NovelToon NovelToon
MY DEAR SECRETARY

MY DEAR SECRETARY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2M
Nilai: 5
Nama Author: zarin.violetta

Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.

Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.

Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.

Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.

Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.

Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.

Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepanikan Clarissa

Mereka semua diantar ke sebuah resor pantai yang terletak tidak jauh dari dermaga. Resor itu adalah properti eksklusif milik Kingsford, dengan vila vila kayu yang berdiri di atas air dan restoran terapung yang menghadap ke laut biru.

Sarapan pagi disajikan di restoran terbuka.

Max duduk di ujung meja, jauh dari Clarissa. Ia mengambil piring dan mengisinya dengan telur serta roti gandum, lalu duduk bersama Julian dan beberapa teman lainnya.

Ia tertawa mendengar lelucon Julian, dia mengangguk-angguk saat seseorang bercerita tentang investasi, dan dia minum kopi seperti tidak ada yang mengganggu pikirannya.

Clarissa duduk di sisi lain meja, di antara dua teman wanita yang terus mengajaknya bicara. Tapi matanya tidak pernah benar-benar lepas dari Max.

Ia mengamati setiap gerakan pria itu, berharap setidaknya sekali Max akan menoleh ke arahnya.

Tidak ada. Max bahkan tak mengajak Clarissa mengobrol, tidak ada pertanyaan basa-basi tentang rencananya hari itu. Seolah Clarissa tak terlihat.

Clarissa masih bertahan dengan sikap cueknya yang seakan tak butuh Max. Ia tertawa keras saat temannya bercerita, dia memotong pancakenya dengan hati-hati, dia menyisir rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan yang biasanya membuat pria tergila-gila.

Ia pura-pura sibuk dengan ponselnya, pura-pura membaca pesan yang sebenarnya tidak ada.

Tapi di dalam hatinya, ada yang berteriak. ‘Kenapa dia tidak mendekatiku? Apa yang salah? Bukankah aku berhasil membuatnya penasaran?’

Julian, yang duduk di samping Max, melirik ke arah Clarissa lalu berbisik pada Max, "kau tidak akan dekati dia lagi? Clarissa dari tadi melihatmu.”

Max mengangkat bahu. "Biar saja. Aku bosan.”

"Ck ck ck … aku tahu karaktermu. Kau tak mau repot.”

"Aku tidak suka dipusingkan." Max mengambil seteguk kopi. "Aku sudah tawarkan ranjang, dia menolak. Selesai. Aku tidak akan memaksa."

"Wah, baru kali ini aku melihat ada wanita yang menolakmu," Julian tertawa kecil. "Clarissa beda, hm?"

"Tidak ada yang beda. Hanya lebih banyak drama. Dan aku tidak punya waktu untuk drama. Aku tahu apa maunya. Dan aku tak suka berbelit-belit.”

Clarissa tidak bisa mendengar percakapan itu, tapi dia bisa membaca bahasa tubuh. Max terlihat sangat santai, sangat tenang, seperti tidak ada beban. Dan itu justru membuat Clarissa semakin gelisah.

Max seharusnya terus berusaha. Max seharusnya penasaran. Ini tidak sesuai rencana Clarissa.

*

*

Sarapan usai sekitar pukul sepuluh. Beberapa orang memutuskan untuk berenang atau bersantai di tepi pantai. Julian mengajak Max bermain jet ski, tapi Max menolak dengan halus. "Aku harus kembali ke kota. Ada urusan yang tertunda."

"Urusan apa? Ini kan hari Minggu?" Julian mengerutkan keningnya.

"Pekerjaan tidak mengenal hari libur."

Max berjalan menuju vila untuk mengambil tas. Ia sudah menghubungi sopir pribadinya untuk menjemput pukul sebelas.

Sementara itu, Clarissa berdiri di teras restoran, menatap punggung Max yang menjauh. Ia menggigit bibir bawahnya, sebuah kebiasaan yang muncul saat dia merasa kehilangan kendali.

"Clarissa, kau kenapa melamun?" tiba-tiba Jenni bersuara dari belakang.

"Aku ... tidak apa-apa," Clarissa membohongi.

"Tidak apa-apa? Wajahmu seperti mau menangis. Apakah ini karena Max?"

Clarissa menarik napas panjang. "Max tidak memperhatikanku sama sekali hari ini. Padahal semalam dia sangat ... intens."

Jenni tersenyum miring. "Kau pikir kau satu-satunya wanita yang bisa menolak Max Kingsford? Clarissa, pria itu punya harga diri setinggi langit. Kalau kau main terlalu keras, dia bisa kabur."

"Aku tidak bermain keras. Aku hanya ingin dia ... sedikit berusaha."

"Dia sudah pernah berusaha semalam. Kau tolak. Sekarang dia sudah move on. Itu gaya Max." Jenni menghela napas. "Tapi jangan khawatir, aku punya ide."

Clarissa menoleh, matanya berbinar harap. "Apa?"

Jenni mendekat, menatap Clarissa dengan serius. "Kita adakan pesta lagi. Bukan pesta kecil-kecilan, tapi pesta besar yang pasti akan dia datangi. Pesta dengan undangan eksklusif, dengan minuman mahal, dan dengan alasan bisnis yang tidak bisa dia tolak. Pamanmu kan punya hubungan dengan banyak klien Max. Manfaatkan itu."

Clarissa terdiam sejenak. "Tapi bagaimana kalau dia datang dan tetap tidak memperhatikanku?"

"Di situlah aku masuk. Aku akan meminta bantuan Julian juga." Jenni tersenyum. "Aku akan mengatur situasi. Membuatmu tampil seistimewa mungkin. Membuat Max sadar bahwa dia kehilangan sesuatu yang berharga. Percayalah, tidak ada pria yang bisa menolak wanita yang tampak bahagia tanpa dirinya."

Clarissa mengangguk perlahan. Ide itu terdengar gila, tapi lebih baik daripada berdiam diri dan membiarkan Max benar-benar melupakannya.

"Oke," Clarissa akhirnya berkata. "Tolong bantu aku, Jenni. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan ini lagi."

"Tenang. Kita akan buat Max Kingsford berlutut padamu."

1
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪💪
diah nursanti
kali ini tawaran kerja di perusahaan Enzo,besoknya tawaran jadi istri 🥰
isni afif
lanjut. 😘😘😘
isni afif
semangat lyra......biar cepet pindah perusahaan....⚘️⚘️⚘️
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Icha gadang🌷
lanjut lanjut thorr 🌹🔥🔥
Rohmatul Kusumaningayu
lanjutttt
Neli
lyyraaa😍😍😍🔥🔥🔥
Mei TResna Rahmatika
apakah nanti jadi sekretaris nya enzo kaya cassia jadi sekretaris nya max🤭
V_eRiL
apa nanti Lyra akan jd asistennya Enzo 🤔🤔🤭 semangat untuk sembuh dan semoga bisa bekerja di perusahaannya Enzo ya Lyra 😊😊 tunjukkan pesonamu dan kecerdasanmu ya Lyra 😁😁😉
V_eRiL
jangan galak² deh Enzo nanti jadi bucin sama Lyra, baru tau rasa lho 🤭🤭
Farda Nurjannah
yokk lekas membaikk lyra biar tunjukkan pesonamu!
dari step ini belum ada tanpa getaran.
keknya nunggu banyak interaksi dan enzo tau keunikan km deh baru ada getaran gitu xixi
aku harap hugo bener" dikasih efek jera dg semua kejahatan nya!
V_eRiL
apa sih yg ngga bisa dilakukan Kingsford, Lyra 🤭🤭 harusnya dari awal kau jujur aja Lyra biar sama² enak, kau juga tdk takut lagi dgn ancaman Hugo 😊😊
RosMa🌹🌹🌹
kepo🤣🤣
Yayuk Yuhanah
seru dan manis
RosMa🌹🌹🌹
belum apa-apa sudah bersikap posesif nih si abang Max😅😅
pipi gemoy
good lyra
alasan yg dibuat buat😂👍🏼🌹
diah nursanti
sekalipun km tidak jujur leoakan tau dengan sendirinya lyra,,,
Nazwa Azzahra
lanjut
HR_junior
lyra ktane uangmu banyak Lo..kok sekrng mbulet sich .langsng aja KNPA sich.mintabperlindulangn dr Hugo gitu Lo dia berbahaya bisa mengancam hidupmu knp ..mbelet muder knm2 lo
HR_junior: lyra ni aneh juga knp gak mau jujur Lo .km kan dah di pecat gak punya pekerjaan ..km kan bisa aja minta pekerjaan dr Enzo Lo..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!