NovelToon NovelToon
Ternyata Bukan Aku Yang Mandul

Ternyata Bukan Aku Yang Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Menikah dengan Kerabat Mantan / Identitas Tersembunyi
Popularitas:22.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.

Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.

Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.

Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.

Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.

Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

.

“Ibu dengar hari ini kamu mengajukan cuti. Kamu baik-baik saja, kan?"

Rania menundukkan kepalanya merasa bersalah. “Maafkan saya, Bu. Saya tidak sengaja membiarkan masalah pribadi mengganggu pekerjaan. Saya hanya butuh waktu untuk menenangkan diri sebentar saja. Setelah ini saya janji, hal ini tidak akan terulang."

“Mengapa minta maaf?” tanya Bu Soraya lembut sambil menepuk punggung tangan wanita itu yang berada di atas pangkuannya. “Kamu bukan mesin, Nak. Kamu juga manusia biasa yang punya hati dan perasaan. Sangat wajar jika sesekali merasa lelah dan sedih.”

Rania menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan diri, tapi rasanya sudah tak sanggup lagi. Selama ini tak pernah ada yang begitu perhatian padanya.

“Bu…” suaranya mulai bergetar. “Apakah benar saya sudah gagal sebagai wanita? Apakah hanya karena tidak bisa melahirkan anak, maka saya pantas dicampakkan begitu saja?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, pertanyaan yang selama ini terus menghantuinya siang dan malam.

Bu Soraya langsung menggenggam kedua tangan Rania erat, menatap matanya dengan tatapan sangat tegas namun penuh kasih sayang. “Sama sekali tidak. Tidak bisa memiliki anak bukan berarti kamu gagal. Bukan berarti kamu tidak berharga.”

“Tapi semua orang bicara sebaliknya… bahkan keluarga saya sendiri…” air mata akhirnya mengalir membasahi pipinya.

“Itu pasti sangat menyakitkan, tapi kamu harus tahu, ukuran keberhasilan seorang wanita bukan terletak pada rahimnya, melainkan pada hatinya,” jawab Bu Soraya tenang namun tegas.

“Saya sudah mencoba sekuat tenaga, Bu…” isak Rania terputus-putus.

“Ibu percaya padamu,” Bu Soraya mengusap punggung tangannya perlahan. “Mungkin saat ini kamu terluka, tapi kamu harus percaya suatu saat kelak kamu pasti akan bertemu dengan orang yang benar-benar menghargai dan menyayangi kamu.”

Rania menangis lebih keras, melepaskan semua sesak yang selama ini dipendam sendiri. Seperti inikah rasanya ada orang yang tidak menyalahkan atau menuntut?

Tak jauh dari sana, di balik rindangnya pohon besar, Alvino berdiri diam menyaksikan pemandangan itu. Ia datang ke taman itu karena ibunya mengirim pesan pada dirinya untuk menyusul ke tempat itu, namun tak disangka ia malah melihat ibunya bersama dengan Rania. Dan sekarang melihat wanita yang selalu tampak tegar dan kuat itu menangis, dadanya ikut merasa sesak.

Alvino mengepalkan tangannya erat. Selama bertahun-tahun ia hanya berdiri diam di kejauhan, takut mengganggu atau merusak. Tapi hari ini hatinya berbicara lain. “Baji’ngan kau Arga Pratama, Kalau kamu tidak bisa menjaganya, maka biarkan aku yang melakukannya mulai sekarang,” tekadnya dalam hati.

*

*

*

Satu minggu telah berlalu sejak keputusan perceraian itu disepakati. Tujuh hari yang terasa begitu singkat berlalu begitu saja. Tak ada yang tahu bahwa bagi Rania hari-hari itu terasa begitu berat dan menyiksa.

Di mata orang-orang di kantor, ia terlihat masih sama seperti biasanya, datang tepat waktu, menyelesaikan semua tugas dengan baik, menghadiri rapat, melayani klien, dan selalu tersenyum kepada siapa saja. Namun hanya ia sendiri yang tahu kenyataannya. Meskipun tampak tersenyum, sebenarnya luka hatinya masih menganga.

Pagi itu, Rania masuk kerja seperti biasa. Namun, baru saja ia hendak memulai pekerjaannya, ponsel di dalam tasnya berdering. Buru-buru Rania mengambil ponselnya, namun begitu membuka dan melihat ada nama ibunya di layar, wanita itu menjadi ragu, meskipun akhirnya mengangkat panggilan itu.

“Halo, Bu?”

“Rania, nanti malam pulang ke rumah, ya?”

Rania mengernyit bingung. “Ada apa, Bu? Aku masih ada pekerjaan.”

“Ibu tidak meminta kamu pulang sekarang, tapi nanti malam ketika kamu pulang kerja. Ini penting, kita makan malam bersama. Jangan terlambat ya.”

Rania menghela napas panjang, mendengar nada bicara ibunya yang seperti perintah tak bisa dibantah. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat. “Baiklah, aku usahakan.”

Tut!

Panggilan diputus begitu saja oleh ibunya bahkan tanpa mengucapkan kata apapun. Tidak juga menanyakan kabar dirinya. Rania merasa dadanya begitu sesak, namun ia menggelengkan kepala mengabaikannya. Bukankah sudah biasa baginya menerima sikap seperti itu dari ibunya?

*

*

*

Malam itu, Rania tiba di rumah orang tuanya seperti yang telah ia janji. Begitu masuk ke dalam rumah, ia langsung merasa ada yang tidak beres. Rumah itu terlihat lebih rapi dari biasanya, di atas meja juga ada berbagai cemilan dan hidangan, dan di salah satu sofa, ada seorang pria asing yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Usianya sekitar tiga puluhan, penampilannya rapi dan terawat, jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya pun terlihat mahal. Tapi ada satu yang membuat Rania semakin tidak nyaman. Pria itu memandangnya dari ujung kaki hingga kepala, seolah sedang menilai sebuah barang dagangan.

“Rania, cepat duduklah,” sapa ibunya sambil tersenyum lebar, senyum yang selama ini tak pernah terlihat oleh Rania. Apalagi ketika melihat ibunya begitu antusias menyambutnya bahkan membantunya untuk duduk diantara ayah dan ibunya.

“Perkenalkan, Nak Dimas, dia ini Rania, putri kami yang sudah kami bicarakan sebelumnya.” ayahnya memulai pembicaraan bahkan tidak menjelaskan apapun pada Rania.

“Halo, Mbak Rania,” sapa pria itu sambil tersenyum ramah, namun senyum itu terasa asing bagi Rania.

Rania hanya mengangguk sopan, lalu kembali menatap orang tuanya dengan pandangan bertanya. “Katakan saja… apa tujuan ayah dan ibu memanggilku pulang?”

Ibunya tertawa kecil, lalu menjawab santai. “Ya hanya ingin mengenalkan kalian berdua saja.”

Deg.

Jantung Rania terasa berhenti berdetak saat menangkap maksud tersembunyi di balik kalimat itu. Suasana hatinya seketika berubah menjadi dingin.

“Mengenalkan? Maksud kalian… menjodohkanku?” tanyanya pelan namun tegas.

Keheningan sesaat menyelimuti ruangan. Diamnya kedua orang tuanya sudah cukup menjadi jawaban yang paling menyakitkan.

Rania tertawa kecil, tawa yang terdengar begitu getir. Baru satu minggu. Baru tujuh hari ia menerima surat cerai, masa iddahnya masih berjalan, dan keluarganya sudah sibuk mencarikan pengganti?

“Maaf… aku belum memikirkan hal itu sama sekali,” katanya mencoba menahan kesabarannya.

Ibunya langsung menghela napas panjang, seolah kecewa dengan jawaban putrinya. “Rania, kamu tidak muda lagi lho. Sudah dua puluh tujuh tahun.”

“Tapi bukan berarti aku harus terburu-buru menikah lagi,” bantah Rania pelan. Tidak ada yang tahu, di atas pangkuan kedua tangannya terkepal.

Belum sempat ibunya menjawab, pria bernama Dimas itu ikut menyela pembicaraan dengan nada yang terasa terlalu santai. “Sebenarnya saya sudah mendengar semuanya, Mbak. Saya tidak keberatan sama sekali dengan status Mbak.”

Rania menoleh tajam ke arahnya. “Maksud Bapak?”

“Saya tahu kalau Mbak baru saja bercerai. Saya juga sudah tahu alasannya,” lanjut Dimas seolah membicarakan hal biasa. “Tapi saya benar-benar tidak masalah. Meski Mbak tidak bisa memberikan keturunan, itu bukan halangan bagi saya.”

Kalimat terakhir itu terasa seperti tamparan keras yang membakar telinga Rania. Rahangnya mengeras, seluruh darahnya terasa mendidih karena tersinggung.

Rania berdiri tiba-tiba dan membuat semua orang terkejut melihat reaksinya. Tapi ia sudah tidak peduli lagi dengan sopan santun.

“Aku permisi pulang.”

“Rania! Kamu mau ke mana? Kamu belum makan malam,” seru ibunya terkejut.

“Aku sudah kehilangan selera makan malam ini,” jawab Rania singkat tanpa menoleh. Ia melangkah cepat keluar dari ruangan itu, meninggalkan mereka semua dengan perasaan yang hancur berkeping-keping.

Begitu sampai di luar rumah, Rania berjalan cepat menuju jalan raya. Dadanya terasa sesak luar biasa, napasnya terengah menahan tangis. Semuanya terasa menyakitkan. Tak hanya diceraikan oleh suaminya, bahkan keluarganya pun tidak melihatnya sebagai manusia. Mereka hanya melihatnya sebagai wanita yang gagal,

Air mata mulai membuat pandangannya menjadi kabur, namun ia terus berjalan. Tidak menyadari adanya sebuah mobil hitam melaju mendekat, lalu berhenti tepat di sampingnya. Rania tidak memperhatikan, pikirannya terlalu kacau. Hingga kaca jendela mobil itu turun perlahan.

“Rania?”

1
dewi rofiqoh
Semoga kedepannya kehidupan rania menjadi lebih baik
Muft Smoker
akhirny mereka bersatu jugaa ,, tinggal menunggu kebenaran terungkap saja sypa yg mandul ,, 😒😒😒😒



mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
Patrick Khan
legaaaa udah sahhhh😍
Ummee
setau q ijab qobul cuma ada di islam, mohon koreksi kalo salah🙏
Ummee: baik kak, terimakasih kembali🤗
total 2 replies
vania larasati
lanjut
sunaryati jarum
Ikut lega Rania dan Alvino sah suami istri
Felycia Fernandez
kk Thor,tolong lebih di perhatikan..
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: sepertinya ada kesalahan penulisan. akan saya koreksi. terima kasih udah diingatkan
total 2 replies
sunaryati jarum
Pak Aksara pasti cari wali hakim😭Rania dan Alvino tetep menikah
sunaryati jarum
Tidak diberi uang banyak
Nar Sih
ada akad nikah ada peberkatan nikah jdi bingung kak ,atau mingkin lgi slh tulis ,tpi ttep semagat kak💪
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: sudah aku revisi. makasih udah diigetin
total 1 replies
Noor hidayati
apakah nonis pake wali juga,maaf aku ga tahu soalnya,setahuku cuma umat muslim aja yang butuh wali nikah,terus kok sekarang mau ijab kabul,apa agamanya rania ganti lagi🙏🙏
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: ada kesalahan penulisan dan sudah saya koreksi. makasih ya. dan jangan bosan untuk mengingatkan jika ada kesalahan lagi
total 3 replies
Hary Nengsih
agama nya apa si katanya gereja tapi ada akad
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: ada kesalahan tadi dan sudah di revisi. makasih udah diingetin 🙏
total 1 replies
imel
sejak kapan menikah di gereja pake akad nikah? pake wali hakim pula?
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: ada kesalahan penulisan dan sudah saya koreksi. terima kasih sudah diingatkan 🙏
total 2 replies
Aditya hp/ bunda Lia
mau ngapain kamu Arga? ...
Ilfa Yarni
alhamdulillah proses akdnya selesai jg walaupun ada drama sebelumnya tp bersyukur sih klo Rani bukan ank kandung orangtua matre itu jd dia ga bisa meminta harta kpd rania wg ternyata Arga dtgelihat and nikah rania gmn rasanya arga
Yulya Muzwar
ketika nikah sama arga di gereja kecil, lalu nikah sama alvino pake ijab kabul sama penghulu.. 🙄🤔
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: iya, salah nulis tadi. makasih udah diingetin. jangan bosan untuk mengingatkan jika ada kesalahan lagi ya
total 2 replies
Oma Gavin
akhirnya sah rania jadi istri alvino dan sebentar lagi hamil biar arga dan ibunya syok dan tau kalau yg mandul anak kesayangan nya
lyla lafiya
👍
Lucy
parah ya org tua kayak bgtu knpa GK dr awal bongkar kenyataan nya ,knpa harus pas waktu akad brlangsung,GPP Rania pakai wali hakim aja lalu tinggalkan kluarga toxic itu👍🤣🤣
Muft Smoker
oke mak ,, aq msh belum paham ,,
tp dtggu penjellasan ny di bab berikut ny ,, 😁😁😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!