AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 16: playing with heart [END]
PAVILIUN yang ditempati Elora saat ini bernama Plumeria. Bangunan mewah yang merupakan milik mendiang permaisuri yang saat itu masih berstatus sebagai simpanan kaisar. Selain kondisi fisiknya yang masih bagus, terdapat pengamanan tingkat tinggi di kamar itu. Meski aku tidak tahu apakah pelindungnya masih berfungsi atau tidak mengingat bangunan tersebut sudah ditelantarkan sejak sangat lama.
Meski ada banyak kekurangan karena baru dibersihkan setelah kedatangan Elora ke istana, dibanding dengan ruangan lain, Plumeria merupakan bangunan yang masih jauh lebih baik kondisinya. Maka dari itu, sebagai bentuk pertanggungjawaban karena tanganku telah mengotori kamar yang dia tempati sekarang dengan sesuatu yang buruk, aku menempatkan Elora di istana utama.
Ketika mengeringkan rambut setelah selesai membersihkan diri, kepala pelayan mengetuk pintu kamar dan memberi tahu kedatangan Hamon. Sembari menuang anggur merah ke dalam gelas dan meletakkan handur di leher, aku mempersilakan dia masuk. Dengan tatapan yang lurus ke depan dan air muka yang datar tanpa ekspresi, Hamon berkata dengan nada yakin.
“Saya telah siap menerima hukuman dari Yang Mulia.”
Seragam ksatria yang selalu dia gunakan berganti menjadi kemeja putih tipis dan celana hitam biasa. Kedua tangan dan kakinya masing-masnig dirantai dan dibuat melayang di udara. Sementara itu, mulutnya disumpal dengan beberapa lembar kain agar tidak mengeluarkan suara ketika disiksa.
Kemeja putih yang digunakan Hamon ikut robek saat cambuk itu menyentuh dadanya. Ketika cambuk sekali lagi membelai kulitnya, dia hanya bisa membulatkan mata sembari menggigit sumpalan kain sekuat tenaga. Aku kemudian melempar cambukan dan mengarahkan sihir kepadanya. Aura biru pekat lantas mengelilingi Hamon dan di detik selanjutnya tubuhnya menegang bersama dengan urat-urat matanya yang seperti ingin keluar.
Selama kurang lebih sepuluh menit, dia merasakan aliran listrik yang sangat dahsyat dan membuat aliran [mana] di tubuhnya menjadi tidak stabil. Akibatnya, sakit yang dia rasakan menjadi tiga kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya. Air liur Hamon menetes bersamaan dengan penyiksaan yang akhirnya terhenti.
Saat dia yang berusaha bernapas di tengah kondisi yang seperti itu, aku mendekat, melayangkan tinju ke arahnya dengan menargetkan rahang. Kepalanya sertamerta ke samping ketika aku mendaratkan tinjuan. Bersamaan dengan itu, keringat yang disertai darah ikut terlempar dan jatuh di lantai.
Aku mundur selangkah sebelum menendang perut bagian samping, selama beberapa kali. Di tengah kondisi siksaan yang tanpa henti itu, aku kembali mencambuknya dan menargetkan bagian yang menerima pukulan tadi sebelum berpindah ke bagian lain. Tangan, kaki, perut, dada, dan punggung semuanya tak lepas dari amukan tali cambuk yang bergerigi.
Tubuhnya dipenuhi cairan merah, tidak terlihat seperti seorang pria berbadan atletis yang menggila di medan perang. Penampilan Hamon nyaris sudah tidak bisa dikenali lagi. Kain yang menyumpal mulutnya kemudian kuambil dan melemparnya ke sembarang arah. Begitu penghalang tersebut lenyap, dia bernapas menggunakan mulut.
Kimono putih yang baru kugunakan ikut terkena darahnya di bagian depan. Pipi, dahi, dan sebagian leher tanpa terkecuali. Sebab harus membersihkan diri kembali, aku kemudian berbalik dan beranjak meninggalkan ruang pendisiplinan. Berhenti di ambang pintu, aku berkata kepada ksatria penjaga yang berdiri di samping.
“Selama tiga hari ke depan, jangan berikan dia makan dan minum.”
Bulan ternyata telah menampakkan dirinya ketika aku melewati koridor istana. Waktu terasa berlalu sangat cepat bahkan tak terasa saat berada di ruang pendisiplinan. Ketika sampai di depan pintu belakang istana utama, Elora secara ajaib telah berdiri di depan sana ditemani dengan Ibu asuh dan pelayan pribadinya. Memakai gaun tidur berwarna putih yang tidak tebal, kain yang menyelimuti bagian leher dan dada, serta sepatu rumah yang berwarna kuning, dia menatapku serius dengan netra biru cerahnya yang membulat.
Membuang napas dan menuruni tangga, aku pura-pura tidak melihatnya dan mengabaikan panggilan anak itu.
“Papa!”
Dia berlari lalu tangan kecilnya menggapai jari telunjukku, menggenggamnya erat dan ikut berjalan di samping seolah tidak ada yang terjadi meski sudah melihat darah yang ada di kimono dan wajahku. Langkah kakiku terhenti dan diikuti olehnya. Menarik napas dalam sebelum menarik jari telunjuk yang dia genggam dan berbalik, aku bertanya, “Apa yang kau lakukan?”
“Mengikuti Papa.”
Aku meletakkan kedua tangan di pinggang. “Jika kau ingin bertanya tentang Hamon, maka aku tidak bisa mengatakannya.”
“El tahu,” jawabnya setelah menundukkan pandangan. “Hamon tadi bilang kalau dia halus dihukum.”
Aku membuang muka dan mengembuskan napas, melipat tangan di depan dada, dan menjawab, “Baguslah kalau sudah tahu.”
“Papa, Hamon tidak akan mati, kan?”
Aku menoleh. Dia menatap dengan netra biru cerahnya yang bergetar, nyaris menangis. Sembari mengaitkan kedua tangan, dia memandangku dengan tatapan memohon.
“Dia tidak akan mati.” Elora menghela napas lega sementara aku kembali melanjutkan, “Tetapi, untuk sementara kau tidak dapat bertemu dengannya sampai dia pulih.”
Masa hukuman Hamon adalah tujuh hari sedangkan sisanya adalah proses pemulihan. Namun, penyiksaan di ruang pendisiplinan biasanya memerlukan waktu yang lebih lama untuk sembuh mengingat yang diserang adalah fisik dan mental. Sangat sedikit sekali yang berhasil bertahan saat memasuki ruangan tersebut. Berhasil keluar pun belum tentu dapat melanjutkan hidup seperti biasa. Maka dari itu, hanya pelanggaran berat saja yang dimasukkan ke dalam ruangan itu.
“El mengelti.”
Dia berkata dengan pundak yang turun dan kepala yang tertunduk. Melihat tidak ada lagi yang ingin dia ketahui, aku melanjutkan langkah kembali. Namun, ujung kimonoku ditarik oleh tangan kecil yang lemah itu. Aku melirik dann dia berkata lirih, tidak ceria seperti tadi.
“El ikut.”
“Aku akan mengantarmu kembali.”
Ketika menghadap ke depan kembali dan melangkah, Elora meraih jari telunjukku dan di detik berikutnya kami telah berjalan beriringan. Aku tidak memprotes dan hanya membiarkan dia melakukan apa yang ingin anak itu lakukan.
“El yang akan mengantal Papa ke kamal.”
Wajahnya tidak sekhawatir tadi meski kesedihannya masih sangat jelas terlihat di mata anak itu. Namun, dia menutupinya dengan senandung ringan yang keluar dari bibir mungilnya sepanjang jalan. Menyadari bahwa kaki-kaki kecilnya kesulitan mengikuti langkahku yang lebar, aku refleks memelan sehingga dia dapat menyeimbangkan langkah. Sementara itu, pengasuh dan pelayan pribadi Elora berjalan di belakang tanpa suara.
Langit semakin gelap dan hewan malam mulai keluar. Kunang-kunang yang entah muncul dari mana dan kicauan burung bulbul menemaniku yang berakhir menemani Elora berjalan-jalan malam tanpa rencana yang matang. Bersama dengan langkah kecil yang terus bergerak melewati jalan berumput, pengakuan siang itu tiba-tiba terlintas kembali dan membuatku berpikir lagi.
Perkataan tentang tempat yang banyak pohon, rumput, dan suara-suara itu, mungkinkah adalah hutan? Jika memang demikian, maka anak kecil yang berjalan di sebelahku ini harusnya tidak bisa mengerti perkataanku. Dia harusnya bicara dengan bahasa monyet, beruang, ular, ataupun hewan lain yang ada di sana. Dia harusnya melata, melompat, dan merangkak seperti hewan berkaki empat dan bukan berjalan seperti manusia.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Jika memang seandainya dia tersesat dan perompak waktu itu tidak sengaja menemukannya di hutan, dia harusnya tidak mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan hutan melainkan menceritakan latar belakang keluarganya, nama, atau di mana dia tinggal sebelumnya.
Semakin dipikir, hal yang berkaitan dengan anak itu semakin terasa tidak masuk akal. Dimulai dari penyelidikan identitasnya yang tidak membuahkan hasil dan pengakuan anak itu yang menentang semua kemungkinan yang kupikirkan. Ditambah lagi, fakta bahwa sakit kepala sialan ini berhubungan dengannya membuatku bertanya-tanya. Sebenarnya, anak itu datang dari mana?[]
ya ampun.... elora
detil sekali penjelasannya
butuh siraman cinta agar lebih melunak