"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: TANGISAN DI LORONG WAKTU
Aroma air laut yang asin dan dingin mendadak berganti menjadi bau karbol yang tajam dan menyengat. Suara ledakan reaktor nuklir yang memekakkan telinga surut, digantikan oleh kesunyian lorong rumah sakit yang hanya dipecah oleh suara detak jam dinding tua dan isak tangis samar di kejauhan.
Aku membuka mata. Tubuhku terasa sangat ringan, namun perutku... rahimku terasa kosong. Kehampaan itu menghantamku lebih keras daripada gelombang air laut tadi.
"Nak? Di mana kau?" bisikku, suaraku terdengar muda, lebih cempreng.
Aku mencoba bangkit dari lantai marmer abu-abu yang kusam. Aku tidak lagi mengenakan pakaian tempur. Aku mengenakan seragam sekolah putih-biru yang sudah lusuh. Di tanganku, terdapat sebuah kalender kecil yang menunjukkan tanggal: 17 Januari 1999.
"Ini tidak mungkin..." Jantungku berpacu gila. Aku berlari menuju cermin besar di ujung lorong rumah sakit.
Di sana, terpantul sosok remaja. Wajah yang belum pernah tersentuh oleh masa depan yang keras. Namun, saat aku menyentuh perutku, sebuah tanda kecil berbentuk ular melingkar logo Ouroboros bercahaya redup di balik kulitku.
Nanocore itu masih ada. Dia tidak membawaku mati, dia membawaku kembali ke awal, pikirku dengan ngeri.
Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi itu. Di ujung koridor, di depan ruang persalinan, aku melihat seorang pria muda duduk bersandar di dinding. Dia menangis sesenggukan, menutupi wajahnya dengan tangan yang gemetar.
Itu Ayah. Tapi dia tampak dua puluh tahun lebih muda.
"Ayah?" panggilku lirih.
Pria itu mendongak. Matanya yang sembap menatapku dengan bingung. "Dik? Kau siapa? Kenapa kau mengenakan seragam sekolah di jam segini?"
Aku terpaku. Dia tidak mengenalku. Tentu saja, di tahun 1999 ini, diriku yang sebenarnya baru saja lahir di dalam ruangan itu.
"Aku... aku hanya tersesat, Mas," jawabku, menahan sesak di dada. "Siapa yang ada di dalam?"
"Istriku," Ayah menyeka air matanya. "Dia sedang berjuang. Tapi dokter bilang ada komplikasi aneh."
Darahku mendadak membeku. Eksperimen itu tidak dimulai saat aku remaja. Eksperimen itu sudah dimulai sejak aku berada di dalam rahim Ibuku sendiri.
Tiba-tiba, pintu ruang persalinan terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah pucat pasi. Tangannya gemetar saat memegang papan jalan.
"Tuan... bayinya selamat. Seorang perempuan," ucap dokter itu dengan suara parau. "Tapi istrimu... dia menghilang."
"Menghilang?! Apa maksudmu, Dok?! Dia baru saja melahirkan!" Ayah menerjang masuk ke dalam ruangan.
Aku mengikuti dari belakang. Di atas ranjang persalinan yang bersimbah darah, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada seprei yang berantakan. Di tengah ruangan, seorang perawat sedang menggendong bayi yang baru lahir. Bayi itu diam, tidak menangis.
"Berikan bayi itu padaku," sebuah suara dingin terdengar dari arah jendela.
Seorang wanita cantik dengan pakaian formal tahun 90-an berdiri di sana. Lidya Kencana. Dia masih sangat muda, namun aura iblisnya sudah terpancar kuat.
"Tinggalkan anakku, Lidya!" teriak Ayah, mencoba mengambil bayinya.
Lidya tersenyum sinis. "Anak ini bukan milikmu, Anwar. Dia adalah aset Kencana Group."
Aku tidak bisa tinggal diam. Meski tubuhku adalah tubuh remaja, jiwaku adalah jiwa yang telah melewati neraka. Aku menerjang Lidya, namun sebelum aku sempat menyentuhnya, tanganku menembus tubuhnya seperti menembus asap.
"Kau tidak bisa mengubah masa lalu," bisik suara anak kecil di kepalaku. Suara bayiku yang tertinggal di tahun 2026. "Kau di sini hanya untuk melihat... bagaimana pengkhianatan ini pertama kali ditanamkan."
Lidya Kencana menoleh ke arahku, seolah dia bisa melihat kehadiranku yang transparan. Dia berjalan mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat seluruh duniaku bergetar.
"Kau pikir kau kembali untuk menyelamatkan dirimu? Tidak. Kau kembali untuk memastikan bahwa akulah yang memasukkan Nanocore itu ke dalam tubuh bayimu hari ini. Tanpa kau di sini, sirkuit ini tidak akan pernah aktif."
Lidya kemudian mengambil tanganku yang transparan dan memaksaku menyentuh kening bayi yang baru lahir. Saat kulit kami bersentuhan, sebuah ledakan energi perak terpancar, dan aku melihat tanda ular melingkar itu berpindah dari kulitku ke kulit bayi itu.
Di saat yang sama, suara alarm rumah sakit tahun 1999 berubah menjadi suara interkom laboratorium tahun 2026: "PENYATUAN GARIS WAKTU BERHASIL. SUBJEK A TELAH MENCIPTAKAN DIRINYA SENDIRI."
Aku berteriak saat tubuhku mulai memudar.
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...