Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Antara Belajar dan Keajaiban
Waktu berlalu dengan cepat. Pekikan sirene kereta yang kini sudah sedikit terbiasa di telinganya seolah menjadi alarm harian untuk terus bergerak. Siman, si anak pinggir rel yang dulu begitu pasrah pada nasib, kini bertekad menaklukkan setiap hari. Setiap tetesan keringat adalah saksi bisu dari transformasinya. Rumahnya yang dulu bocor dan rapuh kini sudah dicat ulang oleh bapaknya dengan sisa cat tetangga, meskipun tak seindah rumah lain, namun jauh lebih nyaman. Ayah dan Ibu Siman kini tidak lagi mencemaskannya. Mereka justru bangga dengan anaknya yang kini rajin. Ancaman penggusuran memang masih menghantui, namun Siman memilih untuk fokus pada setiap hari yang ia jalani. Pada setiap harapan yang kini ia pegang.
Hingga tiba suatu hari, saat ia terbangun dengan debaran yang berbeda dari biasanya. Matahari baru menyingsing, namun sudah ada gumpalan kabut di perutnya. Hari ini. Hari Ujian Kesetaraan.
Murni sudah menunggu di depan rumah dengan senyum cerah, menggandeng Ibu Siman yang juga terlihat bangga. Bapak Siman sudah pergi ke bengkel lebih dulu, dengan pesan singkat yang mengharukan, "Pokoknya kerjakan yang terbaik, Man. Kalaupun nggak lulus, Bapak sama Ibu bangga sama kamu." Kata-kata itu jauh lebih berharga daripada apa pun.
"Sudah siap, Man?" tanya Murni, tangannya menggenggam lengan Siman erat, memberikan kekuatan yang tak terucap.
Siman mengangguk. "Siap, Mur." Meski ada ketegangan di dadanya, akik biru laut di jarinya terasa hangat, menenangkan, seperti berbisik, "Kamu tidak sendirian."
Mereka berangkat ke lokasi ujian. Sekolah itu megah, dengan dinding bercat putih bersih dan taman yang terawat. Kontras sekali dengan lingkungan rumahnya dulu. Ada banyak peserta ujian lainnya, dengan wajah cemas, gugup, dan penuh harap. Siman merasakan sensasi dingin di seluruh tubuhnya saat ia melangkah masuk ke gerbang, kembali teringat momen-momen pahit di masa sekolahnya.
Saatnya masuk. Murni menatapnya untuk terakhir kali, matanya memancarkan kepercayaan penuh. "Kerjakan dengan tenang, Man. Aku tahu kamu bisa!"
Siman tersenyum samar, membalas anggukan. Ia melangkah masuk, melewati pintu yang tinggi dan megah, menuju ruang ujian yang sudah ditentukan. Hatinya berdebar, tetapi tidak lagi segelisah dulu. Akiknya berdenyut pelan di jarinya. Setiap langkah adalah sebuah babak baru. Setiap langkah adalah kemenangan kecil.
Ruangan ujian hening, hanya ada suara deru pendingin ruangan dan gesekan pensil di lembar jawaban. Siman duduk di bangku paling belakang, tangannya meraih pensil, matanya tertuju pada lembar soal. Mulutnya terasa kering. Tangan kanannya otomatis memutar-mutar cincin akik di jari manisnya, seolah mencari keyakinan dari benda itu.
Matematika. Mata pelajaran yang dulu sangat dibencinya. Fisika, Biologi, Kimia. Siman membaca soal satu per satu, mengernyitkan dahi. Ada beberapa yang terasa asing. Otaknya mencoba menggali memori dari pelajaran malam harinya. Tiba-tiba, sebuah kilatan. Sebuah rumus yang baru saja ia pelajari kemarin malam dengan Murni, muncul begitu jelas di benaknya. Seolah-olah buku itu terpampang nyata di depan matanya. Tangannya bergerak cepat, mengisi jawaban.
Lalu beralih ke Bahasa Indonesia. Paragraf panjang dan rumit tentang sastra. Siman mengingat nasihat Murni, "Fokus pada inti ceritanya, Man. Jangan terlalu banyak mikir ke mana-mana." Kembali, intinya muncul begitu saja, seperti petunjuk dari kejauhan. Kemudian soal Geografi. Lagi, gambar-gambar peta yang dulu selalu membuatnya pusing kini terasa lebih jelas, garis kontur dan simbol-simbolnya lebih mudah dibaca.
Waktu terus berjalan. Peserta lain terlihat menggaruk kepala, sesekali mendesah. Namun Siman, seolah berada dalam dunianya sendiri, terus mengerjakan soal demi soal. Akik di jarinya terasa tenang, mengirimkan semacam aliran konsentrasi yang tak terputus. Ini aneh, ia berpikir. Mungkinkah akik ini memang... memberikan semacam ilham? Sebuah jawaban, secara harfiah, untuk pertanyaannya?
Sesaat, ia merenung. Apakah semua ini karena akik? Atau karena ia memang belajar dengan keras? Kebanyakan jawabannya terasa begitu natural, seolah ia benar-benar tahu, bukan hanya karena dorongan aneh. Sebuah kebingungan yang samar.
"Waktu tersisa 15 menit!" suara pengawas ujian memecah keheningan.
Siman tersentak. Lembar jawabannya sudah terisi penuh, nyaris sempurna. Ia memeriksa kembali satu per satu, merasa yakin dengan jawabannya. Detak akiknya beriringan dengan detak jantungnya yang berangsur tenang. Ada rasa puas yang perlahan mengisi rongga dadanya. Bukan lagi keraguan atau kekosongan.
Setelah pengawas mengumumkan "Waktu selesai!", Siman bangkit dengan langkah yang lebih ringan dari biasanya. Ia berjalan menuju pintu, memandang ke sekeliling, dan menemukan Murni sudah menunggunya di depan, tersenyum lebar. Matanya mengisyaratkan pertanyaan, "Bagaimana?"
"Sudah selesai, Mur." Siman tersenyum. Sebuah senyum yang jujur, tidak lagi ada keraguan, apalagi kehampaan. Setidaknya untuk saat ini.
"Bagaimana, Man? Susah tidak soalnya? Aku nunggu dari tadi lho. Ada Fisika kan? Atau bahasa Indonesianya yang sulit? Ada soal Matematika nggak yang susah banget?" Murni bertanya antusias, dengan langkah kecil mendekati Siman. Rasa khawatir tetap terpancar dari wajah Murni, apalagi mengingat betapa Murni memahami trauma yang pernah dirasakan oleh Siman dulu saat pelajaran itu semua begitu sulit.
Siman menggeleng, wajahnya tenang. "Nggak tahu juga, Mur. Kayaknya aku bisa jawab semuanya."
Murni tertawa renyah, senyumnya semakin lebar. Ia merangkul Siman, sebuah keakraban yang begitu murni. "Tuh kan! Sudah kuduga! Kamu memang hebat, Siman! Aku yakin kamu pasti lulus! Lulus dengan nilai terbaik, seperti yang kamu janjikan padaku!"
"Mudah-mudahan begitu, Mur," balas Siman. Ia melirik akiknya. Keberhasilan ini memang sebagian darinya. Namun ada peran akiknya di balik itu. Akik yang mampu memberinya ilham saat dia terjerat kebingungan dan melupa. "Semoga saja, hasilnya tidak mengecewakan."
Murni melepaskan rangkulan Siman, menatapnya lagi, kali ini dengan gurat kebanggaan yang membuat Siman merasa terharu. "Pasti! Kan sudah kubilang, Man! Nggak akan mengecewakan! Aku percaya banget sama kamu!"
Namun, di dalam lubuk hati Siman, masih ada pertanyaan. Ini bukan semata kemampuannya, ini... ada "bantuan" dari akik. Sejauh mana batas kemampuan Siman, dan sejauh mana pula peran batu misterius ini? Perasaan bangga yang dirasakannya kini bercampur dengan semacam misteri yang dalam, sebuah rahasia yang ia yakini tidak akan dimengerti Murni. Ia meremas akiknya di dalam saku, seolah ingin menyimpan rahasia itu lebih dalam lagi.
Murni menarik lengan Siman, ekspresinya berubah. "Kita lihat pengumumannya bareng-bareng ya nanti?"
"Tanggal berapa nanti pengumuman kelulusannya, Mur?"
Siman menggenggam akiknya di saku celana, rasa panas di jemarinya seolah mengaliri seluruh nadinya. Perutnya melilit bukan karena lapar, melainkan kecemasan yang mendalam. Mereka baru saja tiba di pelataran Balai Kelurahan, tempat pengumuman ujian kesetaraan akan ditempel. Tangan Murni masih setia mengamit lengannya, sorot matanya yang penuh semangat tak mampu menghilangkan gurat khawatir yang samar. Di sisi mereka, Bapak dan Ibu Siman terlihat ikut tegang, memilih duduk di kursi plastik yang disediakan di bawah rindangnya pohon mangga. Kerumunan orang tua dan peserta lain, wajah-wajah yang menunjukkan kegelisahan serupa, memenuhi area itu. Setiap orang berebut mencari pengumuman yang di tempel.
***