Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa Senjana
Tuing... Tuing...
Welly sibuk colak colek paha Santana saat rombongan tim manajemen Santana dalam perjalanan menuju ke tempat pemotretan produk terbaru dari Liquor Group.
Santana menoleh, tapi langsung melengos melihat wajah Welly yang mirip detektif dadakan. Dimulai dari kemarin, setelah penandatanganan kontrak dengan Liquor. Sejak Angkara Antasena membahas soal Senjana, sekretarisnya. Sejak itu, Welly sibuk bertanya ini itu pada Santana.
" Senjana?? Maksudnya Senja? " tanyanya kemarin.
Dari satu pertanyaan itu, muncul puluhan pertanyaan lain yang sebenarnya kalau boleh jujur, Santana mau menjawab itu susah. Ada gremet-gremet aneh di dadanya yang makin dirasa makin perih.
Santana sendiri kaget bukan main saat bertatap dengan paras cantik milik Senjananya saat makan malam bersama keluarga Antasena. Siapa yang mengira, ternyata selama ini mereka begitu dekat. Masih dalam satu lingkup pertemanan yang sama.
Niat hati ingin menyapa, tapi saat Senjana memalingkan wajahnya, enggan bertatap muka dengan Santana. Lalu sepanjang makan malam itu, Senjana terlihat begitu menghindar darinya, hati Santana rasanya sakit.
Ini salahnya, bukan salah Senjana sama sekali. Dia yang berniat mengakhiri, dia yang menciptakan neraka untuknya dan Senjana, lalu disaat Senjana bahkan tidak mau menyapanya, hati Santana merasa seperti orang paling tersakiti sedunia.
" Aneh ya, San... Senjana kan anaknya pak Radiyaksa, bukannya mereka punya perusahaan besar. Kok dia malah jadi sekretarisnya Pak Angkara. Mending enak jadi CEO di perusahaan sendiri kan, nggak ada yang merintah. " celetukan Welly menyadarkan Santana dari nestapa hatinya.
Dalam pikiran Santana juga mengarah ke sana. Tapi mau bertanya-tanya, Santana tidak ingin justru memperkeruh keadaan.
" Wel... Coba kamu cari tahu tentang Senjana selama dua belas tahun terakhir. " pintanya.
" Kamu, yakin? " Welly nampak ragu.
Bukan apa. Selama ini Santana yang memang menutup semua berita tentang Senjana. Apapun itu dia tidak mau mendengar. Takut saja sekali dia mendengar tentang Senjananya, dia justru nekat meninggalkan semuanya hanya demi bisa memeluk Senjanya.
" Hm.. " anggukan Santana mantap.
Welly diam-diam merasa senang. Jujur saja, hubungan Santana dengan Yara, dia sama sekali tidak suka. Bukan karena Yara itu tidak baik atau jahat, justru Yara itu sangat baik orangnya. Tapi cinta yang digaungkan Yara itu tidak lebih hanya sebagai penjara bagi Santan.
Terpaksa harus mengiyakan karena paksaan, terpaksa harus bersama karena rasa sungkan. Welly melihatnya saja muak, untung Yara baik, makanya selama ini Welly tahan-tahan mulutnya agar tidak keceplosan.
********
Tak.. Tak.. Tak..
Suara pena yang sengaja diketukan di atas meja. Pelampiasan karena rasa suntuk dan malas dari seorang Angkara yang mulai hari ini sampai dua minggu ke depan tidak akan melihat Senjana. Baru sehari, rasanya sudah sangat membosankan bagi Angkara.
Haruka yang sengaja menemani suaminya bekerja dibuat menahan tawa demi menjaga perasaan suaminya. Haruka sengaja datang ke kantor setelah mengatakan Anjani ke PG tempatnya bersekolah. Dia sudah menebak, suaminya akan begini kalau Senjanya keluarga Antasena tidak terlihat pandangan mata.
Haruka selalu menebak-nebak dalam hati setiap melihat kedekatan Angkara dengan Senjana. Apakah keduanya akan berakhir sebagai jodoh, andai saja Angkara lebih dulu bertemu dengan Senjana.
Pikiran isengnya itu pernah dia suarakan pada kedua orang yang bersangkutan. Yang ada keduanya sama ngakak dan berkata,
" Duniaku bakan dar der dor kayak ada kembang apinya dong, bu Ka.. " ini jawaban Senjana.
Lain dengan Angkara, " Dih... Bukan cuma jadi langganan dokter penyakit dalam, dek.. Mas bisa langganan dokter THT sama kejiwaan kalah sama-sama doa terus. "
Tapi lihat saja sekarang, baru ditinggal tadi Senjana pergi cuti, suaminya sudah terlihat seperti orang lagi patah hati. Wajar dong kalau Haruka pengen ketawa tapi takut bikin suasana hati suaminya makin nggak karuan.
" Mas Ang.. " panggil Haruka.
" Ya.... "
" Bosen ya? Aku lihat dari tadi mas cuma ngelamun. " Haruka mendekat, lalu duduk di pangkuan Angkara.
" Bosan, dek.. Biasanya kalau sepagi ini, telinga mas udah pengang karena suara Senja. " ujar Angkara jujur.
" Kalau aku nggak lihat dengan mata kepala sendiri gimana hubungan kalian, aku bisa cemburu lo, mas. " keduanya lalu terkekeh bersama.
" Inget waktu aku baby blues pas lahiran Anjani, mas? " belum melanjutkan ucapannya, Haruka sudah tertawa terbahak.
" Ingat lah.. Satu kantor heboh dibilang mas itu selingkuhin kamu sama Senjana makanya kamu baby blues. " dan keduanya berakhir tertawa bersama sambil mengenang masa-masa di awal kehadiran Senjana.
******
Hachuh...
Hachuh...
Hachuh...
" Non... " seorang wanita tua yang usianya sudah tak lagi muda langsung berlari tergopoh-gopoh menyambut kedatangan putri tunggal mendingan nyonyanya.
" Ya ampun, non... Pak.. Pak... ini ada non Senja datang pak.. Bapak!! " teriaknya memanggil suaminya.
" Lhoh.. Non Senja... " jadilah sepasang suami istri berlari menyongsong kehadiran seorang Senjana.
Sanjana peluk kedua orang yang berjasa sangat besar untuk keluarga terlihat untuknya. Kalau tidak ada kedua orang ini, Senjana yakin dia akan hilang arah setelah kematian Mamanya.
Kedua orang ini tulus menyayangi dan membersamai Senjana, tanpa sekalipun menghakimi apa yang terjadi pada keluarganya. Bahkan saat keputusan gila dibuat oleh Senjana, keduanya justru mendukung apapun keputusan yang dianggap Senjana benar.
" Si mbok sama bapak sehat kan? Lama bener deh Senja nggak main ke sini. Habisnya Pak Ang nyebelin, mbok.. Saya cuti aja nggak boleh, katanya cuti saya udah habis. " Mbok Jumi terkekeh. Sudah biasa mendengar cerita tenang bos Senjana ketika nona kecilnya ini menelepon untuk bertanya kabar.
" Sehat non.. Bapak sama mbok mah selalu sehat. Harus sehat biar bisa menuhi pesennya nyonya besar buat lihat non Senja bahagia. " yang menjawab pak Seno, dulu dia supir pribadi papa Senjana.
Mendengar ucapan pak Seno, hati Senjana kembali merasakan perih yang sempat dia injak masuk ke dalam lubang hitam menganga di hatinya.
Bahagia ya..
Gimana sih manusia bisa disebut bahagia?
Senjana saja tidak tahu maksud kata bahagia itu sendiri. Apa kalau Senjana merasa baik-baik saja tidak punya masalah atau hidupnya lempeng aja berjalan sesuai rencananya itu disebut bahagia?
Rasanya sejak semua yang dia anggap sebuah kesempurnaan, dimana dia terlahir sebagai seorang putri di keluarga yang kaya raya, lalu mengenal seorang Santana yang mencintainya begitu besar, kemudian semua itu lenyap setelah bermunculan kenyataan pahit yang sungguh sialan untuk seorang Senjana.
" Senja bahagia kok, pak.. " meski begitu, mbok Jumi pun tahu, bahkan pak Seno juga tahu kalau ucapan Senjana ini hanya di mulut saja. Nyatanya keduanya melihat sendiri, sejauh apa Senjana mematikan hatinya, menghancurkan harinya, bahkan rela menjadikan dirinya orang biasa, demi menebus rasa bersalahnya pada seorang Santana.