NovelToon NovelToon
Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 4.8
Nama Author: Renny Ariesya

Karena kejadian yang sangat membekas di masa lalunya. Serta korban iklan drama Korea. Akhirnya Naura Almira Atmajaya memutuskan untuk hamil melalui progam inseminasi tanpa menikah serta tak mau tahu siapa yang mendonorkan benih untuknya.

Beberapa bulan kemudian, permasalahan pun datang menghampirinya. Ternyata yang mendonorkan sperma untuknya adalah pria yang paling dihindarinya.


=========

Jangan lupa beri dukungan, vote, koment dan like.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renny Ariesya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

06| Goes To Jeju Island

“Benaran kamu akan ke pulau Jeju, Naura?” tanya Neil di seberang telepon.

Baru saja Neil diberi kabar lewat whatsapp oleh sosok manis ini akan keberangkatannya ke pulau Jeju.

Kemudian Neil langsung menelepon Naura untuk memastikan kabar tersebut benar adanya, bukan gurauan semata yang biasanya sering dibuat candaan oleh sosok manis itu.

Katanya, dia kepingin hidup di pulau Jeju usai menonton drama Korea favoritnya. Mungkin saja kali ini gadis itu juga seperti itu.

“Yakin dengan niatmu itu?” ulang Neil lagi meyakinkan pendengarannya sendiri.

“Yup!” jawab Naura serius sembari menutup resleting kopernya setelah memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper besar berwarna cokelat tua.

Naura memindahkan smartphone ke telinga kirinya, kemudian mendudukkan pantatnya ke sisi tempat tidur. Ia melirik sekilas pada arloji yang melingkar apik di pergelangan tangan kanannya. Kurang dari dua jam lagi, dia akan berangkat ke bandara dan terbang ke pulau Jeju. Pulau impiannya.

“Kamu sudah bangun, Naura?”

“Yup.”

“Masih ingat sama mimpi semalam?”

“Gak, Naura gak mimpi apa-apa semalam.”

“Yakin?”

“Seratus persen,” jawab Naura tanpa ragu sama sekali dalam nada bicaranya.

Samar telinga Naura menangkap helaan napas panjang dari belah bibir Neil.

“Kenapa?”

“Maksudnya?” Naura menautkan kedua alisnya.

“Kenapa harus pergi ke pulau Jeju. Kamu seperti ingin mengasingkan diri. Bukankah pindah ke luar pulau saja sudah cukup? Kenapa mesti ke luar dari Indonesia?”

Tampak dari seberang telepon Neil mengeluh. Terlebih bila menyangkut soal dadakan begini.

“Enggak juga, Kak, Naura nggak mengasingkan diri,” sangkal Naura cepat mengelus batang hidungnya yang sedikit gatal.

"Memang Naura apaan. Buronan polisi," tambah Naura mengerucutkan bibir.

"He he he. Bukan buronan polisi. Tapi idol yang kepingin hidup menyendiri saja."

"Ih, Kakak bisa saja. He he he."

Naura tersenyum geli mendengar ucapan Neil. Neil memang pintar mengambil alih suasana hatinya menjadi senang kembali.

“Kebetulan seminggu yang lalu ..." Naura kembali melanjutkan penjelasannya.

"Ya?"

"Waktu aku cari loker di internet, ketemu sama perusahaan mie Indonesia yang beroperasi di pulau Jeju sedang buka lowongan kerjaan,--- tunggu bentar ya, Kak ...”

Naura menggeser sedikit duduknya, meraih segelas susu. Meminumnya sampai habis. Kemudian melanjutkan kembali pembicaraannya.

“Nah, iseng-iseng saja aku melamar kerja di sana. Diterima syukur alhamdulillah, gak diterima juga gak apa-apa. He he he.” Naura tercengir sembari mengelus sebelah alisnya.

“Terus, kamu diterima, gitu?”

“Iya, gak tahunya lamaran Naura diterima. Mungkin juga berkat dedek bayinya, Kak. Kan ada pepatah mengatakan, kalau memang rezeki anaknya, pasti gak akan ke mana-mana.”

Naura mengelus sayang perutnya yang mulai membuncit.

“Iya, kamu betul. Tapi ... ya sudahlah.” Neil mengembuskan napas panjang. “Kakak gak bisa berbuat apa-apa lagi. Mungkin benar katamu, itu rezeki dedek bayinya.”

“He he he.”

“Juga keinginan terpendam Mommy-nya selama ini. Iya, ‘kan,” goda Neil terkekeh.

“Ho’oh. Debaynya tahu saja, kalau selama ini Mommy-nya kepingin tinggal di negeri Gingseng, gudangnya idol-idol tampan. Cuci mata tiap hari, euy. He he he.”

“Ha ha ha, bisa saja kamu, Naura.”

“Ha ha ha.”

“Gimana dengan kehamilanmu?” tanya Neil mengubah topik pembicaraan kembali serius.

Semenjak dinyatakan hamil, Naura belum menelepon atau memberi kabar apa pun padanya. Sepertinya sosok manis ini benar-benar menikmati masa kehamilannya dengan suka cita tanpa ada beban sama sekali.

Baru tadilah sosok manis ini memberinya kabar. Sekalinya memberi kabar, tak tanggung-tanggung langsung ke pulau Jeju.

“Baik-baik saja, Kak," jawab Naura mengelus perutnya.

“Ada keluhan?”

“Gak ada.”

“Syukurlah.”

“Hm.” Naura menggoyang-goyangkan kakinya yang menjuntai.

“Omong-omong, kapan mau berangkat ke pulau Jeju?” tanya Neil, terdengar suara grasak-grusuk di seberang telepon. Entah apa yang dilakukan oleh dokter muda itu sekarang ini.

“Dua jam lagi.”

“Apa!!”

Naura terperanjat kaget mendengar teriakan Neil. Buru-buru Naura menjauhkan telepon pintar dari telinganya, menyelamatkan gendang telinganya biar tak pecah.

“Kakak, gak usah teriak begitu. Bisa, ‘kan, Kak,” sungut Naura setelah dirasa aman untuk menempelkan kembali smartphone ke daun telinganya.

“Gimana kalau Naura keguguran gara-gara dengar teriakan Kakak,” sungut Naura kembali mengelus-ngelus perutnya. Nyaris Naura melompat bagai kodok dari tempat tidurnya kala mendengar teriakan Neil tadi. Suara teriakan Neil tadi mengingatkan akan suara sahabatnya yang telah lama tak bersua dengan dirinya.

“Maaf. Habisnya, kamu sih.”

“Huft.” Naura mengembuskan napas pendek.

“Kenapa gak bilang dari kemarin-kemarin. Kakak bisa mengantarmu sampai ke bandara. Kalau sekarang kakak ada rapat. Jadi gak bisa mengantarmu,” keluh Neil, berkali-kali Naura mendengar Neil mengembuskan napas panjang.

“Gak apa-apa kok, Kak.”

“Gak enak sama kamunya.”

“Iya. Aku ngerti, Kak. Tapi benaran, aku gak apa-apa,” ucap Naura terdengar ceria, meyakinkan Neil bahwa memang dia benar baik-baik saja.

“Ya sudah. Kakak do’akan semoga kamu selamat sampai di pulau Jeju.”

“Amin.”

“Ingat, jaga kandunganmu baik-baik. Kalau terjadi apa-apa padamu, jangan sungkan telepon Kakak.”

“Siap, Koko Neil.”

“Ha ha ha.”

 

 

 

 

🍃Dear, My Baby🍃

 

 

 

 

“Baby, kita segera terbang ke pulau Jeju.”

Naura mengelus perut buncitnya di balik sweater rajut warna kuning favoritnya, serta memakai topi kupluk, menutupi sebagian rambut almondnya yang tergerai indah, ketika telah sampai di ruang tunggu bandar udara internasional Soekarno-Hatta.

Sempat dia browsing sekilas di internet mengenai cuaca di Korea saat ini. Negeri Gingseng sekarang sedang mengalami musim dingin. Maka dari itu, Naura menyiapkan mantel tebal saat landing di Korea nanti.

[Perhatian, para penumpang pesawat XXX dengan nomor penerbangan XXX tujuan Seoul, Korea Selatan, dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu XX.]

Naura buru-buru mengeluarkan KTP dan boarding pass miliknya dari tas kecil tersampir di pundaknya kala mendengar peringatan dari pengeras suara. Naura bergegas mengantri di depan pintu boarding. Saat hendak mengantri, seseorang dari belakang sosok manis ini menubruknya hingga dokumennya berhamburan ke lantai.

“Hei, kalau jalan hati-hati. Lihat barang gue jadi berhamburan begini,” sungut Naura begitu kesalnya.

Sosok manis ini berjongkok memunguti semua barang-barangnya yang berceceran. Salah satunya tercecer ke depan sepatu orang yang menabraknya.

“Maaf. Maaf. Gak sengaja. Habisnya mau buru-buru,” ujar suara bass itu meminta maaf yang diketahui dari suaranya milik seorang pria.

“Gue paham. Tapi, mau buru-buru juga gak sampai menubruk orang. Kek banteng ngamuk saja, errr ....” gerutu Naura tanpa melihat langsung lawan bicaranya.

“Iya, kuakui aku salah, maaf ya,” ujar pria itu menyodorkan KTP milik Naura padanya.

Naura termangu pada identitas nama di boarding pass milik pria itu saat hendak mengambil KTP-nya dari tangan pria itu.

Raka Earnest Forrester ....

Naura menghela napas pendek membaca nama pria itu.

“Lain kali pergunakan matamu dengan benar,” ucap Naura dingin sambil merampas KTPnya dari tangan pria itu.

Tanpa berucap lagi sosok manis ini segera meninggalkan pria itu. Memasuki pintu boarding pass tanpa menoleh sama sekali pada pria itu, yang dia yakin pria itu memandangi punggungnya.

“Terima kasih." Naura tersenyum saat menerima kembali sebagian boarding pass-nya dari petugas.

 

 

 

 

🍃Dear, My Baby🍃

 

 

 

 

“Huft, aman Baby. Sebentar lagi kita akan sampai benaran di Korea,” bisik Naura mengelus perutnya ketika telah duduk di kursi penumpang pesawat.

“Heum?”

Kedua alis simetris Naura bertautan ketika menyadari kursi penumpang yang kosong di sebelahnya telah diduduki seseorang. Aroma parfume yang menusuk ke hidungnya seketika memutar kembali memorinya tiga tahun silam. Aroma khas yang disukainya. Dahulu. Tapi sekarang tidak lagi. Dia sudah membuang jauh-jauh kenangan bersama pria itu.

Tergelitik siapa yang memakai parfume itu, Naura segera menengadah. Detik itu juga pupil mata sosok manis ini membesar dua kali lipat.

“Kamu!” hardik Naura dengan tangan menunjuk pada pria itu. Seolah Naura menunjuk hantu yang tak sengaja dilihatnya.

Ya. Itu pria yang tak sengaja menabraknya di ruang tunggu tadi. Nama yang akan selalu diingatnya. Raka Earnest Forrester.

Mulut Naura sudah terbuka lebar, bersiap untuk mengusir cowok itu di sebelahnya, tetapi urung karena melihat tatapan dingin cowok itu, sama sekali tak ada senyuman menghiasi wajahnya itu.

“Ternyata dunia ini begitu sempit ya,” sarkas cowok bernama Raka itu. Menatap dingin Naura dari ujung kaki ke ujung kepala. Lalu berhenti di perut Naura.

Merasa diperhatikan begitu lekat oleh mata elang Raka. Naura jadi merasa tak nyaman, terlebih pandangan cowok beririskan warna abu-abu itu jatuh ke perutnya. Ditilik dari warna mata dan nama belakangnya, cowok ini bukan asli keturunan Indonesia. Berdarah campuran, sama sepertinya.

“Apa lihat-lihat!” ketus Naura menutupi kegugupannya.

“Ya wong punya mata. Terserah aku, mau lihat ke mana."

Grrr ... Naura menggeram tertahan, mencoba sabar untuk tidak melayangkan kuku-kuku lentiknya ke wajah Raka. Mencakarnya sekarang juga.

"Tapi, bola mata besarmu itu lihatnya ke aku terus," sengit Naura tak mau kalah beragumen.

"Siapa yang lihatin kamu."

"Lha itu apa?" Naura menunjuk mata Raka yang lurus menatapnya. Tangan Naura gatal ingin mencolok matanya itu.

"Pede amat jadi orang.”

“Apa kamu bilang!”

“Gak bilang-bilang apa-apa. Cuma bilang ... kamu cantik.”

 

 

Blush!!

 

 

Tanpa diundang, rona kemerahan segera hadir menari-nari di wajah putih Naura.

Aih, dasar cowok mesum. Baru ketemu sudah bilang cantik.

Naura tak menyahut lagi. Dia berdeham sekilas. Mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Tak tertarik lagi untuk berbicara pada penumpang di sebelahnya. Malas.

Aroma wangi masa lalu yang tiba-tiba menyeruak di indera penciumannya, membuatnya muak berbicara pada cowok ini. Mungkin juga karena pengaruh kehamilannya, menjadikan suasana hatinya kacau begini. Sering berubah-ubah.

 

 

 

 

🍃Dear, My Baby🍃

 

 

 

 

“Woah, Ini benaran Korea. (≧∇≦)b”

“Korea, euy!"

Naura bersorak kegirangan ketika kakinya --untuk pertama kalinya-- menginjak negara Korea.

“Baby. Kita sampai. Ini namanya negara Korea. Salah satu impian Mommy, kepingin datang ke sini. He he he, (=^▽^=)” bisik Naura berdialog sendiri.

“Norak.”

Naura sontak menoleh ke belakang saat mendengar seseorang mencibirnya. Matanya membelalak lebar. Lagi-lagi Raka.

“Terserah aku,” balas Naura tak kalah sewotnya. “Ini mulut aku. Mau aku teriak. Mau aku bisu. Gak ada hubungannya denganmu.” Naura berkacak pinggang.

“Minggir,” lanjut Naura menyenggol keras bahu Raka. Meninggalkan pria itu dengan sudut bibir terangkat sedikit ke atas, tersenyum tipis menatap punggungnya. Sama sekali Raka tak tersinggung akan ucapan ketus sosok manis ini.

“Tetap cantik,” gumamnya ambigu sambil kembali berjalan.

 

 

 

 

🍃Dear, My Baby🍃

 

 

 

 

“Naura! Sini! Sini! Sini!”

Naura melayangkan pandangannya ke arah tempat penjemputan saat namanya dipanggil. Sosok manis ini tersenyum semringah melihat siapa yang datang menjemputnya.

Sunny Wijaya, sahabatnya di waktu kuliah. Melambaikan tangan ke arahnya.

Lagi keberuntungan berpihak pada sosok manis ini. Di saat kebingungan mencari tempat tinggal bila nanti berada di pulau Jeju. Dua hari setelah dia menerima pengumuman diterima bekerja di perusahaan. Tanpa ada angin dan hujan, tiba-tiba saja sahabat lamanya ini meneleponnya, mengatakan rindu padanya.

Mungkin sudah jalannya. Allah mengirimkan Sunny sebagai penolongnya ketika dia butuh bantuan.

Naura segera menceritakan masalahnya pada Sunny. Gadis itu pun bersedia membantunya. Kebetulan Sunny juga bekerja di pulau Jeju, namun berbeda perusahaan saja. Sunny menawarkan padanya, untuk sementara Naura bisa tinggal di apartemennya sampai menemukan apartemen sendiri.

“Sunny.” Naura kegirangan, berlari menghambur kepelukan sahabatnya ini.

“Gimana kabar lo?” tanya Naura setelah mengurai pelukannya.

“Baik.” Sunny tersenyum. “Sini, gue bantuin bawa koper satunya.”

“Makasih. Maaf ngerepotin." Naura menyerahkan satu kopernya pada Sunny. Mereka pun berjalan menyusuri lobi bandar udara internasional Gimpo, Seoul, Korea Selatan menuju parkiran.

"Sebelum ke apartemen gue, kita mampir ke resto dulu. Gue lapar," usul Sunny ketika mereka telah berada di dalam mobil mewahnya, membuat Naura hanya bisa terngangga lebar akan perubahan finansial sahabatnya ini. Ternyata Sunny sukes merantau di negeri orang, semakin memicunya untuk mengikuti jejak Sunny.

"Kau setuju, kan, Naura?" tanya Sunny melihat Naura hanya diam saja mengagumi mobilnya. Sunny tersenyum simpul.

"Eh? I-ya ... Lagian gue mau ngerasain gimana rasanya makan makanan Korea langsung di negaranya sendiri. He he he."

 

 

 

 

🍃Dear, My Baby🍃

 

 

 

 

Sunny membawa Naura makan di restoran --entah apa nama restorannya, Naura tak tahu, sebab tulisannya memakai huruf hangul Korea-- di daerah Myeongdong. Tempatnya sangat nyaman dengan mesin penghangat ruangan menemani, mengingat sekarang Korea sedang musim dingin. Sementara untuk jamuan makannya, mereka disuguhi dengan bibimbap, koktail anggur beras serta pancake. Sangat menggugah selera makan.

Sayangnya Naura tak merasakan itu. Sosok manis ini menatap datar pada makanan di depannya. Entah mengapa ia kehilangan selera makannya. Bukan makanannya yang membuatnya jadi tak nafsu makan. Juga bukan tempat makannya. Melainkan ... hadirnya sosok lain yang tiba-tiba saja merusak mood Naura.

Sunny justeru mengajak Raka makan bersama mereka. Lagi-lagi mereka bertemu kembali. Sosok manis ini berharap dalam hati. Semoga saja ini terakhir kalinya mereka bertemu.

Sebab ... seorang Raka Earnest Forrester ....

Adalah mantannya, yang perlu Naura empaskan jauh-jauh dari hidupnya.

1
Febri Ana
mantaap thor ditunggu kelanjutannya
💟노르 아스마💟
miura di tukar dgn maura
💟노르 아스마💟
harapan nih buat lucas
💟노르 아스마💟
yess
💟노르 아스마💟
tgu akhir mu richard ...teresa sdh menjemput akhirx
💟노르 아스마💟
richad menculik naura ...astaga ...
💟노르 아스마💟
astaga ...jgn bodoh lah naura
💟노르 아스마💟
beneran vangke ini
💟노르 아스마💟
VANGKE ricard ini ya?
💟노르 아스마💟
penghalang utama teresa
💟노르 아스마💟
Luar biasa
she_
bisa memiliki anak dengan cara : 1. transplantasi rahim atau 2. mencari surgorate mother (ibu pengganti)

tolong digali lagi referensinya, jadi tidak salah
she_: jadi tidak bisa hamil hanya krn inseminasi
total 1 replies
Yati Rosmiyati
Niel jadi mata mata Raka deh
Yati Rosmiyati
kok aku curiga sama Niel jangan jangan kasih tau Raka kalau Naura mau ke Korea
Kris Sutia Ningsih
👍👍👍👍👍
Nichi Abie: Mohon maaf pemberitahuan ini terlambat, karena ketidak tahuan saya 😇 lanjutan RAHIM YANG DIKONTRAK yang sudah tiga bab saya pindahkan ke konten baru Rahim Yang Dikontrak 2. Terimakasih ats kesetiaan anda mengikuti karyaku ini 🙂👍🙏🙏
total 1 replies
Yuseva ❤️❤️
good job
Asma Susanty
liat promonya lewat di berandaku ,penasaran ,jadi aku mampir..
RiskyRamadhan Ramadhan
kerennn😍
Raden Ende Kusumawati
oke
Putri Adilamyska
ada seperti ini certanya tapi lupa judulnya dia belum menikah tapi ada rumor bilng dia mandul akhirx gagal nikahnya dan dia keluar negri dia jg program bayi tabng biar membuktikan klo dia tdk hamil... aduh lupa judulnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!