Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Mendengar pengakuan jujur yang keluar dari bibir Andrea yang bergetar, sebaris rasa puas bercampur desiran aneh yang teramat manis menjalar di dada Bara. Keinginannya akhirnya terpenuhi, namun di sisi lain, melihat air mata Andrea yang mengalir deras karena dirinya, membuat batin Bara bergejolak aneh. Skenario dinginnya mendadak tergantikan oleh dorongan untuk menenangkan gadis di pelukannya.
Bara menurunkan ketegasan yang terukir di wajahnya. Dengan gerakan yang teramat lembut, jemari tangannya merayap naik, menghapus bulir air mata di pipi Andrea, lalu menangkup rahang lembut gadis itu agar mendongak menatapnya.
"Dengarkan aku, Andrea. Tatap mataku," bisik Bara, suaranya kini berubah drastis menjadi begitu dalam, lembut, dan sarat akan nada merayu yang berbahaya.
Andrea menatap sepasang manik mata kelam milik Bara melalui pandangannya yang kabur oleh air mata.
"Angel hanya temanku, dia tidak lebih dari seorang sahabat dan rekan kerja. Aku tidak memiliki perasaan khusus apa pun padanya," ucap Bara lirih, menanamkan kalimat manipulasi yang begitu manis tepat ke dalam sanubari Andrea. "Malam itu hanyalah bentuk rasa bersalahku sebagai teman. Kamu salah paham, Andrea ... karena di dunia ini, hanya kamu yang memiliki tempat khusus di hatiku. Hanya kamu yang bisa membuatku seperti ini."
Kata-kata manis yang terucap dari bibir pria yang teramat ia cintai itu bak sihir yang seketika melumpuhkan seluruh dinding pertahanan akal sehat Andrea. Pertentangan batin dan rasa sakit hatinya menguap begitu saja, digantikan oleh debaran jantung yang bertalu-talu hebat. Pesona kelembutan dan tatapan penuh dusta yang dikemas begitu indah oleh Bara membuat Andrea tak lagi mampu menolak. Ia sepenuhnya tenggelam dalam pusaran cinta yang semu.
Bara menunduk, menangkap bibir Andrea dalam ciuman yang tidak lagi kasar, melainkan kecupan-kecupan dalam yang begitu lembut, membuai, dan memabukkan. Andrea mendesah pasrah di sela ce capan bibir mereka, tangannya perlahan naik meremas rambut hitam lebat Bara, membalas ciuman itu dengan kepasrahan.
Hawa panas gairah dengan cepat merayap, mengikat kedua tubuh yang kini telah kehilangan kendali. Bara membimbing tubuh lemas Andrea menuju ranjang king-size di tengah ruangan. Di bawah temaram lampu tidur yang minim, pakaian mereka terlepas satu demi satu, menyisakan kulit-ke-kulit yang saling bersentuhan intens, memicu sengatan yang membakar gairah ke titik tertinggi.
Malam ini, dengan kesadaran penuh dan tanpa ada paksaan fisik apa pun, Andrea menyerahkan seluruh jiwa dan raganya. Rasa cintanya yang terlanjur buta membuatnya bersedia memberikan apa saja untuk pria di atasnya. Di bawah kungkungan tubuh kekar Bara, Andrea menggeliat hebat, merintih pasrah menembus kabut gairah yang luar biasa saat Bara menuntut kepemilikan atas dirinya.
Sentuhan demi sentuhan yang menggelora menghantarkan mereka pada puncak pelepasan yang dahsyat, menyatukan malam dalam keheningan yang penuh akan sisa gairah.
Di dalam keheningan kamar yang terkunci rapat, temaram lampu tidur menyiram permukaan ranjang dengan cahaya keemasan yang minim, menciptakan siluet yang teramat intim. Bara mengunci kedua tangan Andrea di sisi kepalanya, menyatukan jemari mereka yang saling bertautan erat. Ciuman mereka yang semula lembut kini berubah menjadi pagutan yang dalam, panas, dan menuntut. Andrea mendesah di sela-sela pertukaran napas mereka yang memburu, lidah Bara menyapu rongga mulutnya, meruntuhkan sisa-sisa keraguan yang sempat terbersit di benak gadis itu.
Napas Bara yang terasa panas beralih turun ke ceruk leher Andrea, meninggalkan jejak-jejak kecu pan basah yang membuat tubuh indah di bawahnya meremang hebat. Kedua tangan kekar Bara mulai bergerak liar menelusuri lekuk tubuh Andrea yang polos. Telapak tangannya yang hangat memberikan sensasi kontras yang memabukkan saat bergesekan dengan kulit lembut Andrea yang mulus. Setiap remasan dan elusan yang diberikan Bara di area dadanya membuat Andrea menggeliat kecil, menahan letupan rasa panas-dingin yang kian menjalar ke seluruh persendiannya.
"Kak Bara ... mhh .... " rintih Andrea lirih dengan mata sayu yang berkabut gairah. Kepalanya terdongak ke belakang, menikmati setiap sentuhan yang sengaja Bara berikan untuk memancing keluar seluruh hasratnya.
Bara tidak memberikan jeda. Posisi tubuh kekarnya bergeser turun ke antara kedua paha Andrea yang telah terbuka pasrah. Dengan satu gerakan yang penuh kendali, tangan kanan Bara menyusup ke bawah pinggul Andrea, mengangkatnya sedikit untuk memberikan sudut yang sempurna.
Ketika inti tubuh mereka kembali bersentuhan tanpa pembatas, sengatan gairah yang teramat dahsyat seketika melumpuhkan akal sehat keduanya. Bara menyatukan tubuh mereka dengan dorongan yang perlahan namun dalam, mengunci kepemilikannya atas Andrea malam itu.
Andrea memekik tertahan, jarinya bergerak spontan meremas bahu tegap Bara yang kokoh, menanamkan kukunya di sana seiring dengan rasa penuh yang mendera tubuhnya. Ritme yang dimainkan Bara bergerak secara perlahan, namun semakin lama semakin cepat dan bertenaga, menciptakan suara gesekan kulit dan deru napas yang bersahutan memenuhi ruangan kedap suara itu.
Setiap pergerakan yang bergelora membawa mereka naik semakin tinggi menembus batas kepolosan. Andrea sepenuhnya pasrah, tubuh indahnya melengkung mengikuti setiap hentakan dari tubuh Bara. Keduanya tenggelam dalam pusaran keringat dan gairah yang membara, memacu detak jantung hingga ke titik tertinggi sebelum akhirnya ledakan pelepasan yang dahsyat menghantam mereka bersamaan, menyisakan desahan panjang yang lemas di atas ranjang yang berantakan.
Saat fajar perlahan menyingsing keesokan paginya, sinar matahari tipis menerobos celah gorden, menerangi ranjang kamar Bara yang berantakan. Andrea tertidur pulas dalam dekapan dada bidang Bara, menyembunyikan wajahnya di sana dengan napas yang teratur.
Bara terbangun lebih dulu. Ia mengubah posisinya menjadi bersandar pada kepala ranjang, lalu perlahan menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh mereka. Tatapan mata kelamnya turun, tertuju pada sebaris noda merah yang tercetak jelas di atas sprei putih ranjang kamarnya.
Noda merah itu menjadi pertanda nyata dan abadi bahwa malam ini, Andrea telah sepenuhnya menjadi milik pria itu seutuhnya. Ke gadi sannya telah runtuh di tangan Bara.
Bara menatap noda itu dengan senyuman miring yang dingin dan kejam yang kembali muncul di sudut bibirnya. Di satu sisi, ada kepuasan tersendiri yang bergejolak di dadanya karena telah berhasil mengunci mangsanya tanpa celah. Namun, di sisi lain, saat ia melirik wajah cantik Andrea yang tampak begitu damai dalam tidurnya, ada setitik rasa bersalah yang asing yang coba ia tepis kuat-kuat. Bidak permainannya telah menyerahkan segalanya, dan kini, tirai menuju kehancuran Selina telah terbuka semakin lebar melalui darah suci putrinya sendiri.
Rencana awal yang disusun Bara di dalam kepalanya begitu sempurna sekaligus kejam. Menurut skenario besarnya, ia harus membiarkan Andrea tetap terlelap di ranjangnya pagi ini, membiarkan Selina melangkah masuk, dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kesucian putri yang paling dibanggakannya telah direnggut tanpa sisa. Hancurnya mental Selina saat melihat noda merah di sprei putih itu seharusnya menjadi puncak kemenangan awal bagi dendam Bara.
Namun, ketika tangannya baru saja hendak meraih ponsel untuk memancing Selina naik ke lantai atas, sepasang mata gelap Bara kembali terjatuh pada wajah cantik Andrea yang terlelap di dekatnya. Gadis itu tidur dengan begitu damai, sembari memeluk pinggangnya erat, seolah-olah Bara adalah satu-satunya dunia yang ia miliki.
Seketika itu juga, sebaris gejolak aneh yang teramat kuat menghantam dada Bara. Hatinya mendadak menolak keras apa yang dipikirkan oleh otaknya. Ada rasa tidak rela yang amat besar jika tubuh indah yang baru saja ia klaim seutuhnya itu menjadi konsumsi keputusasaan orang lain, bahkan ibunya sendiri.
"Ck ... Sial .... " umpat Bara di dalam hati. Ia merasa frustrasi dengan kelemahan mendadak yang merayapi dirinya.