Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 33: Puncak Kejayaan yang Rapuh
“Tak ada lagi yang perlu dibicarakan antara kita,” ucap Lin Qian dingin, lalu berniat berjalan melewati Peng Ying begitu saja.
Sikap acuh tak acuh itu justru menjadi minyak yang disiram ke atas api kemarahan Peng Ying.
“Berhenti!” serunya dengan suara tajam. “Kau berani mempermalukanku di Kamar Dagang hari itu, dan kau pikir kau bisa pergi begitu saja? Lin Qian, dengar baik-baik. Kau akan selamanya menjadi sampah yang hidup di lapisan paling bawah—penjaga aula bela diri reyot yang tak punya apa-apa. Sedangkan aku? Aku adalah murid Sekte Lingxue, seorang Kultivator. Kau tidak akan pernah, dalam seribu tahun pun, layak berada di sampingku!”
Kata-kata pedas itu diucapkannya cukup keras hingga menarik perhatian banyak orang di sekitar. Ia ingin membalas semua rasa malu yang pernah ia rasakan dengan merendahkan Lin Qian di hadapan semua orang.
Namun sebelum Lin Qian sempat menjawab, sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi Peng Ying.
*PLAK!*
Semua orang terkejut.
Pelakunya tak lain adalah Han Yuner. Ia maju dengan wajah merah padam menahan amarah, tak sanggup lagi mendengar penghinaan yang terus-menerus dilontarkan Peng Ying kepada orang yang sangat ia kagumi.
“Kau yang sebenarnya katak di dalam sumur!” bentak Han Yuner tanpa gentar. “Apakah bakat sastra dan pengetahuan Tuan Lin sesuatu yang bisa kau remehkan hanya karena kau bisa mengerahkan tenaga dalam? Kau bilang dia sampah? Lalu apa dirimu yang tak bisa menulis satu kalimat indah pun?”
“Siapa kau berani menamparku?!” Peng Ying memegangi pipinya yang perih, matanya menyala penuh kebencian.
“Han Yuner, dari Kamar Dagang Yunzhou,” jawab Han Yuner tegas dan berani.
Nama itu membuat kerumunan berbisik kagum. Putri kesayangan pemilik kamar dagang terbesar di kota ini ternyata membela pemuda sederhana itu.
Peng Ying tertawa sinis meski menahan sakit. “Jadi hanya putri pedagang? Urusan aku dan dia bukan urusanmu. Minggir lah, atau kau akan menyesal!”
“Aku memang tak ada hubungan khusus dengannya,” jawab Han Yuner lantang, “Tapi aku penggemar berat karya-karyanya. Dan selama aku ada di sini, tak ada satu pun kata buruk yang boleh terdengar untuknya!”
Lin Qian hanya diam menyaksikan, ekspresinya rumit. Ia sama sekali tak berniat menimbulkan keributan, tapi keadaan seolah memaksanya menjadi pusat perhatian.
Kemarahan Peng Ying memuncak.
Di matanya, Lin Qian hanyalah manusia biasa, dan wanita-wanita ini juga orang biasa. Mengapa mereka berani melawannya? Dihasut oleh rasa iri dan dendam yang mendalam, aura kultivasi tingkat Sembilan yang ia miliki meledak keluar. Pedang panjang terhunus di tangannya, dan tekanan berat seketika menekan seluruh area di sekitarnya.
“Mundur? Kau pikir aku tak berani padamu hanya karena ayahmu pemilik kamar dagang? Di hadapan kekuatan sejati, kalian semua hanyalah semut! Apalagi aku akan segera kembali ke Sekte Lingxue dengan posisi lebih tinggi berkat dukungan Yu Wujie!”
Tekanan aura itu begitu kuat hingga Han Yuner yang hanyalah wanita biasa seketika memucat pasi, kakinya lemas, dan hampir jatuh tersungkur. Para sastrawan di sekitar berlarian mundur ketakutan.
Namun sebelum Peng Ying sempat melangkah mendekat untuk menghukum Han Yuner, lagi-lagi tangan mendarat di pipinya.
*PLAK!*
Tamparan ini jauh lebih keras dari sebelumnya, hingga membuat kepala Peng Ying terhuyung ke samping.
Sosok wanita lain muncul di hadapannya—memiliki kecantikan yang tak kalah mempesona dari Han Yuner, namun dengan pesona yang lebih tajam dan memikat, seolah ular cantik yang siap menyergap.
Yao Linger.
Ia telah lama mengamati dari kejauhan, dan saat momen itu tiba, ia turun tangan—sebagian demi membela, sebagian lagi demi menarik perhatian Lin Qian.
“Kau? Siapa kau?!” Peng Ying hampir gila karena marah. Wajahnya kini bengkak di kedua sisi, dan rasa malunya mencapai puncaknya.
“Aku juga penggemar berat Tuan Lin Qian,” jawab Yao Linger santai sambil menatap dingin Peng Ying. “Dan aku sama sekali tidak suka mendengar orang bodoh berteriak-teriak di depannya.”
“Penggemar? Lagi-lagi penggemar?!”
Dada Peng Ying naik turun hebat menahan amarah. Ia benar-benar tak paham. Buku apa yang ditulis Lin Qian hingga membuat wanita-wanita ini tergila-gila? Padahal baginya, Lin Qian hanyalah manusia biasa tanpa kekuatan.
Namun ia segera menyadari satu hal yang sedikit melegakan hatinya—kedua wanita ini sama sekali tidak memancarkan aura kultivasi. Mereka hanya wanita biasa, vas hiasan yang rapuh.
“Bagus, bagus sekali...” Peng Ying tertawa mengerikan. “Kalian berdua mau membela semut ini? Hari ini, di tempat ini, aku akan membuat kalian mengerti perbedaan langit dan bumi antara kita.”
Tekanan auranya semakin kuat, membuat udara di sekitar menjadi berat dan menakutkan. Kerumunan yang melihat situasi itu saling berbisik, merasa iba pada Han Yuner dan Yao Linger.
Peng Ying merasa sangat puas. Ia menikmati tatapan takut dari orang-orang di sekitar, menikmati rasa superioritas sebagai orang yang memiliki kekuatan sejati. Inilah status yang seharusnya ia miliki—berbeda jauh dengan Lin Qian yang hanya bisa berdiri terpaku.
Perlahan, ia menoleh ke arah Han Yuner yang gemetar ketakutan.
“Tadi kau sangat berani saat menamparku, bukan?” ucap Peng Ying dengan nada merendah. “Sekarang? Kenapa wajahmu pucat begitu? Berlututlah, minta maaf padaku sekarang, dan mungkin aku akan membiarkanmu hidup.”
Han Yuner menggeleng lemah, air mata mulai menggenang. Ia tak sanggup berbicara.
“Tak mau? Baiklah.”
Peng Ying mengayunkan pedangnya mengarah ke Han Yuner yang sudah jatuh terduduk karena ketakutan. Belum sempat pedang itu menyentuh kulitnya, wanita itu sudah berteriak ketakutan.
Bagi Peng Ying, pemandangan ini sangat nikmat. Ia merasa sedang berada di puncak kejayaannya.
Namun kesenangan itu hanya berlangsung sesaat.
Perlahan, ia memutar kepalanya ke arah Yao Linger dengan sorot mata yang lebih dingin dan berniat buruk.
“Dan kau...” desisnya pelan. “Tamparan darimu tadi adalah yang paling sakit. Aku akan memastikan kau membayarnya seribu kali lipat.”
Tekanan penuh niat membunuh kini dipusatkannya sepenuhnya ke arah Yao Linger—berniat mempermalukan dan menghancurkan wanita itu habis-habisan di hadapan semua orang, serta di hadapan Lin Qian yang tampak diam tak berdaya.
Namun di antara kerumunan yang mundur ketakutan itu, tidak ada yang memperhatikan satu hal kecil—Lin Qian, yang sejak tadi berdiri dengan tangan di punggung dan ekspresi datar, perlahan menghela napas panjang.
Seperti seseorang yang baru saja memutuskan untuk mengusir lalat yang sudah terlalu lama mengganggu.