"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_8
Aku duduk bersandar di kursi rotan di tepi kolam, punggungku menempel pada sandaran yang dingin oleh embun malam. Suara gemericik air kolam yang tenang nyaris berhasil meninabobokkan kesadaranku. Mataku terpejam bukan karena ingin tidur, melainkan karena tubuhku benar-benar lelah. lelah secara fisik, juga batin.
Namun ketenangan itu buyar ketika terdengar suara pintu geser dibuka. Bunyi halus, tapi cukup membuat kelopak mataku terangkat lebar.
Narendra muncul dari balik pintu, langkahnya gontai seolah seluruh berat dunia bertumpu di bahunya. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya menyiratkan kantuk yang tak sempat disembunyikan.
“Katakan,” ujarnya tanpa basa-basi sambil berjalan mendekat
“mau bicara apa. Langsung ke intinya saja. Aku sudah ngantuk dan capek banget.”
Aku menahan senyum miring yang nyaris lolos. Lah, situ yang dari pagi cuma mengendap di kamar bisa capek. Apa lagi aku yang seharian keliling menyisir dunia untuk mencari sekutu, gerutuku dalam hati.
Aku menarik napas panjang, menata kalimat agar terdengar tenang. “Kamu sudah tahu soal perilisan pernikahan kita?”
Daren menghentikan langkahnya tepat di depanku. Alisnya terangkat tipis. “Kamu tadi nggak dengar percakapanku sama Ajeng?”
“Dengar,” jawabku jujur. “Makanya aku tanya. Kenapa kamu nggak bilang ke aku?”
“Lha ini kamu sudah tahu,” sahutnya ringan, nyaris tanpa rasa bersalah.
Satu hal yang entah kenapa sedikit kusyukuri, setidaknya kami masih menggunakan bahasa aku-kamu, bukan lo-gue. Ada jarak yang berusaha dijaga, meski tipis dan rapuh.
Aku mendengus pelan. Marah pun percuma. Nasi sudah menjadi bubur—atau dalam versiku, sudah berubah jadi kerupuk puli.
Karena Darendra tak kunjung duduk, akhirnya aku yang mengalah. Aku bangkit dari kursi, berdiri sejajar dengannya.
“Aku mau mengajukan syarat pertamaku.”
Tatapan Daren mengeras. “Katakan.”
“Penthouse ini sekarang sudah menjadi tempat tinggalku,” ucapku mantap. “Aku menghabiskan banyak waktu berharga dalam hidupku di sini, dan—”
“Intinya?” potongnya tak sabar.
Aku menatapnya lurus, tak lagi memberi ruang pada pembuka yang sopan. “Aku mau kamu ganti semua passcode di penthouse ini. Hapus sidik jari Ajeng dari sistem. Hanya aku dan kamu yang boleh tahu kode barunya. Oh, Ardi juga boleh. Selain itu—big no.” Nada suaraku tegas, tak memberi celah tawar-menawar.
Itu adalah syarat yang sudah kupikirkan matang-matang bersama Maya semalam. Menurutnya, langkah pertama yang harus kulakukan adalah membatasi ruang gerak Ajeng. Jika aksesnya tertutup, pertemuan mereka akan semakin sulit. Dan yang terpenting, syarat ini akan menunjukkan dengan jelas pada Ajeng—di mana sebenarnya posisinya.
“Tidak,” jawab Narendra cepat. “Ini rumahku. Aku yang berhak memutuskan, bukan kamu.” Ia berbalik, hendak meninggalkanku begitu saja.
“Seperti halnya aku yang menjalankan tugasku dengan baik di depan orang tua kita,” suaraku meninggi, menahan langkahnya, “lakukan hal yang sama.”
Langkah Naren terhenti. Ia berbalik, menatapku dengan sorot mata yang sulit kuterjemahkan.
“Tidak membatasi pertemuanku dengan Ajeng juga termasuk dalam kesepakatan,” katanya dingin. “Kalau kamu lupa.”
“Aku hanya mengamankan hakku,” balasku tanpa gentar. “Kalian boleh bertemu di mana saja. Tapi tidak di tempat yang ada aku di dalamnya.”
Keheningan menggantung di antara kami. Tanpa menunggu jawabannya, aku melangkah pergi, meninggalkannya sendirian di tepi kolam.
Mulai malam itu, aku resmi tidur di kamar berbeda dengan Narendra. Barang-barangku tetap berada di kamar lama—sebuah penanda bahwa aku belum sepenuhnya pergi, hanya menarik garis batas.
---
Ada sensasi aneh di dadaku, seperti satu rantai yang terlepas setelah syarat pertamaku terucap. Aku tak tahu perasaan apa yang kini bersarang—lega, takut, atau justru hampa.
“Aku cuma nggak mau orang-orang yang kusayangi kecewa,” gumamku pelan pada bayanganku sendiri di cermin. “Itu saja. Nggak mungkin aku suka sama dia. Nggak ada bagian dari dirinya yang pantas disukai.”
Aku mengangguk, seolah meyakinkan diri sendiri.
Setelah berwudu, aku menunaikan salat Isya. Lelah membuatku tak ingin berpikir lebih jauh. Aku segera merebahkan diri, berharap tidur bisa menghapus kekacauan di kepalaku.
Sayup-sayup azan Subuh membangunkanku. Kelopak mataku terasa berat, seolah direkatkan lem tembak. Namun aku memaksa bangun.
Selesai membersihkan diri dan salat Subuh, aku melangkah ke dapur. Ada janji yang kubuat pada diriku sendiri: aku akan menjalankan tugasku sebagai istri—tentu saja dengan beberapa pengecualian besar. Tak ada adegan mesra. Tak ada sandiwara cinta.
Makanan siap tersaji ketika Narendra keluar dari kamarnya. Aku refleks menatapnya.
Tubuh atletisnya terbalut celana bahan hitam, dipadu kemeja mahogani polos dengan dua kancing teratas terbuka. Sepatu pantofel ada di tangannya. Pemandangan itu sukses membuatku kesulitan menelan ludahku sendiri.
“Sarapan dulu,” ajakku singkat, pura-pura fokus pada nasi goreng di piringku.
“Ajeng sudah nunggu buat sarapan di luar bareng,” jawabnya santai.
Ada nyeri tajam menusuk dadaku. Semua niat baikku runtuh seketika.
“Passcode-nya sudah diganti?” tanyaku, terus mengunyah.
“Nanti pulang kantor.”
“Aku mau sekarang.”
“Kamu sengaja mau bikin aku telat ke kantor?” tanyanya sambil menggebrak meja pelan.
“Telat ke kantor,” aku menoleh padanya, “atau telat sarapan bareng Ajeng?”
“Cih. Kamu cemburu?” ejeknya.
“Uhuk—uhuk!” Aku tersedak, buru-buru menenggak air hingga habis.
“Setiap salting kamu selalu tersedak ya,” katanya sambil tersenyum culas.
Aku berdiri, menghentakkan sendok hingga berbunyi nyaring. “Ganti sekarang, atau aku bongkar hubungan kalian.”
Narendra menggerutu sambil melangkah pergi. “Ngeselin banget sih jadi cewek. Mentang-mentang cantik, dikira semua cowok bakal nurut apa?”
Pipiku terasa panas.
*Gusti… mengapa imanku setipis isi dompet mokondo,* ratapku dalam hati.
Aku menyusulnya ke depan. Naren tengah mengotak-atik papan fingerprint di depan kamar.
Tak lama kemudian ia menghampiriku. “Aku sudah kirim passcode baru ke email kamu. Atur sendiri sidik jarimu.”
“Email?” Aku terbelalak. “Kamu tahu emailku?”
Ia hanya mengangkat alis. Aku tahu jawabannya.
“Dari mana aku tahu Ajeng nggak akan tahu kode ini?” tanyaku sambil membuka ponsel.
“Aku selalu pegang omonganku,” katanya singkat. “Percaya atau tidak, terserah.”
Ia pergi tanpa pamit.
---
**POV AUTHOR**
“Kita langsung ke kantor, Pak?” tanya Ardi.
“Kita ke rumah Ajeng dulu,” jawab Naren.
Ardi ragu. “Apa tidak apa-apa, Pak? Kalau Bu Rayna tahu—”
“Aku sudah punya kesepakatan dengannya,” potong Naren. “Dia tidak bisa menghalangi hubunganku dengan Ajeng.”
Ardi terdiam sejenak. “Pak… apa benar Bu Rayna mengalami gangguan mental?”
Naren terdiam. Pertanyaan itu bergaung di kepalanya, memutar ulang pengakuan lama—dan wajah Rayna yang anggun, tenang, dan terlalu kuat untuk disebut rapuh.
plisss dong kk author tambah 1 lagi