NovelToon NovelToon
The Porch Light

The Porch Light

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.

Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.

Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.

Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.

Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.

Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.

Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8

Keheningan yang merayap di area dapur Penthouse felt jauh lebih tebal dari sebelumnya. Aroma sup ayam yang gurih dan roti panggang mentega masih bertengger hangat di udara, namun suasana di antara dua manusia di meja makan itu mendadak berubah drastis.

Genggaman tangan Rowan di atas punggung tangan Rossi terasa makin hangat, memberikan seberkas rasa aman yang belum pernah dirasakan Rossi seumur hidupnya.

Rowan membasahi bibirnya yang kering. Tatapan matanya yang pekat menatap dalam-dalam ke dalam manik mata jernih milik gadis di depannya. Ada raut keraguan yang melintas sejenak di wajah tampan pria itu sebelum ia akhirnya kembali bersuara.

"Apa kau tidak masalah kita merahasiakan pernikahan ini dari kedua orang tuaku untuk sementara?" tanya Rowan pelan, suara sarat akan nada kehati-hatian.

Rossi mengedipkan matanya perlahan. Pertanyaan itu sama sekali tidak mengejutkannya.

Justru, hal itu terasa sangat masuk akal bagi seorang pria dari kalangan elit seperti Rowan. Rossi tidak punya keinginan untuk menjadi pusat perhatian atau diseret ke dalam jamuan makan malam keluarga kaya raya yang penuh kepalsuan.

Rossi mengangguk mantap, memberikan senyum tipis yang tulus. "Tak masalah. Aku sama sekali tidak keberatan."

Mendengar jawaban yang begitu cepat dan tanpa tuntutan itu, garis teguh di bibir Rowan perlahan melunak. Sebuah senyuman hangat terukir di wajahnya. "Terima kasih," bisik Rowan. "Aku juga butuh waktu untuk bicara pada istriku soal pernikahan ini nanti."

Rossi membalas senyuman itu, meski hanya di permukaan. Namun jauh di dalam hatinya, sebuah tawa lirih yang penuh nada sarkatis bergema. Apa dia sungguh berniat memberitahu istrinya? Pria gila, batin Rossi menggeleng heran.

Istri mana di dunia ini yang akan menyambut berita bahwa suaminya telah menikahi wanita lain secara sah demi mendapatkan keturunan? Rowan benar-benar sosok pria yang misterius, nekat, dan tak tertebak.

Namun, Rossi memutuskan untuk menutup rapat-rapat pikiran kritisnya. Untuk saat ini, ia enggan memikirkan masa depan yang penuh dengan kemungkinan buruk.

Rossi tidak peduli bagaimana nasib status sosialnya nanti, tidak peduli melodrama apa yang akan meledak jika istri Rowan mengetahui hal ini, dan ia bahkan tidak ingin pusing memikirkan bagaimana nasib perutnya dalam beberapa bulan ke depan.

Satu-satunya hal yang paling krusial bagi Rossi detik ini adalah keselamatan nyawanya sendiri.

Selama ia berada di dalam penthouse mewah berpenjagaan ketat ini, di bawah ketiak kekuasaan nama besar Rowan, sang ayah yang kejam tidak akan pernah bisa menyentuhnya. Ayahnya tidak akan tahu keberadaannya. Lintah darat di klab malam itu tidak akan bisa menyeretnya kembali.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan dan cengkeraman keluarga yang beracun, Rossi merasakan apa yang dinamakan bernapas lega.

Kehangatan yang diberikan Rowan saat ini—terlepas dari motivasi gila di baliknya—adalah tempat perlindungan terbaik yang bisa ia jangkau. Rossi memilih untuk berpegangan pada dahan ini, tidak peduli seberapa rapuhnya dahan tersebut di masa depan.

Rowan menatap wajah tenang Rossi yang sibuk mengunyah makanan dengan perlahan.

Ada rasa bersalah yang mengusik sudut hatinya melihat betapa pasrahnya gadis muda ini. Rowan mengelus lembut jemari Rossi yang berada dalam genggamannya, mencoba memberikan ketenangan ekstra.

"Kau jangan khawatir," kata Rowan lagi, suaranya terdengar sangat bersungguh-sungguh. "Aku akan merawat anak kita dengan baik nanti. Dia tidak akan pernah kekurangan kasih sayang, perlindungan, atau materi sedikit pun."

Rossi menghentikan makan sejenak. Mendengar ucapan Rowan yang begitu protektif terhadap calon anak yang bahkan belum wujud di dalam rahimnya, hati Rossi tersentuh.

Ada gejolak kehangatan naluriah yang timbul di dalam dadanya. Sebagai seorang gadis yang ditelantarkan oleh orang tua kandungnya sendiri, mendengar seorang pria berjanji akan merawat darah dagingnya dengan sepenuh hati adalah hal yang sangat indah.

Rossi mengangguk pelan. Senyuman manis dan tulus terbit di wajahnya yang pucat.

"Tentu saja," sahut Rossi dengan nada lembut. "Kau ayahnya, dan aku ibunya. Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama."

Deg.

Dunia seolah berhenti berputar di dalam dapur luas tersebut.

Mendengar kata-kata itu meluncur mulus dari bibir Rossi, tubuh Rowan serta-merta mematung.

Senyuman hangat yang baru saja menghiasi wajahnya lenyap seketika, berganti dengan guratan kaku yang dingin dan tajam.

Tangannya yang tadinya mengelus lembut jemari Rossi mendadak menyentak mundur, memutus sentuhan fisik di antara mereka seolah-olah kulit Rossi baru saja berubah menjadi api yang membakar.

Kalimat sederhana dari Rossi menghantam dinding tebal yang selama ini dibangun Rowan di dalam kepalanya. Rowan menatap gadis di depannya dengan tatapan tidak percaya, matanya memicing penuh ketegangan.

"Bersama-sama?" tanya Rowan dengan nada suara yang turun beberapa okta, terdengar bingung sekaligus dingin menusuk. "Apa maksudmu?"

Rossi tak kalah terkejut melihat perubahan drastis pada raut wajah dan sikap Rowan.

Penarikan tangan yang tiba-tiba itu membuat telapak tangan Rossi terasa dingin dan hampa. Rossi berkedip bingung, dadanya berdebar kencang saat menyadari atmosfir di ruangan itu mendadak menjadi sangat menekan.

"Maksudku?" Rossi mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana, meski suaranya bergetar ragu. "Tentu saja kita akan membesarkan anak kita bersama-sama—"

"Tidak!" kata Rowan cepat dan tegas, memotong kalimat Rossi tanpa ampun.

Ruangan itu seketika dibasahi oleh aura intimidasi yang pekat.

Rowan berdiri dari kursinya, menjulang tinggi di hadapan Rossi dengan wajah kaku bagaikan pahatan batu marmer. Matanya tidak lagi memancarkan kehangatan seorang pria yang baru saja mengejek tahi lalat di pipinya, melainkan tatapan seorang penguasa dingin yang tak tersentuh.

"Hanya aku," tekan Rowan, menunjuk dadanya sendiri dengan nada dingin yang teratur. "Dan juga istriku. Kami yang akan membesarkannya bersama-sama."

DUARRR!!!

Kata-kata itu menghantam kesadaran Rossi bagaikan ledakan petir di siang bolong. Suara dengung hebat mendadak memenuhi kedua telinganya.

Seluruh darah di dalam tubuh Rossi seolah tersedot habis ke dasar bumi, meninggalkannya dalam wujud patung es yang gemetar dan pucat pasi.

Rossi bahkan merasa kesulitan hanya untuk menelan ludahnya sendiri. Tenggorokannya mendadak terasa luar biasa kering, seperti tersumbat oleh ribuan duri yang menusuk tajam.

"Aku tidak pernah mengatakan akan hidup bersamamu," lanjut Rowan tanpa belas kasihan, setiap kata yang keluar dari bibirnya bagaikan belati yang dianyam rapi untuk merobek harga diri Rossi. "Kau berjanji memberikanku anak di atas status pernikahan... dan jangan serakah, Rossi. Aku tidak mungkin membesarkannya bersamamu."

Jangan serakah.

Dua kata itu terus bergema memekakkan telinga Rossi.

Tidak tahu diri... Kau benar-benar tidak tahu diri, Rossi! batin Rossi berteriak histeris pada dirinya sendiri, merutuki kebodohannya yang sempat melayang terlalu tinggi.

Apa yang kau pikirkan?! Tentu saja pria ini semalam hanya meminta anak! Hanya rahimmu! Bukan meminta dirimu! Bukan meminta hatimu!

Rasa malu yang luar biasa hebat menjalar dari ujung kaki hingga menusuk puncak kepalanya.

Rossi menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani lagi menatap mata Rowan yang kini memandangnya bagaikan seorang majikan menatap pelayan yang melompati batas kewenangan.

Bagaimana mungkin ia bisa selugu dan sebodoh itu?

Rossi mengutuk naluri kewanitaannya yang baru saja mekar karena kehangatan palsu Rowan beberapa menit lalu.

Pria ini menyelamatkannya dari klab malam bukan karena cinta atau rasa iba yang murni.

Pria ini membawanya ke Penthouse ini, memberinya makanan hangat, dan menjanjikan pernikahan hukum sore nanti hanya karena sebuah transaksi bisnis!

Pria ini membutuhkan sebuah wadah untuk melahirkan darah dagingnya—sebuah alat untuk membalas dendam pada istrinya yang Tak ingin melahirkan Keturunan nya.

Dan setelah bayi itu lahir... Rossi tidak lebih dari sekadar orang asing yang harus menyingkir dari panggung kehidupan Pria Didepannya ini.

"Kau..." suara Rossi keluar sangat tipis, nyaris tak terdengar, bergetar hebat di udara. "Kau hanya menginginkan bayinya... dan membuangku setelahnya?"

Rowan tidak langsung menjawab. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, berdiri tegap membelakangi sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui dinding kaca Penthouse.

Bayangan tubuhnya yang besar menutupi sosok Rossi yang kian menciut di atas kursi.

"Aku tidak membuangmu," ralat Rowan dengan nada dingin yang sangat rasional, seolah sedang mendiskusikan klausul kontrak investasi. "Aku akan membiayai seluruh hidupmu setelah semuanya selesai. Kau akan mendapatkan uang yang lebih dari cukup untuk memulai hidup baru di mana pun yang kau mau, jauh dari kejaran ayahmu. Kau akan mendapatkan kebebasanmu kembali."

Rowan menarik napas panjang, tatapannya menetap datar pada piring sup Rossi yang baru tersentuh separuh.

"Tapi peranmu sebagai 'ibu' hanya terbatas pada proses melahirkan," sambung Rowan tanpa ragu. "Anak itu akan dibesarkan sebagai anak kandung sah antara aku dan istriku. Dia akan menjadi pewaris Vale-Knight. Kau tidak bisa berada di sekitar anak itu, karena keberadaanmu hanya akan merusak tatanan keluarga dan membingungkan masa depannya."

Setiap kata yang diucapkan Rowan terasa seperti pukulan palu besi yang memecahkan sisa-sisa cangkang ketahanan mental Rossi.

Rossi memejamkan matanya rapat-rapat, menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh di hadapan pria yang baru saja menghancurkan martabatnya sebagai seorang wanita.

Ia lupa. Rossi sungguh lupa bahwa di dunia

orang kaya, tidak ada yang gratis.

Perlindungan yang ditawarkan Rowan memiliki harga yang sangat mahal: ia harus merelakan buah hatinya kelak diambil dan dibesarkan oleh wanita lain.

Betapa kejamnya takdir yang sedang mempermainkannya. Rossi harus melahirkan anak, dan dibesarkan oleh pria yang memandangnya tak lebih dari sekadar mesin pencetak anak.

"Aku... aku mengerti," bisik Rossi pelan, menyela keheningan yang menyiksa. Ia memaksakan dirinya untuk menegakkan punggung, meski dadanya terasa sesak luar biasa hingga sulit bernapas. Rossi menatap Rowan dengan pandangan yang kini telah mati rasa, menyembunyikan seluruh lukanya di balik topeng kepatuhan. "Maafkan aku. Aku... aku salah paham."

Rowan menatap perubahan ekspresi Rossi. Ada kilatan asing yang melintas di mata gadis itu—sebuah kekosongan yang mendalam, seolah-olah jiwa di dalam tubuh mungil itu baru saja ditarik paksa keluar.

Ada sedikit rasa bersalah yang mencubit dada Rowan melihat betapa hancurnya raut wajah Rossi, namun logika kerasnya segera menepis perasaan itu.

Rowan harus bersikap tegas sejak awal. Ia tidak boleh memberikan harapan palsu. Ia tidak boleh membiarkan hubungan ini berkembang menjadi ikatan emosional yang rumit.

Pernikahan sore nanti hanyalah formalitas hukum agar anak yang dilahirkan Rossi memiliki legalitas yang sah di mata negara sebelum nantinya hak asuh sepenuhnya diserahkan padanya dan Cathez.

"Habiskan makanannmu," kata Rowan datar, berbalik membelakangi Rossi dan melangkah menuju ruang kerja di ujung koridor. "Lalu obati lukamu. Kita berangkat ke kantor pendaftaran sipil jam tiga sore."

Langkah kaki Rowan terdengar menjauh, hingga akhirnya suara pintu ruang kerja yang tertutup rapat memutus seluruh akses interaksi di antara mereka.

Di meja makan, Rossi duduk sendirian dalam kemegahan Penthouse yang mendadak terasa bagaikan penjara es yang membekukan.

Sendok di tangannya terlepas, jatuh berdenting di atas meja. Rossi menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang gemetar, menyerap dinginnya kenyataan yang baru saja menghantamnya.

Ia akan aman dari ayahnya. Ya, itu benar. Tapi harga dari keselamatan itu adalah menyerahkan rahim, tubuh, dan calon anaknya kepada dinginnya kekuasaan keluarga Pria Itu. Rossi tersenyum pahit di balik jemarinya, menyadari bahwa perjalanan hidupnya baru saja berpindah dari satu neraka menuju neraka lainnya yang terbungkus lapisan sutra dan emas.

1
Mia Camelia
hahaa rasaiin ketauan ,rowan ngumpetin anak gadis🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkww🤣
total 1 replies
alunanfiksimalam
Wanita jahat
nayla tsaqif
Uhh,, marathon bacanya thor,, tp nyampe jg bab 20🤭
Rosdianah 🌷: Waaah luar biasa kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Rossi 😍😍😍
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
Rosdianah 🌷: siap kak🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Huwaa😭 knp q ketinggalan notifnya,, tau2 udah bab 20 ajahh,,! Semangat 30 menit pasti selesai baca💪
Rosdianah 🌷: Huhuhu semangat kak reader 🥰🫶
total 1 replies
Mia Camelia
so sweet banget sih mereka brdua🥰🥳
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mia Camelia
aduh ngenes banget ngliat rowan nanggis ky bgitu🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahaha🤣
total 1 replies
Mia Camelia
cathez gak tau diri banget cowo sekelas rowan di sia sia kan😔
Rosdianah 🌷: huhuhu
total 1 replies
Mia Camelia
rowan jahat banget sih cuma mau ngambil anak nya doang🤣🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: perlu digampar anak Daddy satu itu🤣
total 1 replies
Mia Camelia
rosi polos banget yaa, cocok nih sama rowan🥰🥰🥰
Mia Camelia
semua nya mudah klo rowan udh niat 😂🤣
Mia Camelia
hehe rowan kebelet banget pingin anak🤣🤣
Rosdianah 🌷: bisa bayangin lah ka🤣🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
ehmm pertemuan yg tak terduga😂
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
Mia Camelia
horeee 🥳 akhir nya kisah rowan publish juga🥰😄😂😂
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰
Rosdianah 🌷: Huhuhu terharu, Ma'aciww kak, Semoga suka sama ceritanya.
Happy Reading 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!