NovelToon NovelToon
Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Perubahan Hidup / Kaya Raya
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Marcos

Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 05 - Keputusan Anonim

Arga menatap Pak Jaya. Pak Jaya membalas tatapannya tanpa ekspresi. Pertanyaan Farah menggantung di udara kantor seperti asap mesiu.

"Proposal dia yang terbaik?" tanya Arga.

"Saya baru saja mengatakan begitu."

"Kalau begitu hubungan saya dengannya tidak relevan."

Hening di sambungan telepon. Arga mendengar Farah menarik napas, tarikan terkendali yang biasa dipakai eksekutif agar tidak mengatakan apa yang benar-benar mereka pikirkan.

"Dengan segala hormat, itu relevan. Saya mempertaruhkan reputasi profesional saya untuk seorang pengendali yang belum pernah saya lihat. Kalau nanti orang tahu kontrak Rp30 miliar jatuh kepada istri pemilik, karier saya hancur. Bersama itu, kredibilitas grup ikut jatuh."

Arga diam lima detik. Pak Jaya mengamatinya dengan keheningan batu.

"Farah." Suara Arga keluar lebih rendah, lebih lambat. "Saya akan meminta satu hal. Ambil tiga proposal. Hapus namanya. Hapus portofolionya. Tampilkan hanya proyek, anggaran, dan jadwal. Taruh di depan komite teknis independen. Kalau proposal dia bukan yang terbaik secara buta, buang."

Jeda.

"Dan kalau memang yang terbaik?"

"Setujui. Dengan klausul kinerja sungguhan. Serah terima triwulanan, audit eksternal, penalti keterlambatan. Ini bukan hadiah. Ini kontrak. Kalau dia tidak memenuhi target, dia gugur. Sama seperti yang lain."

Farah membutuhkan waktu untuk menjawab.

"Baik. Saya bentuk komite besok." Jeda lagi. "Tapi saya akan mencari tahu siapa Anda. Cepat atau lambat."

"Saya tahu." Arga memutus sambungan.

Pak Jaya menurunkan tangannya yang sejak tadi terlipat.

"Dia akan tahu."

"Saya tahu."

"Dan saat dia tahu?"

Arga memutar kursinya ke arah jendela. Jakarta membentang sampai cakrawala, massa kelabu dan emas dari beton dan janji. Di suatu tempat di bawah sana, Bianca mungkin sedang berada di taksi menuju rumah, mengulang setiap jawaban yang ia berikan dalam rapat, bertanya-tanya apakah ia cukup baik.

"Saat dia tahu, saya hadapi." Arga berdiri. "Sekarang saya harus pulang sebelum Marlina mengarang cerita bahwa saya ada di bar."

Apartemen keluarga Kartawijaya berada di Kelapa Gading, unit dua kamar yang sempit namun didekorasi Marlina seolah penthouse di kawasan paling mahal. Tirai voile, bantal bermotif merek palsu, lemari kaca berisi gelas-gelas yang tak pernah dipakai siapa pun.

Arga masuk pukul setengah tujuh. Ia melepas sepatu di pintu, aturan Marlina, lalu berjalan ke dapur. Robert duduk di meja, koran terbuka pada halaman yang jelas tidak sedang ia baca. Marlina berbicara di telepon di ruang tamu, suaranya cukup keras untuk berfungsi sebagai sistem audio ruangan.

"Hai," kata Robert tanpa mengangkat mata.

"Hai, Pak Robert."

Ayah mertuanya membalik halaman koran. Membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi.

"Arga, kamu..." Ia berhenti. Melirik pintu ruang tamu untuk memastikan Marlina cukup jauh. Suaranya merendah. "Aku ingin bicara sesuatu. Utang RS Premier. Perawatan ibuku."

Perut Arga terasa dingin.

"Kenapa dengan itu?"

"Ada yang membayar. Semuanya. Rp280 juta." Robert menatap tangannya sendiri. "Pihak rumah sakit bilang itu transfer anonim. Tidak ada pengirim. Tidak ada apa-apa." Ia mengangkat mata, dan untuk sesaat Arga melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat pada ayah mertuanya, kebingungan tulus, hampir kekanak-kanakan. "Kamu tahu sesuatu soal ini?"

"Tidak." Arga membuka kulkas. Mengambil botol air. Minum pelan, memakai tiga detik itu untuk menjaga wajahnya tetap netral. "Tapi bagus, kan? Kalian memang sedang tertekan karena itu."

Robert menatapnya dua detik lagi. Lalu kembali ke koran.

"Iya. Bagus."

Pintu depan terbuka dengan hentakan yang masih terkendali. Bianca masuk dengan tas di satu tangan dan ponsel di tangan lain, matanya menyala dengan cara yang belum Arga lihat sejak hari pernikahan mereka.

"Arga!" Ia melempar tas ke sofa dan masuk ke dapur dengan langkah lebar. "Rapatnya. Rapat Grup Imperial. Ya Tuhan."

Marlina muncul di pintu.

"Rapat apa?"

Bianca mengabaikan ibunya.

"Luar biasa. Para direktur, wakil presiden, ruangannya... Arga, ukurannya sebesar apartemen ini. Dan mereka mendengarkan semuanya. Benar-benar mendengarkan. Mereka mengajukan pertanyaan teknis sungguhan." Ia berhenti untuk bernapas. "Salah satu dari mereka, Pak Darmawan, sepertinya sudah lama tidak melihat presentasi seperti itu."

"Dia bilang begitu?"

"Aku membacanya dari tatapannya. Tapi Pak Taufik mempertanyakan portofolioku. Katanya aku belum pernah mengerjakan proyek sebesar ini."

"Lalu kamu jawab apa?"

"Bahwa orang yang masih punya sesuatu untuk dibuktikan tidak menyerahkan pekerjaan setengah matang." Bianca menggigit bibir, setengah bangga, setengah takut pada keberaniannya sendiri.

Arga tersenyum. Senyum sungguhan, yang pertama dalam beberapa minggu tanpa beban tersembunyi.

"Sempurna."

"Tapi tahu apa yang aneh?" Bianca bersandar pada meja dapur, suaranya merendah. "Grup Imperial baru berganti pemilik belum lama ini. Sebuah holding membeli mayoritas saham. Tidak ada yang tahu siapa. Bahkan wakil presidennya tidak keceplosan menyebut nama."

"Mungkin dana investasi." Arga meneguk air lagi. "Itu sering terjadi."

"Bukan, tapi..." Bianca menatap langit-langit, seperti sedang menyusun pikiran yang tidak ingin ia ucapkan keras-keras. "Waktunya. Pemilik baru ini muncul entah dari mana, lalu tiba-tiba aku mendapat undangan yang biasanya tidak mungkin kudapat? Desainer residensial, tanpa portofolio korporat, diundang untuk proyek Rp30 miliar?"

Dapur menjadi sunyi. Jam dinding menghitung detik dengan bunyi kering.

"Kebetulan," kata Arga.

Bianca menatapnya. Dan selama satu detik, satu detik yang berlangsung terlalu lama, Arga yakin Bianca akan mengatakan sesuatu yang mengubah semuanya.

"Iya." Bianca mengalihkan pandangan. "Mungkin kebetulan."

Arga menelan ludah.

Marlina, dari pintu, memutar mata.

"Tiga puluh miliar. Aku yakin bayarannya juga tidak benar. Kontrak besar selalu begitu, banyak janji, uang di tangan sedikit."

Tak seorang pun menjawab.

1
Anime aikō-kā
haii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!