"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "
Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.
Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Senyapnya Kerinduan
Kopi di hadapan Xiao Fei sudah dingin, seperti hatinya. Uapnya telah lama lenyap, sama seperti harapan yang pernah memenuhi apartemen rahasia ini. Di dinding, foto Yu tersenyum sinis. Bukan senyum yang tulus, tapi senyum seorang aktor yang tahu dunia sedang menonton. Dan selalu mentertawakan kegemerlapan palsu yang selama ini dipendam diam-diam. Sebagai aktor papan atas, publik figure yang dipuja seluruh dunia perfilman dan kesuksesan semu yang tiada orang tahu, Yu sudah melaluinya.
"Kamu bohong, Yu."
Fei berbisik, suaranya serak. Jemarinya mengusap tepian cangkir, mencari kehangatan yang tak ada.
"Overdosis tragis? Kamu bahkan nggak pernah sentuh rokok. Minum alkohol pun cuma kalau terpaksa dan dipaksa..." raung frustasi gadis lajang cantik yang selalu menemani Yu setiap selesai syuting. Rambutnya yang hitam panjang itu kesukaan Yu kekasih yang bulan depan akan mengumumkan hubungan mereka.
Dia menatap mata Yu di foto itu, mencari jawaban. Tapi hanya ada pantulan cahaya, seolah-olah Yu mengejeknya dari balik bingkai.
"Mereka pikir aku bodoh? Mereka pikir aku akan percaya?"
Air matanya tidak lagi mengalir. Sudah kering, digantikan oleh kekosongan yang membakar. Kekosongan yang menuntut sesuatu.
"Dua minggu. Dua minggu sejak mereka bilang kamu 'pergi'."
Media masih terus memberitakan. Narasinya seragam: bintang muda yang terlalu banyak tekanan, akhirnya terjerumus narkoba dan miras. Klise. Murahan.
"Kamu bukan pecundang, Yu. Kamu pejuang."
Fei bangkit, melangkah ke jendela. Tirai tebal menyembunyikan dunia luar, dunia yang kini memfitnah kekasihnya.
"Kita sudah jauh-jauh sembunyi di sini. Dari mata-mata, dari omongan orang. Demi apa? Demi cerita konyol ini?"
Dia mengepalkan tangan. Kuku-kukunya menusuk telapak tangannya.
"Kamu bilang, 'Fei, kita harus hati-hati. Ada banyak mata yang nggak suka kita bahagia.' Omong kosong apa itu, Yu?"
Kenangan-kenangan berputar. Yu, tertawa lepas di sofa. Yu, memeluknya erat di tengah malam. Yu, berbisik rencana masa depan mereka.
"Santorini. Kamu janji kita akan ke Santorini. Setelah semua ini selesai, katamu."
Suaranya pecah. Tapi tidak ada air mata. Hanya amarah yang mulai merayap naik, dingin dan tajam.
"Selesai apa? Selesai mati di tangan orang lain?"
Ponselnya berdering. Nama "Catherine" muncul. Sahabatnya. Fei menghela napas, mencoba menenangkan diri.
"Halo, Trien"
"Fei! Astaga, kamu akhirnya angkat telepon. Kamu ke mana aja sih? Aku khawatir banget!" Suara Catherine terdengar panik.
"Aku... aku baik-baik saja."
"Baik-baik saja? Yu meninggal, Fei! Dan kamu menghilang kayak ditelan bumi. Semua orang nyariin kamu. Manajernya Yu, si Chen itu, juga nyari kamu."
"Biarkan saja."
"Fei, kamu harus keluar. Kamu harus bicara. Jangan terus-terusan mengurung diri. Yu nggak akan suka kamu kayak gini."
"Yu?" Fei tertawa getir. "Yu nggak akan suka kalau aku percaya omong kosong mereka."
Ada keheningan di seberang sana. Catherine pasti merasakan perubahan dalam suaranya.
"Omong kosong apa maksudmu? Berita di TV itu... overdosis. Semua orang tahu."
"Semua orang percaya." Fei mengoreksi. "Aku tidak."
"Fei, please. Jangan gini. Ini cuma bikin kamu makin sakit. Yu... dia pergi. Kita harus ikhlas."
"Ikhlas? Setelah apa yang aku tahu tentang dia? Setelah semua yang dia perjuangkan?" Fei mendengus. "Kamu nggak tahu apa-apa, Cat."
"Aku tahu kamu lagi kacau. Aku tahu kamu kesepian. Tapi ini... ini berbahaya kalau kamu terus-terusan denial, Fei."
"Berbahaya? Lebih berbahaya mana, percaya kebohongan atau mencari kebenaran?"
"Kebenaran apa lagi? Dia udah nggak ada, Fei."
"Dia dibunuh, Trien."
Kata-kata itu meluncur keluar, tajam dan dingin. Catherine terdiam, terkejut.
"Fei! Apa yang kamu omongin? Jangan ngada-ngada. Kamu terlalu sedih sampai berhalusinasi."
"Aku nggak berhalusinasi. Aku tahu Yu. Aku tahu dia lebih dari siapa pun."
"Tapi... siapa yang mau bunuh dia? Kenapa? Dia kan aktor. Nggak punya musuh serius."
"Justru itu. Musuhnya bukan musuh biasa." Fei menatap foto Yu lagi. "Dia punya sesuatu yang besar. Sesuatu yang bisa menghancurkan banyak orang."
"Fei, aku takut sama kamu. Kamu terdengar... berbeda."
"Aku memang berbeda. Aku bukan lagi Xiao Fei yang lemah."
"Please, Fei. Jangan lakukan hal bodoh. Kalau kamu butuh aku, aku ada. Tapi jangan cari masalah."
"Aku akan mencari keadilan, Chatrine. Bukan masalah."
Fei mengakhiri panggilan. Dia tidak bisa melibatkan Catherine dalam kegilaan ini. Ini perangnya sendiri.
Dia kembali ke meja, menatap kopi dingin. Pikirannya berputar, menyusun kepingan-kepingan informasi yang Yu pernah lontarkan secara samar. Tentang "daftar hitam", tentang "orang-orang penting", tentang "rahasia yang bisa meledak".
"Kamu nggak akan mati sia-sia, Yu."
Tekadnya mengeras. Duka yang mencekik kini berubah menjadi api yang membakar. Api dendam, api keadilan. Dia tidak akan membiarkan mereka lolos dengan narasi murahan itu.
Pikirannya masih sibuk merangkai kemungkinan, ketika sebuah suara samar menarik perhatiannya. Ketukan pelan di pintu.
Fei terdiam. Dia tidak menunggu siapa pun. Apartemen ini rahasia. Hanya Yu dan dia yang tahu.
Dia berjalan hati-hati menuju pintu, melongok dari lubang intip. Tidak ada siapa-siapa. Dia menunggu, menahan napas. Beberapa detik berlalu.
Lalu, dia melihatnya. Sebuah paket. Tergeletak di keset, tepat di depan pintu. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada alamat tujuan. Hanya sebuah amplop cokelat kusam, tanpa tanda.
Jantung Fei berdebar. Dia membuka kunci pintu perlahan, sedikit mengintip ke koridor yang sepi. Tidak ada jejak orang lain.
Dengan tangan gemetar, dia meraih paket itu. Ringan. Terasa tua.
Dia membawanya masuk, mengunci pintu kembali dengan tergesa. Meletakkannya di meja kopi.
Apa ini? Dari siapa?
Dia merobek amplop itu dengan ujung kukunya yang patah. Di dalamnya, ada sesuatu yang kecil dan usang. Sebuah kartu memori. MicroSD, jenis lama, yang biasanya dipakai di ponsel jadul atau kamera digital murah.
Fei membalik-balik kartu itu di antara jari-jarinya. Ada goresan halus di permukaannya, seolah pernah digunakan berkali-kali.
"Apa ini, Yu?"
Dia menatap kartu itu, lalu ke foto Yu. Senyum di foto itu kini terasa lebih misterius, lebih menantang. Seolah Yu tahu sesuatu yang akan mengubah segalanya.
Sebuah firasat dingin menjalar di punggungnya. Ini bukan kebetulan. Ini bukan belasungkawa. Ini adalah awal.
Dia tahu. Mulai saat ini, hidupnya berubah menjadi perburuan.