Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Setelah insiden memalukan yang menimpa Kevin Kusuma, area stan PT Star Technology mendadak dibanjiri oleh lautan manusia.
Para wartawan teknologi, investor swasta, dan perwakilan perusahaan besar berdesak-desakan ingin mendekati stan kecil milik Anton.
"Bu Siska, apakah benar chip buatan perusahaan Anda memiliki efisiensi tinggi tanpa cacat?" tanya seorang wartawan terkemuka sambil menyodorkan mikrofon.
Siska yang berdiri di samping Anton tampak sedikit gugup, namun dia berhasil menguasai diri dan menjawab setiap pertanyaan dengan sangat profesional.
Sementara itu, Anton memilih untuk mundur selangkah dan membiarkan Siska memimpin sorotan publik.
Ini adalah momen pembuktian terbaik bagi CEO wanita tersebut untuk mengembalikan reputasi perusahaannya.
"Tentu saja, semua spesifikasi teknis kami sudah teruji dan transparan," jawab Siska tegas dengan senyuman penuh percaya diri.
Di sudut ruangan pameran yang agak tersembunyi, sepasang mata menatap tajam ke arah Anton dengan kobaran api kemarahan yang luar biasa.
Itu adalah Kevin Kusuma.
Dia mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kuku jarinya memutih dan berdarah karena tekanan kuku yang terlalu kuat.
"Sialan... sialan! Pemuda kampungan itu benar-benar sudah mempermalukanku di depan semua orang!" geram Kevin dengan suara tertahan.
"Tuan Muda Kevin, apa yang harus kita lakukan sekarang?" bisik seorang asisten berjas hitam di belakangnya dengan ragu-ragu.
"Hancurkan mereka!" perintah Kevin penuh dendam.
"Hubungi kelompok preman bayaran di pelabuhan utara malam ini juga."
"Bakar stan pameran mereka atau hancurkan semua dokumen penelitian chip itu sebelum pameran hari kedua dimulai!" ancam Kevin tanpa memedulikan risiko hukum.
Asisten itu menelan ludah dengan susah payah, namun dia tidak berani membantah perintah pewaris tunggal keluarga Kusuma tersebut.
"Baik, Tuan Muda, saya akan urus semuanya malam ini," jawab sang asisten patuh.
Kembali ke area stan, hari pertama pameran akhirnya ditutup dengan kesuksesan yang luar biasa gemilang bagi PT Star Technology.
Bahkan, tiga perusahaan modal ventura besar telah menandatangani surat niat kerja sama dengan Siska.
"Pak Anton, hari ini adalah keajaiban!" seru Siska dengan mata berkaca-kaca penuh kebahagiaan saat mereka merapikan meja stan.
"Kita mendapatkan tiga calon mitra investor besar dalam waktu kurang dari lima jam," tambahnya antusias.
Anton tersenyum hangat melihat pancaran kebahagiaan di wajah cantik wanita di depannya itu.
"Ini baru permulaan, Siska," ucap Anton tenang.
"Kerja bagus hari ini, mari kita tutup stan dan beristirahat, besok kita masih punya hari kedua yang lebih sibuk."
"Baik, Pak Anton!" jawab Siska penuh semangat.
Malam harinya, Anton kembali ke Penthouse Apartemen Grand Royal Residence dengan mengendarai mobil BMW merahnya.
Suasana jalanan kota tampak lengang karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Anton memarkirkan kendaraannya di tempat biasa, lalu berjalan menuju lobi privat apartemen.
Namun, saat pintu lift terbuka di lantai dua belas, insting tajam Anton langsung mendeteksi ada sesuatu yang tidak beres.
Lampu sensor lorong koridor tampak berkedip-kedip tidak stabil.
Pintu unit penthouse miliknya sedikit terbuka dengan bekas congkelan paksa di bagian gagangnya.
Anton menghentikan langkahnya, matanya menyipit tajam.
"Tampaknya ada tamu tak diundang yang datang lebih dulu," batin Anton dingin.
Dia memfokuskan pikirannya dan mengaktifkan [Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1].
Pandangan Anton menembus pintu kayu tebal apartemennya.
Di dalam ruang tamu gelap miliknya, terdapat tiga orang pria berbadan kekar yang memegang linggis dan pisau tajam sedang mengacak-acak perabotan.
Mereka adalah preman bayaran suruhan Kevin Kusuma yang berniat mencari dokumen rahasia chip serta memberikan teror fisik.
Anton tersenyum sinis di balik kegelapan lorong koridor.
"Mereka mencari mati di tempat yang salah," gumam Anton pelan sambil melangkah maju mendekati pintu.