Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan
Bisa menghapus Luna. Kalimat itu bukan sekadar menggantung di udara.
Rangkaian kata itu merayap di kulit Queenora, dingin seperti sentuhan hantu. Ia tanpa sadar meremas liontin tetesan air mata yang tersembunyi di balik kerah blus sederhananya.
Logam dingin itu menjadi satu-satunya jangkar di tengah badai kecemasan yang mulai bergolak di perutnya. Ia telah memilih blus berwarna krem dan celana kain gelap pakaian yang membuatnya nyaris tak terlihat, kostum seorang pekerja yang efisien, persis seperti yang Darian perintahkan. Dia tidak mendapatkan seragam seperti Bi Asih, jika ada mungkin Quuenora akan memakai itu.
Waktu seolah berjalan lebih lambat. Setiap detik terasa ditarik paksa. Adreine duduk dengan tenang di sofa ruang tamu, memangku Elios yang tertidur pulas, tetapi jemarinya yang mengetuk-ngetuk pelan di punggung bayi itu mengkhianati kegelisahannya.
Darian berdiri di dekat jendela, punggungnya kaku seperti papan, menatap ke arah jalan masuk seolah menunggu eksekutornya tiba. Bahkan Bi Asih, yang biasanya sibuk di dapur, beberapa kali mengintip dari ambang pintu dengan wajah pias. Seluruh rumah menahan napas.
Lalu, akhirnya suara itu datang. Deru mesin mobil mewah yang berhenti dengan presisi arogan di depan pintu utama. Pintu mobil yang ditutup dengan bunyi ‘blam’ yang tegas dan tidak sabar.
Darian menegakkan tubuhnya, rahangnya mengeras.
“Dia di sini.”
Adreine menghela napas panjang, lalu menatap Queenora dengan sorot mata yang menguatkan.
“Ingat pesanku, Nak. Aku tahu kamu lebih kuat dari yang kamu kira.”
Queenora hanya bisa mengangguk dengan senyum kaku yang tersungging di bibirnya. Jantung gadis itu berdebar begitu kencang hingga terasa sakit.
Pintu depan terbuka, dan Madam Estrel melangkah masuk dengan langkah tegap dan anggun.
Ia adalah manifestasi dari kekayaan dan kekuasaan lama. Setelan berwarna gading yang membungkus tubuhnya yang ramping mungkin berharga lebih mahal dari seluruh isi lemari Queenora.
Rambut peraknya disanggul sempurna tanpa sehelai pun anak rambut yang berani keluar jalur. Aroma parfumnya tajam dan mahal campuran lili dan sesuatu yang citrusy, aroma yang menuntut perhatian. Namun, yang paling mematikan adalah matanya. Abu-abu seperti badai di musim dingin, tajam, dan analitis.
Tatapan itu menyapu ruangan dengan cepat, menilai setiap sudut, setiap perabot. Tatapan itu meluncur melewati Queenora, tidak berhenti, tidak mengakui, seolah Queenora hanyalah bagian dari dekorasi dinding yang tidak menarik.
“Adreine,” sapanya, suaranya jernih dan berwibawa, tanpa sedikit pun kehangatan.
“Darian.”
Estel bahkan tidak menunggu jawaban. Matanya langsung terkunci pada buntalan mungil di pangkuan Nyonya Adreine. Wajahnya yang beku seketika mencair, tetapi bukan menjadi kelembutan, melainkan menjadi obsesi yang membara.
“Elios-ku,” desisnya, melangkah maju dan mengulurkan tangan. Gerakannya bukan tawaran, melainkan klaim.
Adreine, dengan keanggunan yang tak tertandingi, menyerahkan cucunya.
“Dia baru saja tidur, Estrel. Elios baru selesai menyusu tadi.”
Estrel mengabaikan ucapan itu. Ia memeluk Elios ke dadanya dengan posesif, menciumi puncak kepala bayi itu berkali-kali.
“Oh, cucu Oma yang malang. Sendirian di dunia ini. Tapi Oma di sini sekarang. Oma akan selalu menjagamu.”
Queenora menelan ludah, merasakan tenggorokannya kering. Kata-kata itu ditujukan untuk Elios, tetapi terasa seperti ancaman yang ditujukan kepadanya.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Estrel akhirnya mengangkat kepala. Matanya yang dingin kini mendarat tepat di Queenora, untuk pertama kalinya. Ada jeda yang disengaja, jeda yang dirancang untuk membuat Queenora merasa kecil dan tidak berarti.
“Jadi,” kata Estrel, nadanya merendahkan.
“Kalian benar benar memperkejakan dia.”
Darian bergerak sedikit, hendak mengatakan sesuatu, tetapi ibunya memberinya tatapan peringatan yang membuatnya kembali diam. Ini adalah panggung Estrel, dan semua orang tahu itu.
“Siapa namamu?” tanya Estrel, meskipun Queenora yakin dia sudah tahu sejak mereka bertemu di rumah sakit.
“Queenora, Nyonya,” jawab Queenora pelan, suaranya stabil meski jantungnya serasa mau meledak. Ia menatap lurus ke mata wanita itu, menolak untuk menunduk.
“Queenora,” ulang Estrel, seolah sedang mencicipi kata asing yang tidak enak.
Ga“Dan kau… dari mana asalmu?”
“Saya dari kota kecil di luar sini, Nyonya.”
“Pendidikan terakhir?”
“Sekolah menengah atas, Nyonya.”
Setiap jawaban singkat Queenora disambut dengan dengusan kecil yang nyaris tak terdengar dari Estrel, sebuah penghakiman tanpa kata. Wanita itu berjalan mendekat, masih menggendong Elios, mengitari Queenora seolah sedang memeriksa kuda pacu yang cacat.
“Aku sudah melihat kontrak kerja mu” kata Estrel, kini berbicara pada Darian, tetapi matanya tetap menusuk Queenora.
“Bayaran yang sangat mahal untuk sebuah fungsi biologis, bukan begitu? Tapi kurasa di zaman sekarang, apa pun bisa dibeli ... Lumayan pantas.”
Darian mengepalkan tangannya di sisinya.
“Bu.Dia menyelamatkan Elios waktu di rumah sakit.”
“Oh, aku tidak meragukan kegunaannya,” balas Estrel dengan sinis.
“Tapi kegunaan tidak sama dengan kelayakan, Darian.” Estel kembali menatap Queenora.
“Kau sadar, kan, siapa bayi yang kau sentuh ini? Darah siapa yang mengalir di nadinya?”
“Saya mengerti, Nyonya. Dia putra Tuan Darian dan Nyonya Luna.”
“Bagus kalau kau mengerti posisimu,” desis Estrel.
“Kau hanya gadis pengasuh yang disewa. Sebuah wadah sementara. Jangan pernah lupakan itu.”
Adreine akhirnya angkat bicara, suaranya lembut namun tegas.
“Estrel, sudah cukup. Queenora adalah tamu di rumah ini dan dia telah merawat Elios dengan penuh kasih sayang.”
“Kasih sayang?” Estrel tertawa, tawa yang kering dan tanpa humor.
"Rasa kasih sayang tidak bisa dibeli dengan kontrak, Adreine. Ini hanya transaksi Adreine. Dan aku hanya ingin memastikan cucuku berhargaku tidak terkontaminasi karena penanganan yang salah.”
Kata-katanya begitu kejam, begitu merendahkan, hingga udara di ruangan itu terasa sesak.
Queenora bisa merasakan tatapan Darian padanya, campuran antara rasa bersalah dan kemarahan yang tertahan. Pria itu telah memperingatkannya, tetapi mendengar penghinaan itu secara langsung terasa jauh lebih buruk.
Namun, Queenora tidak goyah. Ia membiarkan kata-kata itu menghantamnya seperti ombak, tetapi ia adalah batu karang. Ia sudah pernah mendengar yang lebih buruk dari darah dagingnya sendiri.
Melihat Queenora tidak menunjukkan reaksi yang ia harapkan, tidak ada air mata, tidak ada kegugupan, Estrel tampak semakin jengkel. Ia mendekat, menatap Queenora dari atas ke bawah sekali lagi.
“Aku tidak suka caramu menatapku,” katanya dingin.
“Kau hanya pelayan, jangan melihat ku seolah kau punya hak untuk berada di sini.”
“Saya mengerti Nyonya , saya hanya melakukan pekerjaan saya, Nyonya.”
Estrel tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya.
“Pekerjaanmu adalah memberikan susu. Pastikan kau hanya melakukan itu.”
Estel berbalik, menyerahkan Elios kembali ke pelukan Nyonya Adreine dengan enggan. Kunjungannya jelas sudah selesai. Ia telah menyampaikan pesannya.
“Aku akan kembali besok,” katanya pada Darian.
“Dan setiap hari setelahnya. Aku akan memastikan cucuku mendapatkan yang terbaik, dan bukan dari sumber yang… dipertanyakan.”
Wanita paruh baya yang menolak tua itu berjalan menuju pintu, langkahnya anggun dan mematikan. Darian dan Adreine tetap diam, seolah membeku. Tepat di ambang pintu, Estrel berhenti dan menoleh ke belakang, matanya kembali tertuju pada Queenora.
“Satu hal lagi,” katanya, suaranya turun menjadi bisikan berbahaya yang memenuhi seluruh ruangan.
“Pastikan Elios tidak meniru kebiasaan buruk apa pun yang mungkin ia dapat darimu. Aku tidak mau cucuku tumbuh dengan meniru perilaku orang asing sepertimu ... Yang tidak jelas asal usulnya.”
Kedua mata Estel mendelik, menatap Darian dengan tajam.
“Dan kau, Darian. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu membiarkan perempuan seperti ini berada sedekat ini dengan putra Luna. Aku sudah meminta seseorang untuk mencari tahu latar belakangnya secara menyeluruh, kita lihat dia pantas atau tidak untuk tetap bekerja di sini.”
Mata Estrel berkilat penuh kemenangan jahat saat ia menjatuhkan bom terakhirnya.
“Kita lihat saja nanti, apa yang akan mereka temukan.”