menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
BAB 29: Semburat Cahaya di Balik Penjara Es
Salju pertama di awal tahun 2026 mulai menyelimuti Berlin. Kristal-kristal es menempel di jendela kaca patri tinggi Kastil Hohenzollern, menciptakan dekorasi alami yang dingin namun indah. Di dalam, perapian besar terus berkobar, mencoba mengusir hawa beku yang seolah meresap hingga ke tulang.
Bulan kedelapan kehamilan Sophia membawa transformasi yang tidak pernah diduga oleh siapa pun, termasuk Aurelius sendiri. Jika bulan-bulan sebelumnya hubungan mereka hanyalah medan perang ego dan kemanjaan yang melelahkan, kini suasana berubah menjadi keheningan yang lebih manusiawi.
Aurelius berdiri di balkon perpustakaan, menatap taman labirin yang memutih. Rambutnya kini pendek, tertata rapi dengan gaya militer yang kaku—sesuai keinginan Sophia. Ia meraba tengkuknya yang terasa dingin tanpa helaian rambut wolf cut lamanya. Identitas "Ren" sang mekanik Tokyo terasa semakin menjauh, terkubur di bawah tumpukan salju Jerman.
"Aurelius..."
Suara itu lembut, tidak lagi bernada menuntut seperti biasanya. Aurelius menoleh dan melihat Sophia berjalan perlahan dengan gaun hamil berbahan wol halus berwarna putih salju. Perutnya yang kini sangat besar membuatnya harus berjalan dengan hati-hati.
Aurelius segera melangkah maju. Tanpa sadar, tangannya bergerak refleks untuk menyangga lengan Sophia. "Kenapa kau keluar dari kamar? Lantai di sini sangat dingin."
Sophia tersenyum, sebuah senyuman yang tidak lagi mengandung kelicikan aristokrat, melainkan kelelahan seorang ibu yang sedang menanggung beban kehidupan baru. "Aku bosan hanya menatap langit-langit. Bayi ini terus menendang setiap kali aku mencoba berbaring. Dia sepertinya ingin menyapa ayahnya."
Aurelius menuntun Sophia ke sofa panjang di depan perapian. Ia membantu wanita itu duduk dan menyelimuti kakinya dengan bulu cerpelai. Ada sesuatu yang melunak di wajah Aurelius. Kedinginan yang selama ini ia pelihara sebagai perisai melawan dunia mulai retak oleh kenyataan biologis yang ada di depannya.
Ia berlutut di depan Sophia, meletakkan tangannya di atas perut Sophia yang keras. Detik itu juga, sebuah tendangan kuat menyambut telapak tangannya.
Mata Aurelius membelalak. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia tertawa kecil—tawa yang jujur. "Dia sangat kuat. Sepertinya dia mewarisi sifat keras kepalamu."
Sophia tertawa pelan, jemarinya mengelus rambut pendek Aurelius. "Dan dia mewarisi ketajaman matamu. Aku bisa merasakannya."
Momen itu hening. Hanya suara kayu bakar yang berderak. Di titik ini, Aurelius mulai luluh. Bukan karena ia telah jatuh cinta pada Sophia seperti ia mencintai Hana, tapi karena ia mulai menerima takdirnya. Ia menyadari bahwa wanita di depannya ini adalah ibu dari anaknya. Sophia telah mempertaruhkan tubuh dan kesehatannya untuk melahirkan penerusnya. Rasa benci yang dulu membara kini berganti menjadi rasa hormat dan empati yang mendalam.
"Maafkan aku, Sophia," bisik Aurelius tiba-tiba.
Sophia tertegun. "Untuk apa?"
"Untuk menjadi suami yang seperti patung selama ini. Untuk semua kedinginan yang kuberikan padamu."
Sophia menatap Aurelius dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu Aurelius masih menyimpan nama lain di hatinya, namun bagi Sophia, momen kelembutan ini sudah lebih dari cukup. Ia telah memenangkan raga Aurelius, dan kini ia merasa perlahan-lahan mulai memenangkan sedikit ruang di sisi kemanusiaan suaminya.
Kedatangan Viktoria dan Elara memberikan warna lain dalam drama domestik ini. Viktoria, dengan segala kelicikannya, terus mencoba memprovokasi Aurelius tentang kabar dari Jepang, namun Aurelius kini lebih memilih untuk mengabaikannya. Ia telah memutus semua jalur komunikasi dengan informan di Tokyo. Ia tidak ingin tahu lagi tentang Hana. Ia takut jika ia mendengar satu nama itu, dinding yang susah payah ia bangun akan runtuh kembali.
"Kau terlihat sangat... patuh, Aurelius," sindir Viktoria suatu sore saat mereka minum teh di winter garden. "Apakah kehamilan Sophia benar-benar telah menjinakkan harimau liar dari Tokyo itu?"
Aurelius menyesap tehnya dengan tenang. "Aku hanya sedang menjalankan tugasku sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, Ibu. Bukankah itu yang selalu kau dan Ayah inginkan?"
Elara, yang duduk di samping kakaknya, merasa bangga sekaligus sedih. Ia bangga melihat kakaknya mulai stabil, namun ia sedih karena ia tahu kakaknya sedang membunuh jiwanya sendiri demi kedamaian palsu ini.
"Sophia sedang ngidam sesuatu yang aneh lagi, Kak?" tanya Elara mencoba mencairkan suasana.
Aurelius tersenyum tipis. "Semalam dia ingin aku membacakan puisi dalam bahasa Latin selama tiga jam penuh. Dia bilang bayi ini menyukai ritme bahasanya. Suaraku hampir habis sekarang."
Tawa pecah di meja teh itu. Untuk sesaat, mereka terlihat seperti keluarga normal tanpa intrik kekuasaan. Namun di balik itu semua, Maximilian terus memantau dari kejauhan, memastikan bahwa Aurelius benar-benar telah "terkunci" dalam perannya.
Beberapa Minggu Kemudian: Persiapan Menjelang Kelahiran.
Kamar bayi di sayap timur kastil telah disiapkan dengan kemegahan yang tak masuk akal. Dindingnya dihiasi dengan lukisan tangan seniman ternama, langit-langitnya menyerupai rasi bintang yang dibuat dari kristal Swarovski yang bisa berpendar di kegelapan.
Sophia menjadi semakin manja seiring mendekatnya hari persalinan. Ia sering terbangun di tengah malam karena kram kaki, dan Aurelius—tanpa mengeluh sedikit pun—akan duduk berjam-jam memijat kaki istrinya. Ia sering membisikkan kata-kata penenang, bukan karena cinta yang membara, tapi karena ia merasa berhutang budi pada kehidupan yang sedang diperjuangkan Sophia.
Suatu malam, saat Sophia sudah tertidur pulas di pelukannya, Aurelius menatap jendela. Pikirannya melayang sebentar ke Tokyo. Ia membayangkan Hana. Apakah Hana juga sedang mengandung? Apakah Hana bahagia dengan suaminya?
Ia segera menggelengkan kepala, mengusir pikiran itu. Ia mencium kening Sophia dan membisikkan janji pada bayi yang belum lahir itu. "Aku akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkanmu merasakan rasa sakit yang kurasakan. Kau akan menjadi Hohenzollern yang paling bahagia."
Luluhnya hati Aurelius adalah bentuk pertahanan diri terakhirnya. Ia memilih untuk mencintai apa yang ia miliki sekarang daripada menderita karena apa yang telah hilang. Ia mulai membangun kasih sayang dari reruntuhan hatinya.
Di Tokyo, Jepang.
Keseharian Hana Asuka tetaplah sebuah rutinitas yang beku. Keberhasilan bisnisnya semakin melambung, namun kehidupan pribadinya tetaplah sebuah teka-teki yang dingin bagi Kaito Tanaka.
Hana mendengar kabar tentang luluhnya Aurelius terhadap Sophia melalui jaringan berita bisnis. Ia melihat foto-foto kemesraan Aurelius yang membelai perut Sophia di sebuah acara amal di Berlin.
Hana duduk di meja makan mewahnya, menatap piring yang masih penuh. Kaito duduk di seberangnya, mencoba mengajaknya bicara tentang rencana liburan musim semi.
"Hana, bagaimana kalau kita ke Swiss? Udara di sana sangat bagus untukmu," ajak Kaito tulus.
Hana menatap Kaito. "Aku tidak bisa, Kaito. Proyek di Nagoya sedang masuk tahap krusial."
"Selalu pekerjaan, Hana. Selalu alasan itu," Kaito meletakkan sendoknya, suaranya mengandung keputusasaan. "Aku sudah bersabar. Aku sudah mencoba memberikan segalanya. Tapi setiap kali aku menyentuhmu, kau terasa seperti es. Kau ada di sana, tapi jiwamu tidak."
Hana terdiam. Ia tidak bisa mengatakan bahwa setiap kali Kaito menyentuhnya, ia merasa seperti sedang mengkhianati hantu dari masa lalunya. Ia tidak bisa mengatakan bahwa meskipun Aurelius sekarang sedang berbahagia dengan bayinya di Berlin, Hana masih tetap menjaga "kuil" hatinya agar tetap kosong.
"Aku butuh waktu, Kaito," hanya itu yang bisa diucapkan Hana.
Hana bangkit dan pergi ke kamar kerjanya, meninggalkan Kaito yang tertunduk lesu di meja makan. Hana menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di sana. Ia meraba perutnya sendiri yang masih rata. Ada rasa iri yang menusuk saat ia memikirkan Sophia yang mengandung anak Aurelius.
"Kau sudah menang, Sophia," batin Hana. "Kau mendapatkan pria itu, kau mendapatkan anaknya, dan kau mendapatkan cintanya yang kini mungkin sudah mulai tumbuh dari rasa terbiasa. Sedangkan aku... aku tetap menjadi ratu di atas takhta kesepianku sendiri."
Hana mengambil sebuah kotak kecil dari laci rahasianya. Di dalamnya ada sebuah foto lama—Ren dengan pakaian mekanik yang kotor, sedang tertawa lebar di bengkel Ota. Hana mencium foto itu, air mata menetes di permukaan kertas yang mulai menguning.
Malam itu, di dua benua yang berbeda, sebuah takdir baru sedang bersiap untuk dilahirkan. Di Berlin, Aurelius mulai menerima cahaya baru dalam hidupnya melalui anak yang akan segera lahir. Di Tokyo, Hana semakin tenggelam dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri sebagai bentuk kesetiaan yang tragis.
Pernikahan terbesar abad ini akan segera membuahkan hasil, dan Aurelius Renzo kini bukan lagi pria yang meratapi masa lalu. Ia adalah seorang ayah yang sedang menunggu keajaiban, meski keajaiban itu lahir dari sebuah kebohongan yang megah.