NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Immortal

Kebangkitan Sang Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Di Kerajaan Awan, Kaisar muda bernama Jing Yan difitnah dan dibunuh secara keji oleh Tang Long, seorang Kultivator Pedang dari Sekte Pedang Roh Biru, dan Fang Zhelan, putri Perdana Menteri yang berkhianat demi merebut takhta. Keluarga Fang lalu mengambil alih kerajaan, mencoreng nama baik Jing Yan selamanya.

Namun, kematian bukanlah akhir bagi Jing Yan. Jiwanya ditarik ke dalam Peti Mati Perunggu Kuno milik seorang Pencipta Immortal yang telah mati. Dengan menggunakan sisa kulit sang Immortal, Jing Yan bereinkarnasi ke dalam tubuh baru yang sempurna. Ia ditemani oleh dua kesadaran dalam satu makhluk kecil bernama Bintang Biru dan Bulan Merah—yang merupakan jelmaan dari peti mati tersebut.

Jing Yan mengetahui bahwa ia mewarisi kekuatan Pencipta Immortal. Untuk menjadi kuat, ia harus mengumpulkan Benih Ciptaan, yaitu fragmen kekuatan sang Immortal yang tersebar di seluruh dunia. Tujuan utamanya: membalas dendam kepada Tang Long dan Fang Zhelan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Berburu Katak

Setelah menerima Fang Zhelan sebagai murid baru dan menghadiahinya sebuah Pil Laut Ilahi, Yang Mulia Pedang beserta rombongannya tampaknya memiliki urusan penting, sehingga mereka segera pergi. Para Kultivator Pedang melesat ke langit, meninggalkan jejak cahaya di belakang mereka.

Yang tertinggal hanyalah seorang murid Yang Mulia Pedang bernama Ji Hong. Ia ditugaskan untuk mengantar Fang Zhelan ke Puncak Pedang Pertama dan membantunya beradaptasi dengan kehidupan di Sekte Pedang Roh Biru.

"Kakak Senior Kedua Belas, tunggu sebentar," panggil Fang Zhelan kepada seorang pemuda berjubah pedang berwarna jingga.

Pemuda itu sangat tampan. Senyum hangat menghiasi wajahnya, sementara matanya dipenuhi rasa kagum saat menatap Fang Zhelan.

Tanpa ragu, Fang Zhelan melangkah maju, lalu berhenti di hadapan Jing Yan.

"Menyesal dengan pilihanmu?" tanyanya sambil mengangkat dagu dengan sikap acuh tak acuh.

"Menyesal? Aku sama sekali tak menyangka Jiwa Pedangmu bisa seburuk ini. Rasanya seperti melihat anak sapi belajar ilmu pedang—benar-benar luar biasa," jawab Jing Yan sambil tersenyum dan mengacungkan jempol.

"Bajingan!" bentak Fang Zhelan sambil menggertakkan giginya. "Mungkin sekarang kau tidak takut kepadaku, tetapi penghinaan hari ini... akan kubalas sepuluh kali lipat."

"Dan bagaimana caranya?" ejek Jing Yan dalam hati.

"Cari cara agar kau bisa ikut Pertemuan Tujuh Pedang. Tidak seperti dirimu, aku akan mengalahkanmu secara adil. Aku tidak akan menggunakan cara-cara murahan untuk menjatuhkanmu," kata Fang Zhelan dengan penuh kebanggaan.

"Pertemuan Tujuh Pedang? Panggung lain untukmu mencari perhatian?" goda Jing Yan.

Urat di dahi Fang Zhelan langsung menonjol. Ia memaksakan senyum, lalu berkata, "Burung pipit boleh berkicau sesuka hati, tetapi ia takkan pernah mengerti nyanyian angsa."

Setelah itu ia berbalik dan tak berkata apa-apa lagi.

Saat Fang Zhelan sedang berbicara dengan Jing Yan, murid bernama Ji Hong diam-diam berbincang pelan dengan Ning Ziyi.

"Kakak Senior Ning, apa hubungan mereka berdua?" tanyanya sambil menyipitkan mata ke arah Jing Yan.

"Pemuda itu merebut posisi pertama Fang Zhelan di Jalan Surgawi dan melukainya," jawab Ning Ziyi dengan dengusan dingin dan senyum tipis.

"Benarkah?" Kilatan tajam muncul di mata Ji Hong. "Penampilannya memang tampan, tetapi ternyata cukup kasar juga terhadap perempuan."

"Anak-anak sombong seperti itu terlalu banyak di dunia fana," kata Ning Ziyi dengan nada menghina.

"Benar sekali." Mata Ji Hong berbinar. "Ngomong-ngomong, aku baru mempelajari teknik baru bernama Seni Menguliti. Teknik itu memungkinkan Jiwa Pedang menguliti seluruh kulit manusia dengan sangat presisi, persis seperti menguliti seekor katak... Sayangnya akhir-akhir ini aku belum menemukan katak."

"Kalau kulitnya dikuliti, orang itu akan mati?" tanya Ning Ziyi dengan penuh minat.

"Tentu tidak! Mereka masih bisa melompat-lompat sambil menjerit kesakitan," jawab Ji Hong sambil tertawa riang.

"Oh ya?" Ning Ziyi terkekeh. "Sayang sekali. Anak itu memiliki kulit yang begitu bagus. Siapa sangka dia berani datang ke Sekte Pedang Roh Biru tanpa lebih dulu memahami Jalan para Immortal."

"Untuk melahirkan satu Immortal, sepuluh ribu tulang harus layu! Mereka yang tak cukup kuat? Sekali salah langkah saja, nyawanya langsung melayang," tambah Ji Hong dengan senyum menyeramkan.

"Kakak Senior Ning, setelah dia memilih Puncak Pedang, beritahu aku. Aku akan mengunjunginya di malam hari... sekalian berburu katak," ujar Ji Hong dengan senyum cerah.

"Pelankan suaramu," tegur Ning Ziyi pelan.

"Tentu saja. Anggap saja ini hadiah penyambutan untuk adik junior baru kita," janji Ji Hong.

Namun, ketika mendengar itu, senyum Ning Ziyi memudar. Saat melihat Fang Zhelan berjalan mendekat, ia berbisik, "Sekadar mengingatkan, Fang Zhelan dibawa masuk ke sini oleh Raja Pedang Tang."

"Dia?" Wajah Ji Hong langsung berubah. Jejak ketakutan tampak jelas di matanya. "Bukankah dia sudah punya pasangan? Serakah sekali."

"Ingat saja itu," ujar Ning Ziyi mengingatkan.

"Baiklah," jawab Ji Hong. Suasana hatinya langsung memburuk, dan tatapannya menjadi semakin dingin.

Namun, begitu Ji Hong kembali bergabung dengan Fang Zhelan, ia seketika berubah lagi menjadi pemuda ceria yang hangat.

Mereka berdua lalu terbang pergi, melesat di atas pedang menembus awan.

Tentu saja, Fang Zhelan belum mampu mengendalikan pedang untuk terbang sendiri. Karena itu, Ji Hong merangkul pinggang rampingnya dan membiarkannya berdiri di atas Jiwa Pedangnya.

Dengan kepergian Ji Hong, para murid baru Sekte Pedang Roh Biru yang tersisa akhirnya menghela napas lega. Tekanan yang dipancarkan oleh seorang murid sekelas Ji Hong benar-benar terlalu besar bagi para pendatang baru ini.

"Kalian bersembilan, masing-masing pilih Puncak Pedang kalian sendiri," kata Ning Ziyi sambil bertolak pinggang. Lalu ia menunjuk seorang pemuda di tengah kerumunan. "Dan Xiong, kau boleh masuk ke Puncak Pedang Pertama. Yang lain, jangan pernah bermimpi."

Pemuda yang ia pilih adalah peringkat ketiga di Jalan Surgawi dan memiliki Jiwa Pedang tingkat Meteor Atas.

Dari nada bicaranya yang penuh kebanggaan, jelas bahwa Puncak Pedang Pertama adalah tempat yang paling diidam-idamkan oleh semua murid, bahkan memiliki hak memilih lebih dulu. Adapun Puncak Pedang lainnya kemungkinan memiliki kedudukan yang kurang lebih setara.

Setelah Ning Ziyi selesai berbicara, para murid baru yang lain segera memilih tujuan mereka masing-masing. Hanya Jing Yan yang belum.

Saat Jing Yan memandang ketujuh tetua itu, mereka semua berdeham canggung lalu menengadah menatap langit.

"Jing Yan, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu," kata Tetua Ran sambil melangkah maju. Ia meraih lengan Jing Yan dan membawanya ke tepi Platform Warisan Pedang.

"Silakan bicara, Tetua Ran." Jing Yan memiliki kesan yang cukup baik terhadap tetua dari Puncak Pedang Ketujuh itu.

"Bagaimana menurutmu tentang aku, Tetua Ran?" tanyanya dengan wajah serius.

"Tetua Ran adalah orang yang adil dan menjunjung kebenaran," jawab Jing Yan.

"Waktu pertama kali kau datang dan Ning Ziyi menargetkanmu, aku yang membelamu, benar?"

Jing Yan sempat tertegun sejenak sebelum perlahan mengangguk.

"Kalau begitu, demi budi itu, bantulah aku dalam satu hal," kata Tetua Ran sambil mengertakkan gigi.

"Silakan."

"Jangan pilih Puncak Pedang Ketujuh milikku."

Ia baru hendak menjelaskan lebih jauh ketika Jing Yan langsung menjawab, "Baik."

Tatapan Tetua Ran langsung menjadi rumit.

"Nak, aku benar-benar minta maaf. Aku sungguh menghargaimu. Bahkan jika Jiwa Pedang Fang Zhelan hanya berada di tingkat Bintang Menengah, aku tetap akan berdiri di pihakmu. Tapi masalahnya..."

Masalahnya, bakat Fang Zhelan sudah melampaui tingkat Bintang. Ia bahkan menghancurkan Batu Warisan Pedang dan memecahkan rekor yang telah bertahan sepanjang sejarah Sekte Pedang Roh Biru.

Jing Yan tersenyum tipis. "Tidak perlu merasa bersalah, Tetua Ran. Itu memang sifat manusia."

Tetua Ran menghela napas panjang. "Aku tidak bisa membawa bencana ke Puncak Pedang Ketujuh. Apakah kau mengerti maksudku?"

"Aku mengerti." Jing Yan mengangguk.

"Terima kasih." Tetua Ran sedikit membungkukkan badan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!