Dokter Tampan Itu Suamiku
Pada suatu hari, ada gadis bernama Jihan Aisha Ramadhani. Jihan adalah anak satu-satunya dari pasangan yang sudah menikah hampir 25 tahun. Jihan saat ini masih duduk di bangku kuliah. Masih terbilang muda, umur Jihan kini adalah 22 tahun. Dia gadis yang pintar dan pemberani.
Suatu saat, ayahnya menyuruh Jihan untuk segera memiliki pasangan, dan disegerakan untuk menikah. Jihan menolak permintaan ayahnya itu, karena Jihan masih ingin fokus kuliah. Ia juga belum memikirkan hal itu. Baginya, yang terpenting adalah pendidikan dan karir. Untuk memilih pasangan, Jihan masih ingin menunda hingga ia lulus kuliah nanti.
"Ayah kan sudah bilang, mau sampai kapan kamu melajang seperti ini Jihan? Lihat teman-teman kamu yang lain! Sudah pada menikah mereka! Bahkan ada yang sudah punya anak!" Bentak Feri, ayah Jihan.
"Tapi ayah, Jihan kan masih kuliah. Tolonglah sabar sedikit. Jihan juga masih mencari yang cocok saat ini." Ujar Jihan dengan mata berair.
"Kuliah bukan jadi alasan buat kamu tidak memiliki pasangan! Banyak anak temen ayah yang masih kuliah tapi sudah menikah. Kalau sampai Minggu depan, kamu belum ada calon. Ayah akan menjodohkan kamu dengan anak temen ayah!" Tegas Feri.
"Ayah, jangan terlalu memaksakan Jihan kayak gitu yah. Kasian Jihan, dia masih terlalu muda untuk menikah." Ujar Jena, bunda Jihan.
"Bunda ngga usah belain Jihan. Nanti dia malah semakin keras kepala!" Ujar Feri dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Jena mendekatkan dirinya kepada Jihan yang sedang berlutut di depan sofa.
"Udah, Jihan ngga perlu mikirin apa kata ayah ya. Ayah ngomong kaya gitu, karena ayah pengen liat Jihan bahagia," Ujar Jena sembari mengelus elus rambut Jihan.
"Tapi bun, kenapa ayah terus maksa Jihan buat menikah. Padahal kan Jihan masih kuliah Bun?" Tanya Jihan dengan mata sembab.
"Bunda bisa mengerti perasaan ayah. ayah dan bunda kan sudah semakin tua. Mungkin, ayah mau melihat anak satu-satunya ini menikah dengan pria yang kamu cintai. Bunda paham, kamu masih belum siap dengan semua ini. Tapi jujur, bunda juga pengen banget segera menimang cucu." Ujar Jena dengan tersenyum kecil.
"Jadi, bunda juga ngedukung Jihan buat nikah sekarang?" Tanya Jihan.
"Bunda mah terserah Jihan aja. Kalo Jihan udah siap ya silakan, tapi kalo belum, bunda ngga mau memaksakan!" Ujar Jena meyakinkan.
"Gue harus apa sekarang! Gue mau menuruti perintah ayah. Tapi disisi lain, gue belum siap dengan semua ini!" Batin Jihan.
\*\*\*
Keesokan harinya, Jihan sudah berada di kampus. Ia sedang berjalan santai menuju kelasnya.
"Woi Jihan!" Tari memukul pundak Jihan pelan.
"Eh Tar," Jawab Jihan dengan wajah lesu.
"Kenapa lo lemes begitu? Belom makan? Mau gue temenin ngga ke kantin?" Celoteh Tari.
"Ngga, gue lagi ngga nafsu makan Tar," Jawab Jihan.
Mereka sudah sampai di kelas tujuan mereka. Jihan duduk di barisan kedua dan diikuti oleh Tari.
"Lo sebenernya kenapa sih Han? Kalo lagi ada masalah, cerita dong sama gue!" Ujar Tari sembari menaruh dagu di telapak tangannya.
"Gue didesek nikah!" Ucap Jihan dengan malas.
"APAA!" Teriak Tari. Semua mahasiswa yang sudah hadir dikelas langsung menatap kebingungan ke arah Tari.
"Eh maaf ya, maaf!" Ujar Tari kepada mahasiswa lain, karena tidak enak.
"Suara lo gede banget si!" omel Jihan.
"Ya maaf, abisnya gue kaget. Beneran lo didesek nikah? Kenapa lo bisa didesek? Apa karena lo ngga pernah punya pacar sampe sekarang, Orangtua lo takut lo ngga nikah gitu?" Tanya Tari panjang lebar.
"Nanya nya bisa satu-satu ngga sih Tar? Pusing nih gue denger lo nyerocos terus!" Jihan memegang ke arah keningnya yang terasa nyeri.
"Maaf Han, gue terlalu semangat soalnya. Makanya lo cepetan kek ceritain ke gue, gue jadi penasaran tau!" Desak Tari.
"Gue disuruh nikah secepet mungkin. Kalo sampe minggu depan gue belom bawa calon ke ayah gue, gue bakal dijodohin Tari! Tolongin gue, gue ngga mau dijodohin!" Rengek Jihan hingga menggoyangkan tubuh Tari.
"Aduh Jihan, gue bisa pusing tujuh keliling kalo lo giniin gue terus!" Jihan langsung mengentikan aktivitasnya itu.
"Gue harus gimana? Bantuin gue ya Tar, Lo kan sahabat gue yang paling baik! Please!" Wajah Jihan memelas.
"Iya iya, gue bakal bantuin lo!" Tari tersenyum miring. Sepertinya tari sudah merencanakan sesuatu.
"Gimana caranya?" Tanya Jihan.
\*\*\*
Setelah mereka sudah selesai kelas, mereka berdua pergi ke cafe dekat kampus. Disana tari sudah mengumpulkan beberapa calon pria untuk Jihan. Terdapat 6 pria yang tengah duduk satu meja di cafe tersebut. Ada pria berambut ikal, ada juga yang memakai kacamata bulat, ada yang memakai pakaian rock and roll, ada yang berdandan seperti waria, ada yang berpakaian kantor, dan yang terakhir ada yang memiliki tompel di samping hidung.
"Lo ngumpulin orang-orang ini dari mana?" Bisik Jihan.
"Dari internet, gue yakin lo pasti cocok sama salah satu diantara mereka berenam!" Balas Tari dengan bisikan juga.
"Tapi tampang mereka ngga meyakinkan sama sekali. Yang paling mendingan sih yang pake baju kantor," bisik Jihan.
"Udah Han! Nanti mereka nungguin kita ngomong!"
"Maaf ya mas semuanya menunggu lama. Jadi silakan perkenalkan diri dulu ke temen saya ini." Ujar Tari kepada keenam lelaki dihadapannya.
"Iya nda papa mbak," ujar pria berpakaian kantor. Ternyata di salah satu giginya ada gigi emas.
Jihan yang melihat hal itu lantas mengerutkan dahinya.
"Ngga ada yang mending ternyata!" Batin Jihan.
"Saya mau memperkenalkan diri saya dulu ke mbak Jihan, boleh?" Ujar pria yang memiliki tompel disamping hidung.
"I-iya mas silakan," Jawab Jihan.
"Nama saya Paijo, saya asalnya dari Bojong Rejo, saya suka kacang ijo. Semoga mbak Jihan memilih Paijo! Untuk menjadi kekasihnyo!" Ujar Paijo sembari tersenyum lebar terhadap Jihan.
"Oke, kandidat berikutnya silakan!" Ucap Tari. Tari menunjuk pria disebelah mas Paijo, yaitu pria yang memakai kacamata bulat.
"Na nama sa saya hai Haikal. Um umur sa saya du dua pu puluh ta tahun." Ujar Haikal sembari memegang kacamata dan menggaruk kepalanya.
"Ehm, lanjut deh mas di sebelahnya, silakan!" Tari menatap pria yang memakai pakaian rock and roll.
"Hai cantiq, kenalin nama saya Andi! Andi dimari, ada Andi jangan lari! Jika saya yang menjadi kekasihmu dek Jihan, saya janji saya kan menjadikanmu sebagai ratu kayangan. Kamu akan berbahagia setiap saat. Saya tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun. Sekian dan terimakasih," ujar Andi sembari membungkukkan badannya.
"Oke next!"
"Izinkan ana memperkenalkan diri ana, wahai tuan putri. Nama ana Syamsudin. Panggil aja ana Udin. Ana lahir di Arab Saudi soalnya ana ada keturunan Arab Saudi. Bapak ana orang Prancis." Ujar pria berambut ikal.
"Hah gimana ceritanya? Lahir di Arab Saudi bapak mas nya orang Prancis?" Potong Jihan bingung.
"Ana belom selesai ngomong mba cantik. Maksud ana itu, bapak ana orang Prapatan Ciamis." jelasnya.
"Ohhh!" Ujar mereka semua berbarengan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Yus Warkop
😂😂😂😂🤭
2024-01-15
0
Siti Khalimah
wkwkwk
2023-09-19
0
Uthie
keep dulu 👍
2023-08-28
2