Waktu bisa mengubah segalanya. Termasuk hatiku, karena sering kau abaikan. Kini kau menyesal pun tidak ada artinya.
Pintar dan cantik tidak menjamin untuk kita di cintai, inilah kisah ku yang selalu di rendahkan, begitu banyak kebaikan pun tidak ada artinya dimata mereka. Dan lamanya waktu aku bersama mereka tidak bisa mengubah rasa bencinya kepadaku. Akankah Clara bertahan, atau ia menyerah dan memilih jalan lain.
Menulis apa yang ingin di tulis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri Diandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau terlalu berharga untuk di sakiti.
Tinggalkanlah orang yang sering menyakitimu. Walaupun kau begitu suka padanya. Karena hidupmu terlalu berharga dan kau tidak pantas untuk di sakiti.
Ardi -
Ardi melayangkan kepalan tangannya ke udara. Sebagai ungkapan kekesalannya kepada sang kakak. Rasa simpatinya kepada Clara berubah menjadi rasa suka. Tentu ia sudah menampik rasa sukanya dari lama. Tapi semakin hari ia tidak bisa membendung rasa sukanya. Clara adalah seorang wanita yang sempurna di mata Ardi. Ingin rasanya ia mengajak Clara pergi jauh dari keluarga nya.
"Kau terlalu berharga untuk di sakiti kakak ku mbak." Ucap Ardi yang suaranya hanya terdengar olehnya sendiri.
Dimas berjalan cepat menuju kamarnya. Perkataan Ardi sungguh menyulut emosinya. Bagaimana mungkin adiknya menyukai Clara. Apakah Clara pernah menggoda adiknya? Timbul pertanyaan bodoh yang terbesit di kepala Dimas.
Brak... Dimas membuka pintu dengan kasar. Clara yang sedang merebahkan tubuhnya di ranjang, seketika terbangun.
"Clara apa maksud ucapan Ardi tadi? ada hubungan apa kau dengan Ardi?" Mas Dimas berteriak tepat di depan wajah ku.
Aku pejamkan mataku dan spontan aku palingan wajahku ke samping kiri. Ada apa lagi ini? kenapa Mas Dimas tiba-tiba marah lagi. Tidak biasanya ia marah seperti ini.
" Clara ada hubungan apa kau dengan adikku? jawab aku Clara!" Apa aku tidak salah dengar, dengan Ardi? ujian apa lagi ini Tuhan. Apakah suamiku menuduh ku berselingkuh dengan adik nya. Aku bahkan bisa berselingkuh dengan pria yang lebih dari Mas Dimas, kenapa ia harus menuduhku dengan adiknya sendiri.
" Tentu saja hubungan adik ipar dan kakak ipar mas, kau pikir aku wanita gampangan yang merayu semua pria, dan tadi kau bilang dengan adikmu, yang benar saja. Kau adalah orang yang tahu betul siapa diriku sebenarnya. Belum cukupkah sakit hati yang aku terima selama ini mas? dan sekarang kau menuduhku ada hubungan dengan adikmu?"
Ku pijat dengan pelan kepalaku yang sakit, dan rasa mual dalam perut ku karena belum makan dari tadi, di tambah tuduhan suamiku semakin membuat hati dan ragaku remuk redam. Buat apa rumah tangga di pertahankan kalau tidak ada rasa saling percaya. Aku akan segera mengurus surat perceraian. Maafkan aku atas keputusan ini Tuhan? tapi aku sungguh tidak sanggup lagi hidup bersama suamiku. Lagi-lagi air mata ku jatuh tanpa permisi.
"Clara maafkan aku? tadi aku terlalu emosi dan terpengaruh omongan Ardi." Mas Dimas memelukku dengan erat. Aku tidak membalas pelukan Mas Dimas. Hanya air mataku yang mengalir semakin deras.
"Clara maafkan aku?" permintaan maaf mas Dimas ku hiraukan. Aku melepaskan pelukannya dari tubuhku. Dan aku kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhku.
"Baiklah, kau tidur saja aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Mas Dimas berlalu pergi meninggalkan aku sendiri di dalam kamar.
Pagi ini aku sengaja berangkat pagi-pagi sekali ke kantor. Aku yang jarang sekali berangkat pagi, hari ini berangkat pagi karena sengaja menghindari suamiku dan keluarganya. Aku juga belum bicara dengan mas Dimas dari tadi malam. Pakaian kerjanya tidak aku siapkan dan aku juga tidak menyiapkan teh hangat ataupun kopi untuknya. Biarlah aku di sebut istri yang tidak perduli dengan suami.
"Clara... kau sudah berangkat? tumben sekali. Biasanya ada meeting saja kau selalu telat ini tidak ada meeting pagi tapi kau berangkat pagi sekali." Suara yang menggelar ini, siapa lagi kalau bukan Meli. Teman kantor sekaligus sahabatku.
"Aku capek Mel, aku ingin tidur. Tahukah kau jenis racun yang bagus untuk ku minum?" Ucapku dengan nada yang sangat lesu.
Plak... Ia pukul lenganku dengan sangat keras. "Dasar kau ini, kenapa kau tanya racun padaku?"
"Eh... bukan racun, obat tidur maksudku." Aku tertawa tanpa dosa menanggapi ucapan sahabat ku tersebut.
Catatan author : Terimakasih telah menyempatkan diri membaca karyaku, jangan lupa like dan komen ya 🙏
apakah km. benar2 masih menyukai Clara 😤