NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.

Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.

Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.

Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.

Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Maaf Leon

Elisa berdecak kagum. Kedua matanya disuguhi pemandangan yang begitu indah hingga untuk beberapa saat ia lupa dengan segala kegelisahan yang sejak pagi memenuhi pikirannya.

Halaman istana yang sangat luas itu telah disulap menjadi kawasan perkemahan mewah untuk acara berburu tahunan kerajaan. Puluhan tenda berdiri berjajar dengan rapi, tetapi menyebutnya sebagai tenda terasa kurang tepat. Bangunannya lebih menyerupai kastel-kastel kecil yang dibuat dari kain berkualitas tinggi dengan rangka kayu yang kokoh. Atapnya menjulang elegan, dihiasi bendera kecil berwarna-warni yang berkibar pelan diterpa angin.

Di depan setiap tenda terpampang lambang keluarga bangsawan yang menempatinya. Lambang keluarga Winter berdiri berdampingan dengan keluarga-keluarga bangsawan dari wilayah timur lainnya.

Sementara itu, tenda milik keluarga para Duke tampak jauh lebih megah. Ukurannya hampir dua kali lipat lebih besar, memiliki halaman pribadi, bahkan dijaga lebih banyak kesatria.

"Ini sangat menakjubkan," gumam Elisa tanpa sadar."Jadi beginilah acara berburu kerajaan..."

Suri yang berdiri di sampingnya ikut tersenyum kecil."Aku sudah pernah datang waktu kecil, tapi tidak terlalu mengingatnya. Setelah remaja aku tidak lagi ikut, peraturan istana melarang anak remaja datang ke acara ini."

Elisa mengangguk pelan. Dia tidak tau tentang itu, di novel tidak dijelaskan. Pandangan mata Elisa masih terus berkeliling."Kalau ini disebut berkemah, sepertinya aku salah paham. Ini lebih mirip pindah rumah sementara."

Suri terkekeh."Itulah bedanya rakyat biasa dengan bangsawan."

"Aku bahkan merasa tenda keluarga Duke lebih bagus daripada rumah sebagian besar bangsawan."

"Tentu saja. Derajat mereka lebih tinggi."

Elisa menghela napas kagum sekali lagi. Tatapannya dipenuhi rasa penasaran, senyum tipis menghiasi wajahnya. Namun senyum itu lenyap seketika.

"Kalian baru sampai?" Suara pria yang sangat dikenalnya membuat Elisa langsung menoleh.

"Perjalanan kami sedikit terhambat, Leonardo Snow." Suri langsung menjawab dengan ramah.

Leon berdiri beberapa langkah darinya. Rupanya tenda keluarga Snow memang berada tepat di sebelah tenda keluarga Winter. Melihat wajah pria itu, ekspresi Elisa langsung berubah datar. Senyumnya menghilang. Dan Leon merasakan dengan jelas perubahan ekspresi itu.

Dalam hati ia menghela napas panjang. Entah mengapa setiap kali bertemu, Nandikara selalu memasang wajah seperti itu. Dan itu sedikit mengganggu Leon, padahal dulu ia sama sekali tidak peduli pada apapun tentang Nandikara. Karena bukan urusannya

Entah sejak kapan semuanya berubah, setiap kali melihat tatapan dingin gadis itu, dadanya justru terasa tidak nyaman. Ada rasa bersalah yang perlahan tumbuh dan semakin sulit diabaikan.

Leon memberanikan diri melangkah lebih dekat."Apa kau masih menyimpan dendam padaku? Nandikara?"

Pertanyaan itu sontak membuat Elisa dan Suri sedikit kaget.

Elisa menjawab dengan tenang."Kenapa aku harus menyimpan dendam padamu?"

"Mungkin karena rasa sakit hati yang terlalu besar," Leon mengatakannya dengan wajah datar.

"Kau terlalu percaya diri!" Suara Elisa sedikit meninggi.

"Kara, kita harus menjaga sopan santun," bisik Suri, dia tidak ingin Nandikara sampai mengamuk disini, di wilayah istana.

Leon menarik napas panjang."Aku minta maaf."

Elisa dan Suri, mengalihkan pandangannya pada Leon, ucapan maaf itu cukup membuat mereka terkejut.

Elisa masih diam. Jauh di dalam lubuk hatinya terjadi pergulatan panjang.

Sebenarnya ini bukan urusanku. Orang yang benar-benar terluka adalah Nandikara.

Elisa menundukkan pandangan.

Maafkan aku, Nandikara. Kalau memang kau masih bisa melihat semua ini, aku berharap kau tidak marah padaku. Rasa cinta memang tidak bisa dipaksa. Leon tidak pernah mencintaimu, dan itu bukan sebuah kesalahan. Yang salah adalah cara dia memperlakukanmu, dan sekarang dia meminta maaf, sudah saatnya kita berdamai Nandikara..

Elisa mengembuskan napas perlahan. Kemudian ia kembali menatap Leon."Permintaan maafmu diterima. Tapi lain kali, jika ada nona bangsawan yang menyatakan cinta, jangan menolaknya di tempat ramai, cukup kirimkan surat saja, itu lebih bijaksana."

Leon mengangguk."Itu akan menjadi pelajaran berharga untukku."

Suri yang sejak tadi menahan napas, gugup. Akhirnya bisa bernapas lega. Walaupun dia agak curiga pada sikap Leon, tetapi itu tidak penting, yang jelas sekarang, mereka sudah berdamai.

***

Elisa berjalan dengan tenang sembari tersenyum kecil. Begitu berhasil lolos dari pengawasan ketat Nyonya Winter, napasnya terasa jauh lebih lega. Walaupun sebenarnya dia harus mengorbankan Suri.

Dia memang berpamitan untuk menghadiri perjamuan para lady yang tengah berkumpul di taman. Namun, begitu berada di luar jangkauan para pelayan keluarga Winter, langkahnya justru berbelok ke arah yang sama sekali berbeda.

Sebelumnya, ia telah meminjam pakaian sederhana milik Cani. Kini gaun mewah kebanggaan keluarga Winter telah berganti dengan pakaian pelayan berwarna krem pucat, rambut panjangnya di kepang satu.

"Begini baru terasa bebas," gumam Elisa pelan sambil menghirup udara segar.

Tidak ada lagi tatapan para bangsawan yang memperhatikan setiap gerak-geriknya. Tidak ada pula tuntutan untuk menjaga wibawa keluarga Winter. Untuk sesaat, ia hanyalah seorang gadis biasa.

Kakinya membawanya menyusuri taman demi taman di area perkemahan kerajaan. Hamparan bunga bermekaran sejauh mata memandang, seolah pelangi turun memenuhi bumi.

Elisa berhenti di depan hamparan bunga mawar putih yang berkilauan diterpa cahaya matahari. Tak jauh dari sana tumbuh bunga lavender, lili, tulip, hingga bunga-bunga asing yang bahkan belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Benar-benar sangat indah," gumamnya kagum."Mereka bahkan memiliki taman sebesar ini."

Elisa tertawa kecil sendiri. Sesekali jemarinya menyentuh kelopak bunga dengan hati-hati."Kalau Suri ada di sini pasti lebih menyenangkan. Tetapi sayangnya dia harus menjadi tumbal, karena kalau tidak, aku yang akan berada di perjamuan itu."

Membayangkan ekspresi datar Suri ketika ada di tengah kerumunan para Lady, membuat Elisa tersenyum geli."Maafkan aku Suri."

Tanpa sadar, langkahnya terus menjauh dari keramaian. Suara musik dari pesta semakin samar, berganti dengan kicauan burung dan desir angin yang menggerakkan dedaunan.

Elisa menoleh ke belakang."Disini sepi sekali?" Ia baru sadar dirinya sudah berjalan terlalu jauh. Namun rasa penasaran justru mengalahkan keinginannya untuk kembali.

"Sedikit lagi saja."

Beberapa langkah kemudian matanya berbinar. Di tengah taman tumbuh sekuntum bunga berwarna biru keunguan dengan kelopak yang berlapis-lapis. Aromanya lembut dan menenangkan.

Elisa berjongkok perlahan."Bunga apa ini?"

Tangannya terulur pelan."Petik satu tidak apa-apa, kan?" Ujung jarinya hampir menyentuh tangkai bunga itu.

"Nandikara Winter."

Suara berat yang tiba-tiba terdengar dari belakang membuat tubuh Elisa membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Pelan-pelan ia menoleh. Dan seketika kedua matanya membelalak lebar.

"P-Pangeran Erlan?"

Sang putra mahkota berdiri beberapa meter darinya dengan pakaian berburu berwarna hitam dipadukan mantel biru tua. Wajahnya tetap datar seperti biasanya, sementara kedua matanya menatap lurus ke arahnya.

Elisa spontan mundur selangkah.

'Bagaimana dia bisa mengenaliku?'

1
Iin Istiana
kak....... lgiii yaaaaaa😄😄😄
Saasaa: siap, ditunggu ya
total 1 replies
Iin Istiana
kak klo bisa panjangin dikit yaaa🤭
Saasaa: sedang diusahakan, terimakasih udah baca 😄
total 1 replies
Riska Yulia
tambah lg ka
Saasaa: siap, udah di up ya.. selamat baca
total 1 replies
Iin Istiana
go go go ..... semangat.....
Saasaa: terimakasih sudah baca
total 1 replies
Iin Istiana
pokoknya harus selesai sampai hapy ending awasss aja klo mandek tengah jln
Riska Yulia
asupan nya kurang ka😭😭😭😭
Saasaa: besok lagi ya 🤭
total 1 replies
Iin Istiana
jangan lama² yaaa cuayannnnkuuu😄
Saasaa: udah di up bab baru, selamat baca
total 1 replies
Riska Yulia
ok cuma satu ka😭😭😭
Saasaa: udah diup ya bab yang baru, selamat baca
total 1 replies
Irmha febyollah
ko lama update nya kk
Saasaa: udah di up ya, bab barunya, selamat baca😍
total 1 replies
Iin Istiana
lagi yukkkkkk
Saasaa: besok 🤣
total 1 replies
Riska Yulia
lanjut ka tanggung🤭🤭
Saasaa: lanjut besok 🤣
total 1 replies
Iin Istiana
bagus ceritanya pokoknya harus hapy ending jangan mandek di jln
Saasaa: terimakasih sudah baca ya 😍
total 1 replies
Iin Istiana
up
Iin Istiana
lanjuuuuujttt pokoknya harus up lagiiii🤭
Riska Yulia: MLM ini juga lanjut nya ka,
total 2 replies
Riska Yulia
update lg ka, seru baca nya
Saasaa: done ya, selamat baca...
total 1 replies
Riska Yulia
semangat 💪,
Saasaa: terimakasih sudah baca 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!