NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Kasus Pertama

Map Santi Setiawan terasa ringan di tangan Surya. Namun, isinya membuat dadanya mengeras.

Foto pesan mesra. Bukti transfer. Tangkapan layar reservasi hotel. Daftar aset rumah tangga yang tiba-tiba dipindahkan ke nama saudara suami. Polanya terlalu akrab. Bukan karena Heri, suami Santi, sama dengan Nadia. Tetapi karena orang licik selalu punya kebiasaan yang mirip: mereka menyembunyikan dosa di balik dokumen.

Pagi berikutnya, Santi datang ke Sentana bersama seorang perempuan berkacamata gelap.

Perempuan itu melepas kacamata ketika masuk ruang konsultasi. Wajahnya tenang, kulitnya terang, rambutnya jatuh rapi di bahu. Ia tidak memperkenalkan diri dengan tergesa-gesa. Ia hanya menatap ruangan seperti orang yang sudah tahu siapa pemilik sebenarnya dari setiap kursi.

Surya mengenali rasa itu sebelum mengenali wajahnya.

Aroma mahal yang pernah lewat bersama Maserati perak.

"Irene Tanuwijaya," kata perempuan itu, menjabat tangan Arief lebih dulu. "Saya sepupu Santi."

Nama Tanuwijaya membuat Surya menahan napas sepersekian detik.

Kevin. Budiman. Perkasa.

Dan sekarang Irene.

Irene menoleh kepadanya. Matanya berhenti sedikit lebih lama daripada sopan santun biasa.

"Kita pernah bertemu?" tanyanya.

Surya hampir menjawab tentang Maserati, tentang uang dua juta, tentang kalimat aneh di malam itu.

Tetapi ia memilih menunduk sopan.

"Mungkin hanya berpapasan, Bu."

Senyum Irene sangat tipis. "Mungkin."

Santi duduk dengan tangan gemetar. Usianya sekitar tiga puluhan, wajahnya pucat karena kurang tidur. Ia bukan wanita lemah. Dari cara ia merapikan map, Surya bisa melihat kebiasaan orang kantor yang teliti. Tetapi pengkhianatan rumah tangga punya cara membuat orang paling rapi pun terlihat seperti kertas diremas.

"Saya ingin cerai," kata Santi. "Heri selingkuh. Tapi yang lebih penting, dia mulai memindahkan aset. Rumah di BSD diagunkan tanpa izin saya. Rekening bersama dikosongkan. Saya takut besok anak saya tidak punya apa-apa."

Arief mengangguk. "Kami bisa mewakili Ibu Santi. Kuasa hukum ditandatangani kepada advokat kantor, bukan kepada Surya. Dia masih magang. Namun, akan membantu menyusun kronologi dan analisis bukti."

Santi menatap Surya.

Irene juga menatapnya.

Surya membuka buku catatan. "Ibu Santi, saya perlu tanggal pertama Ibu mencurigai perselingkuhan, tanggal transaksi aset, dan semua nama pihak yang menerima pemindahan dana. Jangan beri kesimpulan dulu. Beri fakta."

Santi berkedip.

"Fakta?"

"Ya. Di pengadilan, rasa sakit membuat orang mendengar. Fakta membuat orang bergerak."

Irene menahan senyum.

Dua jam berikutnya, ruang konsultasi dipenuhi tanggal, nomor rekening, nama notaris, dan jejak hotel. Surya menulis cepat. Arief sesekali mengoreksi istilah hukum. Pada akhir sesi, mereka punya tiga jalur: gugatan cerai, permohonan penetapan nafkah anak sementara, dan langkah perdata untuk membekukan aset yang patut diduga dipindahkan untuk merugikan Santi.

Namun satu bagian membuat Surya berhenti.

Nama Heri pernah muncul di berkas kecil Wulan sebagai kontak kendaraan dalam rantai Benny.

Surya keluar sebentar dan menelepon Wulan Sari.

"Mbak Wulan, saya butuh cek cepat. Nama Heri Setiawan. Mobil hitam, kemungkinan Fortuner atau Pajero. Fokus pada pertemuan tiga hari terakhir."

Wulan tidak banyak bertanya. "Legal atau gelap?"

"Legal. Pantau dari ruang publik. Tidak masuk properti pribadi."

"Paham."

Sore itu, Nana mengirim foto pertama. Heri keluar dari restoran di Kelapa Gading bersama seorang perempuan muda. Foto kedua menunjukkan Heri menyerahkan amplop kepada pria bertopi. Foto ketiga membuat darah Surya naik ke kepala.

Pria bertopi itu melepas masker saat masuk mobil.

Benny Halim.

Nama itu masih membawa bau brankas Mega Awan, kartu ATM palsu, dan api yang membakar Alphard.

Surya langsung menghubungi Meilu.

"Bu AKP. Benny Halim terlihat bersama Heri Setiawan. Lokasi Kelapa Gading, diduga berkaitan dengan pemindahan uang atau aset."

Suara Meilu di seberang berubah tajam. "Jangan dekati."

Surya melihat foto itu lagi.

Benny berdiri di samping mobil Heri dengan map hitam di tangan. Di belakangnya ada ruko jasa pengiriman dokumen.

"Saya hanya memastikan dia tidak hilang."

"Surya."

Nada itu bukan permintaan.

Tetapi Surya sudah berjalan ke parkiran.

Ia tidak datang sendiri. Wulan dan Lili sudah lebih dulu memantau dari warung kopi seberang ruko. Nana memberi posisi dari motor ojek online yang pura-pura menunggu pesanan. Semua masih dalam batas ruang publik.

Benny keluar dua puluh menit kemudian.

Begitu melihat Surya, wajahnya berubah seperti orang melihat utang yang bangkit dari kubur.

"Lu lagi?"

"Map itu punya siapa?" tanya Surya.

Benny mundur. "Bukan urusan lu."

"Kalau isinya dokumen palsu atas nama saya lagi, itu urusan saya."

Benny menabrakkan bahunya dan mencoba lari ke gang samping. Surya mengejar. Lili berteriak memperingatkan pejalan kaki. Wulan menahan pintu motor yang hampir dipakai Benny untuk kabur.

Benny berbalik dan mengayunkan map keras ke wajah Surya.

Tepi map menghantam pipi Surya.

Rasa panas meledak.

Surya menangkap kerah Benny dan membantingnya ke dinding ruko.

"Dulu lu pakai nama gue untuk perusahaan sampah," Surya menggeram. "Sekarang mau jual dokumen siapa lagi?"

Benny memaki dan mencoba menendang.

Surya memukul perutnya sekali. Benny terlipat. Pukulan kedua berhenti di udara ketika suara sirene pendek terdengar.

"Cukup!"

Meilu turun dari mobil bersama dua anggota. Ia berjalan cepat, wajahnya dingin.

"Lepaskan."

Surya melepas kerah Benny.

Benny langsung menunjuk. "Dia mukul saya!"

Meilu mengambil map hitam yang jatuh, membukanya dengan sarung tangan, lalu menunjukkan beberapa lembar fotokopi KTP, surat kuasa aset, dan draf pengalihan rekening.

"Dan kamu membawa dokumen yang sangat menarik."

Warna wajah Benny hilang.

Meilu menatap Surya. "Kamu ikut membuat berita acara sebagai saksi. Setelah itu pulang. Tidak ada aksi sendiri lagi."

Surya menyeka darah kecil di sudut bibir. "Baik, Bu AKP."

Malam itu, dokumen Benny menjadi petunjuk tambahan untuk perkara Santi. Sebagian belum bisa dipakai langsung di sidang cerai, tetapi cukup untuk menunjukkan pola upaya pengalihan aset dan membuka jalan permohonan perlindungan terhadap harta bersama.

Dua minggu berikutnya berjalan seperti pisau diasah.

Surya menyusun kronologi. Arief menandatangani gugatan. Santi memberi keterangan tanpa menangis. Irene hadir di belakang ruang sidang, diam seperti bayangan mahal yang membuat pihak lawan gelisah. Wulan memberi laporan resmi yang bisa dipertanggungjawabkan. Meilu memisahkan unsur pidana Benny dari perkara keluarga agar tidak merusak prosedur.

Di persidangan, pengacara Heri mencoba menyerang Santi sebagai istri emosional.

Arief berdiri tenang. "Yang Mulia, emosi bukan dasar gugatan kami. Ini dasar kami."

Ia menyerahkan tabel yang disusun Surya: tanggal, transaksi, penerima dana, bukti reservasi, dan perubahan aset.

Hakim membaca cukup lama.

Heri yang semula duduk angkuh mulai menunduk.

Putusan sela mengabulkan perlindungan sementara atas beberapa aset dan memerintahkan nafkah anak berjalan. Setelah itu, Heri tidak lagi datang dengan dagu tinggi. Beberapa sidang berikutnya berubah menjadi jalan menurun bagi pihaknya. Bukti hotel tidak bisa dibantah. Aliran dana terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Pengalihan aset yang disiapkan Benny membuat hakim memandang Heri Sebagai pihak yang sengaja merugikan keluarganya sendiri.

Pada hari putusan, majelis mengabulkan gugatan cerai Santi, menetapkan kewajiban nafkah anak, dan memerintahkan perlindungan atas harta bersama sampai pembagian diselesaikan melalui jalur yang sah.

Bagi klien yang masuk dengan tangan gemetar, itu bukan lagi sekadar kemenangan pertama.

Itu pintu keluar.

Di luar ruang sidang, Santi menangis sambil memegang tangan Surya.

"Terima kasih. Saya merasa akhirnya ada yang melihat saya sebagai manusia, bukan istri yang harus diam."

Surya menunduk. "Terima kasihnya untuk Mas Arief. Saya hanya membantu menyusun fakta."

Arief dari belakang berkata, "Fakta yang menyelamatkan orang tetap fakta yang penting."

Irene berdiri beberapa langkah dari mereka. Untuk pertama kalinya, senyumnya terlihat jelas.

"Pak Surya," katanya.

Surya menoleh.

"Anda bekerja seperti orang yang pernah dikubur hidup-hidup, lalu belajar membaca tanah."

Kalimat itu terlalu aneh untuk pujian biasa.

Surya belum sempat menjawab, Irene sudah berjalan menuju lift.

Pintu lift hampir menutup ketika ia mengangkat ponsel, memotret Surya yang sedang kembali menunduk di atas berkas Santi.

Di dalam lift, Irene membuka aplikasi pesan dengan ikon terkunci.

Ia mengirim foto itu ke sebuah grup terenkripsi.

Pesannya hanya satu kalimat.

Dia sudah mulai berdiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!