NovelToon NovelToon
Ternyata Bukan Aku Yang Mandul

Ternyata Bukan Aku Yang Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Menikah dengan Kerabat Mantan / Identitas Tersembunyi
Popularitas:136.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.

Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.

Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.

Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.

Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.

Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

.

“Ibu dengar hari ini kamu mengajukan cuti. Kamu baik-baik saja, kan?"

Rania menundukkan kepalanya merasa bersalah. “Maafkan saya, Bu. Saya tidak sengaja membiarkan masalah pribadi mengganggu pekerjaan. Saya hanya butuh waktu untuk menenangkan diri sebentar saja. Setelah ini saya janji, hal ini tidak akan terulang."

“Mengapa minta maaf?” tanya Bu Soraya lembut sambil menepuk punggung tangan wanita itu yang berada di atas pangkuannya. “Kamu bukan mesin, Nak. Kamu juga manusia biasa yang punya hati dan perasaan. Sangat wajar jika sesekali merasa lelah dan sedih.”

Rania menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan diri, tapi rasanya sudah tak sanggup lagi. Selama ini tak pernah ada yang begitu perhatian padanya.

“Bu…” suaranya mulai bergetar. “Apakah benar saya sudah gagal sebagai wanita? Apakah hanya karena tidak bisa melahirkan anak, maka saya pantas dicampakkan begitu saja?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, pertanyaan yang selama ini terus menghantuinya siang dan malam.

Bu Soraya langsung menggenggam kedua tangan Rania erat, menatap matanya dengan tatapan sangat tegas namun penuh kasih sayang. “Sama sekali tidak. Tidak bisa memiliki anak bukan berarti kamu gagal. Bukan berarti kamu tidak berharga.”

“Tapi semua orang bicara sebaliknya… bahkan keluarga saya sendiri…” air mata akhirnya mengalir membasahi pipinya.

“Itu pasti sangat menyakitkan, tapi kamu harus tahu, ukuran keberhasilan seorang wanita bukan terletak pada rahimnya, melainkan pada hatinya,” jawab Bu Soraya tenang namun tegas.

“Saya sudah mencoba sekuat tenaga, Bu…” isak Rania terputus-putus.

“Ibu percaya padamu,” Bu Soraya mengusap punggung tangannya perlahan. “Mungkin saat ini kamu terluka, tapi kamu harus percaya suatu saat kelak kamu pasti akan bertemu dengan orang yang benar-benar menghargai dan menyayangi kamu.”

Rania menangis lebih keras, melepaskan semua sesak yang selama ini dipendam sendiri. Seperti inikah rasanya ada orang yang tidak menyalahkan atau menuntut?

Tak jauh dari sana, di balik rindangnya pohon besar, Alvino berdiri diam menyaksikan pemandangan itu. Ia datang ke taman itu karena ibunya mengirim pesan pada dirinya untuk menyusul ke tempat itu, namun tak disangka ia malah melihat ibunya bersama dengan Rania. Dan sekarang melihat wanita yang selalu tampak tegar dan kuat itu menangis, dadanya ikut merasa sesak.

Alvino mengepalkan tangannya erat. Selama bertahun-tahun ia hanya berdiri diam di kejauhan, takut mengganggu atau merusak. Tapi hari ini hatinya berbicara lain. “Baji’ngan kau Arga Pratama, Kalau kamu tidak bisa menjaganya, maka biarkan aku yang melakukannya mulai sekarang,” tekadnya dalam hati.

*

*

*

Satu minggu telah berlalu sejak keputusan perceraian itu disepakati. Tujuh hari yang terasa begitu singkat berlalu begitu saja. Tak ada yang tahu bahwa bagi Rania hari-hari itu terasa begitu berat dan menyiksa.

Di mata orang-orang di kantor, ia terlihat masih sama seperti biasanya, datang tepat waktu, menyelesaikan semua tugas dengan baik, menghadiri rapat, melayani klien, dan selalu tersenyum kepada siapa saja. Namun hanya ia sendiri yang tahu kenyataannya. Meskipun tampak tersenyum, sebenarnya luka hatinya masih menganga.

Pagi itu, Rania masuk kerja seperti biasa. Namun, baru saja ia hendak memulai pekerjaannya, ponsel di dalam tasnya berdering. Buru-buru Rania mengambil ponselnya, namun begitu membuka dan melihat ada nama ibunya di layar, wanita itu menjadi ragu, meskipun akhirnya mengangkat panggilan itu.

“Halo, Bu?”

“Rania, nanti malam pulang ke rumah, ya?”

Rania mengernyit bingung. “Ada apa, Bu? Aku masih ada pekerjaan.”

“Ibu tidak meminta kamu pulang sekarang, tapi nanti malam ketika kamu pulang kerja. Ini penting, kita makan malam bersama. Jangan terlambat ya.”

Rania menghela napas panjang, mendengar nada bicara ibunya yang seperti perintah tak bisa dibantah. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat. “Baiklah, aku usahakan.”

Tut!

Panggilan diputus begitu saja oleh ibunya bahkan tanpa mengucapkan kata apapun. Tidak juga menanyakan kabar dirinya. Rania merasa dadanya begitu sesak, namun ia menggelengkan kepala mengabaikannya. Bukankah sudah biasa baginya menerima sikap seperti itu dari ibunya?

*

*

*

Malam itu, Rania tiba di rumah orang tuanya seperti yang telah ia janji. Begitu masuk ke dalam rumah, ia langsung merasa ada yang tidak beres. Rumah itu terlihat lebih rapi dari biasanya, di atas meja juga ada berbagai cemilan dan hidangan, dan di salah satu sofa, ada seorang pria asing yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Usianya sekitar tiga puluhan, penampilannya rapi dan terawat, jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya pun terlihat mahal. Tapi ada satu yang membuat Rania semakin tidak nyaman. Pria itu memandangnya dari ujung kaki hingga kepala, seolah sedang menilai sebuah barang dagangan.

“Rania, cepat duduklah,” sapa ibunya sambil tersenyum lebar, senyum yang selama ini tak pernah terlihat oleh Rania. Apalagi ketika melihat ibunya begitu antusias menyambutnya bahkan membantunya untuk duduk diantara ayah dan ibunya.

“Perkenalkan, Nak Dimas, dia ini Rania, putri kami yang sudah kami bicarakan sebelumnya.” ayahnya memulai pembicaraan bahkan tidak menjelaskan apapun pada Rania.

“Halo, Mbak Rania,” sapa pria itu sambil tersenyum ramah, namun senyum itu terasa asing bagi Rania.

Rania hanya mengangguk sopan, lalu kembali menatap orang tuanya dengan pandangan bertanya. “Katakan saja… apa tujuan ayah dan ibu memanggilku pulang?”

Ibunya tertawa kecil, lalu menjawab santai. “Ya hanya ingin mengenalkan kalian berdua saja.”

Deg.

Jantung Rania terasa berhenti berdetak saat menangkap maksud tersembunyi di balik kalimat itu. Suasana hatinya seketika berubah menjadi dingin.

“Mengenalkan? Maksud kalian… menjodohkanku?” tanyanya pelan namun tegas.

Keheningan sesaat menyelimuti ruangan. Diamnya kedua orang tuanya sudah cukup menjadi jawaban yang paling menyakitkan.

Rania tertawa kecil, tawa yang terdengar begitu getir. Baru satu minggu. Baru tujuh hari ia menerima surat cerai, masa iddahnya masih berjalan, dan keluarganya sudah sibuk mencarikan pengganti?

“Maaf… aku belum memikirkan hal itu sama sekali,” katanya mencoba menahan kesabarannya.

Ibunya langsung menghela napas panjang, seolah kecewa dengan jawaban putrinya. “Rania, kamu tidak muda lagi lho. Sudah dua puluh tujuh tahun.”

“Tapi bukan berarti aku harus terburu-buru menikah lagi,” bantah Rania pelan. Tidak ada yang tahu, di atas pangkuan kedua tangannya terkepal.

Belum sempat ibunya menjawab, pria bernama Dimas itu ikut menyela pembicaraan dengan nada yang terasa terlalu santai. “Sebenarnya saya sudah mendengar semuanya, Mbak. Saya tidak keberatan sama sekali dengan status Mbak.”

Rania menoleh tajam ke arahnya. “Maksud Bapak?”

“Saya tahu kalau Mbak baru saja bercerai. Saya juga sudah tahu alasannya,” lanjut Dimas seolah membicarakan hal biasa. “Tapi saya benar-benar tidak masalah. Meski Mbak tidak bisa memberikan keturunan, itu bukan halangan bagi saya.”

Kalimat terakhir itu terasa seperti tamparan keras yang membakar telinga Rania. Rahangnya mengeras, seluruh darahnya terasa mendidih karena tersinggung.

Rania berdiri tiba-tiba dan membuat semua orang terkejut melihat reaksinya. Tapi ia sudah tidak peduli lagi dengan sopan santun.

“Aku permisi pulang.”

“Rania! Kamu mau ke mana? Kamu belum makan malam,” seru ibunya terkejut.

“Aku sudah kehilangan selera makan malam ini,” jawab Rania singkat tanpa menoleh. Ia melangkah cepat keluar dari ruangan itu, meninggalkan mereka semua dengan perasaan yang hancur berkeping-keping.

Begitu sampai di luar rumah, Rania berjalan cepat menuju jalan raya. Dadanya terasa sesak luar biasa, napasnya terengah menahan tangis. Semuanya terasa menyakitkan. Tak hanya diceraikan oleh suaminya, bahkan keluarganya pun tidak melihatnya sebagai manusia. Mereka hanya melihatnya sebagai wanita yang gagal,

Air mata mulai membuat pandangannya menjadi kabur, namun ia terus berjalan. Tidak menyadari adanya sebuah mobil hitam melaju mendekat, lalu berhenti tepat di sampingnya. Rania tidak memperhatikan, pikirannya terlalu kacau. Hingga kaca jendela mobil itu turun perlahan.

“Rania?”

1
Muft Smoker
sukses mu bukan hanya di pratama arga ,, kalo km memang punya kemampuan km hidup dmana pun pasti berhasil ,, jgn mau di setir trus ma org tua ,, yg katany buat kebaikan mu ,, ternyata hanya buat kebaikan dompet Dan Harga diri mereka ,, 😏😏😏😏
Muft Smoker
seneng yx liat bagas , rendy , Dan alvino akur ,, tdk terpengaruh dg perebutan pimpinan pratama ,,
jarang2 kn d Dunia ni yg seperti itu ,, kebanyakan pda saling menjatuh kan ,,

meski nanti pratama bukan alvino yg pegang ,, msh ad bagas Dan rendy yg memiliki kemampuan yg mumpuni ,,
Muft Smoker
udh abis ini bu ratih jualan nasi uduk aj ma gorengan ,,
😒😒😒😒😒😒
gx usah mikirin tahta pratama ,,
Aditya hp/ bunda Lia
siapa dulu dong Alvino di lawan ....
sunaryati jarum
Segera diketahui hasil tes DNA nya
sunaryati jarum
Nah kalian merasakan ikatan batin, semoga Rania putri Pak Bima dan Istri
Linda Ayu Tong-Tong
good job alvino...i love u 🥰🥰
biar ortu arga merasakan dampak dari perbuatannya..rasakan!!
partini
Arga merintis usaha sendiri aja nanti kalau udah ok
Patrick Khan
arga meratapi nasibnya..
Patrick Khan
bom waktu akan di mulai
Lucy
kapok kau Surya ciut nyalimu kan kau kira Alvino main2 dgn ucaoannya🤭🤣
vania larasati
lanjut
Uba Muhammad Al-varo
makanya Bu Ratih kalau mau harta , baik' kin lah orang2 yang bersangkutan dengan hartanya, jangan malah kamu mengusiknya jadilah sekarang kamu dilawannya karena kejahatan mulutmu
Iffanaya 😽
kasian arga dia sudah lelah dr dulu kehidupan nya disetir ortu nya krn keserakahan ortunya...
semangat Arga kamu gk harus ngikutin kemauan ortu mu lg
Linda Ayu Tong-Tong
ayo alvino go go go tunjukkan kekuasaanmu
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
Anda*
Nar Sih
semoga grup pratama akan lebih baik lgi jika bergati pimpinan👍
Nar Sih
sbntr lgi mungkin pratama grup akan ganti pemimpin yg lebih baik ,apalagi klau yg jdi pemimpin nya alvino di jamin pasti lebih maju lgi💪
Ilfa Yarni
mpus kau surya dan Ratih singa bisnis dtg untuk merebut posisi Arga jg rasain kalian nanti klo alvino menang pasti akan dia kasih ke bagas tuh dan re ndy jadi wakil direturnya
juwita
ayo bangkit Arga jgn lemah tunjukin km bisa tanpa org tua mu. jgn mau di setir trs sm org tua mu. km harus pny pendirian sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!