NovelToon NovelToon
ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Dosen / Tamat
Popularitas:201.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Chyntia R

Sebuah insiden kecelakaan pesawat mengakibatkan Elara menjadi salah satu korbannya.

Gadis berusia 24 tahun itu tidak ditemukan dalam keadaan masih bernyawa, maupun jasad. Alhasil, Elara pun dinyatakan hilang.

Pada kenyataannya, Elara hidup, dia terdampar di sebuah hutan hingga mempertemukannya dengan sosok pria pendaki gunung, Shane Gladwin.

Shane merawat Elara dalam keadaan sulit dan mereka saling jatuh cinta satu sama lain.

Akan tetapi, saat kembali pada kehidupan awal, Elara menemukan fakta baru yang membuat Elara harus menyadari posisinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chyntia R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Bergidik

Shane berderap cepat menuju posisi Elara, ia cukup terkejut dengan pekikan gadis itu.

"Ada apa?" tanya pria itu dengan gelagat panik dan wajah khawatir, ia mengira Elara melihat binatang buas atau semacamnya.

"Shane, tolong aku ... itu!" Elara menunjuk kearah kakinya sendiri dan disana Shane melihat begitu banyak cacing air yang mengerubungi.

"Aku geli, Shane. Jijik!" Elara merengek seperti anak kecil yang mengadu pada Ayahnya. Shane menahan gelak, ia menyampingkan rasa lucu akibat melihat tingkah konyol Elara hanya karena bersentuhan dengan cacing.

Shane menyingkirkan cacing-cacing itu dari kaki Elara sambil melihat respon gadis itu yang tampak bergidik kemudian.

"Kau setakut itu?" Shane menatap Elara dengan rasa lucu yang masih tertahan.

"Bukan takut, tapi geli." Elara menjawab sambil memastikan tak ada cacing lagi disana.

"Sudahlah, aku sudah membuangnya."

"Ah, Shane, disana ada lagi!" Elara berseru, menunjuk ke arah yang tak jauh dari tempat Shane berdiri. "Aku tidak mau, aku tidak mau menginjaknya lagi. Hiii ..." Aura menaikkan kaki diatas bebatuan yang tadi ia duduki.

"Cacing itu tidak menggigitmu, Lara. Kecuali itu lintah."

"Apa katamu? Lintah?" Elara mengulangi perkataan Shane yang terdengar berdengung di telinganya.

"Ya, kecuali itu lintah, mungkin akan menghisapp darahmu juga."

Mendengar ucapan Shane Elara langsung panik. Menggelengkan kepalanya berulang kali dengan wajah polos yang membuat Shane tidak tega.

"Tapi disini tidak ada lintah, hanya cacing. Tak apa, oke?"

Elara tetap menggeleng, tak mau turun dari bebatuan itu.

"Aku sudah selesai mandi. Ayo kita kembali ke camp."

"No! Aku tidak mau menginjak tanahnya. Aku takut ada cacing atau lintah penghisap darah."

"Kau ini benar-benar lucu. Kemarilah! Aku akan menggendongmu agar kakimu tidak menyentuh tanah."

Elara menatap Shane yang tampak serius saat mengatakan akan menggendongnya. Tapi sepertinya pria itu tidak memberikan Elara waktu untuk berpikir, tiba-tiba saja Elara sudah berada dalam gendongan Shane. Berbeda dengan kemarin saat Elara digendong dipunggung pria itu, hari ini Shane membawanya didepan dada, ala bridal style.

"Shane!" pekik Elara tertahan.

"Apa?" Shane meresponnya dengan kekehan, nyatanya tubuh Elara sudah berada di kedua tangannya sekarang.

"Ini--ini berlebihan, Shane!" Elara mencoba protes, jaraknya dan Shane saat ini sangat dekat, bahkan sebagian tubuhnya menempel pada perut sixpack milik pria itu. Elara amat malu, tadi ia mau menyangkal pemandangan didepannya saat Shane membuka baju, tapi sekarang ia justru dapat merasakan sentuhan dari kulit Shane yang menggendongnya.

"Berlebihan apanya? Kau sendiri yang mengatakan tidak mau menginjak tanah." Shane berujar santai sembari terus berjalan dengan Elara digendongannya. "Atau kau berubah pikiran dan mau ku turunkan?" tanyanya kemudian.

"Ti-tidak!" serunya. Elara masih terlalu geli membayangkan cacing-cacing tadi. "Jangan-jangan cacing-cacing itu juga ada didalam air yang kita mandikan," duga Elara.

"Memang ada, kau saja yang tidak menyadarinya."

"Aku tidak akan mandi lagi kalau begitu."

Shane tertawa keras mendengar ucapan Elara. "Kau akan bau," kelakarnya.

"Tidak akan, aku bahkan tidak berkeringat disini," jawab Elara yakin.

Shane tak menyahut lagi, ia justru menatap Elara dari posisinya, sementara gadis itu memalingkan wajah ke arah langit yang tertutup oleh dahan-dahan pohon besar, ia tak berani membalas tatapan mata kehijauan milik Shane.

"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Ya?"

"Kau bukan warga negara Jerman? Maksudku, kau tidak nampak seperti wanita kebanyakan yang ada di negara ini. Kau lebih seperti gadis Asia." Shane memberikan penilaiannya.

Mereka tiba di camp dan Shane menurunkan Elara tepat diatas matras tenda.

"Thank, Shane."

Shane mengangguk, ia masih menunggu Elara menjawab pertanyaannya. Sejak awal ia selalu mengira Elara bukan gadis keturunan negara yang ia tinggali. Karena Elara tampak berbeda dan sangat kontras dari wanita yang sering dijumpainya selama ini.

"Aku orang Indonesia. Ya, itu bagian Asia juga, kan?"

Shane tampak memikirkan sesuatu. Ia pernah mendengar nama negara itu meski tak pernah menyambanginya.

"Bali?" tanya Shane.

Elara paham maksud Shane. "Ya, Bali ada di Indonesia, tapi aku tidak tinggal disana."

"Jekardah?" ucap Shane dengan speech khas-nya.

"Ya, Jakarta. JA-KAR-TA!" eja Elara.

Shane terkekeh. "Iya, Jakarta, Lara," pungkasnya.

Elara tersenyum lembut dan itu justru membuat Shane memalingkan wajah.

"Gantilah pakaianmu, kau bisa memilih baju di backpack milikku, itu ada didalam tenda."

Elara mengangguk patuh. "Jangan masuk!" peringatnya pada Shane.

Pria dengan rambut cokelat itu mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah, gestur itu menunjukkan seolah ia takut pada peringatan yang dibuat oleh Elara.

Elara sempat terkekeh sebelum akhirnya masuk ke dalam tenda untuk mengganti pakaiannya. Baru kali ini Elara merasa begitu lepas, meski hidupnya di hutan ini terasa sangat terbatas dan apa adanya.

Elara sudah mengganti bajunya, tapi kesalahan yang ia buat adalah kaos oversize pilihannya kali ini adalah warna putih. Elara tidak menyadari jika hal itu justru membuat beberapa bagian tubuhnya dapat tercetak karena baju dengan dasar putih memang lebih sering menerawang.

Elara keluar dari tenda dan melihat Shane yang juga sudah mengganti pakaiannya.

"Ayo, aku oleskan gel lagi di luka-luka mu."

Elara mengangguk, ia memang perlu bantuan Shane untuk hal ini. Terkecuali bagian perut, Elara akan mengobatinya sendiri meski itu akan terasa sangat perih nanti.

"Jika aku terlalu kuat, cubit saja tanganku ini," kelakar Shane sebelum memulai aksinya dengan gel yang siap dioleskan pada luka di dahi Elara.

"Ya, tentu aku akan mencubitmu." Elara tampak sungguh-sungguh saat mengatakannya padahal niatnya hanya mencandai Shane.

"Arkhh ..." Elara meringis begitu gel pertama yang terasa dingin mengenai luka di bagian pelipisnya. Ya, Shane memilih bagian itu yang lebih dulu untuk diobati.

"Jangan cubit aku, itu tadi baru permulaan, aku akan memperhalus gerakan ku di lukamu," kata Shane mencoba menenangkan Elara.

"Oke, tapi jika nanti sakit lagi aku tidak segan-segan untuk mencubitmu," ancam Elara tak benar-benar serius dan Shane mengetahui hal itu.

Saat Shane mengobati luka di dahi Elara itu, otomatis jarak keduanya jadi lebih dekat, Shane salah fokus saat tanpa sengaja melihat sesuatu dibalik baju putih yang menerawang. Hal itu berimbas pada tangannya yang malah mengolesi gel ke arah lain. Ya, gelnya jadi salah oles ke bagian yang tidak luka.

"Itu tidak luka, kan?" Elara dapat merasakan hal tersebut. "Lalu, kenapa kau mengolesnya disana?"

"A-aku ..." Mendadak Shane jadi gugup, ucapannya bahkan tergugu.

Elara memicing ditempatnya, Shane aneh sekali kenapa tiba-tiba begini? Pikir gadis itu.

"Jika sentuhannya terlalu keras aku boleh mencubitmu, kan?" Lagi-lagi Elara menanyai hal yang tadi dibuat menjadi kesepakatan diantara mereka.

Shane mengangguk, untuk mengiyakan.

"Kali ini kau memang tidak kuat mengoleskannya, tapi kau mengolesi ditempat yang salah sasaran, Tuan!" cibir Elara.

"Jadi, kau mau memberikan cubitan padaku juga karena kesalahan yang ini?" tanya Shane menebak.

"Tentu saja. Aku akan menghukummu karena mengoleskan gel ditempat yang salah. Lihat, dahiku yang tidak luka malah menjadi sasarannya."

"Jadi, apa hukumanku, Nona?" tanya Shane benar-benar tampak menunggu keputusan Elara.

"Ini ..." Elara malah menggelitik perut Shane dengan jari jemarinya.

Shane terkekeh-kekeh karena ulah Elara, hal itu justru membuat mereka saling membalas dengan saling menggelitik satu dengan yang lain. Elara ikut tertawa hingga tanpa sadar jika kini Shane telah berada dalam posisi diatas tubuhnya dan seolah mengungkungnya.

Mereka sama-sama terdiam saat menyadari kejanggalan tersebut.

"Shane?"

Elara mencoba memanggil Shane yang tiba-tiba mendekatkan wajah padanya. Akan tetapi, pria itu tak bergeming dengan panggilannya, Shane justru menyasar pada bibir Elara lalu mengecupnya dengan lembut.

Elara melotot sempurna akibat ulah Shane, meski demikian, ia pun dapat merasakan kekenyalan bibir Shane yang sempat bersentuhan langsung dengan bibirnya.

Saat Elara ingin protes, pria itu sudah menarik diri kembali.

"Maaf, maafkan aku, Lara." Wajah Shane tampak sendu dan Elara tau jika Shane benar-benar tulus akan permintaan maafnya. Shane jelas merasa bersalah.

Shane pun menjauh dari Elara saat itu juga, ia meninggalkan Elara yang terpaku mengingat kejadian yang baru saja terjadi antara ia dengan lelaki penolongnya itu.

...Bersambung ......

Komentarnya? Vote? Kopi? Bunga? Heheheh apapun boleh deh asal tetap didukung🙏🙏🙏❤️❤️❤️❤️😀

1
Virgo Girl
Gercep bang Shane nehhhh... keren!!!
Virgo Girl
Suasana nya mendukung sihhhh🤦‍♀️🤦‍♀️
Virgo Girl
Kata2 nya dalem.... ❤❤
Dev
gk nyangka y Kyle..huh..
mksud dari gk pernah bisada hamil anak Shane itu gmna??jgn bilang klo rahimnya jg diambil Thor?? please jgn sampek..kasian Elara.nya..
Dev
sepertinya Gracia yg nyuri ginjalnya Elara..
martina melati
benar2 polos tanpa bra dan cd
martina melati
berpelukan
Yaser Levi
jangan2 rahim elara sdh di rusak dokter suruhan gracya..ya tuhan..ingat percakapan nya dgn kyle..
Chyntia Rizky 🖋️: makasih sudah menyempatkan utk mampir disini kak🙏🏻
total 1 replies
Yaser Levi
udah penyakitan aja masih punya pikiran utk merebut shane..sekali jalang tetap jalang
Yaser Levi
wanita yg hamil di luar nikah siapapun itu namaya JALANG
Yaser Levi
dsar orang tua gila..yg ngebuntingin siapa..yg suruh tanggung jawab siapa...hadeuh..dan juga sebagai laki2 shane tdk tegas..mau iya2 aja ,tdk punya pendirian..payah..
dan sebagai wanita baik2 penting punya harga diri,agar tak sembaranfan membuka paha utk laki2 yg bukan suami..error semua tokohnya
yg baca juga sewot
hahaja🤣🤣🤣
Yaser Levi
jangan2 shane itu hantu....yg hilang di hutan shane..
Rianti
aku mau nonjok Stevi deh.
Riska Trisna
pasti Stevi lucnut itu klo bukan megan pelakunya
Nana Aja
Lumayan
єℓιѕKᵝ⃟ᴸ
memang kau salah kyle
єℓιѕKᵝ⃟ᴸ
jahat sekali gracia
єℓιѕKᵝ⃟ᴸ
klo kyle melakukan itu, betarti kyle jahat juga
єℓιѕKᵝ⃟ᴸ
kasihan banget elara hrs kehilangan 1 ginjalnya, deuh otor teganya bikin ela punya 1 ginjal
єℓιѕKᵝ⃟ᴸ
aneh aneh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!