NovelToon NovelToon
Dendam 172

Dendam 172

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying di Tempat Kerja
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

“Siapa nama anaknya?” tanyaku pelan.

“Marlina,” jawab Ratna singkat.

“Marlina,” gumamku, merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dada. “Bukan Nirmala?”

“Nirmala?” Ratna ikut berbisik, seolah takut nama itu terdengar oleh dinding. “Pasien sering bergumam menyebut nama Nirmala.”

Aku terdiam. Potongan-potongan kejadian mulai menyusun pola yang mengerikan. “Ada apa, Mas? Kok tiba-tiba tanya soal pasien Lusi?” tanya Ratna cemas.

“Nanti aku ceritakan,” jawabku singkat.

Aku menoleh ke arah Zaki dan memberi isyarat halus. Ia langsung mengerti. Tanpa bicara, ia bergegas keluar ruangan, mengejar seorang perempuan yang kemungkinan besar baru saja menjenguk Lusi. Kami masih menyimpan foto Nirmala semasa SMP. Meski bertahun-tahun berlalu, perubahan wajah biasanya tidak sepenuhnya menghapus ciri utama seseorang.

Aku kembali menatap Ratna. Tatapanku mungkin terlalu lama hingga membuatnya salah paham.

“Kenapa, Mas?” katanya lembut. “Tenang saja. Aku sudah memutuskan untuk tetap bersama kamu, apa pun yang terjadi.” Ia memelukku erat.

Aku tersenyum kecil, tapi pikiranku sama sekali tidak ke sana. Meski begitu, aku bersyukur tanpa perlu kata-kata, Ratna memilih bertahan.

“Sayang, aku mau tanya sesuatu soal Lusi,” ucapku serius.

“Kenapa?”

“Apakah pasien ini pernah keluar dari ruangan?”

Ratna menggeleng. “Emosinya tidak stabil. Dia hanya mau makan kalau disuapi aku atau Rani. Aku bahkan pulang cepat karena Rani tidak bisa masuk. Kalau kami berdua tidak ada, dia mogok makan.”

“Jadi dia benar-benar tidak pernah keluar?” ulangku memastikan.

“Iya, Mas. Pasien ini diawasi ketat,” jawab Ratna sambil menunjuk ke sudut-sudut ruangan. “Lihat, CCTV di mana-mana.”

Aku mengikuti arah jarinya. Kamera-kamera itu menatap dingin, seolah menjadi saksi bisu dari kebohongan besar yang selama ini kami yakini.

Dalam pengawasan ketat tidak pernah keluar sudah cukup alibi untuk mengatakan kalau lusi bukanlah pelaku teror,,kalau bukan lusi lantas siapa, apa mungkin nirmala yang mengaku namaya marlina

Aku merogoh saku celana dan mengambil ponsel. Tanganku sedikit bergetar saat membuka galeri, lalu kuserahkan layar itu ke Ratna. Foto Nirmala semasa SMP terpampang jelas, dengan wajah polos dan senyum tipis yang terasa menyayat.

“Apakah ini anak Bu Lusi?” tanyaku pelan.

Ratna menerima ponsel itu, mendekatkannya ke wajahnya. Ia menyipitkan mata, mengamati dengan saksama, bahkan memiringkan ponsel seolah sudut pandang bisa memberi jawaban berbeda. Beberapa detik kemudian ia menggeleng pelan.

“Sepertinya bukan, Mas,” katanya hati-hati. “Ini bukan Marlina. Marlina lebih pendek dan lebih gemuk.”

Jawaban itu membuat dadaku terasa ditekan sesuatu. Pendek dan gemuk. Perubahan fisik memang bisa terjadi, tapi menjadi lebih pendek hampir mustahil. Jangan-jangan selama ini aku mengejar bayangan yang salah. Jangan-jangan perempuan yang kami cari bukan Nirmala.

Ratna menurunkan ponsel dan menatapku. “Kenapa, Mas? Kok dari tadi banyak diam?”

Aku ingin menjelaskan semuanya, ingin menumpahkan kegelisahan yang berputar di kepalaku. Namun ketika melirik jam di dinding, jarumnya sudah menunjuk pukul 20.00. Waktu terus berjalan. Walau penjagaan diperketat, firasatku mengatakan bahaya belum berlalu. Aku harus segera berkoordinasi dengan Pak Nurdin.

“Sayang, aku harus bertugas lagi,” ucapku lirih.

Sebelum pergi, pandanganku jatuh pada Lusi. Bibirnya pecah-pecah, kulitnya pucat, tubuhnya kurus kering. Tatapannya kosong menembus entah ke mana. Namun di balik wajah lelah itu, sisa kecantikan masih tampak samar, seperti kenangan yang belum sepenuhnya padam.

Aku melangkah keluar ruangan. Baru beberapa langkah, tubuh kecil menabrak kakiku.

“Ayah!” teriak Tiara sambil memeluk erat pinggangku.

“Yah, tinggal di sini saja,” pintanya manja.

“Tiara, ayah lagi kerja,” ujar Andika menegur adiknya dengan nada tenang.

“Kerja ya, Yah. Ya sudah, nanti habis kerja main sama aku,” kata Tiara sambil mendongak.

Aku menoleh ke Andika. Wajahnya datar, matanya justru melirik jam tangannya.

“Yah, lima puluh menit lagi. Ayah sudah tahu target berikutnya siapa?” tanyanya serius.

“Ayah masih bingung. Bisa jadi polisi, bisa jadi yang lain,” jawabku jujur.

“Coba ayah bayangkan jadi pelaku teror. Kira-kira target ayah siapa?”

“Kamu ngawur,” sahutku refleks.

“Ini penting, Yah. Menurutku target selanjutnya siswa. Kalau ini teror, dia akan memilih tempat yang dianggap paling sulit ditembus. Tujuannya bukan cuma membunuh, tapi mempermalukan sistem.”

Aku terdiam. Kata-kata Andika menggema di kepalaku.

“Yah, tinggal empat puluh lima menit lagi. Semangat,” ucapnya pelan.

Ia menggandeng Tiara kembali ke ruang perawatan, meninggalkanku dengan pikiran yang kian gelap.

Yang dikorbankan jelas seluruh anggota polsek pasar rebo tahun 2019 dan calon korban siapa saja belum ketahuan

Di luar ruangan aku berpapasan dengan Zaki. Wajahnya tampak pucat, napasnya tersengal, jelas baru saja berlari cukup jauh.

“Gimana, Ki?” tanyaku cepat.

Zaki menggeleng pelan sambil menahan napas. “Hilang. Enggak ketemu. Orang yang keluar barusan bukan Nirmala.”

“Jadi kemungkinan besar bukan dia,” kataku lirih. “Yang sering menjenguk Lusi katanya posturnya pendek dan agak gemuk.”

Zaki mengangguk, wajahnya mengeras. “Iya. Kalau soal tinggi badan, susah dimanipulasi. Enggak mungkin berubah sejauh itu.”

Kami sama-sama terdiam. Lorong rumah sakit terasa semakin sempit, seolah menekan dada. Teror ini benar-benar menyita waktu dan pikiran. Kami dikejar jadwal pembunuhan yang terus berjalan, sementara pelaku masih kabur. Bahkan calon korban pun kini semakin samar.

Aku melirik jam tangan. Angkanya membuat perutku mengeras. Pukul 20.25. Tersisa tiga puluh lima menit. Dalam hitungan kurang dari satu jam, nyawa lain bisa melayang. Kami belum tahu siapa pelakunya, belum tahu siapa target berikutnya.

“Seandainya kasus Nirmala dulu ditangani dengan adil,” gumamku pahit, “semua ini mungkin tidak akan serumit sekarang.”

Zaki menghela napas panjang. “Sampai sekarang juga belum ada yang jujur buka suara soal apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu.”

Kami kembali diam, menyadari satu hal. Waktu terus berjalan, dan kebenaran masih terkubur.

Ponselku berdering. Nama Pak Haris muncul di layar. Aku langsung mengangkatnya.

“Bagaimana, Andi?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Ibu Lusi mengalami depresi berat dan sudah dua tahun dirawat di rumah sakit jiwa. Selama itu dia tidak pernah keluar, jadi dia punya alibi kuat. Dia bukan pelakunya,” jawabku cepat.

“Berarti dugaan ke Romi makin menguat,” ujar Pak Haris. “Kemungkinan dia mengerahkan banyak orang untuk melakukan teror ini.”

“Sekarang Romi di mana?” tanyaku.

“Belum terlacak,” jawabnya singkat. “Sebaiknya kamu kembali ke markas.”

Aku menghela napas. Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 20.35. Dugaan terhadap Romi masuk akal, tapi di kepalaku muncul banyak pertanyaan. Dia kini bos hiburan malam. Jika dia menciptakan teror sebesar ini, bukankah dampaknya akan menghantam usahanya sendiri. Namun aku menepis keraguan itu. Waktu tidak memberi ruang untuk berdebat dengan logika.

Aku dan Zaki segera menuju mobil dan melaju ke Polsek Pasar Rebo. Setiap detik terasa berat. Misteri semakin rumit, tekanan semakin menyesakkan. Pelaku benar-benar mengendalikan suasana, membuat kami bergerak dalam ketakutan.

Kami tiba di polsek pukul 20.55. Aku bergegas masuk ke ruang rapat. Semua orang sudah berkumpul, duduk melingkar, mata mereka tertuju pada jam dinding yang berdetak keras di telinga.

“Selamat malam,” ucap Pak Nurdin, bersiap membuka rapat.

Belum sempat ia melanjutkan, Pak Cipto tiba-tiba berseru, “Pak Nurdin, terjadi lagi korban.”

Ruangan seketika membeku.

“Siapa?” tanya Pak Nurdin tegang.

“Rosalina. Salah satu siswa yang dijaga ketat,” jawab Pak Cipto.

“Bagaimana dia meninggal?”

“Ditembak sniper.”

Semua terperangah. Pelaku semakin brutal. Membunuh di tempat terang, di lokasi dengan pengamanan ketat. Bukan racun, bukan manipulasi. Tembakan jarak jauh.

Ini bukan lagi pembunuhan berantai. Ini pernyataan perang.

1
Nurr Tika
makin penasaran
Nurr Tika
sebanarnya meraka maunya pa
Nurr Tika
sebenarnya siapa mereka
Nurr Tika
apakah mereka terlibat akan teror itu
Intan Melani
iya kan si anak y di tolong kakek
Nurr Tika
lanjut,,,,,,
Nurr Tika
diantara mereka ada yg jd mata" siapa ya, lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,,
Nurr Tika
lanjut thor semakin seru
Fitur AI
Semangat ya pak , nanti jangan lupa mampir kenovel aku hehehe...🙏😊
Fitur AI
seharus nya bersukur punya cowo begini
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
benarkah nirmala msh hidup
Nurr Tika
lanjut thor
Intan Melani
aqkya pernah baca thor kayanya y si Nirmala di buang ke jurang sama 2orang cwo. di temuin sama kakek2 terus di obati terus di ajarin bela diri bwt balas dendam.
Nurr Tika
lebih banyak dong thor up nya
Nurr Tika
bikin penasaran thor lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,, apakah ini yg bls dendam pcaranya atau ibunya.
Nurr Tika
lanjut,,,,,
Nurr Tika
makin seru lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!