NovelToon NovelToon
Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Winna Yun

Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab - 24 Aku memilihmu, dan akan tetap kamu

Arunika menatap Adrian beberapa detik.

"Salah paham bagaimana?"

Adrian tidak langsung menjawab Ia justru kembali berjalan, membuat Arunika terpaksa mengikutinya.

Namun kali ini langkah pria itu lebih lambat, seolah sengaja memberi Arunika kesempatan untuk berjalan di sampingnya. Arunika masih menunggu jawaban.

"Adrian."

"Hm?"

"Kamu tadi bilang aku bisa salah paham."

"Iya."

"Terus?"

Adrian meliriknya sekilas.

"Terus apa?"

Arunika mengerutkan kening.

"Kamu yang mulai."

"Aku hanya memperingatkan."

"Memangnya aku salah paham tentang apa?"

Adrian hanya Arunika semakin penasaran.

"Jangan bilang kamu sebenarnya—"

Ia menghentikan kalimatnya sendiri Adrian berhenti berjalan, Arunika yang kembali tidak menyadarinya hampir menabrak bahu pria itu.

"Kenapa berhenti lagi?"

Adrian berbalik menghadapnya Untuk beberapa detik, ia hanya menatap Arunika, Tatapan itu membuat senyum kecil di wajah Arunika perlahan menghilang.

"Kenapa melihatku seperti itu?"

Adrian tidak menjawab.

"Adrian?"

"Aku sedang berpikir."

"Berpikir apa?"

"Bagaimana caranya membuatmu berhenti memikirkan perempuan lain."

Arunika membeku.

"Apa?"

Adrian melangkah mendekat Tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat Arunika tanpa sadar mundur setengah langkah.

"Sejak tadi kamu membicarakan Nita."

"Karena dia kelihatannya dekat denganmu."

"Dia memang sudah lama mengenalku."

Arunika mengangguk.

"Nah, kan."

"Tapi itu bukan berarti aku memiliki perasaan kepadanya."

Adrian melanjutkan dengan suara yang lebih tenang.

"Dan bukan berarti dia memiliki tempat yang sama denganmu."

Jantung Arunika seolah berhenti sesaat, Ia menatap Adrian, mencoba memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar.

"Tempat... yang sama?"

Adrian mengangguk.

"Berbeda."

Arunika menelan ludah.

"Berbeda bagaimana?"

Adrian justru tersenyum tipis.

"Kamu benar-benar ingin aku menjelaskannya?"

Arunika langsung mengalihkan pandangan.

"Enggak jadi."

"Kenapa?"

"Karena tiba-tiba aku tidak penasaran."

"Kamu tadi penasaran."

"Sudah hilang."

Adrian hampir tersenyum Namun Arunika buru-buru kembali berjalan.

"Ayo makan."

Adrian mengikutinya Baru beberapa langkah, suara Adrian terdengar dari belakang.

"Arunika."

"Apa?"

"Kamu cemburu?"

Langkah Arunika langsung terhenti, Ia menoleh dengan wajah tidak percaya.

"Siapa yang cemburu?"

"Kamu."

"Enggak."

"Yakin?"

"Yakin."

Adrian mengangguk santai.

"Baik."

Arunika kembali berjalan Namun baru dua langkah, Adrian menambahkan,

"Padahal aku senang."

Arunika berhenti lagi Kali ini wajahnya mulai memanas, Ia menoleh tajam.

"Kamu sengaja, ya?"

Adrian akhirnya tersenyum.

"Sedikit."

"Adrian!"

Tawa kecil terdengar dari pria itu Arunika mendengus lalu berjalan lebih cepat, Namun beberapa detik kemudian, Adrian kembali memanggilnya.

"Arunika."

"Apa lagi?"

Nada suaranya terdengar kesal, tetapi Adrian tahu perempuan itu sebenarnya hanya sedang malu.Kali ini Adrian tidak menggoda.

"Kalau kamu ingin tahu tentang Nita, tanya saja."

Adrian berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Jangan membuat kesimpulan sendiri."

Arunika perlahan menoleh, Adrian memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Nita memang sudah mengenalku selama bertahun-tahun. Dia pernah menjadi seseorang yang cukup dekat dengan kehidupanku."

Arunika menunduk Entah kenapa, mendengar kalimat itu justru membuat dadanya kembali terasa tidak nyaman.

"Tapi?"

Adrian menatapnya.

"Tapi tidak pernah lebih dari itu."

Arunika diam Adrian kemudian berjalan mendekat.

"Dia mungkin mengenalku lebih lama."

Langkah Adrian berhenti di hadapan Arunika.

"Tapi kamu..."

Tatapannya melembut.

"...adalah orang yang membuatku ingin dikenal."

Arunika mengangkat wajah.

"Apa maksudmu?"

Adrian menarik napas pelan.

"Aku tidak pernah peduli kalau orang lain menganggapku dingin. Aku juga tidak pernah merasa perlu menjelaskan diriku kepada siapa pun."

Ia menatap mata Arunika.

"Tapi entah kenapa, kalau menyangkut kamu, aku selalu ingin menjelaskan."

Arunika tidak bisa berkata-kata Adrian melanjutkan.

"Aku ingin kamu tahu apa yang aku pikirkan."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak ingin kamu salah mengerti."

Suara Adrian terdengar semakin lembut.

"Dan aku tidak ingin kamu pergi hanya karena sesuatu yang sebenarnya tidak pernah berarti bagiku."

Mata Arunika mulai terasa panas Ia segera mengedipkan mata beberapa kali.

"Kenapa kamu bicara seperti itu?"

"Seperti apa?"

"Seperti..."

Arunika terdiam Ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskannya, Seperti Adrian sedang mengatakan sesuatu yang selama ini diam-diam ingin ia dengar. Adrian memperhatikannya.

"Arunika."

"Hm?"

"Kalau kamu ingin tahu siapa yang aku pilih..."

Arunika menatap Adrian, Andrian diam sejenak, Lalu kalimat itu keluar dengan begitu sederhana, tetapi justru menghantam hati Arunika jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan.

"Sejak awal aku memilih kamu, dan akan tetap kamu."

Arunika membeku Dunia di sekitarnya seolah mendadak menjadi terlalu sunyi, Ia hanya menatap Adrian. Pria itu tidak tersenyum, Tidak sedang bercanda, Tidak pula menunjukkan ekspresi jahil seperti beberapa menit sebelumnya.

Tatapan Adrian justru begitu serius, Seolah kalimat tadi bukan sesuatu yang ia ucapkan secara spontan. Melainkan sesuatu yang sudah lama ia simpan. Arunika menunduk cepat.

"Jangan ngomong begitu."

Adrian mengerutkan kening.

"Kenapa?"

"Karena..."

Suara Arunika melemah Ia mengusap sudut matanya dengan cepat, Adrian langsung menyadarinya.

"Kamu menangis?"

"Enggak."

"Arunika."

"Aku enggak menangis."

Adrian menatapnya Arunika semakin menunduk, Namun satu tetes air mata tetap jatuh sebelum sempat ia sembunyikan. Adrian terdiam Bukan karena tidak tahu harus berkata apa.

Justru karena untuk pertama kalinya, ia melihat Arunika benar-benar tersentuh oleh sesuatu yang ia katakan.

"Hei."

Suara Adrian jauh lebih lembut Arunika menggeleng.

"Jangan lihat aku."

"Kenapa?"

"Memalukan."

Adrian tersenyum kecil.

"Yang menangis kamu, tapi yang malu juga kamu."

Arunika langsung memukul pelan lengannya.

"Diam."

Adrian membiarkannya Kemudian ia berkata pelan,

"Aku serius."

Arunika berhenti.

"Serius tentang apa?"

"Tentang kamu."

Adrian menatap Arunika seolah ingin memastikan setiap kata benar-benar sampai kepadanya.

"Aku tidak sedang membandingkan kamu dengan siapa pun."

Air mata Arunika kembali menggenang.

"Jadi jangan pernah merasa kamu harus bersaing dengan perempuan lain."

Arunika menggigit bibirnya pelan.

"Karena?"

Adrian menghela napas.

"Karena dari awal memang tidak ada pertandingan."

Adrian tersenyum tipis.

"Hatiku sudah menentukan pilihannya sebelum kamu sempat bertanya."

Arunika benar-benar tidak mampu menjawab, Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan.

Tentang rasa takutnya, Tentang keraguannya.

Tentang bagaimana kehadiran Nita beberapa menit lalu membuatnya merasa kecil dan tidak yakin pada tempatnya sendiri di sisi Adrian.

Namun semua itu seakan runtuh setelah mendengar kalimat Adrian. Ia akhirnya hanya berkata pelan,

"Kamu tahu tidak?"

"Apa?"

"Kadang kamu menyebalkan."

Adrian mengangkat alis.

"Kenapa?"

"Karena kamu bisa mengatakan sesuatu yang membuatku ingin marah..."

Arunika mengusap air matanya.

"...lalu beberapa detik kemudian membuatku tidak bisa marah lagi."

Adrian tersenyum.

"Berarti aku berhasil."

Arunika mendelik.

"Jangan bangga."

"Baik."

"Dan jangan pikir aku cemburu."

"Aku tidak bilang apa-apa."

"Tapi wajahmu kelihatan."

Adrian menahan senyum Arunika langsung berjalan meninggalkannya.

"Ayo makan!"

Adrian mengikuti dari belakang Namun setelah beberapa langkah, Arunika kembali berhenti. Ia menoleh.

"Adrian."

"Hm?"

Arunika memandangnya beberapa detik Kemudian, dengan suara yang hampir tidak terdengar, ia berkata,

"Aku juga memilih kamu."

Sementara di lantai yang sama, jauh di belakang mereka, Nita berdiri di dekat jendela koridor. Ia tidak sengaja melihat Adrian dan Arunika dari kejauhan.

Ia tidak mendengar percakapan mereka Namun ia bisa melihat sesuatu dari wajah Adrian, Sesuatu yang membuat senyum di wajah Nita perlahan menghilang.

Lima tahun.

Lima tahun ia menunggu Dan baru hari ini, Nita akhirnya menyadari bahwa mungkin selama ini ia bukan sedang menunggu Adrian membuka hatinya.

Ia sedang menunggu sesuatu yang ternyata tidak pernah ditujukan kepadanya, Tangannya mengepal pelan. Matanya mengikuti Arunika yang berjalan di samping Adrian.

"Niatmu memilih dia..."

Nita berbisik sangat pelan.

"Benar-benar serius, Adrian?"

1
sinnox
50k mana cukup😭
Winna Yun: agak agak miris emang🤭
total 1 replies
sinnox
Bau bau ibu tiri jahat😭
Winna Yun: iya Kaka 😁
total 1 replies
zevy_14
lanjut kk... update... update.. update🤭💪
Winna Yun: siap kakak 😁
total 1 replies
zevy_14
bagus selidiki🤭
Winna Yun: mamang haru ini🤭
total 1 replies
ciber ara
suka banget ceritanya
Winna Yun: terimakasih ka 🤗
total 1 replies
ciber ara
nextt
MPUSSPITA
semangat terus othorrr
Winna Yun: semangat kembali ka🤗
total 1 replies
MPUSSPITA
sedih banget kamu, arunika 😭😭😭
Winna Yun: iya ka ujian nya gak main main😁
total 1 replies
Nnisa
kak aku mampir nih, semangat kak💪💪
Winna Yun: terimakasih ka atas kunjungan nya🤗
total 1 replies
Swan Tiger
halo semangat author🍀🍀🍀
Winna Yun: semangat juga ka🤗
total 1 replies
Lasa Hardianti
kasian bgt nasib arunika, moga aja kena karma tuh keluarganya😌🤣
Winna Yun: sabar na nanti di bayar kontan😁
total 1 replies
helena
kasian banget arunika
helena: thor/Hey//Smile/
total 2 replies
Winna Yun
iya ka emang gak sedikit 😁
Zed Analytical Number Nine
bukan angka yang sedikit
Cilia
Nyesek banget jadi arunika:(
Winna Yun: iya bener ka
total 1 replies
Winna Yun
iya ka beda banget
Putri Ayu/PqxxyZ
beda suasana ya disana
Putri Ayu/PqxxyZ
aku sudah mampir baru awal nih, entar lanjut lagi.. kakak boleh mampir di ceritaku yang "Terjebak Antara Saudara dan Cinta"
Winna Yun: iya ka siap
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
oke cabut... kena usir soalnya
Winna Yun: iya ka🤭 terimakasih sudah berkunjung 🤗
total 1 replies
Putry Chan
aku kasih sedikit saran deskripsi kalimat trlalu panjang, berurutan, bertele-tele ,
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal

Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.

Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.

Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.

Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?

Winna Yun: terimakasih ka sarapan nya🤗 terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!