NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Tarik nafas dalam-dalam Nona, lalu hembuskan dengan kuat dari mulut," perintah Bima tanpa membuka matanya sama sekali.

​Clara menurut patuh dan menarik nafas panjang memenuhi rongga paru-parunya.

​Huuuuk.

​Clara menghembuskan nafasnya dan seketika segumpal darah hitam berbau anyir keluar dari mulutnya, menetes ke atas handuk putih yang sudah disiapkan Bima di pangkuannya.

​Bima membuka matanya dan mencabut keempat jarum perak itu dalam sekali tarikan cepat yang tidak menyakitkan.

​Sret.

​"Selesai, akar utama Racun Es Seribu Tahun di saluran nafas Anda sudah hancur dan keluar sepenuhnya hari ini."

​Bima mengelap sisa keringat di dahinya menggunakan lengan baju sambil tersenyum lega melihat hasil kerjanya.

​Clara mengatur nafasnya yang terengah-engah lalu perlahan menaikkan kembali kerah gaunnya menutupi bahunya.

​Rasa sesak dan berat yang selama bertahun-tahun mengganjal di dadanya kini benar-benar lenyap sama sekali tak bersisa.

​"Aku bisa bernafas dengan sangat lega sekarang, udara terasa jauh lebih segar, terima kasih banyak Bima."

​Clara menatap Bima dengan pandangan yang dipenuhi oleh rasa syukur dan kekaguman yang tulus dari lubuk hatinya.

​Bima hanya mengangguk pelan lalu mulai mengemasi peralatan akupunktur ke dalam kotak kayunya.

​Namun setelah semua rapi, Bima kembali menatap Clara dengan raut wajah yang berubah menjadi sangat serius dan tegang.

​"Kesehatan Anda memang sudah jauh membaik Nona, tapi kita masih punya satu masalah besar yang belum diselesaikan."

​Clara mengerutkan keningnya, merasa kebingungan dengan ucapan Bima yang tiba-tiba mengubah suasana.

​"Masalah apa lagi yang kau maksud? Bukankah kau baru saja bilang akar racunnya sudah hancur?"

​"Racun di tubuh Anda memang sudah hancur, tapi kita belum menemukan dari mana asal usul racun itu bisa masuk ke dalam rumah ketat ini."

​Bima berdiri lalu berjalan perlahan mendekati meja rias Clara yang dipenuhi oleh puluhan botol parfum dan kosmetik impor mahal.

​"Racun Es Seribu Tahun tidak bisa bereaksi mematikan jika hanya dicampurkan lewat makanan atau minuman dalam satu kali percobaan."

​"Racun ini memiliki karakteristik khusus, dia harus dihirup atau dioleskan sedikit demi sedikit secara rutin setiap hari selama berbulan-bulan lamanya."

​Mata Clara terbelalak sangat kaget mendengar penjelasan medis yang sangat mengerikan dan terencana tersebut.

​"Maksudmu, ada barang di dalam kamar pribadiku ini yang sengaja mengandung racun mematikan itu?"

​"Benar sekali Nona, dan barang itu pasti sesuatu yang selalu Anda gunakan setiap hari tanpa menaruh curiga sedikit pun padanya."

​Bima mulai mengendus satu per satu botol parfum dan botol losion yang berjajar rapi di atas meja rias tersebut.

​Hidung Bima yang sudah terlatih sejak kecil untuk membedakan ribuan jenis tanaman herbal dengan mudah menyeleksi aroma-aroma kimia tersebut.

​Sreng.

​Bima tiba-tiba menghentikan pergerakan tangannya saat dia memegang sebuah kotak bedak tabur berwarna emas yang terlihat sangat mewah.

​Dia membuka penutup kotak bedak itu lalu mendekatkan bubuknya ke depan hidungnya yang mancung.

​"Bingo, sepertinya aku sudah menemukan pelakunya."

​Bima berbalik arah lalu menyodorkan kotak bedak emas itu ke hadapan Clara yang masih duduk di ranjang.

​"Benda kosmetik ini telah dicampur dengan bubuk bunga es kematian yang merupakan bahan dasar pembentuk Racun Es Seribu Tahun."

​Wajah Clara seketika menjadi pucat pasi dan darah di tubuhnya serasa berhenti mengalir saat menatap kotak bedak mahal tersebut.

​"I-itu tidak mungkin Bima, bedak tabur itu adalah hadiah ulang tahun spesial dari Tante Vina untukku tahun lalu."

​"Aku selalu rutin memakainya setiap hari karena Tante Vina bilang bedak itu diracik khusus untuk menjaga kulitku tetap putih."

​Air mata mulai menggenang di pelupuk mata gadis cantik itu menyadari kenyataan pahit yang baru saja terungkap di depan matanya.

​Ternyata orang yang selama ini mencoba membunuhnya secara perlahan dan menyiksanya adalah bibi kandungnya sendiri.

​Bima menaruh kotak bedak itu kembali ke atas meja rias dengan wajah datar tanpa simpati berlebihan.

​"Uang, kekuasaan, dan harta warisan memang selalu bisa merubah manusia biasa menjadi iblis yang paling kejam, Nona."

​"Sepertinya Tante Anda sudah merencanakan semua skema pembunuhan ini dengan sangat matang untuk menguasai harta keluarga Herman sendirian."

​Clara menundukkan kepalanya dalam-dalam dan mulai menangis sesenggukan membasahi selimutnya.

​Rasa sakit dan hancur karena dikhianati oleh keluarga sendiri ternyata jauh lebih perih daripada sakit karena racun yang menggerogoti fisiknya.

​Bima yang sama sekali tidak terbiasa melihat wanita menangis hanya bisa menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.

​Dia berjalan mendekat perlahan lalu menepuk pundak Clara dengan gerakan yang sangat kaku untuk mencoba menenangkannya.

​"Jangan menangis Nona, selama saya masih bernafas dan ada di rumah ini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa melukai Anda lagi."

​Ucapan datar namun penuh kepastian dari mulut Bima itu entah mengapa membuat hati Clara merasa sangat hangat dan terlindungi.

​Gadis itu mengangkat wajahnya yang dibasahi oleh air mata lalu menatap Bima dalam-dalam mencari kebohongan, tapi dia tidak menemukannya.

​"Kau berjanji akan terus melindungiku dari Tante Vina dan orang jahat lainnya, Bima?"

​"Saya ini seorang tabib, pantang bagi saya meninggalkan pasien yang keselamatan nyawanya masih terancam oleh bahaya dari luar."

​Jawaban Bima memang sama sekali tidak romantis, tapi bagi telinga Clara itu adalah kata-kata paling menenangkan yang pernah dia dengar.

​Namun suasana haru itu tidak bertahan lama karena telinga tajam Bima mendadak menangkap sesuatu yang ganjil.

​Tap tap tap.

​Suara langkah kaki itu sangat ringan, hampir menyerupai langkah seekor kucing liar di atas genteng, tapi Bima tahu pasti itu adalah langkah manusia.

​Seseorang dengan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi sedang berjalan mengendap-endap tepat di atas atap kamar Clara.

​"Sepertinya iblis yang baru saja kita bicarakan tidak sabar ingin segera mengirimkan malaikat mautnya hari ini juga."

​Bima bergumam pelan dengan nada dingin sambil menatap tajam ke arah langit-langit kamar mewah tersebut.

​Clara yang masih terisak langsung menghentikan tangisannya dan menatap Bima dengan raut wajah kebingungan sekaligus ketakutan.

​"Ada apa Bima? Siapa yang kau sebut iblis dan malaikat maut?"

​"Nona Clara, tolong tetap duduk diam di atas ranjang dan jangan mengeluarkan suara sedikit pun dari mulut Anda."

​Bima berjalan dengan langkah tanpa suara menuju dinding dan langsung menekan saklar lampu utama.

​Klik.

​Kamar mewah itu seketika menjadi gelap gulita dan hanya diterangi oleh cahaya rembulan dari balik tirai jendela kaca.

​Suasana romantis yang baru saja tercipta kini berubah drastis menjadi ketegangan hidup dan mati yang sangat mencekam.

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!