NovelToon NovelToon
BANDHANA

BANDHANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Beatt

Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Flashback - 28 tahun yang lalu

Anindita berusia lima tahun ketika dunianya berubah. Hari itu, ayahnya—Aditya Paramitha, CEO Paramitha Corp—pulang dengan seorang wanita cantik dan seorang anak perempuan kecil.

"Dita sayang, ini Tante Taruni. Dan ini Savitha, adik barumu," kata ayahnya dengan senyum lebar.

Taruni Anindya—wanita itu cantik. Sangat cantik. Rambut panjangnya hitam berkilau, kulitnya putih mulus, senyumnya manis. Tapi ada yang aneh di matanya. Sesuatu yang bahkan anak sekecil Anindita bisa rasakan. Sesuatu yang... dingin.

Savitha bersembunyi di balik ibunya, mengintip Anindita dengan mata besar yang takut. Dia lebih muda dua tahun dari Anindita, kecil dan kurus.

"Hai Savitha," Anindita mengulurkan tangannya dengan senyum polos. "Ayo jadi teman!"

Pernikahan ayahnya dengan Taruni berlangsung sederhana tapi elegan. Anindita, yang masih polos, senang punya ibu dan adik baru. Ibunya yang sebenarnya meninggal saat melahirkannya—hal yang selalu membuatnya merasa bersalah walau kakeknya selalu bilang itu bukan salahnya.

Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama.

Setahun kemudian, di tengah malam, Anindita terbangun oleh suara keras. Teriakan. Tangisan. Gaduh. Dia berlari keluar kamar, dan pemandangan yang dia lihat mengubah hidupnya selamanya.

Ayahnya tergeletak di lantai, darah mengalir dari kepalanya. Taruni berdiri di sampingnya dengan wajah pucat, Savitha menangis histeris di sudut ruangan.

"PAPA!" Anindita berlari, tapi kakeknya—Darma Paramitha—menahan tubuh kecilnya, memeluknya erat, menutup matanya dari pemandangan mengerikan itu.

Ambulans datang. Polisi datang. Semuanya menjadi blur.

Dan saat itu, di rumah sakit, dengan tubuh lemah dan nafas yang hampir habis, ayahnya menarik tangan kecil Anindita. Matanya berkaca-kaca, bibirnya gemetar.

"Putriku... Anindita Paramitha..." Suaranya serak, sekarat. "Dengarkan Papa baik-baik. Jangan pernah... jangan pernah mencari Mama Taruni dan adikmu Savitha. Mereka akan menyakitimu."

"Papa kenapa?" Anindita menangis, tidak mengerti. "Papa jangan pergi!"

"Sembunyikan identitasmu..." Nafasnya memburu. "Sampai kamu menjadi pewaris Paramitha yang sah. Dan ingat... jangan percaya siapapun. Jangan percaya..."

Napas terakhirnya keluar. Monitor jantung berbunyi panjang—bunyi yang akan menghantui Anindita selamanya.

"PAPAAAA!"

Kakeknya memeluknya erat, keduanya menangis tersedu-sedu. Aditya Paramitha meninggal di usia 37 tahun, meninggalkan putri kecil yang bahkan belum mengerti arti kehilangan.

Taruni dan Savitha menghilang malam itu juga. Tidak ada jejak. Polisi mencari tapi tidak menemukan apa-apa. Bukti tidak cukup untuk menyeret Taruni ke pengadilan. Kasus ditutup sebagai 'kecelakaan'.

Tapi Anindita dan kakeknya tahu—itu bukan kecelakaan.

...****************...

Flashback - 16 tahun yang lalu

Anindita berusia 17 tahun ketika dia resmi diumumkan sebagai pewaris tunggal Paramitha Corp. Upacara pengumuman diadakan megah di ballroom hotel bintang lima, dihadiri ratusan tamu undangan dari kalangan elite bisnis Indonesia.

Di atas panggung, mengenakan dress putih elegan, Anindita berdiri dengan anggun—jauh berbeda dari gadis kecil yang menangis saat berusia 6 tahun waktu itu. Dia sudah dewasa, cantik, cerdas dan kuat. Kakeknya melatihnya dengan keras, mempersiapkannya untuk memimpin kerajaan bisnis senilai ratusan triliun rupiah.

"Saya, Anindita Paramitha, dengan ini berjanji akan memimpin Paramitha Corp dengan integritas dan dedikasi, melanjutkan warisan almarhum ayah saya."

Tepuk tangan riuh rendah memenuhi ruangan.

Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama.

Dua hari kemudian, seorang wanita datang menghadang di lobby Paramitha Corp. Wanita yang sudah lama tidak Anindita lihat, tapi wajahnya tidak pernah dia lupakan.

Taruni Anindya. Ibu tirinya.

Wanita itu sudah tidak secantik dulu. Wajahnya keriput, rambutnya kusam, pakaiannya murahan. Di belakangnya, berdiri seorang gadis remaja berusia 15 tahun—kurus, pucat, menunduk dalam.

Savitha.

"Anindita!" Taruni berteriak di tengah lobby, menarik perhatian semua orang. "Kamu tidak bisa seperti ini! Aku adalah istri sah Aditya Paramitha! Aku punya hak atas harta ini!"

Security mencoba mengusir, tapi Taruni memberontak.

"Savitha adalah anak kandung dari Aditya Paramitha! Anak darah daging Paramitha! Berikan haknya! Berikan uang kami!"

Anindita berdiri di tangga lobby, menatap dari atas dengan wajah dingin—wajah yang sudah dia latih selama bertahun-tahun. Tapi di balik topeng dingin itu, hatinya berteriak. Amarah. Benci. Sakit.

Wanita ini... wanita ini membunuh Papa.

Tapi tidak ada bukti. Tidak pernah ada bukti.

Anindita turun tangga perlahan, setiap langkahnya penuh kewibawaan. Lobby menjadi hening. Semua mata tertuju padanya.

Dia berhenti tepat di hadapan Taruni, menatapnya dengan tatapan yang membuat wanita itu mundur selangkah.

"Aku hanya akan menganggap Savitha sebagai keluarga Paramitha." Suara Anindita bergema di lobby. "Dia tidak bersalah. Tapi kau, Nyonya Taruni Anindya—kau tidak memiliki hak apapun terhadap harta Paramitha. Tidak sepeser pun."

"Tapi aku istri sah—"

"Kau istri yang meninggalkan suamimu di saat sekarat!" potong Anindita tajam. "Kau menghilang setelah 'kecelakaan' itu. Dan sekarang kau datang setelah 11 tahun? Kau pikir aku bodoh?"

Taruni tercekat, wajahnya memerah.

Anindita beralih menatap Savitha—gadis itu masih menunduk, gemetar ketakutan. Hati Anindita melunak. Savitha tidak bersalah. Dia hanya anak yang terjebak dalam permainan ibunya.

"Savitha," panggil Anindita lembut. "Kau boleh tinggal bersamaku. Aku akan merawatmu, menyekolahkanmu, menganggapmu sebagai adikku. Tapi ibumu..." Dia menatap Taruni dengan dingin. "Dia tidak akan pernah mendapat sepeser pun dari keluarga Paramitha."

Security mengawal Taruni keluar dengan paksa, teriakannya bergema di seluruh lobby. Tapi Savitha tetap berdiri di sana, menatap Anindita dengan mata berkaca-kaca.

"Terima kasih, Kak Dita," bisiknya pelan.

Anindita mengulurkan tangannya dan Savitha menyambutnya. Dia memeluk adik tirinya itu—memeluk erat, seperti melindungi, "Aku akan menjagamu, Savitha. Aku berjanji."

Janji yang akan menjadi penyesalan terbesar hidupnya.

...****************...

Flashback - 12 tahun yang lalu

Anindita berusia 21 tahun dan hidupnya sempurna. Perusahaan Paramitha Corp berkembang pesat di bawah kepemimpinannya. Savitha kuliah di universitas terbaik dengan beasiswa penuh yang Anindita urus. Dan yang paling penting—dia memiliki Zaverio.

Zaverio Kusuma. Pria yang dia temui secara tidak sengaja di panti asuhan tiga tahun lalu—ya, mereka berdua suka berdonasi ke panti yang sama. Pria yang dingin pada semua orang tapi hangat hanya padanya. Pria yang keras kepala tapi lembut saat memeluknya. Pria yang jarang tersenyum tapi tersenyum setiap kali melihatnya.

Mereka pacaran diam-diam—Zaverio tidak suka publisitas dan Anindita menghormati itu. Hanya kakeknya yang tahu dan kakek sangat menyetujui hubungan mereka.

"Zaverio anak yang baik," kata kakeknya suatu malam. "Keras tapi bertanggung jawab. Dia akan menjaga cucu kakek dengan baik."

Anindita tersenyum bahagia. Dia sudah membayangkan pernikahan mereka, anak-anak mereka, hidup mereka bersama.

Sampai semuanya runtuh dalam satu malam.

Malam itu, Anindita pulang ke mansion Paramitha dan menemukan polisi di mana-mana. Kakeknya duduk di sofa dengan wajah pucat, tangannya gemetar memegang sebuah dokumen.

"Kakek? Ada apa?" Anindita berlari mendekat.

Kakeknya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Dita... Savitha... dia..."

"Savitha kenapa? Dia di mana?"

"Dia kabur. Membawa uang perusahaan. 100 triliun rupiah."

Dunia Anindita runtuh. Tidak. Tidak mungkin. Savitha tidak akan... dia tidak akan...

Tapi bukti-buktinya ada. Transfer ilegal ke rekening luar negeri. Dokumen palsu. Tanda tangan dipalsukan—tanda tangan Anindita sendiri yang dipalsukan dengan sempurna.

Savitha menghilang tanpa jejak, membawa uang perusahaan yang cukup untuk membuat Paramitha Corp bangkrut total.

Anindita tidak tidur selama berhari-hari. Dia tidak makan. Dia hanya duduk di ruang kerjanya, menatap kosong ke dokumen-dokumen, mencoba mencari solusi. Tapi tidak ada. Perusahaan akan bangkrut. Warisan ayahnya akan hancur. Semua yang dia bangun akan musnah.

"Dita..."

Anindita tersentak. Zaverio berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh kekhawatiran. Dia berlari menghampiri, memeluknya erat.

"Kak... aku tidak tahu harus bagaimana..." Anindita menangis di dadanya. "Perusahaan akan hancur... Papa akan kecewa padaku... aku gagal..."

"Tidak." Zaverio mengusap rambutnya lembut. "Kau tidak akan gagal. Aku berjanji—Paramitha Corp tidak akan hancur. Aku akan mengurusnya."

"Bagaimana?" Anindita mendongak, matanya sembab.

Zaverio hanya tersenyum—senyum misterius yang tidak dia mengerti. "Percaya padaku. Berikan aku waktu satu minggu. Perusahaanmu akan selamat."

Dan Zaverio menepati janjinya. Entah bagaimana caranya, dia berhasil menyelamatkan Paramitha Corp. Uang yang hilang tergantikan—mungkin dari dana pribadinya, Anindita tidak tahu. Yang pasti, dalam tujuh hari, perusahaan kembali stabil.

Anindita sangat berbahagia. Dia berencana melamar Zaverio balik—karena kenapa tidak? Dia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan pria yang menyelamatkan segalanya.

Tapi malam itu, ketika dia datang ke apartemen Zaverio dengan cincin di sakunya...

Apartemen itu kosong. Benar-benar kosong. Tidak ada furniture, tidak ada barang, seolah tidak pernah ada yang tinggal di sana.

Di atas meja kosong di tengah ruangan, ada sebuah amplop putih.

Dengan tangan gemetar, Anindita membukanya. Selembar kertas jatuh—tulisan tangan Zaverio yang rapi, tapi kata-katanya menghancurkan.

"Anindita Paramitha,

Hubungan kita sudah berakhir.

Jangan mencari aku. Jangan tunggu aku.

Lupakan aku, dan hiduplah bahagia.

- Zaverio"

Anindita berlutut di lantai apartemen kosong itu, surat itu tergenggam erat di tangannya, tangisannya bergema di ruangan yang dingin dan hampa.

Pria yang dia cintai menghilang. Tanpa penjelasan. Tanpa alasan. Hanya meninggalkan selembar surat yang lebih menyakitkan dari ribuan tusukan pisau.

...****************...

Kembali ke waktu sekarang

Anindita memarkir mobilnya di basement Paramitha Corp, tangannya masih gemetar di kemudi. Kenangan itu selalu menyakitkan, tidak peduli berapa tahun berlalu.

Dia butuh tujuh tahun untuk move on. Tujuh tahun untuk belajar tersenyum lagi. Tujuh tahun untuk membuka hatinya pada pria lain—Hardana Kusuma, pria baik yang menemuinya di panti asuhan yang sama (ironi yang menyakitkan), pria yang sabar menunggunya sembuh dari luka lama.

Mereka menikah di usianya yang ke-28. Pernikahan yang indah, sederhana tapi penuh cinta.

Sampai hari pernikahannya, ketika dia berdiri di altar dengan dress putih yang berkilau, ketika pastor sedang membacakan janji suci... pintu gereja terbuka. Seorang pria masuk—tinggi, gagah, dengan jas hitam sempurna.

Zaverio Kusuma.

Anindita merasa dunia berhenti berputar. Jantungnya berhenti berdetak. Nafasnya berhenti mengalir.

Dan yang lebih menghancurkan—ketika Hardana membisikkan dengan bangga, "Sayang, itu kakakku. Aku tidak menyangka dia datang."

Kakaknya. Zaverio adalah kakak Hardana.

Pria yang dia cintai selama tiga tahun adalah kakak dari pria yang sekarang akan menjadi suaminya.

Anindita hampir pingsan di altar. Hanya genggaman tangan Hardana yang membuatnya tetap berdiri. Dia melanjutkan upacara dengan autopilot, mengucapkan "Aku bersedia" dengan suara bergetar.

Dan selama resepsi, matanya terus mencuri pandang ke arah Zaverio—pria itu duduk di meja paling belakang, sendirian, menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa dia baca.

Setelah tujuh tahun menghilang, dia muncul di hari pernikahannya. Untuk apa? Untuk menyiksa? Untuk menertawakan? Untuk menunjukkan bahwa Anindita adalah wanita yang bodoh karena pernah mencintainya?

Anindita tidak tahu. Dia tidak pernah tahu.

Suara ketukan di jendela mobil membuyarkan lamunannya. Anindita tersentak, menatap ke luar.

Kirana, asisten pribadinya—berdiri di sana dengan wajah khawatir.

"Nyonya? Anda baik-baik saja? Anda sudah di sini 15 menit tapi belum turun."

Anindita menggeleng, memaksakan senyum. "Aku baik-baik saja, Kirana. Hanya... lelah."

Dia keluar dari mobil, merapikan blazer-nya, dan melangkah menuju lift dengan Kirana di sampingnya.

"Nyonya, ada beberapa dokumen yang perlu Anda tanda tangani. Dan Pak Darma menelepon, beliau ingin Anda datang ke kediaman untuk makan malam besok."

"Kakek?" Anindita tersenyum tulus untuk pertama kali hari ini. "Baiklah. Kabari beliau aku akan datang."

Lift tiba di lantai 45—lantai CEO. Anindita melangkah keluar dan begitu pintu ruangannya terbuka...

Dia berhenti membeku.

Di mejanya, duduk seorang wanita muda dengan pakaian casual—jeans sobek dan kaos oversized. Rambutnya dipotong sebahu, wajahnya lebih tirus dari yang Anindita ingat. Tapi matanya... mata itu tidak pernah berubah.

Savitha Paramitha.

Adik tirinya yang mencuri 100 triliun rupiah tujuh tahun lalu. Adik tirinya yang menghancurkan hidupnya. Adik tirinya yang membuat Zaverio pergi.

"Hai, Kak Dita," sapa Savitha dengan senyum lebar—senyum yang terlalu manis, terlalu polos. "Lama tidak jumpa. Aku... aku pulang."

Dan dunia Anindita, yang sudah retak hari ini, akhirnya benar-benar hancur berkeping-keping.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!