Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Kita ke belakang rumah gimana, Pa? Di sana lebih tenang, lebih enak juga buat ngobrol," ajak Kenanga yang diangguki oleh Halim dan Salma.
Mereka pun pergi ke belakang rumah. Tidak lupa juga Kenanga mengajak Pak Toni dan Bibi Anisa karena kedua orang itu juga berhak tahu apa yang terjadi. Secara tidak langsung keduanya juga sudah seperti orang tua kandungnya sendiri, bahkan apa pun yang berhubungan dengan dirinya dan Bima terkadang Tony sebagai perantara.
Kini mereka duduk di sebuah gubuk yang dibuat Halim untuk tempat bersantai. udara begitu sejuk, tempatnya juga rindang karena dikelilingi pohon mangga. Mereka duduk melingkar, jadi bisa melihat dengan jelas satu sama lain.
"Sekarang katakan apa sebenarnya yang kamu ingin bicarakan?" tanya Ilham yang sudah tidak sabar.
Sebelum menjawab Kenanga mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan.
"Sebelumnya aku minta maaf sama Papa dan Mama karena aku merasa menjadi anak yang durhaka selama ini."
"Kamu ini bicara apa, sih! Kamu itu anak kami dan kami tidak pernah menganggap kamu itu anak durhaka. Sebenarnya ada apa? Katakan saja secara langsung, tidak usah berbelit-belit," sela Salma.
"Mas Bima ternyata selama ini membohongiku," ucap Kenanga dengan menundukkan kepala.
Air matanya pun mulai menetes, saat mengingat apa yang sudah sang suami lakukan padanya. Keempat orang itu merasa tersentak melihat Kenanga menangis. Pasti apa yang dilakukan Bima sangat menyakitinya, hingga membuat wanita itu menangis di depan mereka. Padahal biasanya Kenanga selalu menyembunyikan kesedihannya, tapi sekarang tidak sama sekali.
"Bima membohongimu tentang apa?" tanya Halim.
Keempat orang itu masih memperhatikan Kenanga. Mereka bisa melihat luka yang begitu dalam dirasakan oleh wanita itu. Kenanga pun mulai menceritakan apa saja yang dia ketahui tentang sang suami, juga apa yang sudah keluarga itu lakukan selama ini. Semua penuh dengan kebohongan dan tipu daya.
Keempat orang itu tentu saja sangat terkejut, mengingat selama ini Kenanga sudah sangat berusaha menjadi istri, menantu dan ibu yang baik, tapi ternyata perlakukan sedemikian rupa. Belum lagi kedua orang tua dan anak Bima yang ternyata ikut andil dalam permainan itu.
Mereka mengepalkan kedua tangannya, merasa geram dengan apa yang sudah dilakukan keluarga. Sejak kecil Kenanga begitu disayangi di keluarganya, bahkan diperlakukan seperti seorang ratu. Apa pun keinginannya selalu terpenuhi saat itu juga. Sekarang saat memiliki suami kenapa justru dibohongi dan dimanfaatkan.
"Kurang ajar sekali si Bima! Berani-beraninya dia memperlakukan kamu seperti itu!" seru Halim dengan wajah merah padam karena menahan amarahnya.
Sementara Salma hanya diam dengan menundukkan kepala. Dia merasa sedih atas apa yang terjadi putrinya, tapi mau bagaimana lagi, semuanya juga sudah terjadi. Dulu saat Kenanga memilih Bima, dia sudah berusaha keras agar putrinya memikirkannya lagi. Ilham dan Salma sama-sama tidak yakin dengan menantunya itu, seperti ada sesuatu yang sengaja di sembunyikan, tapi kenangan tidak mau mendengarnya dan terus saja memohon agar mereka merestui pernikahan itu.
"Pa, sabar. Jangan terlalu emosi," ujar Salma yang berusaha menenangkan sang suami setelah dirinya bisa mengendalikan diri.
"Bagaimana Papa tidak emosi kalau Bima mempersatukan Kenanga seperti itu! Tidak ingatkah dia bagaimana dulu memperjuangkan putri kita untuk menjadi istrinya? Sekarang sudah lebih dua puluh tahun, bisa-bisanya dia mengkhianati pernikahan ini."
"Pa, aku sudah ikhlas menerima semua ini, oleh karena itu aku juga ingin minta maaf pada Papa dan Mama, buat Pak Toni dan Bi Anisa juga. Dulu kalian yang paling keras menentang pernikahan ini, tapi aku yang saat itu sedang dibutakan oleh cinta, terus saja memohon agar kalian memberi restu."
"Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Jadi sekarang kamu benar-benar ingin bercerai dengan Bima? Apa kamu sudah memikirkan semuanya matang-matang? Tidak akan menyesal suatu hari nanti saat kamu dan Bima benar-benar terpisah?" tanya Salma sambil memperhatikan ekspresi putrinya.
Dia tahu Kenanga pasti sangat terluka hanya saja saat ini, hanya saja wanita itu berusaha untuk terlihat tegar agar tidak membuat dirinya dan sang suami merasa sedih.
"Iya, aku sudah sangat yakin dengan keputusanku. Aku juga sudah memiliki bukti, tidak akan sulit untuk berpisah darinya."
"Baguslah kalau begitu. Kamu terlalu baik untuk Bima dan keluarganya. Papa juga akan menagih hutang pada dia nanti."
"Hutang? Hutang apa?" tanya Kenanga yang memang tidak mengerti maksud dari ucapan papanya.
"Nanti juga kamu akan tahu sendiri," jawab Halim dengan senyum penuh arti. Dia beralih menatap Tony dan berkata, "Toni, nanti kalau Bima menghubungimu lagi, suruh dia bicara langsung padaku. Aku ingin mendengar bagaimana dia memohon bantuan padaku setelah dia menyakiti putriku."
"Baik, Pak. Nanti saya akan sampaikan pada Pak Bima."
Toni tahu setelah ini keadaan Bima tidak akan baik-baik saja, tapi dia juga merasa senang karena pria itu memang pantas untuk mendapat balasan atas apa yang sudah dilakukannya. Seharusnya Bima sadar diri dan bersyukur karena sudah memiliki Kenanga, tapi memang manusia tidak akan pernah cukup dengan apa yang sudah dimilikinya.
Kenanga sebenarnya sangat penasaran apa yang ingin papanya lakukan. Namun, sepertinya pria itu tidak akan menjawabnya. Biarkan saja, mungkin dengan begitu papanya akan merasa lega karena belum bisa meluapkan amarahnya secara langsung.
"Kenanga, nanti kalau kamu sudah bercerai dengan Bima kamu harus kembali ke sini. Papa tidak mau mendengar penolakan. Sudah cukup selama ini kami membantah ucapan kami. Keberadaan kamu di sini juga bisa menggantikan pekerjaan Papa. Kamu tahu sendiri adikku lebih memilih kerja dengan orang lain daripada mengelola usaha Papa, jadi hanya tinggal kamu satu-satunya harapan buat Papa."
"Aku memang berencana untuk tinggal di sini setelah aku berpisah dengan Mas Bima. Hanya tempat ini tempat aku pulang, tidak ada tempat lain," jawab kenangan.
Dia juga tidak berniat untuk pergi ke mana-mana, juga tidak ada niat untuk menikah lagi. Usianya sudah terlalu tua untuk memikirkan cinta. Kenanga yakin bisa bahagia tanpa seorang suami. Kalau masalah anak, nanti dia bisa mengadopsinya dari panti asuhan. Mereka juga lebih membutuhkan kasih sayang orang tuanya.
Kenangan menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya. Setelah ashar ia pun memutuskan untuk kembali pulang. Halim dan Salma sempat meminta putrinya untuk menginap saja. Nanti mereka yang akan bilang pada Bima. Namun, Kenanga menolak karena saat ini belum waktunya untuk dirinya pulang.
Halim dan Salma pun tidak memaksa. Mereka hanya bisa mendoakan putrinya agar bisa lepas dari suaminya segera. Nanti Halim juga akan membayar salah seorang detektif untuk mencari bukti tentang Bima dan mantannya agar nanti bisa digunakan di persidangan.
"Kenapa nasib putri kita jadi seperti ini, Pa?" tanya Salma sambil memandangi kepergian mobil putrinya.
"Papa juga tidak mengerti, Ma. Padahal Kenanga itu anak yang baik. Dia menjalankan tugasnya dengan penuh cinta, tapi kenapa mereka begitu tega hanya demi masa lalu yang sudah meninggalkan mereka."
"Mama sumpahin mereka akan menyesal karena sudah memperlakukan putri kita seperti ini. Mereka tidak akan pernah bahagia."
"Tentu saja. Dulu wanita itu meninggalkan mereka hanya karena popularitas semata, bahkan tidak luluh sedikitpun saat melihat anaknya yang masih bayi. Wanita seperti itu mau dibandingkan dengan putriku sungguh tidak sepadan."
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu