Ramzi mencintai seorang gadis, dia salah satu anak Kiai Amar. Kiai Amar mempunyai 3 putri, putri pertama sudah menikah. Ramzi menyukai salah satu putri Kiai Amar yang belum menikah.
Niat untuk melamar diutarakan kepada sang Abi yaitu Kiai Afnan, mereka langsung menyegerakan niat baik Ramzi tersebut. Tapi sang Abi salah melamar, yang Ramzi cintai Ning Delisha, tapi sang Abi melamar Ning Inayah.
Apakah pernikahan mereka akan bahagia dengan diawali tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Farida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu Syok
Inayah terus menangis, tangannya masih gemetar. Terlihat sangat ketakutan, ia masih menyembunyikan wajahnya dengan kedua kaki yang ditekuk.
Sebelum menikah, ia terbayang bahwa Gus Ramzi akan mencintainya, memperlakukan Inayah dengan kasih sayang. Bayangan itu sirna akibat perbuatan yang memaksa dan sangat kasar bagi dirinya.
Sudah 1 jam Inayah tidak bergerak dari tempat semula. Ramzi coba masuk ke dalam kamar. Dia mengamati Inayah yang masih menyembunyikan wajahnya diantara kedua kaki yang ditekuk dengan kepala yang disanggah dengan kedua tangannya.
Ramzi melihat keanehan, karena Inayah tidak bergerak dan tidak ada suara tangisan.
"Ning Inayah," panggil Ramzi.
Inayah tidak menjawab.
"Ning Inayah," panggil Ramzi kembali.
Ramzi mulai curiga, dia menyentuh pundah Inayah dengan tangan kanannya.
Brug
Tubuh Inayah jatuh, ia tidak sadarkan diri. Ramzi memegang dahi Inayah, terasa panas suhu tubuhnya.
"Astagfirullah, Ning," Ramzi panik, dia langsung membopong tubuh Inayah keluar dari kamar tersebut.
Ummi Laila dan Abi Afnan melihat Ramzi sedang membopong tubuh Inayah yang terlihat sangat lemas.
"Abi...tolong bukakan pintu mobilku," pinta Ramzi.
"Astagfirullah, Ina kenapa Ramzi. Kamu apakah Ina?" tanya Ummi yang sangat mengkhawatirkan Inayah.
"Gak tahu Ummi, tiba-tiba pingsan dan demam tinggi," ucap Ramzi.
Ramzi langsung membawa Inayah ke rumah sakit. Ummi Laila dan Abi Afnan ikut, paha Ummi Laila sebagai bantalan untuk kepala Inayah. Ummi membelai kepala Inayah dengan raut wajah yang sangat khawatir akan menantu kesayangannya.
Sesampainya di rumah sakit. Inayah langsung di rawat, dia mendapat infusan di tangannya.
"Dokter Ina," ucap Dokter Azril, rekan kerja Inayah.
"Dokter kenal dengan mantu saya?" tanya Ummi Laila.
"Iya sangat kenal. Dokter Inayah adalah rekan kerja saya Bu. Dia adalah salah satu dokter yang sangat berdedikasi tinggi dalam profesinya, dokter bertangan emas. Pasien yang kenal dia, pasti request dokternya yah Dokter Inayah. Seperti sudah tersugesti, jika Dokter Inayah yang memberikan obat, para pasien lebih cepat sehatnya," cerita Azril.
'Masya Allah, mantu kesayanganku ini benar-benar hebat,' batin Ummi Laila.
"Jadi rumah sakit ini, tempat mantu saya bekerja?" tanya Ummi Laila.
"Iya Bu, suaminya mana yah Bu? saya harus menjelaskan tentang kondisi Dokter Inayah," tanya Dokter Azril.
"Sedang mengurus administrasi Dok," jawab Ummi Laila.
"Tolong sampaikan ke suami Dokter Inayah, nanti ke ruang saya yah Bu," pinta Dokter Azril.
"Iya Dok, terima kasih," ucap Ummi Laila.
Dokter Azril keluar dari ruang rawat inap, tidak lama setelah itu Ramzi dan Abi afnan masuk setelah selesai Administrasi.
"Ummi, sudah ada dokter yang memeriksa Ning?" tanya Ramzi.
"Sudah, kamu di suruh ke ruangan dokter itu. Kata Dokter mau menjelaskan kondisi Inayah," ucap Ummi.
"Yah sudah, aku sekarang ke ruang dokter dulu Ummi," kata Ramzi.
***
Tok tok tok
Suara pintu diketuk, Ramzi membuka pintu.
"Permisi dokter, saya suami dari Inayah," ucap Ramzi.
"Silahkan duduk Pak," jawab Dokter Azril.
Ramzi duduk di kursi, posisinya tepat berhadapan dengan Dokter Azril.
"Dokter Inayah sepertinya terkena typus, tolong dijaga yah Pak untuk makanannya, jangan yang pedas-pedas. Dan jaga pikirannya agar gak stress supaya cepat sehat lagi, sakit typus penyebabnya dari kelelahan dan banyak pikiran," ucap Dokter Azril.
"Dokter kenal dengan Inayah?" tanya Ramzi.
"Iya saya sangat dekat dengan Dokter Inayah," jawab Dokter Azril.
"Maksudnya?" tanya Ramzi kembali.
"Maksud saya dekat sebagai rekan kerja, ini rumah sakit tempat Dokter Inayah bekerja," ucap Dokter Azril.
"Saya sudah menyampaikan kondisi Dokter Inayah, ada yang mau Bapak tanyakan?" tanya Dokter Azril.
"Tidak, sudah cukup jelas. Terima kasih Dok," ucap Ramzi.
"Sama-sama."
Ramzi keluar dari ruangan Dokter Azril dan kembali ke kamar rawat inap Inayah.
"Apa kata Dokter, Ram?" tanya Abi Afnan.
"Typus Abi," jawab Ramzi.
Ramzi sangat merasa bersalah, karena penyebab Inayah sakit kemungkinan karena dirinya. Di lihat wajah Inayah dengan bulu mata yang lentik, bibir tipis, hidung mancung, kulit kuning langsat.
Memang Ramzi yang bodoh tidak melihat betapa cantik istrinya.
"Ummi sudah sore. lebih baik Abi dan Ummi pulang. Biar Ramzi yang jaga Ning," pinta Ramzi.
"Yah sudah, Ummi dan Abi pulang. Jika Inayah sudah siuman kabarin Ummi langsung yah. Jaga mantu kesayangan Ummi," titah Ummi Laila.
Ummi dan Abi pulang meninggalkan Ramzi sendirian yang menjaga Inayah. Tak seling lama dari kepulangan Abi dan Ummi. Inayah sadarkan diri, dia memegang kepalanya yang terasa sangat berat. Perlahan dia membuka mata, melihat sekeliling ruangan dan tangan yang sudah di Infus.
Ramzi mendekati ranjang Inayah.
"Gus, kamu di situ aja jangan kemari," walaupun Inayah sudah menahan rasa sakit di hatinya tapi air matanya tetap keluar menandai perwakilan hatinya yang sangat sakit atas perlakuan Ramzi.
"Inayah maafkan aku," ucap Ramzi.
"Kamu jangan bicara lagi Gus, maaf. Biarkan aku istirahat," pinta Inayah.
Ramzi tetap di ruang rawat Inayah, dia duduk menjauhi ranjang Inayah.
Inayah memejam matanya kembali, masih terngiang-ngiang di kepala kejadian dimana Ramzi yang begitu kasar menyentuhnya. Saat mengingat itu semua terasa sangat menakutkan bagi Inayah, tangannya mulai gemetar kembali.
Ciuman Ramzi adalah ciuman yang pertama bagi Inayah, ciuman itu seharusnya dengan kelembutan dan kasih sayang sebagai pasangan pengantin baru, tapi yang Inayah dapati malah sebaliknya. Tidak terbayang sebelumnya, suami yang telah menikahinya malah membuat Inayah sangat syok.
'Seandainya dia mencintaiku, sejak malam pertamaku. Aku akan berikan ciuman pertamaku bahkan akan aku kasih lebih, tapi dia bilang tidak mencintai ku. Kenapa dia mengkhitbahku jika tidak menyukaiku. Kamu jahat Gus Ramzi,' batin Inayah.
Klek
Suara pintu dibuka, Dokter Azril ke ruang rawat Inayah untuk memeriksanya.
"Dokter Inayah...wah wah seorang dokter profesional bisa sakit juga," ucap Dokter Azril.
Ramzi memperhatikan Dokter Azril berjalan mendekati ranjang Inayah.
"Selamat malam Pak," sapa Dokter Azril sopan.
"Dokter 'kan manusia juga, bukan malaikat. jadi bisa sakit juga lah Dokter Azril," ucap Inayah.
Dokter Azril meletakkan buket buah-buahan untuk Inayah.
"Ini buah-buahan buat Dokter, biar cepat sehat. Jaga makanannya Dok jangan yang pedas-pedas," ucap Dokter Azril.
"Terima kasih Dok, seharusnya 2 hari lagi saya praktik. Sepertinya saya akan minta izin lagi, karena kondisi saya masih lemas," ucap Inayah.
"Nanti saya bantu untuk izin Dokter Inayah, yang penting sehat dulu. Tuh para pasien cariin Dokter. Kapan Dokter Ina ada? rumah sakit ini seperti punya 1 dokter aja, mereka maunya diobati sama Dokter Ina doang," ucap Dokter Azril.
"Ah, Dokter bisa aja. Kenapa gak Dokter aja yang beri obat untuk mereka?" tanya Dokter Azril.
"Hahaha mau obati bagaimana, wong mereka langsung pulang karena Dokter kesayangan gak ada," ucap Dokter Azril.
Ramzi yang melihat kedekatan istrinya dengan Dokter Azril, menatap dengan wajah cemberut. Di dalam ruangan itu ada dirinya, tapi mereka seperti lupa jika dalam kamar rawat itu ada 3 manusia. Tapi 1 manusia yang berdiri menatap 2 manusia yang sedang akrab berbincang-bincang merasa dikacangin.
Berasa yah, jika dikacangin Ramzi? enak gak rasanya? gak enak 'kan. Maka jangan sakitin hati seorang istri. (Author gemes karena Inayah sakit gara-gara Ramzi)
Bersambung
***
Wah Autor hari ini up 2 bab.
Jangan lupa angkat jempol nya, love,vote, komen dan follow aku.
Author juga Up di novel 5 tahun Menikah Tanpa Cinta. Jadi 1 hari Author up didua novel.
Love You semua