“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita malam:masa lalu yang menyakitkan
suara dering ponsel tiba-tiba memecah keheningan.
Det... det... det...
Ada pesan masuk dari Mama—ibunya Kevin. Wanita itu sesungguhnya sangat menyayangi kedua anaknya, namun ada peristiwa yang mengubah segalanya. Kevin memiliki adik yang sangat dimanja; setiap kali adiknya berbuat salah, tak jarang Kevin pula yang dipersalahkan.
Masa Lalu
Saat itu aku berusia sepuluh tahun. Terjadi sesuatu yang mengguncang seisi rumah. Aku tidak melakukannya, sungguh tidak sengaja—namun tak ada satu pun yang percaya. Meski masih kecil, aku tak akan pernah berbuat jahat pada adikku yang sangat ku sayangi. Namun peristiwa itu mengubah pandangan mereka seketika.
Bruk...! Bruk...!
"Tuan kecil jatuh dari tangga!" seru pelayan dengan napas terengah, segera menggendong adikku yang terkapar.
"Bagaimana kalian menjaga anak?! Tidak becus sekali!" suara Mama melengking penuh amarah.
"Tadi... tadi tuan kecil sedang bermain bersama Tuan Kevin..." jawab pelayan terbata-bata.
"Astaga... Nak, bangun sayang... apa yang terjadi padamu?" Mama segera memeluk adiknya dengan panik.
Dokter keluarga segera memeriksa keadaan adikku. "Tenang saja Nyonya, Tuan kecil baik-baik saja. Hanya pergelangan tangan dan kakinya terkilir. Saya sudah meresepkan obat pereda nyeri dan salep; jika dipakai rutin, ia akan pulih sepenuhnya."
"Baik Dokter, terima kasih," jawab Mama pelan, mencoba menenangkan diri.
Adikku memang selalu dijaga dengan sangat ketat. Kelahirannya prematur, menuntut persalinan lewat operasi Caesar yang nyawanya hampir melayang—Mama sempat kritis dan membutuhkan banyak transfusi darah. Sejak saat itu, Papa dan Mama sangat memanjakannya, seolah segala kesalahannya bisa dimaafkan begitu saja. Dan akibatnya, aku kerap menjadi sasaran tuduhan yang tak adil.
"Mama, bukan Kevin yang melakukannya... adik jatuh sendiri," jelas ku terbata-bata menahan tangis.
"Bagaimana bisa adikmu jatuh begitu saja saat bersamamu, Kevin?"
"Maafkan Kevin... Kevin gagal menjaga adik..." isak ku, tak sanggup lagi membela diri.
"Jangan panggil aku Mama! Kamu yang membuat adikmu celaka, padahal ia masih sangat kecil!" hardiknya melengking, membuat suasana rumah terasa begitu dingin dan penuh kemarahan.
"Maaf... maafkan Kevin..." hatiku perih disayat ketidakadilan itu.
Aku sebenarnya anak yang penurut, selalu berusaha menuruti segala aturan orang tua. Namun peristiwa itu seolah mengubah pandangan mereka padaku. Di acara-acara penting sekalipun, aku sering diabaikan. Tak pernah ku keluhkan hal itu di depan mereka, namun dalam hati, ada rasa sakit yang tak pernah benar-benar sembuh—rasa tak dianggap sebagai anak mereka sendiri.
Kembali ke masa kini... pesan Mama muncul kembali di layar ponsel.
Mama:
"Kevin, besok ulang tahun adikmu. Hadirlah di pestanya, Papa dan Mama menunggumu."
Kevin:
"Iya, kalau sempat."
Mama:
"Harus datang, Kevin. Banyak kerabat yang akan hadir, malu kami jika kau tak ada."
Kevin:
"Baiklah... nanti Kevin datang."
Mama:
"Kami menunggu. Mama sudah sangat rindu padamu."
Pesta ulang tahun itu selalu dirayakan megah setiap tahunnya, dengan lampu-lampu berwarna-warni yang menghiasi setiap sudut ruangan. Sebenarnya aku tak menyukai keramaian semacam itu—terlebih pesta yang isinya sekadar kepentingan. Para keluarga terpandang hadir berkerumun, membicarakan bisnis, perjodohan, serta aliansi kekuasaan yang membuatku semakin tak nyaman. Kebanyakan dari mereka hanya peduli pada status dan kekayaan, bukan pada kebersamaan yang tulus.
Di balik kemudi, laju mobilku semakin kencang. Namun pikiranku tak lepas dari seseorang: "Andai dia ada di sisiku setiap saat, pasti hari-hariku tak akan terasa sepi seperti ini."
Sementara itu, aku—Alya—sedang memeriksa barang-barang belanjaanku.
"Ya ampun... luar biasa, baru sebulan bekerja sudah bisa mendapat banyak sekali," gumamku tak percaya, tersenyum lebar. Terima kasih banyak atas kebaikan dan rezeki ini.
Namun sesaat kemudian, keraguan kembali menyelinap. Mengapa dia begitu dermawan padaku? Jangan-jangan dia akan segera menagih janji yang pernah kita sepakati...
Aku terperanjat. Ya Tuhan, aku hampir lupa perjanjian itu masih berlaku.
Bagaimana jika sewaktu-waktu dia meminta sesuatu yang belum sanggup kuberikan? gigit jari telunjukku gelisah. Aku sama sekali belum berpengalaman soal itu...
Terlintas niat iseng: Mungkin aku harus cari tahu dulu lewat internet?
Namun saat membaca apa yang disarankan pencarian:
1. Berdandan cantik dengan tampilan memikat
2. Mengenakan pakaian terbuka untuk menarik perhatian
3. Menonton berbagai panduan hubungan fisik...
Aku langsung menutup tab itu dengan malu dan kesal sendiri. "Ya ampun... kok jadi terasa seperti menjual diri begini..." 😭
Padahal aku belum pernah melakukannya sekali pun. Seandainya aku bisa mengumpulkan dua ratus juta itu dan mengembalikannya padanya, aku tak perlu merasa terikat seperti ini.
Belum selesai pikiranku berputar, ponsel kembali berbunyi. Pesan dari Raka.
Raka:
"Al, besok hari Minggu. Ada waktu nggak?"
Alya:
"Ada, ada. Kenapa emangnya?"
Raka:
"Dateng ke acara aku ya. Harus ada."
Alya:
"Siap, pasti datang. Untuk kamu sih apa enggaknya."
Di sisi lain, Raka tersenyum lebar menatap layar—balasan singkat itu sudah cukup membuat hatinya berbunga bahagia.
Sedangkan aku kembali gelisah. Ya ampun, aku belum menyiapkan apa-apa. Padahal keluarganya orang terpandang semua...
Di kamar Raka...
Ia termenung memandang luar dari balkon saat langkah kaki ibunya terdengar mendekat.
"Mama sudah bicara dengan kakakmu. Dia janji akan hadir besok."
"Benarkah, Ma? Kakak sudah kembali dari Paris?"
"Sudah, Nak."
"Tapi... Raka takut. Apakah Kakak sudah memaafkan Raka?"
"Tentu saja. Kakakmu sangat menyayangimu."
Mama mencoba menenangkannya, namun kenangan buruk lima tahun silam seketika melintas kembali.
Lima Tahun Lalu
Raka mengendarai motor sport barunya dengan kecepatan tinggi. Di persimpangan jalan, tak sengaja ia menabrak seorang wanita yang sedang menyeberang di jalur pejalan kaki. Wanita itu berwajah cantik berkulit pucat dengan rambut panjang terurai.
Brak! Bruk!
Suara hantaman keras menggema. Orang-orang berkerumun, bahkan ada yang merekam peristiwa itu. Raka terjatuh berdarah di kening, namun luka di tubuhnya tidak terlalu parah. Sedangkan wanita yang ditabrak mengalami patah tulang tangan dan kaki dalam kondisi sangat kritis. Sirine ambulans terdengar mendesak dari kejauhan.
Di rumah sakit, Raka terbaring lemas. Tak lama kemudian, Kevin datang dengan napas memburu.
"Kamu gila ya?! Mata dipakai apa!" hardiknya menahan amarah meledak.
"Maaf, Kak... aku benar-benar tak sengaja..." jawab Raka pelan menahan sakit.
"Kevin! Jaga bicaramu! Adikmu sedang terluka!" tegur Mama segera mendekap Raka.
"Selalu saja kau bela dia..." desis Kevin kecewa.
"Kau berlebihan, Kak. Dia tidak bermaksud begitu..."
Plak! Plak!
Tamparan mendarat keras di pipi Kevin.
"Ma sudah tahu kau sedang emosi, tapi ini benar-benar kecelakaan..."
"Yang kau tabrak itu orang yang sangat berharga bagiku!" suara Kevin bergetar menahan amarah yang memuncak.
"Sudah, semuanya sudah Mama urus. Dia akan dibawa ke luar negeri untuk penanganan terbaik."
"Dia koma, Ma..." Kevin menatap lekat sebelum akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan ruangan dengan amarah yang belum usai.
Raka hanya bisa menunduk pasrah. Pertengkaran ini semua karena kelalaiannya sendiri.