Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Swari kembali menyuapi dirinya dengan bubur abon sapi yang kini terasa jauh lebih nikmat.
Rasa hangat mulai menjalar ke tubuhnya, memberinya sedikit tenaga yang selama ini hilang.
Di sisi lain, Baskara yang merasa tubuhnya sangat lengket setelah seharian penuh ketegangan, memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi ruangan VIP tersebut.
Suara gemericik air shower terdengar, menciptakan irama yang menenangkan di tengah sunyinya kamar rawat.
Beberapa menit kemudian, suara air berhenti.
"Swa? Bisa minta tolong? Aku lupa membawa handuk di tas kecil tadi," seru Baskara dari balik pintu kaca yang berembun.
Swari mendengus pelan, namun ia tidak bisa menahan senyum tipisnya.
"Pria ini, katanya penguasa bisnis, tapi membawa handuk saja lupa," gumamnya.
Mengabaikan sedikit rasa nyeri di dadanya, Swari turun dari tempat tidur dengan hati-hati, menyeret tiang infusnya perlahan menuju lemari kecil tempat barang-barang Baskara diletakkan.
Setelah mengambil handuk putih bersih, Swari berjalan menuju kamar mandi.
Ia membuka sedikit celah pintu untuk menjulurkan tangannya. Namun, karena kondisi lantai yang sedikit licin akibat uap air, keseimbangan Swari goyah.
Ia tanpa sengaja mendorong pintu lebih lebar agar tidak terjatuh.
Di sanalah ia melihatnya. Baskara berdiri membelakanginya, baru saja akan melangkah keluar dari area shower.
Pria itu menoleh kaget, dan dalam posisi tanpa busana itu, Swari tak sengaja melihat "senjata" Baskara yang luar biasa besar dan kokoh.
Swari tertegun, matanya membelalak kaku. Ingatan malam gelap enam tahun lalu tiba-tiba terputar di kepalanya.
Rasa penuh yang menyakitkan, robekan yang ia rasakan, dan kekuatan yang menghimpitnya saat itu.
"Pantas saja sakit sekali waktu itu..." gumam Swari tanpa sadar, suaranya sangat lirih hampir seperti bisikan.
Baskara yang sedang mencoba menutupi bagian depannya dengan tangan, menangkap gumaman itu.
Alisnya bertaut, matanya menatap Swari dengan intensitas yang dalam sekaligus bingung.
"Apa yang sakit, Swa?" tanya Baskara.
Wajah Swari seketika memerah padam, menjalar hingga ke telinganya.
Ia segera melemparkan handuk itu tepat ke wajah Baskara dengan gerakan panik.
"Tutup pintunya dan lekas keluar dari kamar mandi!" jawab Swari sambil mengerucutkan bibirnya karena malu yang luar biasa.
Ia segera berbalik dan berjalan cepat kembali ke tempat tidurnya, meninggalkan Baskara yang berdiri mematung di dalam kamar mandi dengan handuk menempel di wajahnya.
Baskara tersenyum pahit; ia tahu persis apa yang baru saja Swari bicarakan, dan rasa bersalah itu kembali menyentil hatinya, meski ada sedikit rasa hangat karena melihat Swari bisa merona seperti itu lagi.
Pintu kamar mandi berderit terbuka, mengeluarkan uap hangat yang masih mengepul.
Baskara melangkah keluar dengan kondisi yang sangat minimalis, hanya sebuah handuk putih yang melilit pinggangnya, sementara tetesan air masih mengalir dari rambutnya yang basah, melewati dada bidang yang kokoh dan perut yang berotot sempurna.
Swari yang sedang pura-pura sibuk mengaduk sisa buburnya langsung mematung.
Pemandangan di depannya benar-benar menguji pertahanannya.
"Bas! Lekas pakai bajumu!" seru Swari sambil membuang muka, mencoba menutupi kegugupan yang luar biasa.
"Ini rumah sakit, kalau perawat masuk bagaimana?"
Baskara tidak langsung menuruti perintah itu. Ia justru melangkah mendekat dengan perlahan.
Suara gesekan telapak kakinya di lantai rumah sakit terasa sangat jelas di telinga Swari, seiring dengan detak jantungnya yang mulai berpacu tidak beraturan.
Deg-deg, deg-deg.
Baskara berhenti tepat di sisi ranjang. Aroma sabun maskulin yang segar bercampur dengan uap panas dari tubuhnya merayap masuk ke indera penciuman Swari.
"Kenapa? Kamu takut jantungmu meledak?" tanya Baskara dengan suara rendah yang sedikit menggoda.
Ia sedikit membungkuk, menumpukan tangannya di pinggiran ranjang, mengunci posisi Swari agar tetap menatapnya.
"Jangan percaya diri, Baskara Surya," jawab Swari dengan bibir yang mengerucut, meski ia tidak bisa menyembunyikan rona merah yang kian pekat di pipinya.
"Aku hanya tidak mau mataku sakit melihat pemandangan tidak sopan ini."
Baskara terkekeh kecil, sebuah tawa yang jarang sekali ia keluarkan.
Ia menjangkau dagu Swari dengan lembut, memaksa wanita itu menatap matanya yang kini tidak lagi dingin, melainkan penuh dengan binar jahil yang hangat.
"Tadi di kamar mandi kamu bilang 'pantas saja sakit'. Apa itu artinya kamu sudah mengingat detailnya dengan baik?" bisik Baskara tepat di depan wajah Swari.
Jantung Swari seolah melakukan lompatan ganda.
Ia merasa oksigen di sekitar mereka mendadak tipis.
Tangannya yang bebas dari infus tanpa sadar meremas seprai.
"K-kamu benar-benar bajingan yang tidak tahu malu!" maki Swari, namun suaranya tidak memiliki kekuatan untuk mengusir pria itu.
Baskara mendekatkan wajahnya, hanya beberapa senti dari bibir Swari.
"Aku memang bajingan, Swa. Dan bajingan ini tidak akan memakai bajunya sampai kamu menghabiskan tiga suap terakhir bubur ini."
Swari menatap bibir Baskara yang basah, lalu naik ke matanya yang dalam.
Ketegangan di antara mereka bukan lagi karena dendam, melainkan sesuatu yang jauh lebih purba dan mendalam.
"Satu suapan untuk kesembuhanmu," ucap Baskara sambil mengambil sendok yang tergeletak di mangkuk.
"Atau aku akan tetap berdiri seperti ini sampai tim medis datang untuk melakukan pemeriksaan rutin?"
Swari akhirnya menyerah. Dengan wajah yang masih memanas, ia membuka mulutnya, membiarkan Baskara menyuapinya dengan penuh perhatian.
Di bawah cahaya lampu kamar yang sedikit temaram, suasana canggung itu perlahan berubah menjadi momen yang sangat intim, seolah dunia di luar sana termasuk rasa sakit dan trauma—untuk sejenak berhenti mengusik mereka.
Ceklek!
Pintu kamar VIP itu terbuka dengan kasar. Ratri melangkah masuk dengan wajah yang awalnya penuh kecemasan, namun seketika membeku di ambang pintu.
Matanya membelalak melihat Baskara yang hanya mengenakan handuk, membungkuk sangat dekat dengan wajah adiknya yang memerah padam.
"Astaga! Mas Navy, jangan masuk dulu!" teriak Ratri sambil menutup mata, meski jari-jarinya sedikit terbuka karena syok.
Namun, kejutan sesungguhnya datang dari belakang Ratri.
Nyonya Widya Surya melangkah masuk dengan wajah yang jauh lebih mengerikan dari badai di Puncak.
Aura kepemimpinannya menguap, digantikan oleh amarah seorang ibu yang merasa dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.
Tanpa peringatan, Nyonya Widya maju dan...
"AWWW! Ma! Sakit, Ma!" pekik Baskara.
Nyonya Widya tidak main-main. Ia menjambak rambut putranya yang masih basah dengan sangat kuat, memaksa Baskara untuk berdiri tegak dan menjauh dari Swari.
"Dasar gila! Anak tidak tahu diuntung!" teriak Nyonya Widya, suaranya menggelegar di ruang ICU yang biasanya tenang.
"Bagaimana bisa kamu menyembunyikan kejadian enam tahun yang lalu dari Mama?! Kamu memperkosa wanita di saat dia sedang berduka? Di mana otak dan hatimu, Baskara Surya?!"
Baskara hanya bisa meringis menahan perih di kulit kepalanya, tidak berani melawan sedikit pun.
"Ma, lepas, Ma. Bas bisa jelaskan..."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan!" Nyonya Widya melepaskan jambakannya dengan sentakan kasar hingga kepala Baskara terayun.
Ia menunjuk wajah putranya dengan jari yang gemetar karena amarah.
"Mama malu punya putra sepertimu! Kamu sudah mengotori nama baik keluarga Surya dengan cara yang paling menjijikkan!"
Nyonya Widya kemudian beralih menatap Swari yang terpaku di atas ranjang.
Tatapan sang nyonya besar seketika melunak, penuh dengan rasa bersalah yang amat dalam.
"Swari, sayang. Maafkan Mama karena telah membesarkan monster ini," ucap Nyonya Widya dengan suara bergetar.
Ia kembali menoleh ke arah Baskara dengan tatapan maut.
"Dengarkan Mama baik-baik, Baskara Surya! Detik ini juga Mama yang akan mengatur semuanya.
Setelah Swari keluar dari rumah sakit dan kondisinya pulih, kamu harus menikahinya secara resmi! Tidak ada kontrak, tidak ada akting! Kamu harus menyerahkan seluruh hidupmu untuk menebus dosa ini. Jika kamu membantah, Mama sendiri yang akan menyeretmu ke penjara!"
Ratri yang berdiri di samping pintu hanya bisa melongo, sementara Navy yang baru saja menyusul masuk langsung memegang bahu istrinya, menatap Baskara dengan tatapan "rasakan itu".
Baskara tertunduk lesu, handuknya hampir saja melorot karena guncangan kemarahan mamanya.
Ia menatap Swari yang kini justru mengerucutkan bibirnya, menahan tawa sekaligus rasa haru melihat "Raja Dingin" itu tak berkutik di tangan ibunya sendiri.
"Baik, Ma. Bas akan menikahinya. Bas memang ingin menikahinya," jawab Baskara pelan.
"Harus! Dan jangan berani-berani kamu muncul di depan Mama hanya pakai handuk seperti ini lagi saat istrimu sedang sakit! Cepat pakai bajumu!" usir Nyonya Widya sambil mendorong bahu Baskara menuju sofa tempat tas pakaiannya berada.
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor