagus semuanya! Besok kita lanjutkan lagi," ucap sutradara.

Udara malam di Puncak terasa berkali-kali lipat lebih tajam setelah lampu-lampu set dipadamkan.

Adrian menyampirkan jaket wolnya ke bahu Liana yang masih bergetar karena hawa dingin, sementara mereka berjalan perlahan menuju sebuah villa kayu bergaya kolonial yang terletak agak terpisah dari penginapan kru lainnya.

"Villa ini lebih tenang, Liana. Aku ingin kau istirahat dengan nyaman tanpa gangguan berisik dari tim produksi," ujar Adrian.

Namun, saat mereka harus melewati jalanan setapak yang licin karena lumut dan embun, kaki Adrian mendadak terperosok ke dalam lubang kecil yang tertutup tumpukan daun kering.

"Akh!" Adrian mengerang tertahan, tubuh jangkungnya limbung ke samping.

"Pak Adrian!" Liana dengan sigap menangkap lengan pria itu.

"Bapak tidak apa-apa?"

Adrian meringis, wajahnya sedikit pucat menahan nyeri di pergelangan kaki kanannya.

"Sepertinya aku terkilir. Sial, jalannya benar-benar tidak terlihat."

Tanpa membuang waktu, Liana menarik lengan kekar Adrian dan melingkarkannya ke bahunya sendiri.

Tubuh mungil Liana tampak kontras menyangga beban tubuh Adrian yang atletis, namun ia tetap melangkah dengan kokoh.

"Tahan sebentar, Pak. Villanya sudah dekat. Sandarkan saja beban Bapak ke saya," ucap Liana tenang, meski napasnya sedikit memburu karena berat badan Adrian.

Mereka tiba di teras villa dengan langkah tertatih. Begitu pintu terbuka, kehangatan dari perapian yang sudah dinyalakan oleh pelayan villa menyambut mereka.

Liana memapah Adrian masuk langsung ke dalam kamar utama yang luas, membantunya duduk di tepi ranjang besar yang empuk.

"Tunggu di sini, saya ambilkan air hangat dan minyak urut. Saya biasa mengobati kaki Mama kalau beliau kelelahan di pasar," ucap Liana sebelum Adrian sempat memprotes.

Beberapa menit kemudian, Liana kembali dengan baskom kecil dan botol minyak kayu putih.

Ia berlutut di lantai, tepat di depan kaki Adrian. Dengan perlahan, ia melepaskan sepatu kulit mahal Adrian dan menyingsingkan celana panjangnya hingga ke betis.

"Liana, tidak perlu sampai begini. Aku bisa minta tolong Rina nanti," bisik Adrian, merasa tidak enak melihat gadis yang baru saja menyelesaikan syuting berat itu kini bersimpuh di kakinya.

Liana tidak mendengarkan. Ia mencelupkan handuk kecil ke air hangat, lalu mengompres pergelangan kaki Adrian yang mulai membengkak.

"Diamlah, Pak. Anggap saja ini balas budi karena Bapak sudah menjaga saya seharian ini."

Setelah kompresan dirasa cukup, Liana menuangkan minyak ke telapak tangannya, menggosoknya hingga hangat, lalu mulai memijat kaki Adrian.

Gerakan jemarinya sangat lembut namun bertenaga, menekan titik-titik saraf dengan presisi yang mengejutkan.

Adrian memejamkan matanya, mengembuskan napas panjang.

Rasa nyeri yang berdenyut perlahan berganti dengan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Sentuhan tangan Liana terasa begitu tulus, jauh dari kesan pelayanan formal.

"Tanganmu, hangat sekali, Liana," gumam Adrian pelan, suaranya terdengar parau di tengah kesunyian kamar yang hanya diterangi lampu redup.

Liana mendongak sejenak, menatap Adrian dengan sorot mata yang teduh.

"Dulu Papa juga sering terkilir kalau sedang mengangkut barang. Memijat adalah satu-satunya cara saya bisa merasa berguna untuk orang yang saya sayangi."

Kalimat itu membuat jantung Adrian berdesir. Ia menatap puncak kepala Liana yang masih sibuk dengan kakinya.

Di dalam kamar yang sunyi itu, bayangan tentang Arum, film, dan segala ambisi dunianya seolah memudar, menyisakan kesadaran bahwa di depannya ada seorang wanita yang memberikan jiwanya dalam setiap sentuhan sederhana.

"Liana," panggil Adrian lirih.

Liana menghentikan pijatannya dan menatap ke atas.

"Ya, Pak? Apa terlalu keras?"

"Tidak," Adrian menggeleng perlahan. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh lembut pipi Liana yang merona karena uap air hangat.

"Terima kasih. Untuk semuanya."

Keheningan kembali menyergap, namun kali ini penuh dengan ketegangan yang manis.

Di bawah langit Puncak yang dingin, mereka berdua seolah sedang menulis skenario baru yang tak pernah ada di naskah mana pun.

Keheningan di dalam kamar villa itu terasa semakin pekat, hanya menyisakan suara kayu bakar yang berderak pelan dari perapian di ruang tengah.

Uap hangat dari baskom air di lantai masih membumbung tipis, menciptakan sekat privasi yang menyesakkan napas.

Adrian menurunkan tangannya dari pipi Liana, lalu perlahan menyusup ke tengkuk gadis itu.

Ia menarik tubuh Liana sedikit lebih tinggi hingga wajah mereka sejajar di tepi ranjang.

Tatapan Adrian terkunci pada manik mata Liana yang tampak bergetar hebat.

"Pak..." bisik Liana lirih, suaranya nyaris hilang ditelan kesunyian.

Ada keraguan yang besar di matanya, namun tubuhnya seolah enggan menjauh dari kehangatan yang ditawarkan pria di depannya.

Adrian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru semakin memangkas jarak, hingga ujung hidung mereka bersentuhan.

Napasnya yang hangat dan beraroma kopi maskulin menyapu kulit wajah Liana.

"Jangan takut, Liana," ucap Adrian dengan nada rendah yang bergetar.

Ia menatap bibir Liana yang sedikit terbuka, lalu kembali menatap matanya dengan intensitas yang dalam.

"Aku akan bertanggung jawab. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian menghadapi apa pun setelah ini. Percayalah padaku."

Kalimat itu seolah menjadi kunci terakhir yang meruntuhkan pertahanan Liana.

Janji tanggung jawab dari seorang Adrian—pria yang selama ini terlihat begitu berkuasa namun mendadak tampak begitu rapuh di depannya—membuat Liana perlahan memejamkan mata, menyerahkan dirinya pada arus emosi yang meluap.

Detik berikutnya, bibir Adrian mendarat lembut di bibir Liana.

Awalnya hanya sentuhan ragu, namun segera berubah menjadi pagutan yang penuh kerinduan dan gairah yang selama ini tertahan di balik naskah-naskah film.

Di dalam villa kayu yang tersembunyi di balik kabut Puncak, waktu seolah berhenti berputar. Suara deru angin di luar yang menghantam pepohonan pinus kalah oleh suara napas mereka yang saling memburu.

Hanya terdengar suara desahan halus dari keduanya yang memenuhi ruangan, sebuah melodi murni tanpa skenario, tanpa kamera, dan tanpa penonton.

Di atas ranjang besar itu, di bawah temaram lampu yang kian meredup, Adrian dan Liana baru saja melangkah melewati batas yang tidak akan pernah bisa mereka tarik kembali.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!