Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34: Di Persimpangan Takdir
Suara sirine ambulans yang mengawal SUV hitam itu meraung-raung, membelah kemacetan Jakarta Selatan yang seolah tak mau berkompromi. Di dalam kabin mobil yang kedap, kesunyian justru terasa lebih memekakkan telinga. Danu Setiawan duduk mematung, memangku kepala Nara di pahanya. Kemeja putihnya yang mahal kini ternoda bercak darah yang merembes dari mulut istrinya merah yang sangat kontras, merah yang melambangkan rapuhnya kehidupan yang sedang ia dekap.
Tangan Danu yang biasanya mampu menandatangani kontrak bernilai triliunan tanpa gemetar sedikit pun, kini bergetar hebat saat mengusap kening Nara yang sedingin es.
"Lebih cepat, Andra! Kalau perlu tabrak apa saja yang menghalangi!" raung Danu. Matanya merah, bukan hanya karena amarah, tapi karena ketakutan yang menggerogoti kewarasannya.
"Baik, Tuan!" Andra membanting setir, naik ke jalur TransJakarta, mengabaikan segala aturan lalu lintas.
Ponsel di tangan Danu masih terasa panas. Suara Reza tadi dingin, tajam, dan penuh kemenangan masih terngiang seperti kutukan. "Bapak Rahardi. " Pria tua yang merupakan satu-satunya jangkar emosional Nara setelah kematian ibunya, kini berada di tangan monster.
Danu menatap wajah Nara. "Jika aku pergi menyelamatkan ayahmu dan terjadi sesuatu padamu di rumah sakit, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Tapi jika aku tetap di sisimu dan ayahmu tiada, kamu tidak akan pernah memaafkan aku seumur hidupmu."
Dilema itu terasa seperti pisau yang diputar perlahan di jantungnya.
Mobil berhenti mendadak di depan lobby darurat RS Medistra. Tim medis yang sudah dihubungi Andra sejak di jalan langsung bergerak sigap. Brankar dorong ditarik keluar. Danu sendiri yang mengangkat tubuh Nara, memindahkannya dengan kelembutan yang menyayat hati ke atas tempat tidur dorong itu.
"Selamatkan dia. Selamatkan keduanya," bisik Danu pada dokter senior yang memimpin tim. Suaranya serak, nyaris hilang. "Jika terjadi sesuatu pada mereka, aku akan meratakan rumah sakit ini."
Itu bukan ancaman kosong. Dokter itu mengangguk paham, lalu mereka berlari masuk menuju ruang operasi darurat. Karin, yang turun dari taksi di belakang mereka, mencoba mengejar sambil terisak, namun langkahnya terhenti oleh lengan kokoh Danu yang menahannya.
"Jaga dia, Rin," perintah Danu. Matanya menatap Karin dengan tatapan yang sangat asing bukan kemarahan, tapi sebuah permohonan yang putus asa. "Bayar kesalahanmu hari ini dengan memastikan dia tidak sendirian saat terbangun nanti. Jangan beranjak satu inci pun dari pintu itu."
Karin tersedan, menutup mulutnya dengan tangan. "Mas... Mas mau ke mana?"
Danu tidak menjawab. Ia berbalik, langkahnya lebar dan penuh tekad yang mematikan. Ia kembali ke mobil.
"Tuan, Anda tidak mungkin pergi sendiri," cegat Andra saat Danu hendak mengambil alih kemudi.
"Reza itu licik. Ini jebakan."
"Dia menginginkan aku, Andra. Bukan kamu, bukan pengawal," Danu menatap asisten setianya itu. "Kamu tetap di sini. Koordinasikan dengan kepolisian secara diam-diam melalui jalur khusus. Jangan biarkan media tahu tentang penculikan Bapak Rahardi. Dan satu lagi..."
Danu terhenti sejenak, menelan ludah yang terasa seperti duri.
"Jika aku tidak kembali dalam dua jam... berikan semua dokumen di brankas pribadiku kepada Nara. Katakan padanya, aku melakukan semuanya untuknya."
Sebelum Andra sempat memprotes, Danu sudah memacu SUV-nya keluar dari area rumah sakit, meninggalkan debu dan aroma karet ban yang terbakar.
Lokasi yang dikirimkan Reza adalah sebuah kompleks gudang terbengkalai di pinggiran Marunda. Langit yang mendung kini mulai menumpahkan hujan. Rintik-rintik air menghantam kaca depan mobil Danu seperti ribuan jarum.
Danu tiba di sebuah gudang yang separuh atapnya sudah runtuh. Ia turun dari mobil, membiarkan tubuhnya basah kuyup. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah benda logam dingin senjata api yang jarang ia gunakan, namun selalu ia siapkan untuk hari seperti ini.
Lampu sorot dari dalam gudang tiba-tiba menyala, membutakan matanya sejenak.
"Selamat datang, Sang Pahlawan!" Suara Reza menggema melalui pengeras suara, bercampur dengan suara gemuruh guntur.
Danu melangkah masuk. Sepatunya menginjak genangan air dan karat. Di tengah ruangan, di bawah lampu gantung yang bergoyang tertiup angin laut, Bapak Rahardi duduk terikat di sebuah kursi kayu. Mulutnya dilakban, wajahnya lebam, dan matanya membelalak ketakutan saat melihat Danu.
Di sampingnya, Reza berdiri dengan setelan jas rapi, memegang sebuah pemantik api emas yang ia mainkan di tangannya.
"Lepaskan dia, Reza. Urusanmu denganku, bukan dengan pria tua yang bahkan tidak bisa berjalan tanpa tongkat," suara Danu bergetar oleh amarah yang tertahan.
Reza tertawa, suara tawa yang kering dan tidak sehat. "Oh, Danu. Kamu selalu berpikir ini soal bisnis. Soal tanah yayasan itu? Itu hanya camilan. Aku ingin melihatmu hancur secara sistematis. Aku ingin melihatmu kehilangan semua yang kau cintai, seperti saat kau menghancurkan keluargaku sepuluh tahun lalu."
"Ayahmu masuk penjara karena dia mencuri uang pensiun ribuan orang, Reza! Dia bunuh diri karena malu, bukan karena aku!" sergah Danu.
"BOHONG!" teriak Reza, wajahnya mendadak merah padam. Ia mendekati Bapak Rahardi dan menempelkan ujung pisau lipat ke leher pria tua itu. "Satu langkah lagi, dan saluran napas pria ini akan terbuka lebih lebar dari yang seharusnya."
Danu berhenti seketika. "Oke. Oke! Apa yang kau mau?"
Reza tersenyum tipis. "Lututmu, Danu. Berlututlah. Di atas air kotor ini. Di hadapanku."
Danu menatap Bapak Rahardi yang menggelengkan kepalanya sekuat tenaga, memohon agar Danu tidak melakukannya. Namun, Danu membayangkan wajah Nara. Ia membayangkan janji yang ia bisikkan di telinga istrinya yang pingsan tadi.
Plak.
Lutut Danu menghantam lantai beton yang keras. Ia berlutut di tengah genangan air, kepalanya tertunduk, sementara hujan semakin menderas di luar, menciptakan simfoni yang mengerikan.
"Bagus. Sang Singa Setiawan Group akhirnya menjadi anjing," ejek Reza. Ia berjalan memutari Danu, menendang bahu Danu hingga pria itu nyaris tersungkur. "Sekarang, mari kita buat taruhan yang menarik. Di kantongku ada sebuah remot. Gudang ini sudah kupasangi peledak di empat sudut utama."
Mata Danu membelalak. "Kau gila! Kau juga akan mati!"
"Aku sudah mati sejak hari ayahku gantung diri, Danu! Sekarang pertanyaannya adalah... siapa yang ingin kau selamatkan?" Reza mengeluarkan sebuah ponsel lagi. Di layarnya, terlihat siaran langsung (live feed) dari dalam sebuah kamar rumah sakit.
Jantung Danu seolah berhenti. Itu adalah kamar perawatan Nara. Seseorang dengan pakaian perawat tampak berdiri di sudut ruangan, memegang sebuah suntikan.
"Satu tombol untuk meledakkan tempat ini, mengirimmu dan ayah mertuamu ke neraka. Atau satu pesan singkat dariku agar perawat bayaranku menyuntikkan kalium klorida ke dalam infus Nara. Kematian instan untuk istri dan anakmu."
Reza mendekatkan wajahnya ke telinga Danu. "Pilih satu, Danu. Siapa yang harus mati hari ini?"
Napas Danu memburu. Dunia seolah melambat. Di hadapannya, Bapak Rahardi meronta-ronta, mencoba mengatakan sesuatu di balik lakban itu. Air mata mengalir di pipi pria tua itu, ia menatap Danu dengan tatapan "Pilih Nara... selamatkan putriku".
Sementara itu, di layar ponsel, perawat itu mulai mendekati botol infus Nara.
Danu mengepalkan tinjunya hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri. "Jangan lakukan ini, Reza... aku akan memberikan segalanya. Seluruh hartaku, perusahaanku... semuanya!"
"Aku tidak butuh hartamu! Aku butuh penderitaanmu!" Reza berteriak histeris. Jarinya berada di atas tombol remot peledak, sementara tangan lainnya siap menekan layar ponsel.
Tiba-tiba, suara dering ponsel Danu yang tertinggal di lantai berbunyi. Nama 'Andra' muncul di layar.
Reza melirik ponsel itu, lalu tertawa mengejek. "Asisten setiamu ingin mengucapkan selamat tinggal?"
Reza mengambil ponsel Danu, mengaktifkan pengeras suara. "Bicara, Andra! Biarkan tuanmu mendengar laporan kematian istrinya!"
Namun, suara di seberang telepon bukan suara Andra. Melainkan suara lemah, serak, namun penuh otoritas yang sangat dikenal oleh keduanya.
"Re... Reza..."
Reza membeku. Itu suara Nara.
"Nara?" bisik Danu, jiwanya seolah ditarik kembali dari dasar jurang.
"Reza... berhenti," suara Nara terdengar melalui telepon, diiringi suara bip mesin jantung di latar belakang. "Aku sudah tahu... tentang ayahmu. Aku menemukan surat asli dari ayahku... di brankas lama Yayasan Rahardi pagi tadi sebelum kejadian ini."
Reza mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Surat apa?!"
"Ayahku... dia yang menjebak ayahmu, Reza. Bukan Danu," Nara terbatuk, suaranya terdengar sangat menyakitkan. "Danu hanya... hanya pion yang tidak tahu apa-apa saat itu. Dia masih sangat muda. Ayahku yang memberikan dokumen palsu itu pada Danu untuk dilaporkan ke polisi. Dia melakukannya untuk menguasai lahan Marunda ini."
Suasana gudang menjadi hening sesaat, hanya suara hujan yang terdengar. Bapak Rahardi mendadak lemas, ia menundukkan kepala, air matanya jatuh semakin deras. Sebuah pengakuan bisu dari sang ayah mertua.
Reza gemetar. Pisau di tangannya nyaris jatuh. "Kau bohong! Kau hanya ingin menyelamatkan suamimu!"
"Periksa... emailmu," suara Nara semakin menjauh. "Andra sudah mengirimkan pindaian surat pengakuan ayahku yang ditulisnya bertahun-tahun lalu... sebagai bentuk penyesalannya. Jangan hancurkan hidupmu untuk sebuah kebohongan, Reza... Aku mohon..."
Telepon terputus.
Reza menatap ponselnya dengan tangan yang bergetar hebat. Ia membuka email. Matanya bergerak cepat membaca baris demi baris dokumen yang muncul di layar. Wajahnya yang tadinya penuh kebencian kini berubah menjadi topeng kehancuran. Seluruh fondasi hidupnya, seluruh alasan dendamnya selama sepuluh tahun, runtuh dalam sekejap.
"Tidak... tidak mungkin..." gumam Reza. Ia jatuh terduduk, melepaskan remot peledak itu ke tanah.
Danu tidak membuang waktu. Dengan gerakan secepat kilat, ia menerjang Reza, menjatuhkan pria itu, dan merebut remot peledak sebelum sempat terinjak. Namun, Danu tidak memukul Reza. Ia hanya menindih tubuh pria itu, napasnya tersengal-sengal.
"Semua sudah berakhir, Reza," bisik Danu.
Di kejauhan, suara sirine polisi mulai terdengar mendekat. Andra dan tim kepolisian berhasil melacak lokasi Danu.
Danu segera berlari ke arah Bapak Rahardi, memotong tali pengikatnya. Pria tua itu langsung jatuh ke pelukan Danu, menangis tersedu-sedu—bukan karena takut, tapi karena rasa malu yang luar biasa atas dosa masa lalunya yang baru saja terungkap.
"Maafkan Bapak, Danu... maafkan Bapak..."
Danu tidak menjawab. Pikirannya tidak lagi di gudang itu. Ia mengambil ponselnya, menekan nomor Andra dengan jari gemetar.
"Bagaimana Nara? Tadi itu benar suaranya? Bagaimana keadaannya?!"
Suara Andra terdengar berat di seberang sana. "Tuan... Nyonya Nara sempat sadar sebentar setelah kritis. Dia memaksa bicara karena tahu Andra sedang melacak posisi Anda. Tapi..."
"Tapi apa?!" jantung Danu kembali berpacu liar.
"Dokter bilang... kondisi fisiknya menurun drastis setelah bicara tadi. Pendarahannya hebat lagi. Mereka... mereka membawanya kembali ke ruang operasi. Dan Tuan... bayi Anda... tim medis sedang berjuang keras, tapi detak jantungnya sangat lemah."
Dunia Danu kembali gelap. Kemenangan di gudang itu terasa hambar seketika. Ia meninggalkan Reza yang masih termangu di lantai dan berlari menuju mobilnya.
"Jangan ambil mereka dariku..." bisik Danu di tengah hujan yang kini turun sangat deras, seolah langit sedang ikut menangis untuk tragedi yang belum berakhir ini. "Ambil nyawaku, ambil hartaku, tapi jangan mereka."