Kisah perjalanan hidup Ratna, seorang istri yang dikhianati oleh adik kandung dan suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRATA_YUDHA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Aku mencoba menjalani hari-hariku dengan bodo amat, semakin hari mas Ilyas semakin berubah. Sudah sering aku meminta untuk bicara baik-baik padanya untuk memperbaiki hubungan yang terasa semakin hambar ini. Tapi tetap saja tak membuahkan hasil. Aku selalu instrospeksi diri, apa yang salah padaku? kenapa sebegitunya mas Ilyas berubah, tak adakah sedikit rasa cinta yang dulu begitu menggebu, jujur saja rasanya sangat lelah setiap malam hanya menangis dalam kesendirian. Aku bahkan melakukakn diet keras, tapi bukan tubuh yang ideal, justru malah penyakit asam lambung yang ku dapat. Ditambah mertuaku yang terus-terusan memojokkanku.
Sore itu seperti biasa aku sedang menyetrika baju-baju Ikhsan dan mas Ilyas. Puja terlihat baru pulang manggung. Dia melirikku sekilas.
"Kak, kayaknya kakak capek banget, ngapa enggak sewa pembantu aja sih biar bisa fokus sama Ikhsan" tanyanya.
"Kakak udah pernah minta, tapi nggak dikabulin sama mas Ilyas, suruh urus sendiri katanya. Yang ada kakak malah dikatain enggak becus." jawabku lesu.
"Mangkanya kak, kalau punya uang ditabung jangan dipake buat makan doang, sekarang tanggung sendiri capek juga ulah sendiri." ucapnya sarkas.
Aku tertawa getir, bahkan adikku sendiri malah mengejekku dan seakan-akan lebih mendukung mas Ilyas. Namun tanpa ku sangka, dia meletakkan uang ditanganku yang jumlahnya lumayan banyak.
"Apa ini dek?" tanyaku heran.
"Uang hasil manggung, ini uang buat nyari pembantu, ntar kalau kakak kecapekan malah gak bisa ngelayanin mas Ilyas. Ribut lagi, Puja pusing dengerinnya tiap hari berantem terus" jawabnya sambil tersenyum.
"Enggak usah dek, kamu pake buat keperluan kamu aja" tolakku.
"Enggak apa-apa ini buat kakak. Aku ke kamar dulu kak, capek." jawabnya lalu berlalu begitu saja.
Aku tidak mengerti kenapa uang hasil manggungnya malah dikasihkan kepadaku. Padahal, dia juga pasti punya kebutuhan. Puja memang aneh, kadang terlihat sangat baik, kadang marah-marah dan tidak mau diganggu, aku merasa dia seperti menyembunyikan sesuatu dariku karena tak jarang dia menangis tak jelas dipelukanku. Tiap aku tanya, dia tak pernah mau bercerita, entahlah yang jelas dia sangat tertutup padaku. Saat itu aku berfikir, mungkin dia tak mau menambah fikiranku dengan masalahnya, karena masalahku sendiri sudah cukup berat.
Semenjak kejadian itu gelagat Puja semakin aneh, aku melihatnya sangat lesu dan tidak bersemangat. Dia juga sudah jarang manggung, kondisinya lemas dan sering mual-mual, tapi dia selalu membantah jika di ajak ke dokter. Aku makin curiga, kenapa Puja seperti sedang hamil? tapi aku tak enak menanyakannya. Puja sendiri seperti menghindariku dan lebih banyak mengurung diri dikamar. Karena merasa sangat janggal, sore itu aku beranikan diri bicara dari hati ke hati padanya.
"Puja, kakak boleh masuk?" tanyaku.
"Boleh" ucapnya lemah.
"Kamu kenapa, sakit lagi?" tanyaku saat aku duduk disisi ranjangnya.
"Enggak, cuma lagi males ngapa-ngapain aja" jawabnya asal.
"Tapi kakak perhatiin kamu kok sering muntah-muntah? kamu udah berobat belum?" tanyaku memastikan.
"Udah kok, kata dokter Puja kecapean aja, kakak tau sendiri job Puja banyak, bahkan sampai kewalahan nerima job." katanya.
"Ya udah kamu istirahat aja ya, jangan banyak pikiran biar cepet sembuh" pesanku.
Saat itu aku merasa lega, karena kecurigaanku ternyata tidak benar. Namun suatu malam aku tak sengaja mendengar mas Ilyas sedang bicara ditelfon, entah dengan siapa aku juga tak tahu. Yang jelas dia terdengar sedang marah-marah, karena penasaran aku memberanikan diri untuk mengupingnya.
'Mangkanya gugurin! disuruh gugurin malah gak mau, tanggung akibatnya sendiri!' begitu ucapan mas Ilyas yang kudengar. Mataku terbelalak kaget. Bodohnya saat itu aku langsung menanyakannya pada mas Ilyas.
"Mas, apa yang digugurin? lagi nelfon siapa?'' tanyaku tanpa basa-basi. Mas Ilyas terkejut saat melihatku sudah ada disampingnya. Bukannya menjawab dia malah terlihat sangat marah.
"Bisa enggak kalau nggak ikut campur urusan suami! jadi istri bisanya bikin orang kesel terus!" dia malah membentakku.
"Jawab pertanyaan aku mas! apa kamu ngehamilin perempuan lain, terus kamu suruh gugurin gitu? iya!" tanyaku berapi-api.
"Jangan sembarangan kamu kalau ngomong!" ucapnya tak kalah keras.
"Terus tadi apa maksudnya?" tanyaku lagi.
"Udah aku bilang, bukan urusan kamu!'' setelah berkata begitu dia pergi begitu saja. Entah mau kemana, yang jelas makin hari mas Ilyas semakin seenaknya saja.
sok berhati malaikat.