NovelToon NovelToon
Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Pelakor jahat
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.

‎Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.

‎Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.

‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

‎Bu Rima berdiri di ambang pintu, dadanya masih naik turun menahan emosi dan rasa malu yang belum hilang. Ia melangkah masuk dengan langkah terhuyung, lalu duduk di sofa sambil memegang dadanya yang terasa sesak.

‎‎"Kamu tanya kenapa? Ini semua gara-gara istri mandul kamu itu!" suaranya masih bergetar, nada bicara bercampur kesal dan kaget. "Baru saja Mama bertemu Risa di restoran. Mama menegurnya karena baru beberapa hari pergi meninggalkan rumah tapi dia sudah berani makan berdua dengan pria lain… tapi apa balasannya?"

‎‎Raga mengernyitkan dahi, masih sedikit kesal tapi juga mulai penasaran. Ia segera bangun dan menghampiri ibunya, ikut duduk disampingnya.

‎‎"Mama ketemu Risa?" tanyanya seolah tak percaya. "Dia sekarang bagaimana, Ma? Tinggal dimana? Mama tanya dia nggak?"

‎‎Bu Rima tertegun, tidak mengerti reaksi anaknya itu. "Raga! Mama itu lagi kesal sama Risa gara-gara dipermalukan sama dia didepan umum, kamu malah nanya-nanya begitu."

‎‎"Ma..." panggil Raga pelan, seolah menganggap kekhawatiran ibunya berlebihan. "Risa itu masih istriku, Ma. Aku khawatir dia sendirian diluar, aku takut dia kenapa-kenapa. Selama ini aku yang selalu menjaga dan melindunginya. Tanpa aku, dia pasti merasa sedih dan kesepian diluar sana. Dia hanya masih marah saja makanya dia terus menghindariku."

‎‎Bu Rima menatap wajah anaknya lekat-lekat, matanya membelalak tak percaya mendengar ucapan itu.

‎‎"Khawatir? Menjaga? Melindungi?" ulangnya dengan nada meninggi, bercampur kekecewaan yang mendalam, "Raga! Apa kamu sudah tidak waras?! Wanita itu baru saja mempermalukan Mama di depan banyak orang, mengancam Mama dengan bukti yang bisa menghancurkan nama baik keluarga kita, dan kamu masih bilang dia butuh perlindunganmu?!"

‎‎Raga menghela napas panjang, lalu menepuk pelan punggung tangan ibunya dengan sikap tenang.

‎‎"Ma, Mama tidak mengerti cara berpikir wanita. Kalau dia berani bicara setegas itu, itu tandanya dia masih punya emosi, masih peduli. Aku paham Risa, dan aku yakin dia masih sangat mencintaiku," jelasnya dengan nada meyakinkan, seolah dia paham benar sifat istrinya itu.

‎‎Bu Rima menggeleng kuat, "Kamu salah besar, Raga! Wanita itu sudah berubah. Dia tidak lagi seperti Risa yang lembut dan pasrah seperti dulu. Hari ini dia berani membantah, besok bisa saja dia benar-benar menyebarkan semua aib itu. Mama tidak mau mengambil resiko itu. Lebih baik kamu bercerai saja dengan dia dan menikah dengan wanita yang bisa memberi kamu keturunan!"

‎‎Setelah berkata begitu, pandangan Bu Rima perlahan beralih ke arah Amelia yang berdiri di samping meja kerja Raga. Baru kali ia melihat wanita itu secara dekat, setelah beberapa hari lalu hanya melihat foto-fotonya bersama dengan putranya. Ia menatap Amelia dari ujung kepala hingga kaki, mengamati penampilannya.

‎‎Amelia tersenyum malu-malu, sedikit menunduk seolah menghormati ibu kekasihnya. "Tante Rima... Saya Amelia."

‎‎Bu Rima mengangguk pelan, masih menatapnya lekat-lekat. "Jadi kamu wanita orang yang membuat anakku nyaman selama ini… akhirnya saya bertemu juga denganmu."

‎‎Ia berdiri dan berjalan mendekat, menepuk bahu Amelia dengan lembut.

‎‎"Amelia… Tante hanya punya satu harapan besar padamu. Cepatlah mengandung dan memberi keturunan untuk Raga. Kalau kamu sudah hamil dan melahirkan anaknya, Risa pasti akan menyesal karena sudah memilih bercerai dari Raga. Begitu mereka berdua resmi bercerai, Tante akan segera menyiapkan pernikahan untuk kalian, dan kamu akan menjadi satu-satunya istri Raga."

‎‎Mata Amelia berbinar seolah menerima tantangan sekaligus janji posisi yang pasti. Ia mengangguk cepat sambil tetap tersenyum.

‎‎"Pasti Tante. Saya pasti akan memberikan anak untuk Mas Raga. Saya akan buktikan jika hanya sayalah wanita yang pantas berdiri disampingnya."

"Bagus. Itu baru calon menantu saya," ucap Bu Rima bangga.

‎‎Raga hanya diam mendengarkan, didalam hatinya masih ada sedikit keraguan. Ia ingin sekali bertemu dan bicara dengan Risa supaya bisa mempertahankan hubungan mereka seperti dulu lagi. Tapi disisi lain dia juga tidak ingin memutuskan harapan ibunya pada Amelia untuk memberinya keturunan.

-

-

-

‎‎Karyawan satu persatu mulai meninggalkan gedung kantor setelah jam kerja berakhir. Regan keluar dari ruang kerjanya, berjalan menuju area parkir, lalu masuk ke mobil hitamnya. Ia menyalakan mesin dan melaju perlahan menuju pintu keluar halaman kantor.

‎‎Saat mobilnya hampir melewati gerbang, matanya menangkap sosok Risa yang berdiri di pinggir jalan. Wanita itu tampak sedang menunggu kendaraan umum, sesekali melirik ke arah jalan dengan pandangan yang sedikit lelah.

‎‎Tanpa berpikir panjang, Regan menginjak rem dan menghentikan mobilnya tepat di samping wanita itu. Ia menurunkan kaca jendela penumpang, menatap Risa sekilas, lalu berkata dengan nada datar namun jelas.

‎‎"Masuk. Saya antar."

‎‎Risa terkejut mendengar suara itu. Ia menoleh dan melihat Regan duduk di kursi pengemudi.

‎‎"Terimakasih, Pak Regan. Tidak perlu repot-repot, saya bisa menunggu bus saja."

‎‎Regan mengernyitkan dahi sedikit, nadanya menjadi lebih tegas. "Cepat masuk. Cuacanya agak mendung, dan jarak halte cukup jauh dari sini. Biar saya saja yang antar kamu pulang."

‎‎Melihat ketegasan di nada bicaranya, Risa merasa tidak enak hati jika terus menolak. Ia mengangguk pelan, lalu membuka pintu penumpang dan duduk dengan hati-hati.

‎‎"Terimakasih banyak, Pak," ucapnya lagi sambil menutup pintu.

‎‎Regan hanya mengangguk singkat sebagai jawaban, lalu menyalakan mesin kembali dan melaju meninggalkan area kantor. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa hening. Regan fokus menyetir, sedangkan Risa duduk dengan tenang, sesekali melirik ke luar jendela.

‎‎"Bagaimana perasaanmu? Apakah sudah merasa lebih baik?" tanya Regan tiba-tiba, memecah keheningan.

‎‎Risa mengangguk, tersenyum tipis, "Sangat baik, Pak. Sekali lagi saya minta maaf atas kejadian di restoran tadi siang. Gara-gara saya Bapak jadi terbawa-bawa dan harus ikut menanggung malu."

‎‎"Kenapa saya harus malu?" Regan menoleh sekilas ke arahnya, lalu menatap lurus ke depan kembali, "Justru saya merasa kagum melihat kamu bisa tetap tenang dan membela harga dirimu tanpa kehilangan akal sehat."

‎‎Risa hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban. Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil Regan melambat dan akhirnya berhenti tepat di pinggir jalan, tidak jauh dari pagar rumah kontrakan tempat tinggal Risa. Lampu depan mobil menerangi pintu pagar yang kini terlihat basah terkena guyuran hujan.

‎"Terimakasih sudah mengantar saya pulang, Pak. Kalau begitu saya turun dulu." ucap Risa.

‎‎Ia hendak membuka gagang pintu, namun gerakannya terhenti saat tiba-tiba Regan menahan pergelangan tangannya.

‎‎"Boleh saya ikut turun dan masuk untuk berteduh sebentar?"

-

-

-

Raga melajukan mobilnya meninggalkan kantor, pikirannya masih berkecamuk antara keinginan untuk mencari Risa dan desakan ibunya agar melupakan masa lalu. Begitu memasuki halaman rumah, ia memarkirkan mobilnya dan bergegas turun menerobos hujan. Tak lama setelah ia melangkah masuk ke ruang tengah, Bi Ani segera menyambut dengan wajah yang terlihat sedikit cemas.

‎‎"Mas Raga... Ada sesuatu yang harus Bibi sampaikan," ujar wanita paruh baya itu sambil membungkuk sopan.

‎‎Raga mengernyitkan dahi, lalu meletakkan jasnya yang sedikit basah karena air hujan di sandaran kursi. "Ada apa, Bi? Apakah Risa pulang atau menelpon?"

‎‎"Bukan, Mas... Tadi siang ada petugas dari kantor pos datang mengantarkan amplop ini. Katanya surat resmi dan harus diserahkan langsung ke tangan Mas sendiri," jawab Bi Ani sambil mengulurkan sebuah amplop cokelat tertutup rapat yang tertera cap resmi Pengadilan Agama di sudutnya.

‎‎Jantung Raga seketika berdegup lebih kencang. Ia meraih amplop itu dengan jari yang sedikit kaku, lalu membukanya perlahan. Begitu matanya membaca kalimat pembuka di dalamnya, wajahnya perlahan berubah dari santai menjadi pucat, lalu memerah menahan amarah yang mulai meluap.

‎‎"Risa... kamu benar-benar berani melakukannya."

-

-

-

Bersambung...

1
vj'z tri
ahayyyy jreng jreng jreng
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ icik bos dah salting berat ini
🔥Violetta🔥: Udah cenat-cenut dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
kamu nanya.. kamu bertanya-tanya....,

secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭
〈⎳ FT. Zira
coba cekk. di lihat..diraba.. di...🤭🤭
〈⎳ FT. Zira
kesempatan noh Re .. ambilll🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
jodoh ka Re🤭
〈⎳ FT. Zira
kamulah orangnya🤭
〈⎳ FT. Zira
cieeee cieee🤭🤭🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
deg deg ser gak ris🤭
〈⎳ FT. Zira
jodoh emag gak kemana yaa🤭
Rizky Manik
lanjut thor🤗
Rizky Manik
ayo periksa lagi kalo berani🤭
Anonim
awokawok mending baca seishun buta yarou Bunny girl senpai wo yume wo minai
MamDeyh
Nah nah nah kan.... Eng ing eng
Kusii Yaati
kamu terlalu memandang rendah orang mel,di bandingkan dengan kamu Risa lebih baik dari segi manapun, sedang kamu apa perlu di banggakan selain pandai merebut suami orang alias pelakor... punya cermin nggak 😒
Anonim
JONTOL
vj'z tri
bagaimana caraaaa nya untukk kau bisa mengerti bahwa aku iriiii 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
jika Oma sama ibu tahu siapa yang lagi di Pepet icik bos pasti girang 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
vj'z tri
eeeeeeeaaaaaaa ee ee eaaaaaa eeeeeaaaaa 🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣🤣
total 1 replies
vj'z tri
gak say biar icik bos yang langsung turun tangan 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!