NovelToon NovelToon
Jalan Dewa Kehampaan

Jalan Dewa Kehampaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
​Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
​Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Hantu dari Dasar Jurang

​Brak!

​Tanah di tepi Jurang Hukuman bergetar keras saat sepasang kaki mendarat dengan bobot yang luar biasa. Debu dan dedaunan kering berhamburan ke udara, membentuk lingkaran di sekitar sosok yang baru saja melesat dari kegelapan.

​Lin Tian berdiri tegap. Angin malam berhembus menerpa rambutnya yang sedikit berantakan. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara dingin dan bersih memenuhi paru-parunya. Sensasi Qi yang mengalir di setiap inci pembuluh darahnya terasa begitu nyata, hangat, dan bergejolak.

​Hanya beberapa jam yang lalu, ia didorong dari tempat ini sebagai sosok lemah yang tak berdaya. Kini, ia kembali dari kematian sebagai eksistensi yang sama sekali berbeda.

​"Panca inderaku... luar biasa," gumam Lin Tian, menutup matanya sejenak.

​Berkat penyucian dari Mutiara Kehampaan, ia bisa mendengar kepakan sayap burung hantu dari jarak ratusan meter, mencium aroma embun di ujung dedaunan, dan—yang paling penting—merasakan sisa-sisa fluktuasi Qi dari ketiga pembunuh yang belum lama meninggalkannya.

​Jejak energi mereka memanjang ke arah pinggiran Kota Daun Gugur, menyusuri jalan setapak di dalam hutan bambu.

​Mata Lin Tian terbuka, memancarkan kilatan ungu yang dingin dan mematikan. "Kalian pikir kalian bisa pergi begitu saja setelah mengambil nyawaku?"

​Dengan satu tolakan ringan, tubuh Lin Tian melesat ke depan. Ia bergerak bagaikan bayangan hantu, nyaris tidak menyentuh tanah dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Kecepatannya melampaui batas wajar seorang kultivator Pengembara Qi biasa.

​Di sisi lain hutan bambu, tidak jauh dari gerbang timur Kota Daun Gugur, tiga sosok berpakaian hitam sedang berjalan santai. Mereka telah melepaskan topeng penutup wajah, memperlihatkan raut gembira usai menerima bayaran yang besar.

​"Tuan Muda Lin Feng benar-benar dermawan. Seratus keping emas hanya untuk menyingkirkan satu sampah yang bahkan tidak bisa melawan," tawa salah satu pembunuh sambil menimbang kantong kain di tangannya. Suara gemerincing logam terdengar merdu di telinganya.

​Pemimpin kelompok itu tersenyum puas. "Ini adalah rezeki nomplok kita. Setelah ini, kita pergi ke Kota Batu Merah dan bersenang-senang selama beberapa bulan. Jauhi klan besar ini untuk sementara waktu."

​"Ketua, apa menurutmu tidak akan ada yang mencari bocah itu?" tanya pembunuh ketiga yang bertubuh lebih kurus.

​"Siapa yang peduli pada sampah yang tak bisa berkultivasi? Di dunia bela diri, yang lemah mati diinjak yang kuat. Kematiannya besok paling-paling hanya akan dianggap angin la—"

​Kata-kata pemimpin itu terhenti tiba-tiba. Bulu kuduknya berdiri. Udara di sekitarnya mendadak turun beberapa derajat, membawa niat membunuh yang begitu pekat hingga membuat darah mereka terasa membeku.

​Di tengah jalan setapak yang diterangi cahaya bulan pucat, sesosok bayangan berdiri menghalangi jalan mereka. Pakaian pemuda itu compang-camping dan berlumuran darah kering, namun posturnya tegak seperti pedang yang baru dicabut dari sarungnya.

​Ketiga pembunuh itu terbelalak. Wajah mereka pucat pasi seolah baru saja melihat iblis.

​"K-Kau... Lin Tian?!" pekik pembunuh bertubuh kurus, suaranya bergetar hebat. "B-Bagaimana mungkin?! Kami melihatmu jatuh ke Jurang Hukuman!"

​Lin Tian menatap mereka dengan wajah tanpa ekspresi. "Jurang itu menolak menerimaku. Katanya, masih ada tiga ekor anjing yang nyawanya harus kubawa ke sana."

​Pemimpin pembunuh menelan ludah, namun dengan cepat ia menekan rasa takutnya. Ia menghunus pedangnya, memancarkan aura Pengembara Qi tingkat kelima. "Jangan panik! Dia pasti tersangkut di dahan pohon saat jatuh! Dia tetaplah sampah yang tidak memiliki Qi. Kalau dia tidak mati karena jatuh, maka kita akan memotongnya menjadi beberapa bagian sekarang!"

​Mendengar itu, dua pembunuh lainnya mendapatkan kembali keberanian mereka. Mereka bertiga melesat serentak, menggunakan formasi serangan segitiga yang sama persis dengan yang mereka gunakan sebelumnya. Tiga bilah pedang menebas ke arah kepala, jantung, dan kaki Lin Tian.

​Namun, di mata Lin Tian yang sekarang, gerakan mereka terlihat begitu lambat.

​Trang!

​Sebuah suara logam yang beradu terdengar tajam. Mata ketiga pembunuh itu nyaris melotot keluar dari rongganya.

​Lin Tian tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, dan dengan dua jari—telunjuk dan jari tengah—ia menjepit ujung pedang sang pemimpin pembunuh. Pedang yang dialiri energi spiritual itu tertahan seketika, tidak bisa maju satu milimeter pun.

​"B-Bagaimana bisa... kekuatan fisik macam apa ini?!" Pemimpin pembunuh itu menjerit tertahan, berusaha menarik pedangnya, namun pedang itu seolah terjepit di antara dua gunung besi.

​Kekuatan fisik Lin Tian saat ini telah ditempa hingga setara dengan tahap Pondasi Bumi awal berkat Mutiara Kehampaan. Senjata fana dan Qi tingkat rendah tidak akan bisa melukainya semudah itu.

​"Gerakan yang sama tidak akan berhasil dua kali padaku," ucap Lin Tian dingin.

​Krak!

​Dengan satu jentikan jari, bilah pedang baja itu hancur berkeping-keping. Sebelum pemimpin pembunuh itu bisa bereaksi, Lin Tian melesatkan pukulan ke arah dadanya.

​Bugh!

​Pukulan itu tidak menggunakan teknik bela diri apa pun, murni hanya mengandalkan kekuatan fisik dan ledakan Qi dari tahap Pengembara Qi tingkat sembilan. Namun, efeknya sangat menghancurkan. Dada pemimpin pembunuh itu melesak ke dalam, tulang rusuknya hancur, dan tubuhnya terlempar sejauh belasan meter menabrak deretan bambu sebelum akhirnya tewas seketika.

​Dua pembunuh yang tersisa membeku di tempat. Pedang mereka bergetar di tangan yang gemetar.

​"M-Monster..." desis pembunuh bertubuh kurus. Ia menjatuhkan pedangnya dan berbalik untuk lari. "Lari!"

​"Terlambat."

​Lin Tian mengambil salah satu pecahan bilah pedang yang melayang di udara, lalu menyentilnya dengan ibu jarinya. Pecahan logam itu melesat membelah udara dengan suara siulan tajam, menembus tepat ke bagian belakang leher pembunuh yang mencoba kabur. Tubuhnya ambruk ke tanah tanpa suara.

​Kini tersisa satu orang. Pembunuh terakhir itu jatuh terduduk, air mata dan keringat dingin bercampur di wajahnya. Ia bersujud berkali-kali ke arah Lin Tian.

​"T-Tuan Muda Lin, ampuni saya! Kami hanya orang suruhan! T-Tuan Muda Lin Feng yang membayar kami seratus keping emas untuk membunuhmu! Semuanya adalah rencananya!" ia mengemis, berharap sisa-sisa belas kasihan.

​Lin Tian berjalan mendekat perlahan. "Aku sudah tahu Lin Feng yang mengirim kalian. Kalian hanyalah pedang yang disewanya, tapi pedang yang diarahkan kepadaku... tetap harus dipatahkan."

​Tanpa ampun, Lin Tian melayangkan tendangan kilat ke pelipis pembunuh terakhir. Sebuah bunyi retakan tumpul terdengar, dan tubuh pria itu jatuh tak bernyawa di atas rerumputan. Pertarungan itu berlangsung kurang dari sepuluh kali tarikan napas.

​Malam kembali sunyi. Bau anyir darah menyengat di udara.

​Lin Tian memungut kantong kain berisi seratus keping emas dari tubuh pemimpin pembunuh. Di dunia kultivasi, emas memang bukan mata uang utama, namun tetap berharga bagi kultivator tingkat bawah untuk membeli pil obat penyembuh luka atau bahan makanan berkualitas.

​Ia menatap ke arah pusat Kota Daun Gugur, tempat kediaman utama Klan Lin berdiri megah.

​Turnamen Bela Diri Klan Lin akan diadakan dalam waktu satu bulan. Tradisi itu adalah ajang pembuktian bagi generasi muda klan, sekaligus penentu siapa yang berhak memegang posisi pewaris utama dan mendapatkan sumber daya terbaik.

​"Lin Feng... kau pikir kau sudah aman?" Lin Tian bergumam pelan, senyum dingin tersungging di bibirnya. "Aku akan membiarkanmu menikmati mimpimu sebagai pewaris utama selama satu bulan ini. Saat Turnamen Bela Diri tiba, aku akan menghancurkan kesombonganmu di hadapan seluruh klan."

​Dengan kantong emas di tangannya, Lin Tian berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan hutan, bersiap mencari tempat yang aman untuk mulai menyerap ajaran sesungguhnya dari Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit.

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz
hadad fernandez khan
lanjut tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!