Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Malam itu di sebuah apartemen, tampak seorang muda-mudi tengah bertukar peluh, mandi keringat dan hasrat.
“Hhh… haaah… ahh, sayang, pelan… sakit…” desis si wanita, meringis.
“Ahh… ahhh… uhh iya, sayang… maaf… ini enak banget…” si pria mendesah berat.
“Uhh… ahhh… ahh… udah… aah… udah, aku muncrat… udah… ahhhhhhh!” teriak si wanita, terengah.
“Ahh… sayang, anget… aku belum… tahan ya… ahh… ahhh…” desah si pria, menahan.
“Sayang… ahh… sakit…” si wanita mengaduh lirih.
Plok… plok… plok… suara itu kian menggema.
“Uhhh… ahhh… ahhhhhhhh!!” teriak si pria akhirnya keluar.
“Sayang, ihhh… kenapa dimuntahin di dalam…” wanita menggerutu, cemberut.
“Maaf sayang, aku lupa…” si pria menatap gelisah.
“Kalo jadi gimana? Aku bilang muntahin di luar! Kamu mah, ihh… udah gitu nggak pake pengaman lagi…” ucap si wanita sewot.
“GPP… kalo kamu hamil, aku nikahin…” jawab si pria singkat, tegas.
“Tapi masalahnya orang tua kita nggak setuju…” wanita mengeluh resah.
“Yah, kalo udah hamil, kan bisa apa mereka? Ini juga cara kita supaya mereka merestui kita, sayang…”si pria menyeringai tipis.
“Ahhh, kamu mahh…” lirih si wanita, masih gemetar.
***************
Sedangkan di apartemen Emily, saat Rey pulang membawa dua kantong makanan dia ternyata tidak jadi beli karena tadi sebelum pulang dipanggil oleh Bunda Raina yang membekali masakan untuk Rey dan Emily.
Saat Rey sampai ke apartemen suasana sangat sepi, lampu juga masih mati. Entah ke mana Emily sejak tadi. Dia ditelepon untuk ikut ke rumah Bunda Raina tapi Emily tidak menjawab, bahkan saat Bunda menelpon pun Emily tak juga mengangkat. Pikiran Rey sudah ke mana-mana, dia takut Emily kabur atau malah main dengan Alex.
Dan saat pulang ke apartemen itu, suasana masih sepi tapi motor Emily masih terparkir di basement. Betapa terkejutnya Rey saat membuka pintu kamar, dia melihat Emily sedang meringkuk sambil memegangi perutnya dan menangis terisak.
“Hisskk… aws… hiks… hiks… ibuuu… ibuu,” ucap Emily pelan.
“Ya ampun Ily lo kenapa???” tanya Rey panik.
“Reyyy sakit perut gue sakit banget,” ucap Emily menahan tangis.
“Ya ampun apa yang terjadi gue ambilin obat ya udah minum obat belum?” tanya Rey buru-buru.
“Belum jangan kan untuk ngambil obat bangun aja gue gak kuat Rey mau nelpon lo aja gue gak kuat buat ambil HP di tas,” ucap Emily lemah.
“Oh pantesan HP lo di tas gue kira lo kabur atau gimana… Lo sakit apa ?lambungnya? sakit lambungnya kerasa lagi? atau mau ke RS sekarang? Lo pasti belum makan kan maaf ya gue lama di luar,” ucap Rey cemas.
“Bukan Rey bukan sakit lambung gue emang lagi gak nafsu makan gue lagi datang bulan emang suka kayak gini kalau udah hari pertama sakit banget ini baru keluar tadi sore gue emang suka separah ini,ya ampun sakit ibu,” ucap Emily sambil terisak.
“Ya ampun yaudah gue usapin ya mana yang sakit pinggang atau perut,” ucap Rey khawatir.
“Dua-duanya,” jawab Emily singkat.
“Biasanya diobatinnya gimana?” tanya Rey pelan.
“Biasanya ibu kasih obat pereda nyeri haid sama dikompres sama air hangat sama diusapin ya ampun bener-bener ini sakit banget Rey,” ucap Emily lirih
“Yaudah sabar ya gue pesenin obatnya ya dan gue ambil kompres dulu lo
sabar ya,” ucap Rey lembut.
Rey kembali membawa satu bungkus obat yang dia beli dari apotek yang ada di lobby apartemen itu. Dia juga membawa satu kantong air hangat yang sudah ia masukkan ke plastik dan dilapisi kain tipis untuk mengompres perut Emily.
“Ily ini minum obatnya makan dulu ya meski sesuap kamu harus makan dulu ily,” ucap Rey lembut.
“Sakitt reyyy,” keluh Emily manja.
“Sesuap dua suap GPP ily harus diisi dulu biar gak sakit lambungnya, ayo duduk dulu biar gue suapin,” ucap Rey dengan sabar.
“Tapi sakit,” gumam Emily pelan.
“Iya makanya minum obat dulu ayo jangan manja deh masa ketua geng cengeng,” ucap Rey meledek.
“Lo gak ngerti ini sakit banget,” ucap Emily sambil mengunyah nasi yang disuapin Rey.
“Yh gue cowok jadi gak ngerti,” jawab Rey santai.
“Bacott lo ahhh,” ucap Emily sebal.
“Yaudah gak usah marah-marah nanti malah makin sakit,” ucap Rey menenangkan.
“Udah mual gue Reyy perut kayak diaduk-aduk,” ucap Emily meringis.
“Yaudah minum dulu obatnya,” ucap Rey sambil menyodorkan obat itu ke mulut Emily.
“Sakitt reyyy,” ucap Emily masih menolak.
“Iya gue usapin,” ucap Rey lembut.
Rey mengusap punggung Emily sedangkan perut Emily dikompres dengan air hangat. Emily membungkuk tepat di paha Rey jadi membuat Rey dengan mudah mengusap pinggangnya.
“Di paha aja tidurnya jangan di selangki nanti si Jony bangun,” ucap Rey jahil.
“Sialan mesum lo gue lagi sakit anjir,” ucap Emily kesal.
“Iya itu kan kalau lo tidurnya di selangki gue, si Jony kan sensitif kena bibir lo bangun dia,” ucap Rey menahan tawa.
“Anjirr Rey gue lagi sakit jangan becanda,” ucap Emily jengkel.
“Hhhe iya iya tidur aja ya,” ucap Rey lembut.
“Heummmm,” gumam Emily pelan.
Rey masih setia mengusap pinggang Emily hingga beberapa menit kemudian terdengar dengkuran halus dan napas teratur. “Barusan aja nangis-nangis kesakitan sekarang sudah nyenyak aja, kasihan banget kalau lagi kesakitan kayak gitu,” ucap Rey lirih.
Rey memindahkan Emily setelah tertidur pulas lalu ia membuka atasannya, memeluk Emily ke dalam dekapannya dan ikut terlelap bersama istrinya itu.
Sekitar pukul 04.00 dini hari Emily terbangun karena mungkin pembalutnya sudah penuh, ia perlu ganti. Setelah bangun rasa sakitnya tidak separah semalam. Ia segera berlari ke kamar mandi, mengganti yang hampir saja bocor. Setelah bersih-bersih, Emily kembali ke tempat tidur lalu melihat Rey yang tampak tertidur pulas.
“Gila lo Rey ternyata lo baik juga sama gue, gue pikir lo bakal biarin gue kesakitan. Selain tampan lo juga baik ternyata,” gumam Emily sambil mengusap wajah Rey.
Tiba-tiba Rey bersuara tapi matanya masih terpejam.
“Kenapa baru sadar ya kalau gue baik dan tampan,” ucap Rey pelan.
“Haaah,” Emily langsung gelagapan.
“Ngga apa, ngaco luh,” ucap Emily gugup.
“Hhaa ketauan lo Ily udah kecintaan sama gue,” ucap Rey setengah tertawa.
“Ihh pede lo, awas gue mau tidur,” ucap Emily jutek.
Tapi Rey segera menarik tangan Emily kembali ke dalam dekapannya lalu menangkup tengkuk Emily dan melumat bibirnya.
“Reyyyyy,” desah Emily kaget.
“Mmmppt haahhh,” ucap Rey menahan ciumannya.
“Lo apaaan sih Rey,” ucap Emily sambil mendorong pelan.
“Lu udah pegang-pegang pipi gue enak aja main pergi gitu aja, morning kiss sayang,” ucap Rey genit.
“Gila lo ihh gue lagi haid,” ucap Emily sewot.
“Tenang, cuma cipokan sayang, ga bakal gue tusuk,” ucap Rey menenangkan.
“Perut gue asih sakit egge,” keluh Emily.
“Yaudah gue usapin sini,” ucap Rey lembut.
Rey kembali mengusap perut Emily, tapi bukan perut yang ia usap melainkan malah merangkak ke dada.
“Awsssh Rey jangan gila, gue lagi haid. Gue suruh lo usapin pinggang sama perut gue, bukan dada gue pea,” ucap Emily kesal.
“Hhha sori sayang kelepasan, maaf yah jadi cenat-cenut yah gue remas,” ucap Rey meledek.
“Anjirr lo, gue mau tidur lagi ngantuk,” ucap Emily cemberut.
“Yaudah sini gue peluk,” ucap Rey sambil menariknya kembali ke dada.