Namanya Bunga, gadis remaja yang hidup bergelimang harta dengan apa yang dia dapatkan. Jika kalian mengira Bunga salah satu anak dari orang kaya raya atau pesohor di tanah air, maka itu salah besar. Bunga gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA dengan segudang cerita malamnya.
Cantik dan sexy itu yang tersemat jika kalian melihat seorang Bunga. Gadis yang selalu menjadi incaran teman-teman sekolahnya. Namun tidak satupun yang bisa dekat dengannya, Bunga teralalu cuek dan penutup. Sampai pada akhirnya Bian datang dan membawa sejuta cerita untuknya, merubah Bunga secara perlahan, namun ditengah-tengah hubungan mereka masalah cukup serius datang dan membuat keduanya sama-sama saling membenci namun masih menyimpan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Aneh
Langkah Bian sejajar dengan langkah gadis cantik yang kini diam-diam sedang tersenyum. Hatinya berbunga melihat tatapan teman-teman sekolahnya ke arah keduanya. Bahkan ada yang saling berbisik jika mereka itu sangat cocok, Seyna tidak bodoh, dia tahu jika banyak teman-teman sekolahnya yang menjodohkan mereka secara tidak langsung.
"Wuih....pagi-pagi udah berdua aja, awas ketiganya setan!" goda Oki melihat kedatangan Bian dan Seyna secara bersamaan.
"Udah kayak pasangan pengantin yang datang dari altar nggak sih?" lanjut Andre menambahi.
"Kalau kalian jadian nih ya... Pasangan goals di sekolah ini!" seru Oki yang diangguki oleh Andre.
Bian hanya menampillkan wajah datarnya. Sementara Seyna tersenyum simpul dengan godaan teman-teman Bian. Dia malu, tapi juga suka.
"Tapi sebelum gue sama si sexy Bunga jadian," timpal Roni membuat Andre dan Oki bersorak.
"Bac*t!" kesal Bian duduk di bangkunya.
Bian mengambil gitar yang Oki bawa. Lalu senar itu mulai dia petikan dengan lagu kesukaannya. Bian membawakan lagu kahitna dengan judul cantik. Tetapi anehnya bayangan wajah Bunga ketika di mobil tadi yang terus terngiang di pikiran Bian saat ini. Bulu mata lentik dan mata terpejam itu begitu mengusik pikirannya.
Seyna menatap Bian tanpa berkedip. Bian selalu menarik perhatiannya. Bian begitu istimewa menurutnya.
Tanpa mereka sadari. Geng Jian yang tadinya berniat datang ke kelas mereka merekam apa yang sedang Bian lakukan. Jian bahkan sampai menumpukan kedua tangannya. Bian memang beda.
Setelah lagu itu selesai dinyanyikan. Suara tepuk tangan dari Jian dan kedua temannya membuat seisi kelas menoleh. Jian dengan penuh percaya diri masuk ke kelas Bian. Sebelumnya ia melirik ke arah Seyna tidak suka.
"Bi, suara kamu bagus banget!" puji Jian yang hanya dijawab Bian dengan senyum simpul.
"Emmm..mau nggak bawain lagu di konser kakak gue besok?" tanya Jian membuat teman-teman Bian heboh.
Jelas saja mereka akan mengiyakan apa yang Jian tawarkan. Pasalnya Bian ini paket komplit untuk masuk ke dunia industri musik, selain wajah ganteng yang pastinya sangat menjual, Bian jago bermain gitar, piano, dan bahkan juga drum. Vokal Bian juga tidak kalah bagus dengan vokalis band tanah air, hanya saja Ayahnya tidak mengijinkan.
"Gimana Bi?" tanya Jian sekali lagi.
"Iya aja Ian, ini kesempatan lo!" teman-teman Bian begitu mendukung.
Bian menatap Jian sebentar. Lalu mengangguk kecil. "Gue coba," jawab Bian membuat Jian kegirangan.
"Iyes! Kalau gitu nanti gue kabari lo lagi ya? thank lo Bi," jelas Jian pamit untuk pergi. Sebelum pergi dia melirik ke arah Seyna yang duduk di bangkunya dengan memperlihatkan wajah ingin menangis. Hal itu ia tunjukan untuk mengejek Seyna. Jika Jianlah pemenangnya.
Bi adalah sebutan Jian untuk Bian. Jika yang lain memanggil dengan sebutan Ian, maka Jian akan memanggil dengan sebutan yang terdengar lebih romantis lagi.
Pelajaran kedua telah usai. Dan kini Bunga sedang duduk di kelasnya untuk melanjutkan tidurnya. Telalu banyak meladeni para Om tadi malam, membuatnya merasa lelah.
Ponsel yang sedari tadi malam sengaja dia matikan kini dia hidupkan. Matanya terbelalak melihat nama handsome yang terus mencoba mengubungi dan memberi pesan untuknya. Bunga baru tersadar jika ia tidak bilang untuk tidak menemani Om Praja tadi malam karena pekerjaannya.
Bunga memilih untuk keluar dari kelas dan pergi ke taman belakang sekolah. Dia selalu suka berada di sana karena sepi. Jika tidak, biasanya Bunga akan pergi ke atap gedung sekolah, tetapi untuk menelpon sugar baby nya jelas tidak akan tepat. Karena suara angin yang terkadang kencang akan mengganggu suara di telepon.
Setelah memberi tahu Om Praja, Bunga menghela napas lega. Beruntung Om Praja sangat mengerti akan dirinya. Beliau tidak mempermasalahkan.
Langkah Bunga terhenti saat berbalik badan sudah ada Bian di depannya. Cowok itu menatap Bunga dengan tatapan yang aneh. Seperti menyelidik.
"Minggir!" Bunga menyingkirkan tubuh Bian yang menghalangi jalannya.
Seakan tidak membiarkan Bunga pergi begitu saja. Bian mencekal pergelangan tangan Bunga. Membuat gadis itu mau tidak mau akhirnya kembali menghadap ke arahnya.
"Mau lo apa?" tanya Bunga tanpa basa-basi. Dia memang tidak suka bertele-tele.
Bian tidak menjawab, tetapi tatapan matanya menatap Bunga begitu dalam.
Melihat tindakan Bian membuat Bunga meghempaskan cekalan tangan Bian dengan kasar. Dia ingin melepaskan diri dari cowok yang tidak begitu dikenalinya itu.
Tetapi hasilnya nihil, cekalan tangan Biam tidak terlepas dengan mudah begitu saja.
"Lepas bege!" kesal Bunga akhirnya membuat cekalan tangan Bian meregang, dan tangan Bunga kini benar-benar terlepas.
"Aneh," cibir Bunga berlalu meninggalkan Bunga.
Sementara Bian merasa aneh pada dirinya. Dekat dengan gadis itu membuat detak jantungnya tidak bekerja dengan normal. Benar apa yang dikatakan oleh Bunga, Bian sendiri merasa dirinya itu aneh.
"Na. dari mana aja sih ye?" tanya Deni yang datang menemui Bunga ke kelasnya.
"Biasa," jawab Bunga yang hanya diangguki oleh Deni.
"Deb, teman sekelas lo ada yang aneh nggak sih?" tanya Bunga tiba-tiba.
"Maksud ye?" Deni tidak megerti apa yang Bunga tanyakan.
"Itu cowok yang kemarinnya pernah nabrak gue," jelas Bunga seketika membuat Deni melotot dan mengangguk paham.
"A' Bian maksud ye?" tanya Deni memastikan.
Bunga mengangkat kedua bahunya. Seakan tidak peduli dengan nama yang Deni sebutkan, tetapi cukup penasaran dengan apa yang tadi cowok itu lakukan. Menurut Bunga sangat aneh. Apa lagi tatapan mata itu, Bunga seperti melihat tatapan dari seseorang, yang entah Bunga tidak ingat itu siapa.
"Adududu... Na, kenapa sama Ian? Jangan bilang ye tadi nabrak dia lagi biar tuh dada nempel di dada Ian, uhhh...nggak rela eike, sebagai teman kelasnya eike belum pernah tersentuh olehnya."
"Sint*ng, gue nggak sebobrok lo sama Rasel kali," jawab Bunga membuat Deni tersenyum.
"Emang kenapa si sama Bian? Aneh gimana dese?" tanya Deni mulai penasaran.
"Udah lah Deb, nggak penting juga," malas Bunga.
"Ih...nggak mau, ye harus cerita, apa yang buat yeee ngerasa dese aneh Na?" Deni semakin penasaran. Dia mendeseak Bunga untuk memberitahu. Karena memang tidak ada rahasia di antara persahabatan ketiganya. Baik dan buruk mereka sudah saling tahu.
Bunga menatap Deni sekilas. "Tadi dia sengaja banget nyekal tangan gue," jelas Bunga pada akhirnya. Dan penjelasan Bunga itu sukses membuat Deni ternganga.
"Sumpah demi apa ye? Omg Bunga....!"
__________
Pulang sekolah hari ini Bunga tidak langsung pulang ke apartemennya. Dia ada janji untuk ketemu dengan Om Praja. Semalam saja tidak bertemu dengan Bunga membuat laki-laki paruh itu galau setengah mati. Om Praja seakan sedang pada masa puber keduanya. Dan jatuh pada gadis yang masih remaja.
Om Praja menyuruh Bunga untuk datang langsung di salah satu kantornya. Hanya kantor cabang, tetapi sangat besar. Beliau bisa saja mengajak Bunga langsung ke kantor induknya. Tetapi, Bunga sendiri yang selalu menolak.
"Sore om ganteng" sapa Bunga manja, dari arah belakang.
Tangannya dia lingkarkan pada tubuh tegap Om Praja dari arah belakang.
Ditariknya tangan itu, lalu beliau kecup dengan begitu hangat. Sebelum akhirnya beliau membalikan badan untuk menghadap ke arah gadisnya.
Cup
Lagi-lagi kecupan singkat di bibir ranum Bunga dia dapatkan dari lelaki paruh yang masih terlihat tampan dengan tubuh tegap.
"Kamu nakal Beby, datang masih pakai seragam sekolah," bisik Om Praja seraya meremas bagian belakang Bunga.
"Arghh... Om lebih nakal dan buas," jawab Bunga dengan wajah sengaja menggoda.
Satu yang tidak Om Praja perhatikan, seragam yang dikenakan oleh Bunga saat ini. Beliau terlalu buta akan tubuh sexy gadis itu.
____
berikan dukungan kalian untuk cerita ini, kalau banyak yang minat aku lanjut, kalau enggak mungkin aku lindah di lapak sebelah