Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26: Obrolan Lama
Lembayung senja membungkus langit Jakarta dengan warna jingga keunguan yang magis. Di taman belakang Mansion Setiawan, angin semilir memainkan pucuk-pucuk daun kemuning dan melati. Suasana begitu tenang, seolah dunia sedang memberikan jeda bagi penghuni rumah itu untuk sekadar bernapas setelah badai fitnah Vanya berhasil diredam.
Nara duduk di kursi rotan putih, tangannya sibuk memangkas beberapa dahan mawar yang sudah layu. Ia tampak jauh lebih segar. Kebahagiaan yang ia temukan di pelukan Danu telah menghapus sisa-sisa kesedihan di matanya. Di atas meja di sampingnya, dua cangkir teh chamomile masih mengepulkan uap tipis.
"Mbak Nara..."
Nara menoleh, tersenyum lembut melihat Karin berjalan mendekat. Karin tidak lagi terlihat seperti gadis pemberontak yang ketus. Ia mengenakan terusan santai dan rambutnya dikuncir kuda sederhana. Ada sesuatu yang berbeda di wajah Karin sore itu, ada sebuah beban yang tampak menggelayut di pundaknya, sesuatu yang lebih berat daripada sekadar kelelahan bekerja di kantor.
"Sini, Rin. Tehnya masih hangat," ajak Nara sambil menepuk kursi di sebelahnya.
Karin duduk, namun ia tidak segera meraih cangkirnya. Ia menatap hamparan rumput hijau di depan mereka dengan pandangan kosong.
"Taman ini... dulu aku sangat membencinya. Aku pikir taman ini hanya panggung sandiwara Papa dan Mama untuk terlihat seperti keluarga bahagia di depan kolega mereka."
Nara meletakkan gunting steknya, memberikan perhatian penuh pada adik iparnya. "Sekarang tidak lagi, kan?"
Karin menoleh ke arah Nara. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. "Mbak... kenapa Mbak bisa sebaik ini padaku? Setelah semua yang kulakukan dulu? Setelah semua hinaan yang aku lemparkan saat Mbak sebelum dan sesudah menginjakkan kaki di rumah ini?"
Nara tersenyum tenang, tangannya meraih jemari Karin yang dingin. "Karena aku tahu, di balik duri itu, ada seorang adik yang hanya merindukan perhatian. Kita semua pernah terluka, Karin. Dan luka sering kali membuat kita melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan."
Bahu Karin mulai bergetar. Tangis yang ia tahan selama berminggu-minggu akhirnya pecah. Ia menunduk dalam-dalam, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Bukan hanya itu, Mbak... Ada sesuatu yang jauh lebih buruk. Sesuatu yang menjadi alasan kenapa Mbak terjebak dalam neraka ini sejak awal," isak Karin.
Nara tertegun. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. "Maksudmu?"
Karin mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata. "Insiden malam itu... malam di paviliu itu, malam saat Mbak ditemukan di kamar dengan Mas Danu oleh Papa dan mama..."
Nara melepaskan genggaman tangannya. Pikirannya melayang kembali ke malam yang menghancurkan martabatnya itu. Malam yang membuatnya terpaksa menjual diri melalui kontrak pernikahan demi menyelamatkan ayahnya.
"Katakan padaku, Karin. Apa yang sebenarnya terjadi?" suara Nara kini terdengar datar namun menuntut.
"Aku yang melakukannya," bisik Karin dengan nada penuh kebencian pada dirinya sendiri. "Aku melakukan itu karena sakit hati tidak bisa membuat mba kalah. Aku ingin mempermalukan mba di depan semua orang dan menghancurkan mba sehancur hancurnya.aku mencampurkan obat kedalam minuman mas Danu hingga dia kelepasan"
Nara merasa seperti disambar petir di siang bolong. Ia menatap Karin dengan tatapan tak percaya.
Karin jatuh bersimpuh di depan kaki Nara, memegang ujung gamis Nara dengan tangan gemetar.
Kesunyian menyelimuti taman itu selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya. Hanya suara jangkrik yang mulai bersahutan dan isak tangis Karin yang memenuhi udara. Nara merasa dunianya seolah terhenti.
Jadi, seluruh penderitaannya selama ini, rasa malunya di depan orang tua, keputusasaannya saat harus menandatangani kontrak itu semuanya adalah hasil dari rencana kekanakan seorang gadis yang sedang merajuk pada kakaknya?
Kemarahan mulai merayap di hati Nara. Ia ingin berteriak, ia ingin mengusir Karin, ia ingin bertanya mengapa hidupnya dianggap sampah itu sampai bisa dipermainkan demi ego semata.
Namun, saat Nara menatap Karin yang bersimpuh di kakinya, ia melihat bayangan dirinya sendiri yang dulu juga hancur. Ia melihat seorang gadis yang kini benar-benar telah kehilangan segala kesombongannya.
"Bangunlah, Karin," ucap Nara pelan.
"Tidak, Mbak... pukul aku, maki aku, lakukan apa saja! Aku pantas mendapatkannya. Aku bahkan malu menatap mata Mas Danu sekarang...."
"Karin, bangun," Nara mengulanginya, kali ini dengan nada yang lebih tegas.
Karin perlahan berdiri, wajahnya sembab dan merah. Ia tidak berani menatap mata Nara.
Nara menarik napas panjang, menatap langit yang kini sudah gelap. "Malam itu adalah malam paling mengerikan dalam hidupku. Aku merasa seperti sampah. Aku merasa Tuhan tidak adil. Selama berbulan-bulan, aku bangun dengan rasa benci pada Mas Danu, pada rumah ini, dan pada diriku sendiri."
Nara menatap Karin dalam-dalam. "Tapi tahukah kamu apa yang terjadi sekarang? Jika rencana jahatmu itu tidak pernah ada, aku tidak akan pernah berada di sini. Ayahku mungkin sudah tidak ada karena aku tidak punya biaya untuk operasinya. Aku mungkin tidak akan pernah tahu bahwa di balik dinding es Mas Danu, ada hati yang sangat hangat."
Nara melangkah mendekat dan memeluk Karin. Sebuah pelukan yang hangat, penuh pengampunan yang murni.
"Mbak... Mbak tidak marah?" gumam Karin di balik pundak Nara.
"Aku marah, Karin. Sangat marah. Hatiku sakit mendengar bahwa duniaku dihancurkan hanya demi ketidak sukaanmu padaku," Nara melepaskan pelukannya, menangkup wajah Karin. "Tapi aku memilih untuk melepaskan kemarahan itu. Karena jika aku terus membencimu, maka aku sama saja dengan kamu saat itu. Aku tidak ingin kebencianmu di masa lalu menghancurkan kebahagiaanku di masa depan."
Nara menghapus air mata di pipi Karin. "Kita semua adalah manusia yang penuh cacat, Karin. Yang membedakan kita adalah apa yang kita lakukan setelah menyadari kesalahan itu. Kamu sudah mengaku, kamu sudah menyesal, dan kamu sudah berubah. Itu sudah cukup bagiku."
Karin menangis lagi, namun kali ini bukan tangis ketakutan, melainkan tangis kelegaan yang luar biasa. "Terima kasih, Mbak... terima kasih sudah menjadi kakak yang tidak pernah aku miliki. Aku berjanji, aku akan menebus semuanya. Aku akan menjaga Mbak dan Mas Danu dengan seluruh hidupku."
Tanpa mereka sadari, sedari tadi seorang pria berdiri di balik pintu kaca yang sedikit terbuka. Danu telah mendengar semuanya. Ia tertegun melihat bagaimana istrinya, wanita yang pernah ia sakiti dan ia remehkan justru menjadi orang yang paling dewasa dalam menghadapi pengkhianatan ini.
Danu menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia membuka pintu kaca itu perlahan dan melangkah keluar.
Karin yang melihat kakaknya langsung membeku. Wajahnya kembali pucat pasi. "Mas... Mas Danu..."
Danu berjalan mendekat, matanya menatap Karin dengan tajam. Suasana kembali mencekam. Karin sudah bersiap untuk menerima tamparan atau makian, namun Danu justru berhenti di samping Nara dan merangkul pundak istrinya.
"Aku sudah mendengar semuanya," ucap Danu dengan suara rendah yang berwibawa.
Karin menunduk, badannya gemetar. "Mas... maafkan aku... aku..."
"Jika Nara tidak memaafkanmu, aku bersumpah aku akan mengirimmu sejauh mungkin dari keluarga ini hari ini juga," sela Danu dingin. "Tapi istriku ini... dia memiliki hati yang lebih luas dari samudra. Dia memilih untuk memberimu kesempatan kedua."
Danu menatap adiknya dengan tatapan yang mulai melembut, meski sisa-sisa kekecewaan masih ada. "Belajarlah darinya, Karin. Belajarlah bagaimana menjadi manusia yang terhormat. Jangan pernah kecewakan dia lagi, karena jika kamu melakukannya, kamu tidak akan hanya berurusan dengan hukum, tapi kamu akan berurusan langsung denganku."
Karin mengangguk berkali-kali. "Aku janji, Mas. Aku janji."
Malam itu, mereka bertiga duduk di taman lebih lama. Cerita-cerita tentang masa lalu mengalir, kali ini tanpa ada rahasia yang disembunyikan. Karin menceritakan betapa ia dulu merasa hebat dan tidak tersentuh oleh siapa pun karena selalu dilindungi kakak nya, dan Danu pun mengakui bahwa ia terlalu memanjakan adiknya tanpa mau melihat baik buruknya kelakuan adiknya.
Nara menjadi penengah, menjadi perekat di antara dua saudara yang sempat terpisah oleh ego dan manipulasi.
"Mas," bisik Nara saat Karin masuk ke dalam untuk mengambil camilan.
"Ya, Sayang?"
"Terima kasih sudah menahan amarahmu tadi. Karin butuh bimbingan, bukan hukuman."
Danu menarik tangan Nara dan mencium punggung tangannya dengan penuh pengabdian. "Aku tidak tahu terbuat dari apa hatimu, Nara. Setiap hari kamu terus membuatku takjub. Aku merasa pria paling beruntung karena rencana bodoh Karin itu membawamu kepadaku."
Nara tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di bahu Danu. "Mungkin memang benar kata orang, Mas. Sering kali, Tuhan mengirimkan berkat-Nya melalui cara yang paling menyakitkan agar kita bisa menghargai kebahagiaan itu saat ia tiba."