Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Badai Hitam di Gerbang Suci (Part 3)
Udara di puncak Puncak Awan Putih kini terasa begitu berat hingga oksigen seolah menghilang, digantikan oleh aroma belerang dan besi dari darah yang mengalir deras. Saat ratusan murid mulai mundur dalam ketakutan, tujuh pilar cahaya putih turun dari puncak tertinggi, mendarat dengan dentuman yang memecah lantai batu yang sudah menghitam.
Mereka adalah Tujuh Tetua Pedang Suci, para pendekar Ranah Jiwa sejati tahap puncak yang telah bermeditasi selama puluhan tahun. Masing-masing dari mereka memegang pedang dengan warna yang berbeda, melambangkan tujuh hukum alam.
"Cukup, Iblis Muda!" Tetua pemimpin, seorang pria tua dengan jenggot panjang yang berkibar, menunjuk Chen Kai dengan pedang emasnya. "Kau telah menodai tempat suci ini dengan darah murid-murid kami. Hari ini, jiwamu akan disegel di bawah Pagoda Penekan Iblis selamanya!"
Chen Kai menyeka darah yang menciprat ke pipinya dengan punggung tangan. Matanya yang hitam pekat tidak menunjukkan sedikit pun rasa hormat. "Pagoda? Aku sudah menghancurkan nerakaku sendiri tujuh tahun lalu. Kalian pikir bangunan tua itu bisa menahanku?"
"Jangan sombong!" Tetua kedua berteriak. "Saudara-saudaraku, bentuk Formasi Bintang Tujuh Penakluk Iblis!"
Ketujuh tetua itu bergerak dalam sinkronisasi yang sempurna. Mereka membentuk formasi lingkaran dengan Chen Kai di titik pusatnya. Seketika, sebuah kubah energi transparan setinggi lima puluh meter mengurung mereka. Di dalam kubah itu, gravitasi meningkat seratus kali lipat, mencoba memaksa Chen Kai untuk berlutut.
KRETAK!
Tulang-tulang Chen Kai berderak di bawah tekanan gravitasi yang luar biasa. Lantai batu di bawah kakinya hancur, membuat kakinya terbenam hingga mata kaki. Namun, bukannya berteriak kesakitan, Chen Kai justru menyeringai—sebuah seringai yang memperlihatkan taring kristal hitam yang mulai tumbuh di gusinya.
"Hanya segini kekuatan 'kebenaran' kalian?" Chen Kai menancapkan Pedang Iblis Keruntuhan ke tanah. "Biarkan aku menunjukkan kepada kalian... bagaimana rasanya beratnya dendam."
"Seni Iblis Terlarang: Kebangkitan Akar Neraka!"
Tiba-tiba, dari dalam bayangan Chen Kai, muncul akar-akar kristal hitam yang berduri. Akar-akar ini tidak hanya melawan gravitasi, tetapi tumbuh dengan liar dan menghantam dinding formasi Bintang Tujuh.
DUAR! DUAR! DUAR!
Setiap benturan menciptakan riak energi yang membuat para tetua tersebut gemetar. Chen Kai mulai berjalan, meski gravitasi masih menindihnya. Setiap langkahnya meninggalkan jejak retakan yang dalam.
"Dia... dia berjalan di bawah tekanan Bintang Tujuh?!" Tetua pemimpin membelalak. "Gunakan Serangan Jiwa! Hancurkan kesadarannya!"
Ketujuh tetua itu memejamkan mata, memusatkan kekuatan mental mereka menjadi satu serangan gelombang kejut jiwa yang berwarna perak. Serangan ini tidak melukai fisik, melainkan langsung menyerang pusat kesadaran untuk menghancurkan kewarasan lawan.
Gelombang perak itu menghantam Chen Kai. Untuk sesaat, pemuda itu terhenti. Di dalam pikirannya, ia melihat bayangan Lin Xia yang menangis, bayangan orang tuanya yang tersenyum, dan kenangan masa kecil yang hangat.
"Kai... kembalilah..." suara ilusi Lin Xia bergema.
Mata hitam Chen Kai bergetar. Warna biru sempat muncul sesaat. Namun, di tengah cahaya itu, muncul bayangan Chen Xo yang tertawa di atas tumpukan mayat klannya.
"TIDAK!" raung Chen Kai. "Kebahagiaan itu palsu! Hanya rasa sakit ini yang nyata!"
Aura hitam meledak dari tubuh Chen Kai, menghancurkan serangan jiwa para tetua tersebut. Ledakan itu begitu kuat hingga kubah formasi itu retak berkeping-keping.
Chen Kai melesat seperti peluru hitam. Ia muncul di hadapan Tetua ketujuh—yang termuda di antara mereka. Sebelum sang tetua sempat mengangkat pedangnya, Chen Kai mencengkeram wajah pria itu dengan telapak tangan yang dilapisi duri kristal.
"Ledakan Esensi Hitam!"
BOOM!
Kepala sang tetua meledak menjadi serpihan es hitam dan debu. Darahnya tidak sempat menyemprot; semuanya langsung membeku dalam suhu nol mutlak yang dihasilkan oleh kekuatan baru Chen Kai.
"Satu," ucap Chen Kai dingin, sambil membiarkan mayat tanpa kepala itu jatuh ke tanah.
Enam tetua lainnya tertegun dalam horor yang tak terlukiskan. Mereka adalah pilar dunia persilatan, namun di depan pemuda ini, mereka merasa seperti domba di depan serigala yang kelaparan.
"Iblis! Kau benar-benar sudah tidak memiliki hati!" teriak Tetua pemimpin dengan suara bergetar.
"Hati?" Chen Kai menatap telapak tangannya yang berlumuran darah beku. "Hati adalah kelemahan yang sudah kubuang di reruntuhan klanku. Sekarang, siapa di antara kalian yang ingin menyusul saudara kalian ke neraka?"
Chen Kai mengangkat pedangnya ke langit. Awan hitam di atas puncak gunung mulai membentuk pusaran raksasa, seolah alam semesta sendiri ketakutan akan apa yang akan dilakukan oleh Iblis Kristal Hitam selanjutnya.